
"Bodoh! Tidak berguna!" Tuan Qiang memukuli anak buahnya yang datang tanpa membawa hasil.
"Ampuni kami, Tuan! Kedua orang itu sangatlah hebat! Kami sama sekali bukan tandingan mereka!" Ucap si ketua kelompok berusaha membela diri.
"Bukan dia yang hebat! Tapi kalian yang terlalu lemah!" Bentak si Tuan Qiang.
Si ketua kelompok menunduk lesu di teriaki lemah oleh majikannya.
"Apa kalian tahu, di bawa kemana, si Tabib Hong itu?" Tanya Tuan Qiang yang masih merasa geram.
"Sepertinya, mereka membawa Tabib Hong ke rumah Pangeran Jun, Ayah!" Xiulin datang, dan langsung mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"Pangeran Jun? Pangeran Pertama kerajaan Ying?" Tanya Tuan Qiang memastikan.
"Benar, Ayah! Li Junjie, Pangeran Pertama kerajaan Ying!" Jawab Xiulin penuh dengan keyakinan.
"Ternyata dia!" Tuan Qiang memunculkan seringai jahatnya.
Ekspresi Xiulin berubah-ubah begitu melihat tingkah Ayahnya yang seperti itu.
"Apa ayah pernah bertemu dengan Pangeran Jun?" Tanya Xiulin yang penasaran.
Tuan Qiang mengangguk. "Ayah pernah bertemu dia ketika masih berusia dua bulan."
"Dua bulan?" Tanya Xiulin heran.
Tuan Qiang mengangguk lagi.
"Jika Ayah bertemu dengan Pangeran Jun yang masih berusia dua bulan, berarti Ayah mengetahui tentang masalah racun yang ada di tubuhnya?" Tanya Xiulin merasa bersemangat.
Tuan Qiang menyeringai lagi ketika Xiulin menanyakan tentang hal tersebut.
Xiulin semakin merasa penasaran mengetahui tentang cerita Pangeran Jun di masa lalu.
"Ayah, tolong ceritakan, apa yang Ayah ketahui tentang cerita di balik keracunan Pangeran Jun waktu itu." Ucap Xiulin antusias.
Sebelum berbicara, Tuan Qiang meminta Anak buahnya untuk pergi terlebih dahulu.
Setelah hanya tinggal dirinya dan Xiulin di ruangan itu, barulah Tuan Qiang membuka suara.
"Bukan hanya tahu semua ceritanya, Ayah bahkan tahu siapa orang yang memberikan racun itu kepada si Pangeran." Tegas Tuan Qiang.
Xiulin terkejut dengan ucapan sang Ayah.
"Lalu, siapa orang itu, Ayah?" Xiulin tak bisa menahan rasa ingin tahunya tentang orang yang berani meracuni Putra orang nomor satu di kerajaan.
"Kau yakin ingin mengetahui tentan orang itu?" Tanya Tuan Qiang penuh misteri.
__ADS_1
Xiulin mengangguk bersemangat.
"Orang itu adalah Ayahmu sendiri!"
Splashh...
Jederr....
Seperti ada petir yang menyambar begitu ucapan itu keluar dari mulut Tuan Qiang.
"Jadi Ayah yang melakukannya?" Xiulin nampak tertekan mengetahui kenyataan tentang Ayahnya.
"Apa kau merasa takut dengan Ayah?" Tuan Qiang panik jika Xiulin akan menjauhinya.
Tanpa di duga, Xiulin menggelengkan kepalanya.
"Aku justru merasa bangga dengan Ayah!"
"Bangga?" Antara terkejut dan bahagia, itulah yang di rasakan Tuan Qiang.
Terkejut karena Putrinya tidak berusaha menolak dirinya, setelah tahu kenyataan jika dia adalah penjahat nomor satu yang di cari di kerajaan dinasti Ying.
Tuan Qiang bahagia, karena akhirnya ada seseorang yang merasa bangga dengan apa yang telah di lakukannya.
"Benar, bangga! Aku bangga, karena Ayahku adalah seorang pemberani! Jika kau saja mampu melakukan hal itu kepada seorang Pangeran, berarti kau juga mampu untuk membantuku membalas dendam!" Mata Xiulin berkilat ketika mengatakan itu semua kepada Ayahnya.
"Terima kasih, Ayah!" Xiulin merasa bahagia mendapat pembelaan seperti itu dari Tuan Qiang.
Namun masih ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Xiulin sekarang.
Jati diri sang Ayah! Itu yang masih menjadi pertanyaan di benaknya Xiulin.
"Ayah, aku ingin ...," Ucapan Xiulin terhenti karena kedatangan Ibunya, Yueqin.
"Tuan, Putriku, ternyata kalian di sini!" Ucap Yueqin sambil berjalan mendekati mereka berdua.
Xiulin merasa kesal karena dirinya tak gagal mengetahui identitas sang Ayah. Kalau saja Ibunya tidak datang, mungkin dia sudah bisa mengetahuinya sekarang.
"Ada apa Ibu? Kenapa kau mencari kami?" Xiulin berkata dengan nada kesal.
"Ibu memasak sesuatu untuk kalian, cepat ikut Ibu ke ruang makan. Kita makan bersama sekarang!" Ajak Yueqin dengan hati gembira.
Namun kegembiraan Yueqin, bukan berarti kegembiraan juga untuk Xiulin. Dia masih merasa kesal dengan Ibunya sampai sekarang.
"Kita bisa makan nanti Ibu, untuk apa terburu-buru." Tuan Qiang melirik Xiulin yang bersikap keras kepala seperti dirinya ketika muda dulu.
Dia benar-benar mirip denganku, batin Tuan Qiang.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu, Ibu sudah berusaha memasak untuk kalian. Jadi tolong hargai usaha Ibumu, Xiulin." Ucap Yueqin menjadi kesal.
Yueqin memang sudah berusaha dengan keras untuk bisa memasak hari ini. Namun Xiulin seperti tidak suka dengan hasil kerja kerasnya.
"Sudahlah Istriku, jangan memarahi Xiulin. Harusnya kau merasa senang, karena Xiulin mau mengakuiku sebagai Ayahnya." Tuan Qiang membela Xiulin di hadapan Istrinya, Yueqin.
Yueqin tak lagi banyak bicara, dia hanya meminta kedua orang Ayah dan Anak itu untuk mengikutinya ke ruang makan.
Setelah selesai makan, Yueqin meminta Xiulin untuk menemaninya ke suatu tempat.
Xiulin ingin menolak, tapi Tuan Qiang memintanya untuk menuruti ucapan sang Ibu.
"Xiulin, kau pasti ingin tahu siapa Ayahmu sebenarnya bukan?" Yueqin berbicara di tengah langkah kakinya.
Xiulin menghentikan langkah, dan menoleh ke arah Yueqin yang kini juga berhenti di sebelahnya.
"Katakan Ibu, apa yang kau ketahui tentang Ayah!" Ucap Xiulin tegas.
Dia merasa harus mengetahui tentang semua rahasia sang Ayah yang baru dia kenal beberapa hari lalu.
"Dulu, Ayahmu adalah seorang Panglima perang dari kerajaan Ying." Ucap Yueqin mengawali cerita.
"Lalu?" Xiulin merasa tidak sabar karena Yueqin malah menghentikan ceritanya di tengah jalan.
Yueqin menarik nafas berat, lalu bercerita lagi.
"Dia di tuduh menjadi penyebab kematian Kaisar terdahulu di medan perang. Dan Li Jinhai, yang dahulu masih menjadi Putra Mahkota menyalahkan Ayahmu atas kejadian yang menimpa Ayahnya." Yueqin bercerita sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
"Kaisar brengsek!" Xiulin ikut merasa geram atas perlakuan Kaisar kepada Tuan Qiang.
"Kaisar memang terlihat baik dari luar, namun sebenarnya Kaisar adalah orang yang paling kejam yang pernah ada di kerajaan kita." Yueqin kembali menebar benih kebencian di hati Xiulin.
Akibatnya, Xiulin kini semakin membenci Kaisar Li Jinhai atas kemalangan yang dia alami beserta Ibunya. Kalau saja Kaisar tidak menyalahkan Tuan Qiang, mungkin dia akan bahagia hidup sebagai Putri dari seorang Panglima perang. Bukannya anak seorang gundik, dari kediaman Perdana Menteri seperti sekarang.
Di Istana Kaisar...
"Pangeran Jun! Cepat ceritakan padaku, bagaimana tentang penyusupan yang terjadi di penjara bawah tanah milikmu." Kaisar bertanya kepada Li Junjie yang saat ini sedang mengunjunginya.
"Kejadiannya tidak terduga, Ayah! Semua terjadi begitu cepat. Bahkan para penjaga sekalipun, tidak mengetahui jika ada orang yang menyusup ke dalam penjara." Kaisar terkejut dengan penuturan Putranya.
"Bagaimana mungkin?" Kata Kaisar dengan keras.
Pangeran Jun menarik nafas untuk menutupi kemarahannya di hadapan Kaisar.
"Mereka menggunakan racun untuk melumpuhkan para penjaga." Ucap Li Junjie geram.
"Racun?" Kaisar semakin merasa ada kejanggalan dalam kasus penyusupan kali ini.
__ADS_1