
Di ruangan yang terbilang mewah, seseorang sedang duduk di kursi yang terbuat dari kulit harimau.
Orang itu sedang duduk dengan cara membelakangi arah pintu. Jadi Mo Chong an, dan juga Putranya Mo Yan Zhen, belum bisa melihat dengan jelas sosok di balik kursi tersebut.
"Lancang! Berani sekali kalian tidak memberi hormat kepada Tuan!" bentak seorang pria yang di duga adalah orang kepercayaan Tuan Bao.
"Salam hormat kami, kepada Tuan Bao!" dengan terpaksa Mo Chong an mengajak sang Putra untuk memberi hormat kepada orang yang akan di ajaknya untuk bekerja sama.
"Bangunlah!" terdengar suara berat dari balik kursi besar beralas kulit harimau.
Mo Chong an kembali berdiri dengan tegap di susul oleh Mo Yan Zhen yang juga berdiri dengan gagah di samping Ayahnya.
"Ada perlu apa kalian datang kesini?" tanya orang di balik kursi besar.
"Maafkan kelancangan kami, Tuan Bao! Tapi kami datang kemari, ingin menawarkan kerja sama yang sangat menguntungkan." ucap Mo Chong an dengan bersemangat.
Bibir orang di balik kursi besar, menyunggingkan seringai jahat.
"Keuntungan besar, ya ...," gumamnya dengan perlahan namun masih mampu di dengar oleh semua orang yang berada di ruangan tersebut.
"Benar, Tuan Bao!" jawab Mo Chong an antusias.
"Katakan, kerja sama seperti apa yang kau inginkan?" ucap si Tuan Bao.
Mo Chong an merasa senang karena Tuan Bao sepertinya sudah tertarik dengan tawaran yang dia ajukan sekarang.
"Ini menyangkut masalah dua kerajaan, Tuan!" ucap Mo Chong an dengan berhati-hati.
Dia tidak bisa mengatakan dengan gamblang maksud dan keinginannya secara langsung. Mo Chong an ingin melihat dulu, bagaimana reaksi orang yang menjadi lawan bicaranya sekarang.
Jika tidak ada reaksi apapun, mungkin orang itu akan setuju dengan penawarannya. Jika bereaksi, maka Mo Chong an harus waspada, karena bisa-bisa dia akan terjebak dalam masalah besar.
"Dua kerajaan? Kerajaan yang mana?" tanya Tuan Bao dengan heran.
"Apa boleh, saya menceritakannya?" tanya Mo Chong an masih penuh rasa waspada.
__ADS_1
"Cepatlah!" Tuan Bao merasa tidak sabar.
Mo Chong an lalu menceritakan niat awalnya datang ke tempat Tuan Bao. Dia memulai ceritanya dari kisa Putri Song Qian, agar Tuan Bao merasa tergerak hatinya untuk bekerja sama.
Setelah itu, Mo Chong an juga menceritakan tentang kisah para bangsawan yang saat ini sudah di jebloskan ke dalam penjara oleh Pangeran Jun.
Ekspresi wajah Tuan Bao di balik kursi besar, berubah-ubah ketika mendengarkan ceritanya Mo Chong an yang sudah hampir selesai.
"Jadi dia, orangnya ...," kalimat yang di ucapkan perlahan oleh Tuan Bao terdengar jelas oleh Mo Yan Zhen dan juga Mo Chong an.
Mereka berdua yakin, jika Tuan Bao ini memiliki dendam pribadi kepada Pangeran Jun.
Terbukti jika Tuan Bao sangat bersemangat begitu mendengar nama Pangeran Jun di sebutkan olehnya
"Bagaimana, Tuan? Apa anda bersedia membantu kami?" tanya Mo Chong an penuh harap.
Tuan Bao terdiam beberapa saat setelah mendapatkan pertanyaan dari tamunya.
Mo Chong an melirik ke arah Mo Yan Zhen, agar sang Putra membantunya membujuk Tuan Bao.
"Tuan Besar Bao! Jika anda bersedia membantu kami, Tuan Putri Song tidak akan segan-segan untuk memberikan anda kekayaan, dan juga kekuasaan di manapun yang anda inginkan." bujuk Mo Yan Zhen.
Di balik kursi besar, orang yang di panggil Tuan Bao menaikkan sebelah alisnya ke atas.
"Hanya itu?" tanyanya penuh dengan rasa ketidak puasan dengan imbalan yang di tawarkan.
Mo Chong an melirik ke arah Putranya, yang saat ini menatapnya juga dengan kebingungan.
"Ayah, bagaimana ini? Apa kita bisa, menaikkan imbalannya?" bisik Mo Yan Zhen kepada Ayahnya.
"Aku juga tidak tahu, Putri Song hanya menjanjikan hal itu saja." ujar Mo Chong an dengan ekspresi kebingungan juga.
"Hey, kalian! Tuan sedang bertanya, cepat jawab!" orang kepercayaan Tuan Bao kembali membentak Mo Chong an yang hanya berbisik-bisik saja dengan anaknya.
"Maafkan kami, Tuan! untuk saat ini, hanya itu saja yang bisa kami tawarkan." jawab Mo Chong an dengan penuh keraguan.
__ADS_1
Dia berharap Tuan Bao mau mempertimbangkan tawarannya untuk bekerja sama. Dan akan lebih bagus lagi, jika Tuan Bao langsung menyetujui saja tanpa harus menunggunya berpikir terlebih dahulu.
"Kalian berdua sangat tidak sopan! Berani sekali kalian mengajak Tuan bekerja sama, hanya dengan imbalan sekecil itu?" cibir orang kepercayaan Tuan Bao kepada Mo Chong dan Putranya sinis.
Sebenarnya, Mo Chong an merasa geram dengan perlakuan anak buah Tuan Bao yang terkesan tidak memiliki sopan santun kepada dirinya yang seorang bangsawan terhormat.
Tapi untuk keberhasilan niatnya, Mo Chong an mencoba untuk bersabar, dan menahan amarahnya.
"Bukan seperti itu, Tuan. Kami harus berdiskusi dulu, dengan Tuan Putri Song." jawab Mo Chong an sopan.
"Hehh, pria yang hanya bisa berlindung di balik punggung perempuan, adalah pria yang lemah!" cibir orang kepercayaan Tuan Bao dengan sarkas.
Di balik kursi besar, Tuan Bao menutup mulutnya karena terkejut dengan ucapan orang yang di tunjuk sebagai kaki tangan, dan sekaligus juga juru bicaranya.
Entah apa yang di takuti oleh Tuan Bao. Tapi yang jelas, Tuan Bao merasa kasihan dengan nasib yang akan menimpa orang kepercayaannya nanti.
"Tuan, tolong pertimbangkan terlebih dahulu tawaran kami." ucap Mo Yan Zhen yang melihat Ayahnya kini seperti hilang kesabaran.
"Kalian, pergilah!" ucap Tuan Bao yang langsung membuat Mo Chong an merasa kesal.
Dia sudah berusaha untuk datang, bahkan memohon kepada orang yang sampai saat ini, belum menunjukkan batang hidungnya kepada mereka.
"Tuan, tolong dengarkan aku dulu!" ucap Mo Chong an saat beberapa pengawal datang dan mulai menyeret tubuhnya keluar ruangan.
"Lepas! Lepaskan aku!"Mo Chong an mulai berontak ketika tubuhnya di seret keluar dari ruangan.
"Ayah, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Mo Yan Zhen kebingungan.
Pasalnya, mereka berdua sudah berjanji untuk membantu Putri Song menyerang kerajaan Ying beberapa hari lagi.
Jika sampai saat itu mereka belum mendapatkan pasukan, maka bisa di pastikan, Putri Song akan marah besar kepada mereka.
"Kita tunggu saja di sini! Siapa tahu Tuan Bao berubah pikiran, dan menerima tawaran kita!" ujar Mo Chong an dengan penuh rasa ketidak berdayaan.
Mo Yan Zhen akhirnya setuju dengan usulan sang Ayah. Dia berdiri dengan sabar, menanti keputusan dari Tuan Besar Bao.
__ADS_1
Semoga saja, keputusan dari irang ternama tersebut, bisa membuat mereka puas, dan juga berbangga diri