Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
44. Sabun rempah-rempah.


__ADS_3

Luqiu sangat ketakutan begitu Hu Liena mengucapkan hal seperti itu, dari mulutnya.


"Hamba tidak berani, Nona!" Ujar Luqiu panik.


Hu Liena juga hanya menggoda Luqiu saja, oleh karena itu, dia tidak ingin memperpanjang urusan ini.


"Baiklah, aku juga tidak akan memasukkan ke dalam hati ucapanmu itu." Balas Hu Liena dengan tenang.


Tidak masalah bagi Hu Liena jika Luqiu memang mencurigainya, ketahuan atau tidak identitas dirinya oleh Luqiu, tidak ada ruginya sama sekali menurut Hu Liena. Toh, Luqiu akan tetap setia dan akan terus berada di sampingnya, tanpa ataupun dengan tahu identitas aslinya.


"Terima kasih, atas kemurahan hati Nona." Ujar Luqiu dengan perasaan lega.


"Ahh, sudahlah! Sebaiknya kau beristirahat sana, besok kita akan sibuk berbelanja untuk pergi ke jamuan Istana." Perintah Hu Liena yang di sambut kegembiraan dari Luqiu.


"Baik Nona, hamba akan pergi sekarang biar besok bisa kuat menemani anda berkeliling di pasar." Ucap Luqiu penuh semangat.


Hu Liena hanya terkekeh melihat Luqiu yang apa adanya. Ia senang dengan sikap Luqiu yang blak-blakan, namun tetap menghormati dirinya


Ish, gadis ini, bisa-bisanya terlihat sebahagia itu. Padahal aku hanya mengajaknya untuk berbelanja, tapi reaksinya sangat berlebihan seperti itu. He-he ... Dasar! batin Hu Liena.


Melihat Luqiu yang seperti ini, Hu Liena merasa bahagia. Hu Liena berjanji dalam hatinya, untuk tidak membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepada pelayan setianya itu.


Keesokan harinya....


"Nona, hamba membawakan sabun rempah untuk anda mandi sekarang." Ucap Luqiu seraya menyibak tirai tempat tidur Hu Liena.


Begitu terkejutnya ia, ketika melihat tempat tidur itu telah kosong di tinggalkan pemiliknya.


"Nona! anda di mana?" Teriak Luqiu yang menjadi panik seketika.


Dia berlarian mencari Hu Liena di setiap sudut kamar, dan juga di kolong tempat tidur. Takutnya Hu Liena akan terjatuh ketika tertidur pulas semalam. Namun sayangnya, Luqiu tidak menemukan apa-apa.


"Ish, Luqiu! untuk apa kau berteriak-teriak begitu." Ujar Hu Liena sembari berjalan memasuki kamarnya.


Mendengar suara sang majikan dari arah pintu, Luqiu langsung membalikkan badannya.


"Nona! syukurlah!" Luqiu merasa lega ketika melihat Hu Liena baik-baik saja.


Hu Liena hanya bersikap pasif menanggapi sikap Luqiu yang seperti itu.


"Ada apa? Mengapa datang pagi-pagi buta begini?" Tanya Hu Liena kepada Luqiu.


Luqiu berjalan menghampiri Hu Liena dan menjawab kata-katanya. "Hamba datang membawakan ini!"

__ADS_1


"Apa itu?" Dahi Hu Liena berkerut ketika mencium aroma benda yang di bawa oleh Luqiu.


Luqiu menyodorkan botol kecil yang di bawanya, kepada Hu Liena. "Ini sabun rempah-rempah Nona, cocok untuk anda."


"Sabun rempah-rempah? Untukku?" Dahi Hu Liena semakin berkerut ketika botol itu semakin dekat kepadanya.


Aroma yang menguar dari dalam botol itu, sangat tidak di sukainya.


"Iya Nona, ini bisa menghaluskan kulit dan menambah daya tahan tubuh anda." Ujar Luqiu dengan bangganya.


Hu Liena langsung menolak, dan menjauhkan diri dari Luqiu.


"Tidak, aku tidak mau!" Tolak Hu Liena tegas.


Luqiu tidak menyerah, dia terus mengatakan semua keistimewaan sabun yang di bawanya tersebut.


"Nona, sabun ini sudah di buat sejak jaman nenek moyang kita dulu. Ini akan bagus dampaknya untuk kulit dan tubuh anda." Tutur Luqiu.


Tanpa harus menelitinya terlebih dahulu, Hu Liena langsung bisa tahu bahan apa saja yang di gunakan untuk membuat sabun rempah-rempah tersebut.


Mungkin semua orang, tidak akan menyadari ada bau lain-selain rempah-rempah di dalam sabunnya.


Tapi bagi Hu Liena, dia bisa tahu hanya dengan mencium aromanya saja di udara.


Selain bau segak dari beberapa tanaman herbal, ada bau lain yang mengganggu penciuman Hu Liena.


Sebenarnya, tanaman ini menghasilkan umbi yang sangat manis dan berbentuk seperti wortel.


Bahkan, orang-orang sering menanam tanaman ini beberapa kali dalam setahun.


Namun, selain bisa di makan. Minyak di dalam daunnya, mengandung racun yang bisa merusak kulit.


Effectnya mungkin, tidak akan terlihat langsung. Namun kulit yang terkena, akan mengeluarkan benjolan-benjolan yang berisi nanah.


"Aku tetap tidak mau!" Ucap Hu Liena menggeleng.


"Nona! Setidaknya, anda coba terlebih dahulu." Ucap Luqiu seraya membuka tutup botol dan ingin mencium aromanya. Namun tindakan Luqiu, segera di hentikan oleh Hu Liena.


"Jangan!" Teriak Hu Liena yang spontan membuat Luqiu terkejut dan secara tidak sengaja menjatuhkan botol yang di pegangnya.


KLANGG~


Botol kecil itu terjatuh, dan semua isinya berceceran di lantai kamar.

__ADS_1


"Nona! sabunnya tumpah! Bagaimana ini? Aku terkejut hingga tak sengaja menumpahkannya." Ucap Luqiu dengan menepuk-nepuk dada lalu berjongkok untuk mengambil botol yang terjatuh.


"Berhenti!" Cegah Hu Liena.


Luqiu langsung menghentikan gerakan tangannya yang sudah terulur ke arah botol. Lalu dia menoleh, dan langsung bertanya kepada Hu Liena.


"Kenapa Nona? Hamba hanya ingin memeriksanya saja, masih ada sisa atau tidak." Ujar Luqiu penuh kebingungan.


Bukannya menjawab, Hu Liena malah membalikkan pertanyaan. "Darimana kamu mendapatkan sabun rempah ini, Luqiu?"


"Dari pelayan yang datang kesini tadi pagi, Nona. Dia bilang, sabun rempah ini di berikan oleh Tuan Besar khusus untuk anda." Terang Luqiu yang membuat Hu Liena mengerutkan alisnya.


Dia bisa merasakan kejanggalan dengan kedatangan pelayan yang di ceritakan oleh Luqiu.


Sang Ayah tidak mungkin memiliki niat jahat untuk menyakitinya, apalagi dengan cara kejam seperti mencampur ramuan berbahaya ke dalam cairan sabun rempah untuknya.


"Kamu yakin? Jika sabun itu di kirim oleh Ayahku?" Tanya Hu Liena penuh selidik.


Luqiu mengangguk, lalu membalas ucapan majikannya. "Pelayan tadi bilang begitu, Nona."


Hu Liena tertegun, tidak ada gunanya dia bertanya seperti itu kepada Luqiu. Pelayannya ini terlalu baik hati, dan tak pernah menaruh rasa curiga sedikitpun terhadap orang lain.


Itulah sebabnya, Luqiu sering di jebak dan di tindas oleh para pelayan lain, untuk kepentingan mereka sendiri.


Hu Liena memutar otak, orang yang mengirim sabun rempah berbahaya ini harus mendapatkan akibat perbuatannya.


Untung saja, penciumannya sudah terlatih dengan berbagai jenis tanaman berbahaya di dunia. Mau itu beraroma atau tidak, bagi Hu Liena, itu tidak akan berarti apa-apa.


"Kau pakailah kain untuk mengambil botol itu, jangan sampai cairan sabunnya terkena kulitmu." Perintah Hu Liena.


Luqiu mengangguk, dan melakukan apa yang di perintahkan kepadanya. Ia mengambil botol itu dengan menggunakan kain sebagai pelindung kulitnya.


Meskipun Luqiu tidak mengetahui alasan majikannya berkata seperti itu. Namun ia yakin, jika Hu Liena tidak akan mengatakan itu semua jika tidak mempunyai alasan yang kuat.


"Mau kita apakan botol ini, Nona?" Tanya Luqiu sembari melirik ke arah botol yang berada di tangannya.


"Untuk sementara, kamu simpan dulu botol ini di dalam kotak kayu yang berada di laci sana. Dan satu lagi, jika nanti kamu bertemu dengan pelayan yang mengantarkan sabun ini, tadi. Bilang saja padanya, jika aku sudah memakainya pagi ini." Terang Hu Liena kepada Luqiu yang saat ini hanya manggut-manggut saja mendengarkannya.


"Baik Nona, saya akan menuruti semua perkataan anda." Balas Luqiu patuh kepada Hu Liena.


Di paviliun timur tempat Yueqin tinggal...


"Bagaimana? Apa kau sudah melakukan semuanya, sesuai perintah?" Tanya Yueqin kepada pelayan yang kini sedang berlutut di hadapannya.

__ADS_1


"Jawab Nyonya, hamba sudah melakukannya." Balas si pelayan sembari menundukkan kepala.


Yueqin menyeringai licik, akhirnya dia bisa membalas rasa sakit hatinya kepada Hu liena.


__ADS_2