Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
67. Tak ada rotan, akar 'pun jadi.


__ADS_3

"Nyonya tunggu saja di rumah, Tuan pasti pulang! Saat itu, Nyonya bisa mengungkapkan isi hati anda kepada Tuan!" Bujuk Bibi Ling dengan sabar.


Nyonya Yue mengangguk.


Dia akhirnya setuju untuk di bawa pulang oleh Bibi Ling.


Di dalam gudang...


Bibi Kiew yang sudah tidak tahan, akhirnya jatuh pingsan.


Bangsawan Yue sudah berkali-kali mencoba menyadarkan Bibi Kiew, namun semua usahanya hanya sia-sia saja.


Bibi Kiew sudah banyak menerima siksaan hari ini, dan itu membuat daya tahan tubuhnya semakin melemah.


Agghhhh...


Bangsawan Yue berteriak dengan kesal.


Niat hatinya ingin puas menyiksa mantan selir jahatnya itu, akhirnya gagal total.


Untuk terakhir kalinya sebelum Bangsawan Yue pergi, ia menendang Bibi Kiew dengan keras.


Jedakk...


Tubuh Bibi Kiew terjengkang bersama kursi yang di dudukinya setelah Bangsawan Yue menendang dengan kekuatan penuh.


Setelah melihat tubuh perempuan yang di bencinya sekarang ambruk. Bangsawan Yue membalikkan tubuhnya dan pergi dari tempat itu.


Di depan pintu, Bangsawan Yue berhenti, dan memberi isyarat kepada beberapa pengawal yang langsung menghampirinya.


"Jaga tempat ini! Dan jangan biarkan ada orang yang masuk! Jika ada sesuatu yang terjadi, segera laporkan padaku!" Ucap Bangsawan Yue tegas.


Di sebuah kedai teh...


"Apa? Kau benar-benar mengirimkan surat kaleng itu kepada Bangsawan Yue?" Tanya Hu Liena yang terkejut dengan laporan yang di berikan pengawal Li Junjie.


"Benar!" Jawab Li Junjie datar.


Hu Liena semakin tidak mengerti dengan cara berpikir calon Suaminya ini.


Sebentar dia bilang jangan, sebentar dia bilang boleh, sebentar lagi dia juga akan bilang tidak.


"Bukankah kau yang bilang, agar Bangsawan Yue tidak perlu sampai tahu masalah ini?" Tanya Hu Liena heran.


"Itu benar! Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, rasanya asik juga kalau Bangsawan Yue sampai tahu." Ucap Li Junjie datar.


Hu Liena semakin tidak mengerti dengan pembahasan yang di ucapkan oleh Li Junjie.


"Apa maksudnya, Pangeran?" Kata Hu Liena heran.


"Kepala keluarga Yue ternyata menyimpan dendam kepada perempuan tua itu. Dan ketika aku mengiriminya surat kaleng, dia begitu antusias dan langsung bergegas pergi ke sana."

__ADS_1


"Bagaimana dengan Nyonya Yue? Apa dia akan terkena masalah, jika nanti bertemu dengan Bangsawan Yue di sana?" Tanya Hu Liena lagi yang sedikit merasa khawatir.


"Tidak, tidak akan! Kau tenang saja, Sayang!" Jawab Li Junjie penuh keyakinan.


"Hahhhh ... semoga saja begitu!" Ucap Hu Liena sembari menarik nafas panjang pasrah.


Li Junjie menyodorkan teh ke arah Hu Liena yang tampak pasrah tersebut.


"Ini, minumlah!" Ucap Li Junjie.


Setelah Hu Liena meneguk teh itu sampai habis, barulah Li Junjie meneruskan ucapannya.


"Kepala keluarga Yue juga mempunyai dendam pribadi kepada pelayan tua itu ...," Ucap Li Junjie.


"Dendam? Dendam apa?" Tanya Hu Liena penasaran.


Li Junjie menerangkan awal mula bertemunya Bangsawan Yue dengan Bibi Kiew atau Liu Ning tersebut.


Dari awal Bangsawan Yue di jebak dan akhirnya harus mengambil Bibi Kiew sebagai selir sebelum menikah dengan Nyonya Yue yang sekarang, Li Junjie ceritakan semuanya kepada Hu Liena.


"Jadi ada ... dendam yang seperti itu! Sungguh membingungkan sekali, sosok wanita tua ini!" Gumam Hu Liena setelah mendengar cerita Li Junjie.


"Bukan hanya itu, Sayang!" Kata Li Junjie seraya kembali menuangkan teh ke cangkir Hu Liena.


"Apalagi?" Tanya Hu Liena makin penasaran.


"Ibu tirimu juga bukan berdarah Yue!" Tegas Li Junjie.


Pffttt...


"Apa? Apa katamu tadi, Pangeran?" Tanya Hu Liena setengah berteriak.


"Ishh ... hati-hati, nanti tersedak!" Bukannya menjawab, Li Junjie malah mengelap mulut Hu Liena yang basah oleh air teh.


"Um ... maafkan aku!" Ujar Hu Liena tersipu.


Li Junjie kembali bercerita sembari terus mengelap mulut Hu Liena dengan kain.


"Nyonya Yueqin sebenarnya Putri dari Bangsawan Bai, yang saat itu berstatus sebagai kekasih Liu Ning. Keadaan Bangsawan Bai dulu juga belum sekaya ini, jadi dia merelakan Liu Ning menikah dengan kepala keluarga Yue."


"Jadi begitu ...," Gumam Hu Liena.


"Benar, seperti itu!" Balas Li Junjie.


Hu Liena merenung tentang asal-usul Ibu tirinya.


Jika keturunan Ibu Tirinya serumit itu, bagaimana dengan Putrinya, Xiulin. Apakah benar, Xiulin adalah Putri dari Suami pertama Yueqin? Atau ada lagi, sosok Ayah di balik kelahiran Xiulin?


Semakin Hu Liena memikirkannya, semakin Hu Liena merasa sakit kepala.


"Kau tidak perlu pusing memikirkan asal-usul saudari tirimu, Xiulin." Ucap Li Junjie yang sontak membuat Hu Liena terkejut.

__ADS_1


"Bagaimana anda bisa tahu pikiranku, Pangeran?"


"Tentu saja aku tahu, apa yang bisa di sembunyikan dariku, Pangeran yang serba tahu semuanya." Kata Li Junjie narsistik.


"Huhhh ... sombong!" Cibir Hu Liena.


"Ha-ha-ha!"


Li Junjie hanya tertawa mendapat cibiran dari Hu Liena.


"Pangeran!"


Sedang asiknya berbincang, pengawal bayangan Li Junjie datang untuk memberi laporan.


"Katakan!" Tegas Li Junjie.


Hu Liena tidak bersuara, dia hanya memperhatikan interaksi Li Junjie dan pengawal, dari arah samping.


"Pelayan tua itu sudah meninggal." Lapor si pengawal yang bukan lain adalah Bigwen.


"Apa kau yakin?" Tanya Li Junjie memastikan.


"Hamba yakin, Pangeran! Pelayan tua itu di siksa terus-terusan oleh Nyonya, dan Tuan Besar Yue. Kondisi tubuhnya kian melemah, dan akhirnya meninggal dunia tanpa di ke bumikan." Ucap Bigwen.


"Hemm ... baiklah, kau boleh pergi sekarang!" Ucap Li Junjie dengan tenang.


Pengawal itu lalu pergi, setelah memberi hormat kepada Pangeran Jun dan Hu Liena.


"Sayang sekali, dia harus mati sebelum aku memberinya kenang-kenangan." Ujar Hu Liena dengan perasaan sesal.


"Apa yang akan kau berikan kepadanya?" Tanya Li Junjie heran.


"Tentu saja sesuatu yang tidak akan pernah dia lupakan, meskipun sudah berada di dalam neraka sekalipun." Kata Hu Liena dengan penuh dendam.


"Aku rasa belum terlambat, bukan?"


Hu Liena menggelengkan kepala, dia sudah tidak berselera sekarang.


"Tentu saja terlambat! Untuk apa aku memberikannya sekarang? Bukankah orangnya juga sudah menjadi mayat? Bagaimana bisa, mayat menikmati hadiah yang ku berikan?" Ujar Hu Liena yang masih tampak kesal.


"Tidak perlu seperti itu, kau bisa tetap memberikannya kepada salah satu ahli warisnya." Ujar Li Junjie seraya menyeringai.


Hu Liena juga balas menyeringai.


'Tak ada rotan, akar 'pun jadi' Begitulah peribahasa yang Hu Liena ingat.


"Anda benar, Pangeran! Aku masih bisa memberikan hadiah ini kepada penerusnya. Ha-ha!" Ucap Hu Liena berbahagia.


Hu Liena tidak peduli, jika dia di bilang kejam ataupun semacamnya.


Yang jelas, dendam Hu Liena harus terbalas.

__ADS_1


Lagipula, penerus dari Bibi Kiew juga tak kalah jahat dengan inangnya.


Mereka seperti memiliki garis kejahatan yang turun temurun dari nenek moyangnya.


__ADS_2