
Di kursi taman, semua orang duduk sambil menatap ke arah Qian Yingzhi yang saat ini sedang berdiri dengan tegak di hadapan mereka.
"Katakan!" ucap Li Junjie dengan tegas.
"Saya tadi hanya kebetulan lewat saja, Pangeran. Tapi tiba-tiba, tangan saya di tarik dan di tuduh sebagai penyusup." tutur Qian Yingzhi singkat.
Li Junjie melirik ke arah Adik perempuannya, Li Jiang yang saat ini sedang menunduk pasrah.
"Apa kalian semua bisa mendengarnya? Semua hanya kesalahpahaman saja, Pangeran Qian tidak sedang melakukan apa yang kalian tuduhkan!" tegas Li Junjie yang langsung membuat hati kedua Adiknya menjadi ketar-ketir.
"Maafkan aku, Kakak. Tapi sikapnya sungguh mencurigakan, oleh karena itu aku langsung menarik tangannya agar para pengawal bisa dengan mudah menangkapnya." tutur Putri Li Jiang berusaha membela diri.
"Semua tidak seperti yang anda bayangkan, Putri. Saya sedang mencari barang pribadi saya yang tidak sengaja terjatuh di sana." ucap Qian Yingzhi sambil mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin bintang tergantung sebagai hiasannya.
Tiba-tiba, Putri Jia Li bergerak maju dan merebut kalung tersebut dengan paksa dari tangan Qian Yingzhi.
"Lancang! Ini adalah kalung milik Kakakku, Pangeran Yu Zemin!" bentak Putri Jia Li keras.
Qian Yingzhi tidak berusaha membantah, kalung itu memanglah kalung yang sering di pakai oleh Yu Zemin. Tapi bukan berarti, Qian Yingzhi merampas kalung tersebut dari Yu Zemin. Justru Yu Zemin-lah yang merampas kalung tersebut darinya.
"Putri, harap jaga kelakuan anda!" ucap Hu Liena memberi peringatan keras kepada Putri Jia Li.
Dengan berat hati, Putri Jia Li akhirnya menuruti perkataan Hu Liena. Dia memilih diam, meskipun hatinya masih merasa kesal dengan orang yang telah merebut kalung Kakaknya.
Selain itu, Putri Jia Li juga merasa tidak senang dengan panggilan yang di sematkan Pangeran Jun kepada laki-laki tersebut. Gelar Pangeran Qian hanya di miliki oleh satu orang, yaitu Pangeran Yu Zemin!
"Putri Jia Li, aku mengerti, kau pasti belum mengenal pemuda ini sebelumnya, 'kan? Dia adalah calon Putra Mahkota kerajaan Qian yang asli, bukan Yu Zemin yang kau sebut Kakakmu itu!" ucap Li Junjie yang membuat Putri Jia Li membelalakkan matanya karena terkejut setelah mendengar penuturan Pangeran Jun.
Buka hanya dia saja, Pangeran Jing dan Putri Jiang 'pun tak kalah terkejutnya dengan Putri Jia Li.
"Tidak, tidak mungkin?!" teriak Putri Jia Li sambil bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Tenanglah, Putri. Pangeran Jun, tidak mungkin membohongimu dalam hal ini." ucap Hu Liena dengan tidak kesal.
Putri Jia Li akhirnya kembali duduk di kursinya semula, dia menyesal telah berbuat hal yang kurang sopan di hadapan Pangeran utama kerajaan Ying.
"Maafkan saya, Pangeran Jun, Putri Xia." ucap Putri Jia Li sambil berusaha untuk menenangkan diri.
"Minta maaflah kepada Kakakmu, Pangeran kerajaan Qian." ucap Hu Liena sambil melirik ke arah Qian Yingzhi yang hanya berdiam diri tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Maaf, dia bukan Pangeran kerajaan kami." tolak Putri Jia Li dengan tegas.
Hu Liena kembali menatap ke arah Putri Jia Li yang menurutnya sangat keras kepala tersebut.
"Siapa yang menurut anda pantas, Putri? Yu Zemin? Putra dari Bibimu itu? Apa kau yakin, jika dia pantas?" tanya Hu Liena yang membuat Putri Jia Li mengerutkan alisnya.
"Apa maksud anda? Kakak Yu Zemin adalah Putra Ayahku, Kaisar Qian. Bukan Putra Bibi Song!" ucap Putri Jia Li berusaha membantah ucapan Hu Liena yang kini tersenyum penuh arti kepadanya.
"Apa yang di ucapkan Putri Xia memang benar adanya, Putriku!"
Tanpa terduga, Kaisar Qian kini sedang berjalan berdua bersama Kaisar Li Jinhai mendekat ke arah mereka sedang berkumpul.
Semua orang tanpa terkecuali, berlutut di hadapan kedua Kaisar berbeda kerajaan tersebut.
"Hormat kalian kami terima!" ucap Kaisar Qian yang duduk di kursi yang telah dengan sigap di siapkan oleh Qian Yingzhi.
Jangankan Kaisar Qian, Kaisar Li Jinhai saja merasa puas dengan sikap yang di tunjukan Qian Yingzhi di hadapan semua orang.
Sikapnya yang sopan, semakin membuat Kaisar Li Jinhai tidak merasa sia-sia telah membelanya selama ini.
"Jia Li, dia memang Kakakmu yang asli." ucap Kaisar Qian sambil melirik ke arah Putrinya.
Putri Jia Li nampak ingin membantah ucapan sang Ayah, namun niatnya terhenti karena Kaisar Qian kembali membuka suaranya.
__ADS_1
"Yu Zemin adalah Putra Bibimu, selama ini, dia sengaja menyamar sebagai Putra Mahkota di kerajaan kita." tutur Kaisar Qian yang membuat Jia Li menjadi bungkam.
Kaisar Qian kembali melirik ke arah Putri Jia Li yang masih tampak kebingungan, dan masih memasang ekspresi wajah rumit hingga sekarang.
"Bibimu mengurung Kakak aslimu sejak dia masih berumur satu tahun, dan menukarnya dengan Yu Zemin. Bibimu ingin, Putranya menjadi pemimpin di kerajaan kita dengan mengorbankan keponakannya sendiri."
Mata Putri Jia Li mulai mengeluarkan airmata yang kini telah menetes membasahi kedua pipinya.
"Kakak, maafkan aku!" ucap Putri Jia Li sambil menghambur ke pelukan Qian Yingzhi.
"Tidak apa-apa, semua bukanlah salahmu." ucap Qian Yingzhi sambil mengelus puncak kepala Putri Jia Li.
Putri Li Jiang, yang tadi sempat menuduh Qian Yingzhi sebagai pengintai, kini tertunduk merasa menyesal sekaligus merasa malu kepada Pangeran dari kerajaan Qian yang asli.
"Adik! Sepertinya, kau akan berada dalam masalah besar." bisik Pangeran Li Jing Sheng yang sontak membuat Putri Li Jiang menjadi ketakutan.
"Kakak, jangan menakutiku."
Li Jing Sheng menggelengkan kepalanya perlahan, dia merasa prihatin dengan masalah yang akan menimpa Adik perempuannya nanti.
Putri Li Jiang segera bergeser ke belakang Kakak Keduanya. Raut wajahnya terlihat sangat ketakutan.
Beberapa pengawal saling berbisik membicarakan tentang kemalangan yang mungkin akan menimpa Putri Li Jiang karena telah berani menuduh calon Putra Mahkota kerajaan Qian yang baru saja di ketemukan dengan keluarganya.
Ada juga beberapa orang dari pengawal, yang merasa prihatin, dan diam-diam mendo'akan Putri Li Jiang agar tidak ada sesuatu apapun yang akan terjadi kepadanya.
"Li Jiang, sedang apa kau di belakang sana? Kemari, duduk bersama Ayah!" panggil Kaisar Li Jinhai sambil melambaikan tangannya kepada sang Putri.
Putri Li Jiang memegang tangan Li Jing Sheng dengan erat. Dia tidak ingin berpindah tempat, dan terlihat oleh Pangeran Qian. Akan sangat memalukan baginya, pikir Putri Li Jiang.
"Kemarilah, Nak!" seru Kaisar Li Jinhai.
__ADS_1
"Kakak ...," Putri Li Jiang memelas meminta Li Jing Sheng untuk melindunginya.
"Maafkan aku, Adik! Aku tidak bisa membantumu kali ini!" ucap Li Jing Sheng dengan pasrah.