
Hu Liena berjalan dengan perlahan. Ketika dia baru sampai di pertigaan, sebuah tangan yang kekar mencuat dan langsung menarik tubuhnya.
"Putri, kau harus memberitahuku tentang rencanamu dengan Li Jing Sheng." ucap Li Junjie dengan wajah yang tampak suram.
Dalam hati, Hu Liena tidak bisa menahan rasa ingin tertawanya. Baru saja tidak di beritahu segitu saja, Li Junjie sudah seperti anak kecil yang tidak di berikan manisan oleh Ibunya.
"Mohon bersabarlah, Pangeran! Besok juga kau pasti akan mengetahuinya." dalih Hu Liena.
"Tidak! Aku tidak mau besok, aku ingin sekarang!" pinta Li Junjie.
Alih-alih di beritahu, justru Hu Liena malah menertawakannya.
Bagaimana tidak, sikapnya Li Junjie sudah tampak seperti anak kecil yang meminta manisan.
"Putri, jika kau tidak memberitahuku sekarang. Maka aku akan ...," Li Junjie tidak melanjutkan ucapannya.
Dia malah makin menyudutkan tubuh Hu Liena ke tembok dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hu Liena
"Pangeran, apa yang kau lakukan?" tanya Hu Liena panik.
"Ini adalah hukuman, karena kau tidak mau memberitahuku rencanamu." ujar Li Junjie tampak santai.
Jari Li Junjie menyapu wajah Hu Liena dari atas sampai dagu dengan lembut. Jantung Hu Liena seakan berdegup dengan kencang ketika Li Junjie melakukannya. Tubuhnya Hu Liena seperti tersengat ribuan tawon, dan hampir saja kehilangan kesadarannya karena terlalu terbuai oleh sentuhan Li Junjie.
Prannggg!
Li Junjie menoleh ke arah datangnya suara.
Matanya hitamnya menatap kesal kepada seorang pengawal yang kini sedang menundukkan kepala.
"Ma-maafkan hamba, Pangeran!" ucap si pengawal dengan tubuh bergetar.
Niat hati ingin berpatroli demi menjaga keamanan. Jika dia rajin, mungkin jabatan dan gajinya akan di naikkan.
Namun sekarang dia sepertinya menyesal dengan keinginannya tersebut, bukannya mendapat pujian dan kenaikan jabatan, dia justru mendapat kesialan karena telah mengganggu aktivitas Pangeran Jun.
"Kau ...,"
"Sudah, kau sudah di maafkan. Pergilah!" Hu Liena memotong ucapan Li Junjie yang ingin memarahi si pengawal.
Dengan segera, pengawal itu pergi setelah sebelumnya memberi hormat kepada pasangan Pangeran dan Putri tersebut.
__ADS_1
"Putri, mengapa kau membiarkan pengawal itu pergi?" rajuk Li Junjie yang di balas delikan mata oleh Hu Liena.
"Memangnya, dia salah apa?" tanya Hu Liena dengan raut wajah kesal.
Li Junjie terdiam, dia merasa malu sendiri untuk menjawab pertanyaan Hu Liena.
"Lupakan! Aku juga sudah memaafkannya!" dalih Li Junjie sambil melepaskan tangan Hu Liena.
Hu Liena merasa lega, akhirnya dia bisa menjaga jarak dengan Li Junjie dan terbebas dari gejolak perasaannya sendiri.
"Tapi, aku belum memaafkanmu! Jika kau ingin di maafkan, datang ke kamarku malam ini!" goda Li Junjie hingga membuat pipi Hu Liena memerah.
"Dasar Pangeran mesum!" sindir Hu Liena sambil mendorong tubuh Li Junjie menjauh darinya.
"Agghhhh!''
Saat ini, di dalam penjara Pangeran Chunian berteriak-teriak histeris. Tak jelas alasan kenapa dia melakukan hal itu.
Yang pasti, semua pengawal menjadi heboh karena ulahnya. Ada yang mengatakan jika Pangeran Chunian telah gila, ada juga yang mengatakan jika Pangeran Chunian kesurupan dan sebagainya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau kelihatan panik seperti itu?" tanya Kepala pengawal kepada salah seorang anak buahnya.
"Maaf Kepala pengawal, Pangeran Chunian dia sepertinya sedang ketakutan di dalam penjara."
Si pengawal yang melapor, menjadi tertegun setelah mendengar jawaban atasannya.
Memang benar, itu bukanlah urusannya. Pangeran Chunian adalah seorang tahanan khusus, mau di a berteriak ketakutan, kesakitan, ataupun karena hal lain, tidak perlu di dengarkan.
"Sudah, cepat pergi lakukan tugasmu!" usir si Kepala pengawal geram.
Pangeran Chunian terus berteriak-teriak semalaman, bahkan sampai matahari semakin naik 'pun, dia masih tetap melakukannya.
Putri Li Jiang baru membuka mata saat tangan lembut Hu Liena menyentuh kepalanya.
"Kakak Ipar!" ucapnya sambil memeluk Hu Liena.
"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya Hu Liena yang di balas anggukkan Li Jiang.
"Bagaimana dengan anda, Putri?" tanya Hu Liena sambil melirik ke arah Putri Jia Li.
"Ini kali pertama aku bisa tertidur dengan nyaman, setelah beberapa bulan." balas Putri Jia Li dengan perasaan senang.
__ADS_1
Memang, semenjak Ayahnya sering sakit-sakitan, Putri Jia Li tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan ketika dia meminta obat kepada Tabib 'pun, efeknya akan tetap sama, susah tidur!
"Aku sangat senang mendengarnya!" ucap Hu Liena sambil tersenyum lembut.
Diam-diam, Putri Li Jiang merasa bersyukur karena ketakutannya tidak terbukti. Dirinya tadi malam aman, tidak di datangi oleh pangeran Chunian.
Namun, dia juga tetap merasa takut. Bayangan dirinya ketika akan di perkosa selalu menghantui di setiap langkahnya. Malam ini aman, belum tentu malam-malam selanjutnya. Apalagi sekarang Pangeran Chunian sudah lepas, dan bebas berkeliaran di luaran sana.
"Putri, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Hu Liena penasaran.
"Kakak Ipar, aku masih takut!" balas Putri Li Jiang.
"Apa yang kau takutkan? Hem!" tanya Hu Liena sambil mengangkat dagu calon Adik Iparnya.
Putri Li Jiang menatap sayu ke arah luar, dirinya terlalu takut untuk mengakuinya.
"Adik, apa kau sudah bangun?" Li Jing Sheng langsung memasuki kamar Adik perempuannya tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
Putri Jia Li langsung mengangkat selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang masih mengenakan pakaian dalam. Meskipun pakaian dalamnya terkesan tertutup dan juga panjang, namun, untuk terlihat oleh seorang pria, justru itu adalah hal tanu bagi seorang gadis. Apalagi dia seorang Putri yang harus selalu menjaga harga dirinya.
"Kakak, cepat keluar!" usir Putri Li Jiang yang merasakan kecanggungan di antara semua orang.
Li Jing Sheng, dengan muka yang sangat merah, langsung keluar tanpa mengatakan apa-apa.
"Sial, sial, sial!" rutuk Li Jing Sheng saat sudah berada di luar.
Dirinya sangat malu, hingga tidak mampu mengangkat kepalanya lagi saat mengingat wajah Li Jiang yang bersemu merah ketika dirinya masuk ke kamar sang Adik barusan.
"Adik Jing!" panggil Hu Liena.
Li Jing Sheng menoleh, namun kembali menundukkan kepala saat matanya berpapasan dengan pandangan Putri Li Jiang.
"Maafkan aku, Kakak Ipar! Aku terlalu bersemangat ingin mengajak Li Jiang pergi ...,"
"Pergi? Kemana?" tanya Putri Li Jiang heran.
Pagi-pagi sekali Kakak Keduanya ingin mengajak dia pergi! Memangnya, ada hal menarik apa?
"Aku ingin membawamu menemui seseorang, bagaimana? Tertarik?" ucap Li Jing Sheng yang semakin membuat Putri Li Jiang penasaran.
"Tapi kemana, Kak?" tanya Putri Li Jiang tidak sabar.
__ADS_1
Mengesampingkan rasa malunya kepada Putri Jia Li, Li Jing Sheng memberanikan diri berjalan ke arah Adik kesayangannya.
"Kau ikut saja! Aku jamin, seumur hidup kau tidak akan merasa ketakutan lagi!" ucap Li Jing Sheng penuh keyakinan.