Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
28. Harga diri Wang bersaudara.


__ADS_3

Semua orang di buat kalang kabut oleh kejadian ini.


Tak terkecuali Xiulin, ia bergegas datang ketika mendengar kabar tentang kejadian yang menimpa Ibunya hari ini."


"Ibu, apa yang terjadi? mengapa tubuhmu di penuhi bintik-bintik seperti ini?" Tanya Xiulin panik ketika melihat bintik merah di kulit Yueqin.


"Ibu tidak tahu, ketika bangun sudah seperti ini." Ujar Yueqin seraya tangannya tak berhenti menggaruk tubuhnya.


"Berhenti, Ibu! Jangan di garuk terus, nanti kulitnya bisa terkelupas." Xiulin berusaha menahan gerakan Ibunya, karena memang sudah terlihat beberapa bagian kulit Yueqin yang mengeluarkan darah.


"Ibu tidak bisa berhe- ...," Belum selesai ucapannya, Yueqin sudah berlari meninggalkan Xiulin.


"Ibu mau kemana?" Teriak Xiulin panik ketika melihat Ibunya lari terbirit-birit.


"Ibu sudah tidak tahan lagi!" Balas Yueqin kencang seraya berlari menuju ke kamar mandi.


Xiulin berlari mengikuti Yueqin dari belakang, karena khawatir dengan kondisi sang Ibu.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Yueqin keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi.


"Ibu, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?" Tanya Xiulin cemas.


"Aku tidak ta- ...," Ucapan Yueqin terpotong lagi, karena ada sesuatu yang memaksanya untuk masuk lagi ke kamar mandi.


Hingga beberapa kali, Yueqin harus bolak-balik keluar masuk kamar mandi.


Xiulin yang semakin panik, langsung memaki para pelayan yang berada di sana.


"Apa kalian buta, hahhh! Cepat panggil Tabib untuk mengobati Ibuku!"


"Maafkan kami, Nona. Kami sudah pergi memanggil Tabib, tapi pelayannya bilang, jika Tabib sedang pergi untuk memeriksa pasien lain." Jawab seorang pelayan yang memang sudah pergi mencari Tabib.


"Dasar bodoh kalian!" Xiulin tetap memaki kepada para pelayan meskipun sudah tahu jawabannya.


Setelah keluar dari kamar mandi untuk kesekian kalinya, Yueqin terkulai lemas karena kelelahan.


Penampilannya sangat berantakan, bukan hanya kulitnya yang semakin banyak binti merah. Tapi juga wajahnya yang sekarang terlihat pucat pasi sehingga membuat keadaannya semakin memprihatinkan.


"Ibu!" Lirih Xiulin yang sedih melihat penampilan Ibunya.


"Tolong, antarkan aku ke kamar." Ucap Yueqin dengan nafas tersengal-sengal.


Xiulin mengangguk lalu memberi isyarat kepada para pelayan agar memapah Ibunya kembali ke ruangannya.


Di waktu bersamaan, Hu Boqin datang di ikuti Tabib yang bertemu dengannya di dalam perjalanan.


Tabib itu juga yang memberi tahu Hu Boqin, tentang kemalangan yang menimpa Istrinya.


Hu Boqin yang baru pulang dari menghadiri rapat Istana memutuskan untuk bergegas datang.


Melihat Istrinya dalam keadaan lemas, tak ayal membuat hati Hu Boqin jadi menghiba.


"Cepat, baringkan dia di tempat tidurnya!" Perintah Hu Boqin kepada pelayan yang membopong Istrinya.

__ADS_1


Setelah Istrinya di baringkan, barulah Hu Boqin menyuruh Tabib untuk memeriksanya.


"Bagaimana?" Tanya Hu Boqin kepada Tabib yang baru selesai melakukan pemeriksaan.


Tabib menggelengkan kepala, lalu mulai berbicara. "Sepertinya, Nyonya Perdana Menteri keracunan."


"Apa! Bagaimana bisa?" Xiulin yang mendengar ucapan Tabib jadi berteriak karena merasa terkejut dengan hasil pemeriksaan Ibunya.


"Benar Nona, Ibu anda keracunan. Itulah kenapa, dia terus-menerus buang air besar." Jelas Tabib.


"Lalu bagaimana, dengan bintik-bintik merah di tubuhnya?" Kini Hu Boqin yang mengajukan pertanyaan.


"Itu ... hamba juga merasa bingung, Tuan." Balas si Tabib.


"Apa maksudmu, Tabib?'' Tanya Hu Boqin seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Nyonya terkena racun katak emas, Tuan. Tapi bukan itu yang membuat hamba bingung saat ini, racun katak emas adalah racun yang sangat mematikan dan orang yang tak sengaja meminum atau menghirupnya akan mati dalam hitungan jam. Namun untungnya, racun itu tidak membuat Nyonya Yueqin harus kehilangan nyawanya." Jelas Tabib menceritakan keanehan yang dia temukan selama memeriksa keadaan Yueqin kepada Hu Boqin.


Terang saja, penjelasan itu membuat Hu Boqin mengerutkan keningnya.


"Jadi maksudmu, Istriku akan baik-baik saja?"


Sang Tabib mengangguk, lalu melanjutkan penjelasannya. "Sepertinya begitu, Tuan. Aku rasa, orang yang membuat racun ini telah mencampurnya dengan bahan-bahan lain sehingga effect racun yang seharusnya ganas menjadi melemah dan hanya menimbulkan pengaruh yang biasa saja."


"Jadi seperti itu." Hu Boqin mengangguk-angguk setelah mendengarkan keterangan si Tabib.


Berbeda dengan Xiulin yang langsung terpancing amarahnya ketika mendengar kata-kata terakhir dari si Tabib.


"Bukan itu maksud hamba, Nona."Si Tabib berusaha membantah tuduhan Xiulin.


Sedangkan Hu Boqin hanya menatap jengah Putri tertuanya tersebut.


"Lalu apa maksudmu berbicara begitu tentang kondisi Ibuku?" Bentak Xiulin lagi yang masih emosi.


"Sudahlah Xiulin, Tabib hanya berusaha menjelaskan hasil pemeriksaannya. Kau tidak perlu bertindak impulsif seperti ini kepadanya." Kata Hu Boqin berusaha mencegah perilaku kasar Xiulin.


Xiulin yang mendapat teguran dari Ayahnya, langsung terdiam dan tak berani mengatakan apa-apa lagi.


Setelah keadaan Yueqin semakin membaik, Tabib dan semua orang langsung membubarkan diri menyisakan Xiulin dan para pelayan yang harus tetap berjaga di sana.


Di suatu tempat...


"Apa yang ingin kalian laporkan padaku?" Tanya Guotin kepada kedua Wang bersaudara yang sedang duduk bersamanya.


"Ini tentang kejadian tadi malam, Ketua." Wang Shu menjawab pertanyaan dari Guotin.


"Apa ada penyusup lagi?" Tanya Guotin penasaran.


Kedua Wang bersaudara mengangguk secara bersamaan.


Guotin langsung bersuara. "Cepat katakan! Kali ini, siapa yang mengirim mereka?"


Setelah mendengar pertanyaan Guotin, kedua wajah mereka yang tadi bersemangat menjadi lesu.

__ADS_1


"Sebenarnya, bukan masalah itu yang ingin kami laporkan. Tapi karena Ketua sudah bertanya, maka aku akan menjawabnya." Wang Wey langsung bersuara mewakili adiknya yang sudah kehilangan minat untuk berbicara.


"Mereka adalah ahli racun yang di kirim oleh keluarga Yue untuk membunuh Nona Hu Liena."


BRAKKK...


Guotin langsung menggebrak meja setelah mendengar laporan dari Wang Wey.


"Kurang ajar!" Ucapnya geram.


"Ketua, tenanglah! aku belum selesai ...," Ucap Wang Wey kepada Guotin agar dia menenangkan dirinya.


"Katakan! apalagi yang mereka lakukan?" Tanya Guotin yang sudah mendapatkan kembali ketenangannya.


"Ini bukan tentang mereka, ini tentang Nona Hu Liena." Kali ini Wang Shu yang berbicara.


"Katakan dengan jelas, apa maksud dari kalian?" Guotin semakin merasa penasaran, sepertinya Wang bersaudara ini mengetahui sesuatu tentang Putri majikannya itu.


"Semalam, ketika ahli racun itu menyerang. Bukan kami yang menyingkirkan mereka, tapi Nona Hu Liena." Wang Shu bercerita dengan sangat bersemangat, bahkan matanya terlihat bersinar-sinar penuh kekaguman.


"Jangan bicara sembarangan! tidak mungkin jika Nona Hu Liena yang melakukannya, kalian hanya membual." Ucap Guotin sembari menggebrak meja.


Guotin tak percaya dengan cerita dari kedua orang bawahannya ini, tidak mungkin seorang gadis terhormat seperti Hu Liena mampu melakukan hal seperti yang mereka ceritakan.


"Sudah aku bilang Ketua tidak akan mempercayai ucapan kita, Shu." Ujar Wang Wey kepada adiknya.


Wang Shu menghela nafas pasrah sebelum menjawab ucapan Kakaknya. "Tapi itu kenyataannya, Nona bahkan bisa dengan mudah mengetahui persembunyian kita semalam. Itu tandanya, Nona bukan gadis lemah seperti yang kita dengar sebelumnya."


"Tunggu! Kau bilang, Nona Hu Liena mengetahui persembunyian kalian?" Guotin terlihat syok mendengar percakapan antara kedua Wang bersaudara ini.


"Benar! Dan itu melukai harga diri kami berdua sebagai pembela diri tingkat tinggi, di tambah lagi dengan tuduhan dari Ketua yang menyebutkan kami sebagai orang yang hanya membual saja." Balas Wang Shu yang terlihat kesal.


"Apa, apa kalian yakin jika Nona Hu Liena yang melakukannya?" Guotin masih tak percaya dengan hal yang di dengarnya.


"Hahhhh ...," Wang Shu menghela nafas pasrah lalu melanjutkan kembali kata-katanya. "Kami menyaksikannya dengan mata kepala kami sendiri, Nona hanya menggerakkan tangannya dan kedua orang itu langsung tergeletak di tanah."


"A-Apa?" Guotin langsung terkulai lemah.


Pantas saja kedua Wang bersaudara merasa marah ketika dia menyebut mereka hanya membual saja. Ternyata, kenyataan yang mereka hadapi lebih buruk dari yang di bayangkannya.


Guotin tersadar dari lamunannya, dan segera menoleh ke arah Wang Bersaudara.


"Aku minta maaf, jika telah meragukan kalian. Aku akan pergi sekarang, untuk melaporkannya kepada Tuan. Dan malam ini, kalian boleh beristirahat untuk menunggu tugas dariku selanjutnya." Kata Guotin.


"Silahkan, Ketua pergi saja. Tapi mengenai urusan tugas, kami sudah berjanji kepada Nona Hu Liena untuk tetap membantunya." Balas Wang Wey yang di ikuti anggukan kepala oleh adiknya, Wang Shu.


Guotin semakin terkejut dengan pernyataan mereka, sekali lagi dia sadar, jika Hu Liena sudah berubah sepenuhnya.


"Baiklah, terserah kalian saja." Ucapnya seraya beranjak pergi.


...----------------...


"Apa!" Teriakan Hu Boqin bergema di ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2