Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
169. Aku mencintaimu!


__ADS_3

Karena Li Junjie terus merangsek maju, yang bisa Hu Liena lakukan hanyalah terus bergerak mundur agar dirinya bisa terhindar dari pelukan sang Pangeran.


Bukannya tidak ingin, Hu Liena melakukan itu semua karena dirinya masih merasa gugup jika harus berada sedekat itu dengan calon Suaminya tersebut.


"Putri, kenapa anda selalu menghindariku?" sungut Li Junjie kesal.


"Bukan begitu Pangeran, aku hanya belum siap, itu saja." sangkal Hu Liena sembari dirinya terus berjalan mundur perlahan karena lagi dan lagi Li Junjie terus berusaha untuk mendekatinya.


Karena merasa Hu Liena terus menjauhinya, Li Junjie akhirnya menyerah juga dan dirinya kini memilih untuk menjaga jarak.


"Sebaiknya kita ke arah sana saja, di sana, ada tempat yang mungkin akan mengingatkanmu kepada tempat ini." ajak Li Junjie sambil menunjuk ke arah air terjun yang mengalir deras ke bawah tebing.


Hu Liena tidak menyahut, dia bergerak mengikuti langkah Li Junjie dengan patuh dari arah belakang.


Sesampainya di bawah tebing, Hu Liena terperangah dengan pemandangan yang di lihatnya, "Ba-bagaimana mungkin?! Tempat ini- ...," ucapnya perlahan namun masih mampu di dengar dengan jelas oleh Li Junjie.


"Apa kau mengingat sesuatu?" tanya Li Junjie sambil dirinya tersenyum tipis menoleh ke arah Hu Liena.


Yang di tanya bukannya langsung menjawab, dia malah memijit pelipisnya sendiri seperti orang yang sedang kebingungan.


"Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Li Junjie sedikit cemas melihat reaksi yang tak wajar dari Hu Liena.


Niat Li Junjie mengajak calon Istrinya ke tempat tersebut hanya ingin mengingatkan sebuah kenangan di masa lalu tentang jiwa yang katanya datang dari masa depan yang kini mengisi tubuh gadis yang telah membuatnya jatuh cinta tersebut. Namun malah kini, reaksi yang di dapatkan justru malah mengkhawatirkan dirinya.


"Tidak! Aku tidak apa-apa! Aku baik-baik saja, Pangeran." bantah Hu Liena, "Tempat ini, dulu sering sekali menjadi tempat kunjunganku di dalam mimpi." lanjut Hu Liena lagi.


"Apa kau yakin, Putri? Apa benar kau baik-baik saja?" tanya Li Junjie dengan nada khawatir.

__ADS_1


"Iya, seperti yang anda lihat, aku baik, aku hanya sedikit terkejut melihat tempat ini." jawab Hu Liena yang membuat Li Junjie akhirnya bisa bernafas lega.


"Ah, syukurlah." hela Li Junjie.


Hu Liena mengangguk, lalu matanya berpendar mengamati suasana sekitar tempat mereka berdua saat ini.


"Pangeran, anda bilang, anda ingin mengatakan sesuatu tentang rahasia tempat ini, apa itu?" tanya Hu Liena penuh selidik.


Tak segera menjawab, Li Junjie justru malah berjalan mendekati deretan batu yang berjajar di pinggiran sungai yang airnya berasal dari air terjun yang mereka lihat sebelumnya.


Hu Liena juga tidak terlalu terburu-buru, dia kini justru mengikuti apa yang di lakukan Pangeran idaman hatinya tersebut.


"Tempat ini dulu sering sekali menghiasi setiap malam di mimpiku, Putri. Dulu aku mengira, tempat ini hanya sebuah ilusi, dan hanya hadir dalam mimpiku saja, namun mimpi itu terus berulang sampai aku bertemu dengan si Tabib Tua." terang Li Junjie.


"Lalu?" tanya Hu Liena penasaran.


"Jadi anda- ...," ucap Hu Liena terpotong seakan lidahnya tak sanggup lagi untuk mengeluarkan kata-kata.


Pikirannya melayang ke beberapa bulan yang lalu, sewaktu dirinya masih berada di dunia modern. Setiap malam Hu Liena juga sering bermimpi ke tempat ini mengenakan pakaian kebesarannya sebagai Dokter, dan anehnya, dia selalu bertemu dengan pria yang sama setiap kali dalam mimpinya.


Dan ternyata, pria itu adalah Li Junjie, yang sekarang akan menjadi calon Suaminya di dunia yang dia sendiri tidak pernah tahu keberadaannya di mana.


Ya Tuhan, sebenarnya apa yang kau rencanakan dengan hidupku? Bagaimana mungkin pria yang selalu hadir di dalam mimpiku dulu ternyata Pangeran Jun? Pria yang selalu membuat malam-malamku menjadi tidak tenang, batin Hu Liena.


"Apa kau ingat denganku sekarang, Putri? Tidakkah kau merasa bahagia, karena akhirnya kita berdua bisa bertemu di dunia nyata?" tanya Li Junjie dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Aku- ...," Hu Liena semakin sulit untuk berkata-kata.

__ADS_1


Pikirannya masih di sibukkan dengan berbagai macam pertanyaan.


"Aku mengerti, kau pasti sulit menerima kenyataan ini, Putri. Tapi satu hal yang harus kau tahu, di dunia ini, hanya kaulah yang paling berharga dalam hidupku. Entah kau menerima atau tidak, aku akan tetap memperjuangkanmu untuk tetap berada di sisiku selamanya. Tak peduli kau siapa, dan dari mana asal-usulmu, aku, Pangeran Jun, akan tetap menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hidupku." tegas Li Junjie yang membuat hati Hu Liena menjadi tersentuh.


"Pangeran, terima kasih."


Hanya itu, kata yang sanggup Hu Liena ucapkan sebelum akhirnya dia bungkam kembali seribu bahasa.


Setelah beberapa saat mereka berdua menikmati keindahan air terjun dalam keheningan. Li Junjie akhirnya memutuskan untuk mengajak Hu Liena kembali ke tempat di mana para pengawal menunggu kedatangan mereka.


Hal yang sama pun terjadi, keheningan masih menyelimuti suasana, meskipun mereka berdua kini telah berada di atas kereta


"Maaf, Pangeran. Kita telah sampai di kediaman Perdana Menteri." lapor Guotin dari arah luar.


Setelah mendengar laporan dari pengawal pribadi Li Junjie, Hu Liena bersiap untuk menuruni kereta. Tapi sebelum itu, dia menoleh dulu ke arah Li Junjie yang kini tengah menatapnya dengan tatapan sendu.


Tanpa aba-aba, Hu Liena langsung memeluk pria yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya tersebut.


"Pangeran, aku juga menginginkanmu untuk tetap berada di sisiku selamanya. Aku mencintaimu!" bisik Hu Liena yang membuat jantung Li Junjie berdebar kencang.


"Aku juga, mencintaimu, Putri." balas Li Junjie dengan bibir bergetar.


Setelah mendengarkan apa yang di inginkan, Hu Liena akhirnya melepaskan pelukan dan langsung turun tanpa menoleh lagi.


Mungkin Hu Liena terlalu malu karena telah memeluk Li Junjie lebih dulu. Namun yang jelas, wajah keduanya kini memerah dan perubahan keduanya sempat di saksikan oleh Guotin yang membantu membukakan pintu kereta untuk Hu Liena.


Eh, ada apa dengan wajah Pangeran dan juga Putri Xia? Apa mereka sakit karena terlalu lama bermain di air terjun? batin Guotin.

__ADS_1


__ADS_2