
Pangeran Chunian melompat mundur ketika kilat cahaya yang berasal dari jarum Hu Liena mengincar kedua tangannya.
Shuuttt!
"Agghhh!"
"Sial!"
Teriak Pangeran Chunian saat salah satu jarum terakhir yang di lesatkan Hu Liena menancap di pergelangan tangannya.
Hu Liena langsung bangkit, dan mengambil posisi bersiap untuk menyerang kembali.
Kini dia mengeluarkan sebilah belati tajam dari balik jubahnya, yang dia persiapkan sebelumnya.
"Hey, aku tidak menyangka jika Istana kerajaan Ying akan menyimpan gadis-gadis yang sangat cantik!" ucap Pangeran Chunian yang membuat Hu Liena mencebik kesal.
"Pangeran cabul sepertimu, lebih baik jika menghadap Raja Neraka lebih awal."
Wuusshhh!
Hu Liena berpindah dengan cepat, dan tiba-tiba muncul di samping Pangeran Chunian sambil mengayunkan tangan yang memegang belati.
Pangeran Chunian berniat menangkap tangan Hu Liena karena berpikir jika gadis sepertinya tidak memiliki tenaga yang cukup kuat untuk melawan tenaga seorang pria.
Apalagi, pria tersebut adalah seorang Pangeran seperti dirinya yang sudah terlatih secara pisik dan mental di medan perang.
Sraatttt!
"Agghhh!"
Darah menyembur keluar saat pisau belati Hu Liena menusuk bahu Pangeran Chunian.
Bugghhh!
Hu Liena menendang perut Pangeran Chunian, hingga dia terjatuh menabrak pintu kamar hingga terbuka lebar.
"Tangkap dia!" perintah Li Junjie yang saat ini tengah berdiri dengan tegak dan menatap Pangeran Chunian sinis.
"Perempuan sialan!" umpat Pangeran Chunian.
BRAKK!
Dadanya di injak dengan sangat keras oleh Li Junjie yang kini seperti harimau yang sedang lapar.
"Ughh!"
Pangeran Chunian melenguh kesakitan saat Li Junjie semakin menekankan injakannya.
"Berani sekali kau mengeluarkan kata-kata kotor kepada calon Istriku!" ucap Li Junjie geram.
Pangeran Chunian menggerakkan tangannya, berniat ingin mengangkat kaki Li Junjie agar tak menginjak dadanya lagi.
Namun dia begitu terkejut, ketika tangan sebelah kanannya tidak bisa dia gerakkan.
Apa? Apa yang terjadi? batin Pangeran Chunian.
Dia melirik ke arah pergelangan tangannya yang mulai kebas, dan sangat terkejut begitu melihat kulit tangannya mulai membiru.
__ADS_1
Racun?! Aku sudah di racun?! batin Pangeran Chunian.
Pangeran Chunian melirik ke arah Hu Liena dan menatapnya penuh dengan kebencian.
Bugghhh!
Pangeran Li Jing Sheng menendang kaki Pangeran Chunian dengan sangat keras.
"Apa yang kau lihat? Mengapa menatap Kakak Iparku seperti itu? Huh! Bahkan, saat ini aku ingin mencongkel kedua biji bola matamu itu!" ucap Li Jing Sheng dengan garang.
Tanpa sadar, Pangeran Chunian bergidik ketika mendengar bola matanya akan di keluarkan.
Penjaga yang dari tadi memegangi Pangeran Chunian 'pun, tak ayal ikut bergetar tangannya ketika melihat kemarahan Pangeran Jing yang terkenal ramah kepada semua orang tersebut.
Ternyata, Pangeran imut seperti Pangeran Jin juga sangat mengerikan jika sedang marah. Pikir mereka.
"Jing Sheng, tenanglah! Biarkan para penjaga membawanya kembali ke dalam tahanan." ucap Kaisar Li Jinhai.
Pangeran Li Jing Sheng sekali lagi menendang kaki pangeran Chunian. Sebenarnya, dia belum merasa puas dengan hanya menendang kakinya saja.
Dia ingin melampiaskan semua kemarahannya yang selama ini dia pendam kepada Pangeran Chunian.
Berani-beraninya si Pangeran cabul ini berniat menyakiti Putri Li Jiang!
Adiknya, Adik perempuan kesayangannya!
Bugghhh!
Semakin memikirkannya, Pangeran Li Jing Sheng semakin merasa kesal. Dan tanpa sadar kakinya bergerak lagi menendang keras kaki si Pangeran Chunian.
"Kalian, awas saja. Kalian semua akan menanggung semua akibat karena telah merendahkan seorang Pangeran." teriak Pangeran Chunian dengan keras.
"Adik Jing, tidak perlu banyak menguras tenaga. Aku akan mengajarimu cara menyiksanya dengan perlahan-lahan." ucap Hu Liena dengan menampilkan seringai jahat di wajahnya.
"Benarkah, Kakak Ipar? Bagaimana caranya?" tanya Li Jing Sheng bersemangat.
Hu Liena maju lalu membisikkan sesuatu ke telinga calon Adik Iparnya, Li Jing Sheng.
"Bagaimana, menarik tidak?" tanya Hu Liena yang di balas dengan senyuman mengembang dari wajah Li Jing Sheng.
"Ide Kakak Ipar boleh juga!" ujar Li Jing Sheng sambil mengangguk puas.
Li Junjie memperhatikan interaksi keduanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
Bukan cemburu, tapi heran dan juga penasaran.
Apa yang Hu Liena bisikkan hingga Adiknya tampak bersemangat seperti itu?
"Kalian! Apa yang sedang kalian rencanakan?" tanya Li Junjie dengan alis berkerut.
Li Jing Sheng melirik Kakaknya, namun dia tidak mengatakan apa-apa. Hu Liena sendiri hanya berpura-pura saja tidak mendengar pertanyaan dari pria, yang akan menjadi calon Suaminya tersebut.
"Putri, apa yang terjadi?" tanya Li Junjie dengan kesal karena Hu Liena telah mengacuhkannya.
"Tidak, tidak ada apa-apa!" jawab Hu Liena datar.
Li Junjie melirik ke arah Adiknya, Li Jing Sheng.
__ADS_1
Dia menatap tajam sang Adik, dengan harapan dia akan mendapat jawaban dari pertanyaannya.
"Kakak, aku tidak bisa memberitahukannya padamu. Aku sudah membuat kesepakatan dengan Kakak Ipar, oleh karena itu, aku tidak akan mengatakan apapun juga."
Jawaban dari Li Jing Sheng sungguh membuat hati Li Junjie semakin kesal.
Ada apa? Mengapa, dia tidak boleh tahu rencana keduanya?
Li Junjie mengangkat kembali kakinya, dan menendang dada Pangeran Chunian dengan keras.
Dia melakukan semua itu sebagai bentuk kekesalan, dan menjadikan tubuh Pangeran Chunian sebagai pelampiasan kemarahan.
Li Jing Sheng nampak gugup, tapi sebisa mungkin dia berusaha tetap tenang.
Dia tahu alasan Kakaknya melakukan hal tersebut.
Untuk mengancamnya secara tidak langsung, agar dia memberitahukan rencana yang di berikan oleh calon Kakak Iparnya.
Tidak, Li Jing Sheng bertekad untuk tetap pada kesepakatan.
Sedangkan Hu Liena, berdiri dengan tampang acuh tak acuh. Bukan sebuah kejutan namanya, jika dia harus memberitahukan rencananya dari awal.
"Seret dia ke penjara!" ucap Li Junjie setengah berteriak.
Para pengawal 'pun segera melakukan apa yang di perintahkannya.
Li Junjie memutar tubuhnya, lalu pergi meninggalkan Kaisar Li Jinhai yang masih tercengang dengan kelakuannya.
"Buruk! Sangat buruk!" ucap Kaisar Li Jinhai sambil menggelengkan kepala dan melirik ke arah Putra keduanya, Li Jing Sheng.
"Kakak Ipar, bagaimana ini? Kakak Pertama murka, dia bisa saja menghukumku jika tidak segera membocorkan rahasia kita!" ucap Li Jing Sheng mulai merasa gentar.
Hu Liena tertawa kecil, lalu menepuk bahunya Li Jing Sheng pelan.
"Adik Jing, tidak perlu khawatir! Aku akan membujuknya, agar tidak mengusikmu lagi."
"Baik, aku percayakan masalah Kakak Pertama kepadamu, Kakak Ipar. Masalah Pangeran cabul, biarkan aku saja yang mengurusnya." ucap Li Jing Sheng sambil mengangguk penuh keyakinan.
Kaisar Li Jinhai merasa penasaran, namun dia tidak mau bernasib sama dengan Putra Pertamanya.
Pergi dengan perasaan marah, karena di acuhkan oleh kedua orang yang ada di hadapannya sekarang.
Kaisar Li Jinhai melirik ke arah tempat di mana Li Jing Sheng dan calon menantunya berbincang barusan.
Namun dia menjadi terkejut, saat mendapati keduanya sudah tidak ada lagi di tempatnya semula.
"Ah, sudahlah! Sebaiknya, aku juga kembali ke tempatku. Hari masih gelap, aku juga butuh waktu untuk istirahat." gumam Kaisar Li Jinhai sambil membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan gerha milik Putri kesayangannya, Putri Li Jiang.
Hu Liena menyelimuti tubuh Putri Li Jiang, yang kini sedang tertidur dengan tenang.
"Kau sudah aman sekarang, Putri." ucap Hu Liena perlahan sambil mengelus puncak kepala Putri Li Jiang.
Setelah itu, dia lalu bangkit dan mulai berjalan meninggalkan ruangan.
Sebelum pergi, Hu Liena meminta beberapa dayang untuk berjaga di dalam kamar Putri Li Jiang.
Sedangkan di luar, dia juga meminta beberapa pengawal Istana, untuk melakukan penjagaan dengan ketat.
__ADS_1
Bukan apa-apa, Hu Liena hanya tidak mau membuat Putri Li Jiang