
"Besok kau pasti akan mengetahuinya, Putri." jawab Li Junjie yang di balas anggukan patuh oleh Hu Liena.
Setelah berbincang beberapa saat, Li Junjie akhirnya pergi karena ingin memberikan waktu untuk Hu Liena beristirahat agar kondisi pisiknya cepat membaik.
Keesokan harinya, sesuai janji, Li Junjie datang kembali untuk membawa Hu Liena pergi ke tempat yang sudah di rencanakan sebelumnya.
"Ayo turun!" ajak Li Junjie saat kereta kuda yang mereka tumpangi tiba di depan sebuah gedung pemerintahan.
Hu Liena mengangguk, lalu menerima uluran tangan Li Junjie untuk membantunya turun dari kereta.
"Pangeran, apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Hu Liena heran.
Sejak kedatangannya ke dunia sekarang, Hu Liena belum pernah sama sekali datang ke tempat di mana dia berada saat ini.
"Kita berdua harus menandatangani dokumen untuk persyaratan kita nikah nanti, Putri." jawab Li Junjie dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Hu Liena akhirnya mengerti, dan tidak menanyakan lebih lanjut alasan Li Junjie membawanya ke sana.
"Pangeran Jun, silahkan masuk!" sapa petugas yang berwenang di sana.
Li Junjie menggandeng tangan Hu Liena memasuki ruangan tempat mereka akan menandatangani dokumen untuk kelengkapan pernikahan.
Beberapa pegawai wanita di sana bahkan merasa iri dengan sikap manis yang di tunjukkan oleh Li Junjie kepada calon Istrinya tersebut.
Seperti yang mereka ketahui, Li Junjie terkenal dengan sikap dingin kepada para wanita. Namun yang terjadi di hadapan mereka sekarang, justru Li Junjie memperlihatkan sikap yang sebaliknya.
Selain bersikap romantis, Li Junjie juga bersikap sangat baik sekali memperlakukan Hu Liena.
"Beruntung sekali Putri Xia memiliki calon Suami seperti Pangeran Jun." bisik salah seorang wanita.
"Iya, dia memang sangat beruntung. Seandainya aku yang berada di posisi itu, mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di muka bumi ini." timpal yang lainnya lagi.
"Kalian berdua! Jangan banyak bicara, ayo cepat kerjakan tugas kalian!" tegur pengawas di sana yang langsung membuat kedua wanita tersebut terdiam.
__ADS_1
Hu Liena mengulum senyum begitu dia mendengar bisikan-bisikan tersebut. Dia lalu menoleh ke arah Li Junjie yang saat ini menatap lurus ke arah depan seakan-akan dia tidak menghiraukan ucapan para wanita yang sedang memuji atas sikap manisnya.
"Silahkan ke sebelah sini, Pangeran." ucap petugas pemandu jalan.
Li Junjie berjalan dengan gagah sambil tangannya tak lepas menggandeng Hu Liena yang berjalan di sampingnya hingga membuat para gadis yang kebetulan sedang berada di tempat tersebut menjadi merasa iri dengan keberuntungan Hu Liena yang sebentar lagi akan di persunting Pangeran yang akan menjadi penerus tahta kerajaan dinasti Ying.
Bahkan sesekali dari mereka, ada yang dengan sengaja memandang nyalang ke arah Hu Liena karena merasa kesal dan juga cemburu melihat kejadian tersebut.
Sesampainya di ruangan utama, rombongan Li Junjie dan Hu Liena di sambut kembali oleh kepala bagian pemerintahan di sana, Shi Haotang.
"Selamat datang, Pangeran Jun. Si tua ini sangat senang karena bisa mendapatkan keberuntungan untuk melayani anda." ujar Shi Haotang dengan gembira.
"Terima kasih, Paman. Hari ini, aku datang hanya untuk merepotkanmu. Mohon bantuannya." ucap Li Junjie sopan yang di balas gelak tawa oleh Shi Haotang.
"Jangan berbicara seperti itu, Pangeran. Justru aku merasa tersanjung, karena Pangeran berkenan datang sendiri untuk mengurus semua dokumen. Padahal, dengan kedudukan anda sekarang, bisa saja kami yang di panggil untuk datang ke Istana."
Hu Liena sedikit heran, karena dari perbincangan mereka berdua, terlihat jelas jika keduanya sangat akrab dan memiliki hubungan yang lumayan dekat.
Li Junjie yang menyadari perubahan ekspresi Hu Liena, langsung menjelaskan tentang hubungannya dengan Shi Haotang.
Mendengar jika orang yang akan mengurus dokumen pernikahan mereka masih memiliki ikatan darah dengan calon Suaminya, Hu Liena langsung memberikan hormat kepada Shi Haotang. "Maafkan aku yang tidak mempunyai sopan santun kepada anda, Paman Shi."
"Jangan sungkan, Menantu. kita ini satu keluarga, tidak perlu sungkan seperti itu." balas Shi Haotang dengan senyum yang mengembang.
Sudah lama sekali dia mendengar berita tentang Calon Istri keponakannya tersebut, namun baru kali ini dia bisa bertemu langsung dengan Hu Liena.
Pantas saja keponakannya yang bagaikan kutub Utara bisa mencair, Hu Liena ternyata adalah seorang gadis yang sangat cantik.
Bahkan, Shi Haotang merasa jika Hu Liena bukanlah gadis sembarangan.
Dari tatapan dan gerak-geriknya, Shi Haotang bisa menebak, jika Hu Liena memiliki ke istimewaan yang tak di miliki gadis lain.
"Terima kasih atas kebaikan anda, Paman." ujar Hu Liena sambil kembali membenarkan posisi tubuhnya.
__ADS_1
"Tidak bisakah kita langsung menandatangani dokumennya? Masih ada beberapa hal yang harus aku urus di tempat lain." ucap Li Junjie lalu berjalan mendekati meja kerja milik Shi Haotang.
Dan tentu saja, dia tidak lupa untuk menuntun Hu Liena agar duduk di sampingnya.
"Ah, aku sampai lupa. Dokumennya sudah aku siapkan, tinggal kalian tandatangani saja." balas Shi Haotang.
Dia pun mengeluarkan beberapa berkas dari laci meja miliknya, yang langsung di sodorkan ke arah Li Junjie dan juga Hu Liena.
Dengan cepat, Li Junjie dan juga Hu Liena menyelesaikan urusan mereka di kantor pemerintahan. Setelah berbasa-basi sebentar, Li Junjie 'pun kembali mengajak Hu Liena untuk mengunjungi tempat tujuan kedua yang telah ia rencanakan sebelumnya.
"Di mana kita sekarang, Pangeran?" tanya Hu Liena kebingungan karena kereta yang mereka tumpangi berhenti di jalanan sepi.
"Aku ingin mengajakmu ke tempat yang istimewa." jawab Li Junjie datar.
Hu Liena tak lagi berkomentar, dia ingin tahu, tempat apa sebenarnya yang ingin Li Junjie tunjukkan kepadanya.
Setelah berjalan cukup jauh, Hu Liena sayup-sayup mendengar suara air bergemuruh saat deras.
"Air terjun?!" tanya Hu Liena sambil melirik ke arah Li Junjie.
Orang yang di tanya, hanya menjawab dengan sebuah senyuman manis yang tersungging di bibirnya yang tipis.
Berada semakin dekat dengan sumber suara, Hu Liena merasakan ada getaran yang aneh di dalam hatinya.
Tempat ini, aroma dedaunan ini, sepertinya aku pernah datang kesini sebelumnya, batin Hu Liena.
Sambil memperhatikan suasana sekitar mereka, Hu Liena terus berjalan dengan pikiran yang semakin tak karuan.
Di mana sebenarnya aku sekarang? batin Hu Liena lagi.
Di saat Hu Liena masih berusaha keras untuk mengingat, terdengar suara Li Junjie yang memanggil namanya dengan jelas.
"Putri! Apa kau ingat sesuatu?" tanya Li Junjie yang secara langsung membuyarkan lamunan Hu Liena.
__ADS_1
"Apa maksud anda, Pangeran?!"