
Hu Liena berjalan mendekati kursi besar tempat di mana Li Jing Sheng, duduk sebagai Tuan Besar Bao.
"Putri Song pasti merasa bangga kepadamu, karena telah bekerja keras sampai sejauh ini. Benar 'kan, Tuan?" ucap Hu Liena sambil melirik ke arah Mo Chong an yang sedang mengepalkan tangan.
"Bukan itu saja, Kakak Ipar. Tuan Mo juga pantas mendapatkan jabatan yang jauh lebih tinggi karena usahanya yang tak pantang menyerah." balas Li Jing Sheng menimpali perkataan Hu Liena.
"Kau benar sekali, Adik Jing! Jika aku yang menjadi Putri Song, mungkin aku akan memberikannya pengawalan yang ketat agar tidak mudah di tangkap. Dengan begitu, semua rencana yang telah di siapkan, takkan jadi sia-sia." setiap kalimat yang Hu Liena ucapkan membuat Mo Chong an semakin merasa geram.
Sedangkan Mo Yan Zhen, bersikap sebaliknya. Dia merasa, semua yang di ucapkan Hu Liena ada benarnya juga.
Putri Song bahkan tidak pernah memikirkan keselamatan mereka sedikitpun. Yang bisa dia lakukan hanya memberi perintah saja, tanpa mau tahu seberapa besar perjuangan yang mereka lakukan untuknya.
"Ayah, Putri Xia berkata benar! Putri Song harusnya mengirimkan pengawal untuk menjaga kita." ucap Mo Yan Zhen setengah berbisik kepada Ayahnya.
"Diam kau!" bentak Mo Chong an hingga membuat Putranya mundur beberapa langkah.
Setelah membentak anaknya, Mo Chong an kembali mengalihkan pandangannya kepada Hu Liena.
"Gadis kurang ajar! beraninya kau menghasut Putraku, dengan kata-kata busukmu itu!" teriak Mo Chong an sambil menunjuk ke arah wajah Hu Liena.
"Hati-hati menggunakan jarimu itu, Tuan Mo! Atau aku akan memotongnya!" Li Junjie merasa tidak terima dengan perlakuan Mo Chong an yang menunjuk wajah calon Istrinya.
Mo Chong an mendengus kasar mendengat kalimat yang di ucapkan Li Junjie.
Meskipun merasa gentar, tapi Mo Chong an tetap memberanikan diri untuk membalas tatapan Li Junjie yang saat ini sedang menatap nyalang ke arah dirinya.
"Kakak, biar aku saja yang memotong semua jarinya. Aku tidak suka, ada orang yang berbuat kasar kepada Kakak Ipar." ucap Li Jing Sheng geram.
"Biarkan saja, Adik Jing. Biarkan dia berbuat sesuka hati, untuk yang ke terakhir kalinya." Sindir Hu Liena sambil melirik sinis ke arah Mo Chong an dan Putranya, Mo Yan Zhen.
Li Jing Sheng berjalan ke arah Hu Liena yang saat ini tengah duduk di kursi besar, tempatnya menyamar sebagai Tuan Besar Bao.
"Baiklah, Kakak Ipar! Aku akan menuruti, semua keinginanmu." ucap Li Jing Sheng setelah sampai di dekat Hu Liena.
Tak mau kalah dengan Adiknya, Li Junjie 'pun melakukan hal yang sama. Dia berjalan mendekati Hu Liena, dan berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
"Kira-kira, apa yang harus kita lakukan kepada mereka berdua ya ...," ucap Li Junjie sambil menatap sinis ke arah dua orang yang sedang memandangnya dengan geram.
"Aku punya ide, Kak!" kata Li Jing Sheng setengah berteriak.
"Katakan! Ide apa yang kau punya?" Li Junjie sedikit kesal, karena Adiknya lebih dulu memberi saran daripada dirinya.
Harusnya, yang mempunyai ide baru itu dia, bukan Adiknya, Li Jing Sheng! pikir Li Junjie.
"Bagaimana, kalau kita bermain-main dengan mereka sebentar." ujar Li Jing Sheng sambil menyeringai jahat.
"Bermain-main?"
Hu Liena dan Li Junjie merasa heran dengan saran yang di berikan Li Jing Sheng.
Li Jing Sheng membungkukkan tubuhnya untuk membisikkan idenya ke telinga Hu Liena.
Sedangkan Li Junjie, mengerutkan keningnya karena penasaran sekaligus merasa tidak senang karena sang Adik terlalu dekat dengan calon Istrinya.
"Ide yang bagus!" Mata Hu Liena berbinar begitu Li Jing Sheng selesai mengatakan tentang rencananya.
"Apa yang dia katakan?" tanya Li Junjie dengan raut muka kebingungan.
Li Junjie melirik sinis ke arah Li Jing Sheng yang saat ini, terlihat bangga karena dirinya terus di puji oleh Hu Liena.
"Bagaimana, Kakak? Ideku, bagus tidak?" Li Jing Sheng masih belum menyadari kekesalan yang di rasakan oleh Kakaknya, Li Junjie.
"Biasa saja ...," jawab Li Junjie dengan datar.
Giliran Li Jing Sheng yang merasa tidak senang karena Kakaknya seperti tidak menghargai kerja kerasnya.
"Kakak Ipar, apa benar begitu?" tanya Li Jing Sheng kepada Hu Liena dengan sikap manjanya.
Dari dulu, Hu Liena yang asli sangat dekat dengan Li Jing Sheng. Bukan hanya itu saja, Li Jing Sheng juga sering membantu Hu Liena ketika masih belum mendapatkan cinta dari Li Junjie.
Meskipun Hu Liena yang sekarang tidak terlalu akrab dengan dirinya, bahkan terkesan acuh, namun Pangeran Jing tetap memperlakukan Hu Liena seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Tentu saja sangat bagus, Adik Jing!" jawab Hu Liena sambil melirik ke arah Li Junjie yang kini menatap tajam ke arah Adiknya.
"Kau dengar, Kakak? Kakak Ipar saja, bilang kalau ideku sangat bagus. Tapi kau ...," Protes Li Jing Sheng sambil mengerucutkan bibirnya.
"Terserah!" jawab Li Junjie dengan ketus.
Malas dengan perseteruan dua kakak beradik yang tak ada habisnya setiap kali bertemu, Hu Liena langsung memutuskan sendiri untuk menjalankan rencana yang di buat oleh Li Jing Sheng.
_Shuuutttt!_
_Shuuutttt!_
Hu Liena menggerakkan jarinya tanpa di sadari oleh orang lain, dan beberapa jarum langsung melesat ke arah Mo Chong an dan Putranya.
"Agghhh!"
"Agghhh!"
Kedua Ayah dan anak itu langsung tumbang begitu jarum yang di lesatkan oleh Hu Liena menembus kulit mereka berdua.
"Ehh, apa yang terjadi?" Li Jing Sheng begitu terkejut melihat kedua orang dari keluarga Mo, tiba-tiba terkapar di atas lantai.
Sedangkan Li Junjie, langsung menoleh ke arah Hu Liena, karena dia bisa menebak, jika Hu Liena-lah yang telah melakukannya.
"Berikan ini kepada mereka!" ucap Hu Liena ketika Li Jing Sheng akan memeriksa keadaan bangsawan Mo dan Putranya.
"Apa ini, Kakak Ipar?" Li Jing Sheng mengacungkan dua buah pil yang di berikan Hu Liena padanya.
"Jangan banyak tanya, berikan saja." ucap Li Junjie dengan tegas.
Li Jing Sheng 'pun tidak bertanya lebih banyak lagi, dia langsung menghampiri bangsawan Mo dan Putranya. Setelah itu, dia langsung memasukkan pil dari Hu Liena ke masing-masing mulut kedua Ayah dan anak tersebut.
Setelah Li Jing Sheng selesai melakukan tugasnya, Hu Liena langsung meminta para pengawal untuk memapah keluar Mo Chong an dan juga Putranya.
"Lepaskan mereka!" perintah Hu Liena kepada para pengawal yang berjaga.
__ADS_1
"Kakak Ipar, ini ...," Li Jing Sheng kebingungan dengan cara Hu Liena. Seingatnya tadi, dia menyarankan Hu Liena memancing Putri Song untuk keluar dari persembunyiannya menggunakan kedua orang dari keluarga Mo.
Tapi ini, Kakak Iparnya malah membebaskan mereka berdua. Sungguh di luar pemikirannya, ucap Li Jing Sheng dalam hati.