Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
62. Fakta tentang Bibi Kiew


__ADS_3

Sebelum Yueqin bisa menjawab ucapan Hu Liena, kaki Yueqin sudah di tendang dari belakang.


BRUGHHH...


Yueqin ambruk dan jatuh berlutut di lantai.


Dengan susah payah Yueqin bangkit dan langsung menoleh ke arah orang yang menendangnya.


Alangkah terkejutnya Yueqin, karena mendapati Hu Liena sudah berada di belakangnya.


Jadi, yang menendang kakiku itu adalah, Hu Liena! Bagaimana bisa? Bagaimana bisa gadis sialan ini berada di belakangku secepat itu! batin Yueqin.


Hu Liena kembali menendang kaki Yueqin!


Kali ini, Hu Liena menendang dari arah depan.


Yueqin ingin menghindar, tapi dia kalah cepat. Kaki Hu Liena sudah mendarat di lututnya.


KRAKK...


Suara tulang patah terdengar di dalam gudang.


Agghhh....


Yueqin berteriak kesakitan karena jatuh terjengkang dengan kencang.


Hu Liena menghampiri sosok Yueqin yang kini sedang tergeletak di lantai.


Dia lalu berjongkok dan langsung menjambak rambutnya.


"Sakiit!" Teriak Yueqin ketika Hu Liena menarik rambutnya.


"Sakit? heh ... ini belum seberapa! Aku akan menyiksamu dengan cara yang lebih menyakitkan lagi dari ini!" Ujar Hu Liena, lalu dia berjalan sambil menarik paksa rambut Yueqin hingga tubuhnya ikut tertarik juga.


"Tidak! lepaskan! tolong lepaskan aku!" Teriak Yueqin histeris.


Bibi Kiew ingin menolong, tapi seseorang sudah menotok tubuhnya hingga tak mampu bergerak sama sekali.


"Diam di sini! Dan tunggu giliranmu!" Kata Li Junjie dengan sinis.


Bibi Kiew bergidik mendengar ucapan Li Junjie.


Giliran? Jadi aku juga akan mendapatkan giliran? batin Bibi Kiew.


Yueqin yang di seret Hu Liena meringis kesakitan. Ia terus berteriak-teriak minta di lepaskan.


Namun Hu Liena tidak menggubrisnya, dia malah semakin berjalan cepat.


Setelah sampai di sudut ruangan, Hu Liena berhenti.


Yueqin berteriak begitu Hu Liena menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Lepaskan aku, brengsek!"


"Lepaskan? Baik, aku akan melepaskanmu!" Ucap Hu Liena sembari melepaskan jambakannya di rambut Yueqin.


Namun detik berikutnya, Hu Liena menendang lagi tubuh Yueqin hingga terpental membentur tembok.


Bugghhh...


Agghhh....


Yueqin berteriak kesakitan. Kali ini, rasanya lebih sakit dari sebelumnya.


"Kau, yang telah menyebabkan Ibuku meninggal! Hari ini, aku akan membuatmu membayar sedikit demi sedikit hutang nyawa yang kau pinjam!" Kata Hu Liena dengan penuh penekanan.


Yueqin bergidik, dia ingin lari. Namun tubuhnya susah untuk di gerakkan.


"Iya benar! Aku yang membunuh Ibumu! Aku iri, karena dia memiliki segalanya yang aku tidak punya! Harta, kedudukan, dan juga keluarga yang bahagia!" Ucap Yueqin penuh kebencian.


"Jadi karena alasan itu, kau membunuh Ibuku? Sungguh sangat menyedihkan sekali hidupmu, Bibi!" Cibir Hu Liena.


Yueqin memelototi Hu Liena.


"Kau tidak akan mengerti dengan hidupku! Dasar anak yang tidak tahu diri!"


"Kau yang tidak tahu diri!" Timpal Hu Boqin yang baru memasuki gudang.


Yueqin menoleh, lalu tersenyum smirk ke arah Suaminya tersebut.


"Jadi anda juga sudah mengetahuinya! Baguslah! Supaya aku tidak perlu lagi berpura-pura menjadi Istri penurut!" Ucap Yueqin tenang.


"Makan ini!" Ucap Hu Liena sembari memasukkan paksa pil itu ke dalam mulut Yueqin.


Yueqin berusaha menolak, tapi karena tubuhnya yang sudah tidak bisa bergerak. Membuat dia tidak bisa berbuat banyak. Dan pil itu dengan lancar memasuki perutnya.


"Gadis sialan! Aku akan membunuhmu setelah ini!" Ucap Yueqin sebelum hilang kesadarannya karena pengaruh pil yang di masukkan Hu Liena.


"Pil apa yang kau berikan kepadanya, Nak?" Tanya Hu Boqin penasaran.


"Pil yang aku minta dari Tabib Hong, Pil itu bisa membuat orang lumpuh untuk selamanya."


Hu Boqin terkejut dengan penuturan dari Putrinya.


Pil kelumpuhan? sungguh sangat menakutkan! batin Hu Boqin.


Hu Boqin bergidik ngeri dengan hanya memikirkannya saja.


Berbeda dengan Hu Liena. Dia malah dengan santainya, mengeluarkan beberapa pil lagi dari balik lengan bajunya.


"Pil apalagi itu?" Tanya Hu Boqin yang semakin penasaran melihat Putrinya memasukkan sebuah pil lagi ke dalam mulut Yueqin.


"Aku hanya tidak ingin dia banyak bicara lagi, di masa mendatang." Balas Hu Liena datar.

__ADS_1


Hu Boqin sudah bisa menebak maksud dari Hu Liena. Pil pertama, membuat Yueqin lumpuh. Dan pil kedua, membuat Yueqin kehilangan suaranya.


Sungguh sangat, sangat, dan sangat menakutkan pil yang di bawa oleh Putrinya itu.


Hu Liena kini berjalan mendekati Bibi Kiew yang sedang menatapnya dengan ketakutan.


"Sekarang giliranmu, Nyonya!"


Bibi Kiew terbelalak dengan sebutan Nyonya yang di sematkan oleh Hu Liena kepadanya.


"Putriku, dia itu pelayan. Bagaimana mungkin, kau menyebutnya dengan sebutan seperti itu?" Tegur Hu Boqin heran.


Hu Liena terkekeh, lalu menjawab ucapan Ayahnya.


"Dia itu sebenarnya selir dari Tuan Besar Yue Ayah! Tapi karena status keluarganya yang rendah, Nyonya ini lalu di singkirkan begitu saja!"


Hu Boqin terkejut dengan keterangan yang di berikan Hu Liena.


"Selir? Tuan Besar Yue?" Gumam Hu Boqin.


"Kenyataan yang satu ini akan membuat Ayah lebih terkejut lagi ...," Ujar Hu Liena dengan seringai licik.


"Apa?" Tanya Hu Boqin dengan jantung berdetak kencang.


"Nyonya ini juga adalah Ibu dari Istri anda, Ayah!"


Degg~


Jantung Hu Boqin serasa berhenti ketika mengetahui jika Bibi Kiew adalah Ibunya Yueqin.


"Bagaimana bisa?" Tanya Hu Boqin frustasi.


"Mudah saja, Ayah Mertua. Setelah terusir dari kediaman keluarga Yue, perempuan ini menikah dengan pria biasa di kampung, dan menggunakan nama keluarga Suaminya sebagai identitas baru. Setelah itu, dia kembali memasuki kediaman keluarga Yue, untuk mengurus Putri pertamanya, dengan menyamar sebagai pelayan. Benar begitu 'kan, Nyonya Liu?"


Bibi Kiew langsung terperanjat dengan penuturan yang di berikan Hu Liena.


Tak hanya itu, Bibi Kiew juga langsung ketakutan begitu identitas aslinya terbongkar.


Tidak! Bagaimana bisa mereka mengetahui identitasku sebenarnya, batin Bibi Kiew.


Hu Liena yang melihat kepanikan di mata Bibi Kiew, langsung mencibir.


"Rupanya kau bisa takut juga ya, Nyonya!"


"Dia itu bukan takut padamu, Sayang! Dia itu takut, kalau Putri tercintanya akan membenci dan membunuhnya jika sampai tahu identitasnya yang asli." Ujar Li Junjie dengan congkaknya.


"Ish, jangan terlalu kejam begitu Pangeran! Belum tentu Putrinya itu, bisa melakukan semua yang kau tuduhkan." Ucap Hu Liena yang membuat Li Junjie menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa?" Tanya Li Junjie dengan heran.


Hu Liena memutar mata malas. Pangeran Jun ini, kadang pintar kadang bodoh, pikirnya.

__ADS_1


"Anda lupa! Aku sudah memberinya minum pil kelumpuhan, jadi mana mungkin orang lumpuh bisa membunuh. Di tambah lagi, Putrinya Nyonya ini sekarang bisu, jadi apalagi yang bisa dia perbuat."


Ucapan Hu Liena mampu membuat sorot mata Bibi Kiew yang tadinya panik, menjadi sorot mata penuh kemarahan dan kebencian.


__ADS_2