Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
21. Racun di tubuh Li Junjie.


__ADS_3

Di kediaman Pangeran Jun...


"Guotin, apa kau sudah melakukan apa yang ku perintahkan?" Tanya Li Junjie kepada pengawalnya.


"Sudah, Yang Mulia." Jawab Guotin hormat.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Li Junjie lagi.


"Tabib Hong tetap bersikeras menolak, Yang Mulia." Terang Guotin.


Li Junjie mendengus, dia sudah mengira jika hal ini akan terjadi, Tabib Hong seperti sengaja ingin menghindarinya.


Sepertinya, aku harus turun tangan sendiri mengenai hal ini, batin Li Junjie.


Tabib Hong adalah harapan satu-satunya yang di miliki oleh Li Junjie. Jika Tabib Hong terus melakukan penolakan, ini akan berdampak buruk bagi dirinya.


Racun yang bersarang di dalam tubuhnya harus segera di keluarkan, jika tidak, dalam kurun waktu satu tahun Li Junjie akan kehilangan nyawanya.


Sebenarnya, racun itu sudah berada di dalam tubuh Li Junjie sejak usia lima tahun. Dan seluruh Tabib yang memeriksanya mengatakan, jika dia hanya mampu bertahan sampai usia dua puluh lima tahun.


Sekarang, usia Li Junjie sudah hampir dua puluh lima tahun. Tinggal menunggu beberapa bulan lagi untuk mencapai usia genapnya.


Namun, suatu ketika Li Junjie bertemu dengan seorang pria paruh baya di dalam mimpinya. Pria itu membantu Li Junjie dengan terapi akupuntur, yang membuat dirinya memuntahkan darah hitam dari mulutnya.


Pria itu menyebutkan, jika terapi yang dia lakukan berguna untuk menekan pergerakan racun yang ada di dalam tubuhnya.


Si Pria juga menyebutkan, jika racun di tubuh Li Junjie, hanya bisa di keluarkan sepenuhnya oleh Tabib ajaib dalam ramalan, dan Li Junjie di minta untuk menemuinya. Ketika Li Junjie ingin menanyakan keberadaan Tabib tersebut, Pria yang menolongnya telah menghilang.


Setelah itu, Li Junjie langsung terbangun dari tidurnya. Karena penasaran dengan kebenaran di dalam mimpinya, Li Junjie meminta Tabib Istana untuk memeriksakan kondisi tubuhnya.


Dan hasilnya sungguh sangat mengejutkan, selain racun itu berkurang, kesempatan hidup Li Junjie pun bertambah hingga satu tahun lamanya.


Mulai saat itu, Li Junjie berusaha mencari informasi tentang Tabib ramalan yang di sebutkan. Dan satu-satunya orang yang belum di tanyainya adalah, Tabib Hong.


Namun, Tabib Hong selalu menghindari pertemuan dengan dirinya.


Kemana lagi aku harus segera mencari Tabib ramalan yang di sebutkan pria dalam mimpiku itu, batin Li Junjie.


...----------------...


Di gerha bunga.....


Hu Liena kini sedang menatap puluhan jarum akupuntur yang ada di hadapannya. Jarum itu terbuat dari emas murni dengan ukuran yang berbeda-beda.


Aku tidak menyangka, jika Ayah dan Ibu akan menyiapkan semuanya ini untukku, batin Hu Liena.

__ADS_1


Hu Liena memisahkan jarum-jarum tersebut sesuai ukurannya. Jarum yang berukuran 5 inci total 21 buah, dan jarum yang berukuran 1 inci total 11 buah, sedangkan sisanya berukuran 2 inci ada 49 buah.


Jarum itu di buat dengan desain khusus, dan biasanya, para praktisi hanya akan menggunakan perak sebagai bahan utamanya.


Sedangkan jarum yang berada di tangan Hu Liena, terbuat dari emas murni dan kwalitasnya tentu lebih baik dari yang lainnya.


"Nona, ini sarapan anda!" Luqiu tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.


Hu Liena yang masih bergelut dengan jarum-jarumnya, hanya melirik sekilas ke arah Luqiu tanpa bersuara.


Luqiu juga tak terlalu memperhatikannya, karena saat ini, dirinya fokus dengan makanan yang di bawanya.


Setelah menyajikan semua makanan di atas meja, barulah Luqiu menyadari keberadaan jarum-jarum tersebut.


"Jarum-jarum ini untuk apa, Nona?" Tanyanya kepada Hu Liena.


"Ini jarum akupuntur, biasa di gunakan dalam ilmu pengobatan." Jelas Hu Liena kepada Luqiu. Ia tak berusaha menutupi apapun darinya.


"Jarum akupuntur?" Luqiu masih merasa kebingungan dengan jawaban majikannya.


"Iya, Tabib Hong memberikan jarum-jarum ini sebagai hadiah." Jawab Hu Liena. Kali ini, dia menggunakan nama Tabib Hong untuk menutupi kebohongannya.


Dia tak bisa menyebutkan, jika jarum ini berasal dari dimensi rahasia. Ruangan itu terlalu berbahaya, jika di ketahui oleh orang banyak.


Meskipun Hu Liena percaya, jika Luqiu tidak akan membocorkan rahasianya. Namun tetap saja, dia harus berjaga-jaga.


Setelah Hu Liena selesai memisahkan jarum-jarumnya, ia pun segera menyimpannya.


"Luqiu! setelah sarapan, bisakah kau mengantarku untuk berjalan-jalan ke luar?" Tanya Hu Liena.


"Tentu saja Nona!" Ucap Luqiu bersemangat. Dia juga sudah lama tak pernah merasakan hiruk pikuk jalanan ibu kota dan hanya berdiam diri di dalam kediaman. Sekalipun keluar waktu itu, hanya pergi ke kediaman Tabib Hong.


"Baiklah, kalau begitu. Kau pergilah bersiap, aku akan keluar setelah menghabiskan makanan ini." Ucap Hu Liena kepada pelayan setianya.


"Baik, Nona." Ujar Luqiu seraya berlalu pergi untuk mempersiapkan perjalanan mereka.


Setelah beberapa saat berlalu, Luqiu pun kembali datang. "Nona, kereta sudah siap."


"Um." Hu Liena menganggukkan kepala seraya beranjak dari tempatnya.


Di depan gerbang, si penjaga yang melihat kedatangan Hu Liena, langsung menghadang jalan.


"Maaf, Nona. Anda tidak boleh meninggalkan kediaman." Ucap si Penjaga tersebut.


"Kenapa, Paman?" Tanya Hu Liena sopan.

__ADS_1


Si Penjaga merasa gugup. Dia tidak menyangka, jika Puteri seorang bangsawan seperti Hu Liena, akan berbicara sesopan itu kepada seorang Penjaga sepertinya.


"Hamba hanya menjalankan perintah dari Tuan Perdana Menteri, Nona." Jawab si Penjaga.


"Ada apa ini?" Hu Boqin yang baru turun dari keretanya merasa heran, dia langsung mendekat dan bertanya kepada mereka.


"Salam hormat, Ayah." Ucap Hu Liena begitu melihat kedatangan Ayahnya.


Bohong jika Hu Boqin merasa tak tersentuh dengan perlakuan Putrinya, dia kini hanya bisa diam dengan mata berkaca-kaca.


"Apa yang terjadi di sini?" Tanya Hu Boqin setelah tersadar dari lamunannya.


"Maafkan hamba, Tuan." Si Penjaga buru-buru meminta maaf sebelum di salahkan. "Hamba tidak bermaksud untuk menghentikan perjalanan Nona Hu Liena." Ucapnya lagi.


Hu Boqin mengerti, Penjaga ini menjalankan tugasnya dengan baik dengan tidak membiarkan Hu Liena untuk pergi.


Namun, Putrinya juga mungkin merasa bosan karena terkurung terus di dalam kediaman dan ingin jalan-jalan untuk sekedar menikmati pemandangan.


Hu Boqin memang sangat ketat akhir-akhir ini, dia tidak ingi terjadi sesuatu kepada Hu Liena dan terus merasa khawatir dengan keselamatan Puterinya.


"Baiklah, berikan dia jalan." perintah Hu Boqin kepada pengawalnya, dia tidak ingin mengecewakan perasaan Hu Liena.


"Terima kasih, Ayah."


Hu Boqin mengangguk ke arah Hu Liena lalu berbalik kembali melanjutkan perjalanannya.


Di tengah jalan, dia berbisik kepada Guotin. "Suruh Wang bersaudara mengikuti Putriku, Hu Liena."


...----------------...


Di sebuah kedai, kini Xiulin sedang berbincang dengan seorang pria muda.


"Jadi anda adalah Putra dari bangsawan Mo?" Tanya Xiulin kepada lawan bicaranya.


"Benar, Nona." Jawab si pria muda tersebut, yang bukan lain adalah Mo Yan Zhen.


Dia sengaja mengajak Xiulin bertemu kali ini, untuk menawarkan bantuannya menyingkirkan Hu Liena.


Selain untuk menyusun rencana, Mo Yan Zhen juga ingin menarik perhatian dari Xiulin, gadis yang menjadi pujaan hatinya.


"Jadi, untuk apa anda memintaku bertemu di tempat ini?" Ucap Xiulin lembut.


Tak salah memang, jika orang-orang tertipu dengan penampilan Xiulin. Dengan wajah cantiknya tersebut, Xiulin berhasil menutupi kebusukan di dalam hatinya.


"Aku hanya ingin memberitahukan, jika orang-orang yang kami kirim ke kediaman Perdana Menteri tempo hari, telah gagal melakukan tugasnya. Dan mayat mereka di temukan di hutan, sehari setelahnya." Terang Mo Yan Zhe.

__ADS_1


"Apa!"


__ADS_2