Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
25. Menagih hutang.


__ADS_3

Di depan gerbang...


Hu Liena berteriak memanggil-manggil nama Mo Yan Zhen dengan keras.


"Tuan Muda Mo, ayo keluar! Temui aku di sini, aku ingin kau membayar hutangmu itu."


Suara Hu Liena yang lantang, membuat orang-orang yang berlalu lalang menjadi penasaran dan berkerumun di depan kediaman bangsawan Mo.


"Hey ... lihat! Ada gadis cantik yang mencari Putra bangsawan Mo." Bisik seorang ibu kepada yang temannya.


"Iya aku juga dengar, dia datang untuk menagih hutang." Balas yang lain.


"Tidak mungkin! Bangsawan Mo sangat kaya, tidak mungkin jika Putranya akan berhutang pada orang lain." Timpal yang temannya lagi.


"Ehh ... lihat, lihat! Itu Tuan Besar Mo sudah datang." Ibu yang tadi langsung berseru begitu melihat kemunculan Mo Chong an.


"Gadis kurang ajar! Apa yang kau lakukan di depan kediamanku!" Bentak Mo Chong an kepada Hu Liena.


Hu Liena masih terlihat tenang meskipun saat ini sedang di hadapkan dengan pria kasar seperti Mo Chong an. Bahkan, tak nampak sedikit pun ketakutan di matanya.


"Aku datang ingin mengambil uangku!" Jawab Hu Liena datar.


"Uang! Uang apa yang kau maksud?" Teriak Mo Chong an keras.


Mo Chong an memang tidak mengetahui, jika Putranya harus membayar seribu tahil kepada Hu Liena.


"Putramu, mempunyai hutang yang sangat besar kepadaku!"


Orang-orang kembali berbisik begitu mendengar ucapan Hu Liena.


"Ternyata benar Putra bangsawan Mo memang memiliki hutang kepada gadis ini, aku kira dia hanya membual saja tadi."


"Sungguh memalukan!" Maki seseorang.


"Iya benar, memang sangat memalukan!" Timpal yang lainnya.


Mo Chong an tentu saja mendengar semua perkataan mereka, itu sebabnya dia langsung berteriak kepada orang-orang di sekitarnya. "Kalian, diamlah! Jika tidak bisa diam, aku akan buat kalian bungkam untuk selamanya."


Teriakan Mo Chong an langsung membuat orang-orang yang tadi sedang berbisik ria menjadi terdiam dan tak ada satupun dari mereka yang kembali bersuara.


Namun gertakan itu tak berlaku bagi Hu Liena, justru dirinya kini malah semakin berani menantang Mo Chong an. "Cepat! Panggilkan Putramu itu, aku sudah lelah berdiri terus di sini tanpa kejelasan."


Emosi Mo Chong langsung tersulut. "Gadis kurang ajar! Cepat pergi dari sini!"


"Aku tidak akan pergi sebelum Putramu memberikan uangku!" Balas Hu Liena tak kalah tegas.


"Putraku tidak mungkin berhutang padamu!" Bentak Mo Chong an.


"Pria tua! Coba kau tanyakan dulu padanya." Tantang Hu Liena.


Mo Chong an kehabisan akal untuk mengusir Hu Liena. Namun dia tidak memiliki pilihan lain, selain menyuruh seseorang untuk menanyakan langsung kepada Putranya.


"Cepat! Tanyakan kepada Putraku, apa benar dia memiliki hutang kepada gadis sialan ini!"

__ADS_1


"Baik, Tuan." Si Pelayan yang di perintahkan Mo Chong an segera berlari ke dalam kediaman.


Setelah beberapa saat, pelayan itu kembali membawa berita untuk Mo Chong an.


"Tuan, Nona ini berkata benar. Tuan Muda harus membayar seribu tahil perak kepadanya."


"Bajingan!" Umpat Mo Chong an kesal.


Saat ini, dia merasa malu dan juga marah secara bersamaan. Apalagi, kejadian itu di saksikan oleh banyak orang.


Hu Liena menyeringai, ia merasa puas karena telah mempermalukan bangsawan Mo.


"Bagaimana? Apa kau percaya sekarang? Aku kesini memang ingin mengambil uangku, kau malah tak mempercayainya." Sindir Hu Liena kasar.


Bukan Mo Chong an namanya, jika harus menyerah kepada seorang gadis seperti Hu Liena.


"Pergilah dari sini! Aku tidak akan membayarnya." Usir Mo Chong an.


Seiring ucapannya, Mo Chong an menggerak-gerakkan tangannya untuk mengusir Hu Liena.


Di luar dugaan, Hu Liena malah tertawa mengejek Mo Chong an. "Ha-ha ... Baiklah, aku akan pergi dari sini sekarang. Tapi jangan salahkan aku, jika Pangeran Jun akan datang untuk menagih uang itu dan memberikan pelajaran padamu."


"Untuk apa Pangeran Jun membantu gadis kurang ajar sepertimu. Dasar bodoh!" Mo Chong an kembali tak percaya dengan ucapan Hu Liena.


"Kau boleh saja berkata seperti itu, tapi semua orang di sini tahu apa yang Pangeran Jun janjikan padaku saat itu." Jawab Hu Liena tenang.


"Iya aku mendengarnya, tadi Pangeran Jun berkata. Jika Putra bangsawan Mo tidak memberikan uang itu kepada Nona Hu Liena, maka dia sendiri yang akan datang untuk menagihnya." Teriak seorang pria dari kerumunan penonton.


Beberapa orang juga, mulai meneriakkan hal yang sama seperti orang sebelumnya.


"Benar, Nona ini berkata yang sebenarnya."


Bibir Mo Chong an berkedut mendengar teriakan orang-orang yang membela Hu Liena.


"Cepat ambilkan uangnya!" Mo Chong an berteriak menyuruh pelayan mengambilkan uangnya.


Setelah Pelayan itu datang, Mo Chong an langsung menyerahkannya kepada Hu Liena.


Hu Liena menimbang-nimbang uang itu sebentar, lalu berbicara. "Aku tidak tahu, uang ini pas atau tidak." Ujar Hu Liena tanpa dosa.


Mo Chong an berusaha menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tahu, Hu Liena hanya memancing kemarahannya saja.


Karena Mo Chong an tidak berbicara, Hu Liena kembali menyindirnya. "Tapi aku rasa, orang sepertimu tidak mungkin mengurangi jumlah uangnya. Jadi, aku akan pergi sekarang. Terima kasih, Pak Tua!"


"Pergilah, bajingan!" Mo Chong an akhirnya kehilangan kesabarannya dan langsung membentak Hu Liena.


"Ha-ha ... Ayo kita pergi, sebelum Pak Tua itu memakanmu." Hu Liena tertawa lepas seraya menyeret Luqiu pergi dari sana.


...----------------...


Di kediaman Pangeran Jun...


"Hormat hamba, Pangeran." Guotin membungkuk hormat di hadapan Li Junjie.

__ADS_1


"Katakan!" Ucap Li Junjie tanpa menoleh.


"Nona Hu Liena sudah pergi ke kediaman bangsawan Mo hari ini." Lapor Guotin.


Li Junjie mengangguk puas, "Bagus, gadis itu memang bisa di andalkan."


"Iya Pangeran, Nona Hu Liena juga sangat hebat bisa mengalahkan bangsawan Mo." Puji Guotin.


"Apa mereka memberikan uangnya?" Tanya Li Junjie lagi.


"Benar, Pangeran. Mereka memberikannya, meskipun dengan sedikit paksaan." Jelas Guotin.


"Mo Chong an beruntung, bukan aku yang mengambilnya kesana." Ujar Li Junjie dengan seringai jahatnya.


Guotin bergidik melihat ekspresi majikannya seperti itu. Dia tahu, sekejam apa Pangeran ketika sudah turun tangan.


Di waktu yang sama...


Dahi Hu Boqin berkerut mendapatkan laporan dari pengawalnya.


"Apa yang kau katakan itu benar?" Hu Boqin bertanya memastikan.


"Semua yang hamba ucapkan itu benar, Tuan." Ujar Changing mengiyakan.


Hu Boqin memijit pelipisnya. "Bagaimana gadis itu melakukannya?" Gumamnya perlahan.


Ia sakit kepala, begitu mendengar laporan dari Changing jika Hu Liena membuat keributan di kediaman bangsawan Mo.


"Di mana gadis nakal itu sekarang?" Tanya Hu Boqin.


"Seharusnya dia sudah dalam perjalanan pulang, Tuan." Tebak Changing.


Hu Boqin berdiri begitu mendengarnya. "Sebaiknya kita pergi, untuk menyambut kedatangan gadis nakal itu."


"Baik, Tuan." Jawab Changing dengan rasa waswas.


Di depan gerbang kediaman Perdana Menteri...


"Luqiu, idemu bagus juga ...," Ucap Hu Liena sambil menimang-nimang uang miliknya.


"Tapi tadi itu sangat menakutkan, Nona." Ujar Luqiu yang masih merasa panik.


"Tenanglah, mulai saat ini kau akan sering mengalaminya." Kata Hu Liena datar.


"Bagaimana bisa tenang, jantungku saja terasa mau copot, Nona." Oceh Luqiu kepada Hu Liena.


Hu Liena berdecak sebal ketika mendapatkan ocehan dari pelayan setianya tersebut.


"Kau ini payah sekali ...," Cibir Hu Liena.


"Aku ini benar-benar ketakutan, Nona." Sahut Luqiu.


"Yang penting kita mendapatkan uangnya." Ucap Hu Liena seraya menunjukkan kantong uangnya.

__ADS_1


"Uang apa maksudmu gadis nakal?


__ADS_2