
Li Junjie tersenyum hangat, lalu dia meraih tangan Hu Liena dan mengecupnya.
"Apa kau ingat sesuatu tentang tempat ini?" tanya Li Junjie sambil menunjuk ke arah air terjun yang mengalir deras dari atas tebing.
"Aku- ....."
Hu Liena semakin bingung, dia memang seperti familiar dengan tempat tersebut. Namun sampai saat ini, Hu Liena bahkan belum bisa mengingat apapun juga.
"Aku tahu, kau pasti bingung, bukan?" ucap Li Junjie yang membuat Hu Liena semakin merasa penasaran.
"Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan, Pangeran?" tanya Hu Liena heran.
Mendengar pertanyaan dari Hu Liena, membuat Li Junjie semakin melebarkan senyumannya. "Baiklah, karena sebentar lagi kita akan menikah, maka aku akan memberitahukanmu segalanya."
Hu Liena semakin merasa tidak mengerti dengan arah pembicaraan Li Junjie.
Dari tadi dia hanya bisa berusaha mengingat, namun tak sedikitpun gambaran atau bayangan tentang tempat tersebut terlintas di pikirannya. Justru kini Hu Liena menjadi semakin bingung, setelah mendengar ucapan calon Suaminya itu.
Namun untuk menjawab semua rasa penasarannya, Hu Liena harus bersabar menunggu Li Junjie menjelaskan secara detail untuknya mengenai tempat ini.
Li Junjie menarik tangan Hu Liena agar berjalan mengikutinya dan dalam waktu singkat mereka berdua sudah berada di dekat sebuah batu di bawah pohon besar.
"Sebenarnya, aku belum menceritakan seluruh kejadian di dalam mimpi waktu itu." jelas Li Junjie sambil dirinya menghela nafas panjang.
Hu Liena mengerutkan alisnya, dia Sama sekali belum mengerti arah pembicaraan Li Junjie kepadanya saat ini.
Mimpi? Sebenarnya, apa isi calon Suaminya tersebut hingga bisa menyiapkan kejutan-kejutan seperti hari ini.
"Kau tahu, Putri. Tabib tua itu menceritakan banyak hal tentang dirimu. Selain menceritakan tentang kau yang menjadi Tabib dalam ramalan, dia juga menceritakan beberapa kisah yang menurutku dulu itu tidak masuk akal." ucapan Li Junjie berhenti sampai di sana, dia lalu melirik sekilas untuk melihat ekspresi Hu Liena.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, dan karena Hu Liena tidak berkata apapun juga, Li Junjie 'pun kembali melanjutkan ucapannya.
"Tabib tua mengatakan padaku tentang jati dirimu yang sebenarnya. Dulu aku mengira, bahwa dia hanya membual saja. Tapi setelah aku bertemu denganmu, barulah aku percaya jika semua yang di ucapkan si Tabib tua itu adalah benar adanya."
"Memangnya, apa yang Tabib itu katakan padamu?" tanya Hu Liena yang sudah tak sabar lagi untuk membuka suaranya.
Li Junjie melirik Hu Liena, lalu dia perlahan mendekatkan wajahnya dan berkata setengah berbisik hingga Hu Liena membelalakkan matanya karena rasa terkejut.
"Tabib tua dalam mimipiku mengatakan, jika akan datang seorang Tabib dalam ramalan datang dari masa depan dengan wujud seorang wanita yang sudah lama aku kenal. Pada saat itu, aku sama sekali tidak mengerti akan maksudnya. Tapi selama beberapa waktu bersama denganmu, aku baru menyadari, bahwa yang di maksud oleh si Tabib tua tentang wanita yang datang dari masa depan, tak lain dan tak bukan adalah dirimu yang bertukar jiwa dengan Putri dari Tuan Perdana Menteri, Hu Boqin."
Mendengar semua penuturan dari Li Junjie membuat Hu Liena merasa terkejut.
Jelmaan dari jiwa Ayahnya Ma Boqin yang hadir di mimpinya Li Junjie, bagaimana mungkin mengungkapkan hal tersebut.
Hal yang menurut Hu Liena harusnya bisa di rahasiakan. Tapi ini malah di beritahukan secara gamblang kepada calon Suaminya tersebut, sungguh sangat tidak relevan.
"Lalu apa yang ingin anda lakukan kepadaku, setelah mengetahui jati diriku yang sebenarnya?" tanya Hu Liena dengan perasaan yang masih campur aduk.
"Tentu saja aku tidak akan pernah melepaskanmu, Putri. Tabib tua memintaku untuk selalu menjagamu, dan aku juga sudah berjanji untuk terus melindungimu dari segala marabahaya yang datang. Tak peduli jiwa siapa yang ada dalam ragamu saat ini, yang jelas kau akan tetap menjadi milikku dan aku akan tetap menjagamu hingga akhir hayatku nanti." jawab Li Junjie dengan tenang.
Bohong kalau Hu Liena tidak merasa tersentuh dengan ucapan sang Pangeran.
Tapi untuk menutupi perasaannya tersebut, Hu Liena sengaja memalingkan pandangannya ke arah air terjun yang deras.
"Jika anda memang sudah mengetahui jati diriku dari dulu, lalu mengapa, hal itu baru anda ungkapkan sekarang?" tanya Hu Liena.
Tangan Li Junjie meraih dagu Hu Liena, dan secara perlahan, dia membuat Hu Liena kembali untuk menatapnya.
"Waktu itu, aku takut jika anda akan berusaha menjauh dariku. Oleh sebab itulah, aku sengaja untuk tidak mengutarakan semuanya. Namun hari ini, aku mengambil keputusan yang sangat sulit. Aku tidak ingin menyimpan rahasia apapun kepadamu, Putri. Aku juga ingin anda melakukan hal yang sama, tidak ada kebohongan, tidak ada rahasia apapun di antara kita berdua. Sebentar lagi, kita berdua akan menjadi pasangan Suami-Istri. Sukamu, adalah sukaku. Dukamu, adalah dukaku juga."
__ADS_1
Jantung Hu Liena semakin bergemuruh, rasa gugup, bahagia, senang, juga terharu setelah mendengar ucapan Li Junjie menjadi satu.
Perasaan kecewa yang pernah dia rasakan di kehidupan sebelumnya, kini tergantikan dengan kebahagiaan yang tiada tara.
Dulu, waktu pertama kali Hu Liena sadar jika dia sudah bertukar jiwa, dia merasa kesal dengan nasibnya sendiri.
Tapi setelah mendengar ungkapan dari Pangeran tampan yang sebentar lagi akan menjadi Suaminya, rasa kesal tersebut akhirnya sirna. Hilang tak berbekas.
"Apa anda bersungguh-sungguh mengatakan hal itu, Pangeran? Seperti yang anda ketahui, aku hanyalah jiwa asing yang terjebak di dalam tubuh seorang gadis. Apa anda tidak merasa takut?" tanya Hu Liena dengan tatapan lurus ke depan menatap wajah Li Junjie yang sedang menatapnya juga.
"Apa menurut anda, perkataanku barusan kurang meyakinkan?" tanya balik Li Junjie dengan tampang kesal.
Hu Liena mengkerlipkan mata, dia tidak percaya Li Junjie akan mengajukan pertanyaan hal seperti itu kepadanya.
"Aku hanya ingin tahu saja, tentang perasaanmu yang sesungguhnya." kilah Hu Liena.
"Jika perkataanku kurang meyakinkan, mungkin aku bisa melakukan hal lain agar anda percaya kepadaku sepenuhnya."
Setelah mengatakan hal tersebut, Li Junjie mendekatkan wajahnya ke arah Hu Liena.
Sontak saja, perlakuan Li Junjie membuat jantung Hu Liena menjadi berdebar kencang.
"Ti-tidak perlu! Aku sudah yakin sekarang!" ucap Hu Liena yang langsung mundur beberapa langkah setelah mendorong tubuh Li Junjie agar menjauh darinya.
"Benarkah? Aku saja belum melakukan apapun, Putri? Bagaimana mungkin, anda bisa yakin secepat itu?" goda Li Junjie yang membuat pipi Hu Liena memerah bagaikan tomat.
"Itu ...."
"Itu apa? Kemarilah! Aku tahu, anda pasti masih ragu, bukan?" goda Li Junjie lagi sambil merentangkan tangan bersiap memeluk Hu Liena.
__ADS_1
Hu Liena semakin gugup, kejadian tersebut terlalu tiba-tiba. Dan lagi, meskipun mereka berdua sering bersama-sama, ini kali pertama Li Junjie berusaha untuk menciumnya.