
Hu Liena mengangguk-anggukkan kepala. Informasi dari sang Ayah, akan sangat membantunya di masa mendatang.
"Kakak Ipar, kenapa baru datang sekarang? Bukankah kau pernah berjanji, akan lebih sering untuk mengunjungiku?" Putri Li Jiang langsung merajuk begitu sampai di hadapan Hu Liena.
Hu Liena sendiri sedikit terkejut dengan sikap manja Adik Li Junjie padanya.
"Maafkan hamba, Putri. Hamba jarang datang, karena kondisi kesehatan hamba, sedikit kurang baik." Tutur Hu Liena sopan.
Namun kesopanan Hu Liena itu, langsung di tegur oleh Putri Li Jiang. "Kakak Ipar! Mengapa kau bersikap seperti itu? Dan mengapa pula, panggilanmu berubah padaku? Apa kau sudah tidak menyayangiku lagi?"
"Adik, jangan berbicara begitu kepada Kakak Ipar kita." Suara Li Jing Sheng langsung terdengar di belakang Putri Li Jiang.
Putri Li Jiang berbalik, dan langsung menghampiri kakak keduanya itu.
"Kakak kedua, aku sedih sekali. Kakak Ipar sudah tidak menyayangiku lagi ...," Rengek Putri Li Jiang kepada Li Jing Sheng, kakaknya.
Saat ini, kelakuan Putri Jiang sudah terlihat seperti gadis kecil yang meminta jajan kepada Ibunya.
Li Jing Sheng mengelus lembut puncak kepala Adik perempuannya, lalu berkata dengan nada perlahan.
"Adik, Kakak Ipar kita baru bangun dari koma. Jadi wajar saja, jika ingatannya belum pulih sepenuhnya."
"Apa? Kakak Ipar, koma? dan ingatannya belum pulih?" Putri Li Jiang mengulangi kata-kata yang di ucapkan Li Jing Sheng dengan ekspresi rumit, yang di balas anggukkan kepala oleh Li Jing Sheng.
Putri Li Jiang kembali menoleh ke arah Hu Liena dengan berlinangan airmata.
"Kakak Ipar, maafkan aku yang bertidak terlalu impulsif tadi ...," Ucapnya dengan nada sedih.
Hu Liena tersenyum lembut, lalu membalas ucapan Putri Jiang. "Tidak apa-apa Putri ...."
Mendengar Hu Liena masih menyebutnya dengan sebutan Putri, membuat hati Li Jiang menjadi semakin sakit lagi.
"Kakak Ipar, meskipun ingatanmu belum pulih. Bisakah kau memanggilku Adik saja?" Ucap Li Jiang penuh harap.
Hu Liena tidak menolak, dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Yeyy ... Kakak Ipar setuju memanggilku Adik lagi." Li Jiang berseru gembira ketika melihat Hu Liena menganggukkan kepalanya.
Sekarang gantian Li Jing Sheng yang menjadi cemburu, karena tingkah laku Adik perempuannya.
"Kakak Ipar! Aku juga mau ...," Rengek Li Jing Sheng kepada Hu Liena.
Li Jing Sheng memasang wajah lucu yang menggemaskan, membuat Hu Liena merasa tak tega jika tidak mengabulkan permintaannya.
"Baiklah, Adik!" Ucap Hu Liena yang membuat Li Jing Sheng kembali ceria.
Hu Boqin yang berdiri di samping merasa tersentuh hatinya, melihat dua Putra-Putri Kaisar yang begitu menyayangi Hu Liena.
Dia merasa menyesal karena dulu pernah menelantarkan Putri sahnya itu. Dan lebih percaya, kepada ucapan Istri kedua dan Putri bawaannya.
"Sedang apa kalian berkumpul di sini?" Suara seorang pria yang berat dan berwibawa, bergema di dalam ruangan.
"Kakak Pertama!" Li Jiang langsung berseru begitu melihat Li Junjie sedang berjalan dengan penuh keagungan.
Penampilannya, sudah seperti malaikat yang turun ke bumi.
Alis lebat berwana jelaga, fitur wajahnya yang tampan, dan kulitnya yang licin bak giok, sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna. Membuat Hu Liena harus menelan salivanya, karena merasa tergoda dengan tampilan Li Junjie saat ini.
"Salam hormat hamba, Yang Mulia Pangeran!" Hu Liena dan Hu Boqin memberi hormat secara bersamaan.
"Tidak perlu sungkan, bangunlah!" Ucap Li Junjie seraya membantu Hu Liena berdiri tegak.
Li Jiang dan Kakaknya Li Jing Sheng, saling pandang karena merasa heran.
Sejak kapan Kakak Pertama dekat dengan Kakak Ipar?
Setahu mereka berdua, Li Junjie tidak menyukai Hu Liena. Bahkan ketika Hu Liena mengejar-ngejar cintanya pun, Li Junjie tidak pernah menggubrisnya.
"Kakak Kedua? Apa kau lihat tadi? Kakak Pertama kita, membantu Kakak Ipar untuk berdiri." Bisik Li Jiang kepada Li Jing Sheng.
Li Jing Sheng juga berpikiran sama dengan Adik perempuannya itu.
__ADS_1
"Iya Adik, aku melihatnya. Aku bahkan tidak merasa percaya, jika tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kakak Pertama sepertinya mulai jatuh cinta kepada Kakak Ipar kita." Ujar Li Jing Sheng dengan bibir bergetar.
Li Jiang menyikut perut Li Jing Sheng, lalu berbisik kembali. "Tapi itu juga lumayan bagus! Setidaknya, sekarang misi kita telah berhasil. Benar tidak, Kak?"
"Benar, benar sekali! Misi kita berhasil! Itu tandanya, sebentar lagi, Kakak Ipar akan memasuki Istana dan tinggal bersama kita selamanya." Ujar Li Jing Sheng dengan penuh semangat.
"Bukan itu saja, Kak. Kita juga bisa segera, memiliki keponakan yang lucu-lucu." Celetuk Li Jiang yang sontak membuat Li Jing Sheng merasa geli dan langsung memukul kening Li Jiang perlahan.
"Ish .. kau ini, asal bicara saja!" Tegur Li Jing Sheng.
Kebersamaan mereka semua, di saksikan oleh semua tamu yang mulai memadati ruangan perjamuan. Tidak terkecuali dua orang Ibu dan Anak, yang kini sedang menatap mereka, dengan tatapan penuh kebencian.
"Lihat Ibu! Si ****** itu berasa jadi orang penting sekarang. Dia bahkan memanfaatkan kepolosan Putri Li Jiang untuk mendekati Pangeran Pertama." Cibir Xiulin yang merasa cemburu kepada Hu Liena.
Yueqin juga memperhatikan keakraban ke empat orang itu sedari tadi. Namun yang jadi fokus perhatian Yueqin adalah, keberadaan Anting yang sedang di pakai oleh Hu Liena.
Aku seperti tidak asing, dengan Anting yang di pakai gadis sialan itu. Itu mirip dengan Anting Lilian, yang aku simpan bersama perhiasan yang lainnya. Tapi bagaimana bisa? Anting itu berada di tangan Hu Liena. Bahkan dia bisa memakainya hari ini. Tidak, itu tidak mungkin Anting milik Lilian. Anting Lilian sudah aku simpan, dan tidak ada orang yang mengetahuinya selain aku, dan Bibi Kiew, batin Yueqin.
KAISAR LI DAN PERMAISURI SHU MEMASUKI RUANGAN! Teriak seorang Kasim memberitahukan kedatangan Kaisar dan Istrinya.
HORMAT KAMI KEPADA KAISAR DAN PERMAISURI! SEMOGA KAISAR DAN PERMAISURI PANJANG UMUR, DAN HIDUP SERIBU TAHUN LAGI.
Ucap semua orang memberi hormat serempak!
Kaisar Li Jinhai mengibaskan lengan bajunya dan menyuruh para tetamu untuk bangun.
"Terima kasih! Hormat kalian saya terima! Sekarang, bangunlah kalian semua!"
TERIMA KASIH, KAISAR!
Semua orang bangun dari sujud mereka, setelah mendengar titah dari Kaisar.
Tak ada satu orangpun yang mengangkat kepala dari mereka semua, karena takut menyinggung perasaan orang paling Mulia di Negara Ying.
Kaisar memandang semua orang berkeliling. Lalu terakhir, tatapannya jatuh kepada sosok cantik Hu Liena yang berdiri di samping Putra-Putrinya.
__ADS_1
"Putri Xia! Kemarilah!" Panggil Kaisar kepada Hu Liena.
Hu Liena pun bergerak maju ke hadapan Kaisar dan Permaisuri.