Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
158. Perjanjian dengan Luqiu.


__ADS_3

"Luqiu!"


Hu Liena dengan mata berkaca-kaca menatap ke arah pelayan setianya yang kini berdiri menatap ke arahnya dengan tatapan haru.


"Putri! Hamba pikir, hamba tidak akan pernah lagi bisa melayani anda. Hu-hu." ucap Luqiu yang tak bisa lagi menahan airmatanya.


"Kemarilah, Luqiu! Maafkan aku, yang selama ini selalu sibuk dan malah mengabaikan keberadaanmu." ujar Hu Liena merasa bersalah.


Luqiu sudah melayaninya sejak lama, namun semenjak mereka di pindahkan ke tempat penampungan sementara untuk menghindari serangan dari kelompok Qiang Geming waktu itu, Hu Liena jadi tidak banyak memiliki waktu bersama dengan Luqiu. Lagipula, Hu Liena sering bepergian keluar Istana untuk mengurus banyak masalah bersama Pangeran Jun. Dan belum sempat menemui Luqiu lagi hingga hari ini.


Jika saja Ayahnya tidak mempertemukan mereka sekarang, mungkin Hu Liena sama sekali tidak akan memiliki waktu untuk bertemu dengannya.


"Anda tidak bersalah, hamba justru sangat bersyukur karena anda masih mengingat hamba sampai detik ini." tutur Luqiu sambil dirinya berjalan menghampiri Hu Liena.


"Mulai hari ini, kau boleh melayaniku lagi sesuka hatimu." ucap Hu Liena yang membuat Luqiu kembali meneteskan airmata.


Semua orang yang berada di kamar yang di tempati Hu Liena saat ini, merasa terharu dengan kedekatan antara mereka berdua.


Kebaikan dan ketulusan Hu Liena kepada Luqiu, semakin membuat mereka merasa kagum dengan sosok yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga Istana.


Mereka merasa bersyukur, karena Pangeran Jun tak salah memilih calon pendamping hidupnya.


Selain pemberani dan pintar, Hu Liena juga memiliki hati yang tulus bagaikan malaikat yang tak bersayap.


"Karena sekarang sudah ada Luqiu yang menjaga Putri, sebaiknya kita semua pergi untuk membiarkannya beristirahat kembali." tutur Tabib Hong yang di balas anggukkan oleh semua orang yang hadir di sana.


Tak terkecuali juga dengan Li Junjie, yang langsung menyetujui saran dari Tabib Hong.


Semakin banyak beristirahat, akan sangat baik bagi pemulihan calon Istrinya tersebut.


Setelah semua orang pergi, Luqiu akhirnya bisa bernafas lega karena dirinya akan lebih leluasa berbicara dengan Hu Liena. Tidak seperti tadi, yang masih merasa enggan karena banyak orang-orang penting yang berada di sana. Salah satunya adalah Kaisar Li Jinhai, yang membuat jantung Luqiu semakin kencang berdetak karena takut melakukan sebuah kesalahan di hadapan orang nomor satu di kerajaan dinasti Ying tersebut.


"Putri, saya merasa senang sekali bisa melayani anda lagi." ucap Luqiu sambil membenarkan selimut yang menutupi tubuh majikannya.


"Apa kau lupa, dengan perjanjian kita sebelumnya?" bukannya membalas Luqiu, Hu Liena justru malah menegurnya saat ini.

__ADS_1


"Pe-perjanjian apa, Putri?" tanya Luqiu gugup.


"Ck, baru beberapa waktu kita berdua tidak bertemu. Kau sudah berubah kembali, seperti dulu." ketus Hu Liena sebal.


"Mohon ampuni kebodohan hamba, Putri. Hamba benar-benar tidak tahu, apa yang anda bicarakan saat ini." jawab Luqiu dengan kebingungan.


Hu Liena menepuk keningnya sendiri perlahan, dia tidak tahu, entah Luqiu lupa atau memang sengaja karena merasa malu hingga melupakan kesepakatan mereka sebelumnya.


"Kau sudah berjanji, hanya akan memanggilku Putri ketika di hadapan banyak orang. Apa kau masih ingat?" ucap Hu Liena dengan bermuka masam.


Luqiu menunduk, dia memang masih mengingat semuanya. Namun dengan status Hu Liena saat ini, Luqiu merasa canggung jika harus memanggilnya dengan sebutan Nona saja.


Tidak lama lagi, Hu Liena akan menikah dengan Pangeran Jun yang akan segera naik tahta menjadi Putra Mahkota kerajaan dinasti Ying. Dan majikannya secara otomatis akan naik statusnya menjadi Putri Mahkota juga, jika dia menikah dengan Pangeran Jun. Bagaimana mungkin, dirinya yang hanya sebagai seorang pelayan, bersikap tidak sopan dengan memanggilnya Nona seperti waktu jaman dulu masih di kediaman Perdana Menteri.


Brukk!


Luqiu berlutut di hadapan Hu Liena dengan kepala yang menunduk.


"Hamba mohon, biarkan hamba memanggil anda dengan sebutan Putri saja." pinta Luqiu lirih.


"Jika kau masih berlutut di sana, aku akan meminta pengawal untuk mengantarkanmu ke kediaman Perdana Menteri." tegas Hu Liena yang membuat Luqiu jadi serba salah.


"Put- ...,"


"Nona!" tegas Hu Liena setengah berteriak.


"Ba-baik, Nona!" jawab Luqiu patuh.


Hu Liena mengangguk puas, dia lebih suka Luqiu bersikap seperti biasa kepadanya. Akan sangat aneh, jika Luqiu tetap memanggilnya Putri secara terus-terusan setiap harinya.


Luqiu sudah seperti saudara bagi Hu Liena, kesetiaannya sudah tidak perlu di ragukan lagi. Sangat sulit mencari orang sebaik dan setulus Luqiu menurutnya di jaman sekarang. Kebanyakan dari mereka, hanya mementingkan uang saja, tanpa pernah memprioritaskan keselamatan sang majikan.


Tapi Luqiu, dia bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan nyawa Hu Liena. Mau dalam keadaan susah ataupun senang, Luqiu akan tetap ada di sisi Hu Liena meskipun nyawanya sendiri taruhannya.


"Baiklah! Sekarang, tolong bantu aku untuk menuruni tempat tidur." pinta Hu Liena yang langsung di turuti oleh Luqiu dengan sigap.

__ADS_1


"Nona, anda mau pergi kemana?" tanya Luqiu panik ketika Hu Liena memintanya untuk membukakan pintu kamar.


"Kau ikuti saja aku, nanti kau juga akan tahu, tujuanku sebenarnya." jawab Hu Liena tenang.


Meskipun bahunya sedikit sakit, namun dengan adanya Luqiu, itu bukanlah halangan untuk Hu Liena pergi ke tempat tujuannya.


Justru dengan adanya Luqiu sekarang di sampingnya, Hu Liena akan semakin leluasa pergi kemanapun yang dia suka.


"Kakak Ipar!" Putri Li Jiang yang datang bersama dengan Putri Jia Li langsung berteriak memanggil Hu Liena dari kejauhan.


"Kakak Ipar, kau mau pergi kemana? Bukankah kau seharusnya berada di tempat tidur, sekarang?" tegur Putri Li Jiang sambil melirik ke arah Luqiu yang tertunduk lesu di samping Hu Liena.


"Aku sedikit bosan berada di tempat tidur terus, Adik." jawab Hu Liena datar tanpa memedulikan raut wajah Li Jiang yang berubah cemas.


"Kakak Ipar, seharusnya kau lebih banyak beristirahat. Kau ini sedang dalam masa pemulihan, tidak baik jika tetap berjalan-jalan di luar." tegur Putri Li Jiang yang masih mengkhawatirkan keadaan calon Kakak Iparnya tersebut.


Hu Liena tersenyum, lalu kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda karena teriakan dari Putri Li Jiang.


Di acuhkan seperti itu, tidak membuat Putri Li Jiang dan Putri Jia Li berputus asa untuk tidak mengingatkan Hu Liena agar kembali ke tempat tidurnya. Namun percuma saja, perkataan mereka berdua bahkan tidak di indahkan sama sekali oleh Hu Liena yang memilih tetap melanjutkan langkah kakinya bersama Luqiu.


Karena merasa penasaran, akhirnya Putri Li Jiang dan juga Putri Jia Li, bersama-sama mengikuti Hu Liena dari arah belakang.


"Jiang, Kakak Ipar sebenarnya ingin pergi kemana?" bisik Putri Jia Li perlahan.


Putri Li Jiang menggelengkan kepala, saat ini dia tidak mau menduga-duga. Lebih baik dia diam saja, dan tetap fokus mengikuti langkah Hu Liena kemanapun dia pergi nantinya.


"Buka!" perintah Hu Liena saat mereka tiba di sebuah ruangan yang di jaga ketat.


Putri Jia Li melirik ke arah Li Jiang yang juga menatapnya dengan kebingungan.


Mereka akhirnya bisa menebak kemana Hu Liena akan pergi sekarang.


Ruangan ini adalah ruangan rahasia, tempatnya Xiulin di kurung atas perintah Li Junjie dan di jaga ketat oleh banyak prajurit Istana.


Namun, alasan Hu Liena datang ke tempat tersebut, Putri Li Jiang bahkan Putri Jia Li tidak mengetahuinya sama sekali. Yang mereka berdua bisa lakukan sekarang, hanya terus berada di sisi Hu Liena, agar mereka berdua bisa tetap mengetahui apa yang ingin dia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2