Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
86. Demam cinta!


__ADS_3

Hu Liena terbaring di ranjangnya dengan lemas.


Apa ini effect jatuh cinta? Mengapa aku baru merasakannya sekarang? Mengapa hal ini tidak terjadi ketika aku sedang bertunangan dengan si brengsek itu? batin Hu Liena.


"Putri, Tabib Hong meminta ijin untuk memeriksa anda." Ucap Luqiu dari arah pintu.


"Baiklah!" Jawab Hu Liena sembari bangkit dari tempat tidurnya.


Tabib Hong menghampiri Hu Liena, lalu menempelkan jarinya di atas kain tipis di tangan Hu Liena.


Di zaman ini, ada kesenjangan atara laki-laki dan perempuan. Kita tidak boleh asal menyentuh kulit orang lain, apalagi berbeda jenis, itu sangat di larang. Meskipun tujuannya adalah, untuk melakukan pengobatan.


"Bagaimana? Apa penyakit yang aku derita?" Tanya Hu Liena dengan cemas.


Tabib Hong menggelengkan kepala, dia memang tidak merasakan penyakit apapun di tubuh Hu Liena.


"Apa maksud anda, Tabib? Apa Putriku baik-baik saja?" Tanya Hu Boqin yang merasa khawatir.


"Benar Tuan Perdana Menteri, Putrimu sangat sehat. Jadi kau tidak perlu merisaukan keadaannya." Ucap Tabib Hong dengan santai.


"Tapi, Putriku terlihat lemah dan pucat!" Ucap Hu Boqin tampak tidak percaya.


"Apa anda meragukan saya, Perdana Menteri?" Ucap Tabib Hong dengan kesal.


Hu Boqin terdiam, bukan maksud dirinya untuk meragukan ucapan Tabib Hong. Dia hanya terlalu mengkhawatirkan Putrinya saja, tidak lebih.


"Maafkan saya, Tabib. Saya tidak bermaksud melakukan hal itu." Ucap Hu Boqin penuh sesal.


"Di maafkan!" Jawab Tabib Hong datar.


Hu Boqin menarik nafas lega, Tabib Hong adalah Tabib ternama. Jika dia berbuat kesalahan padanya, Hu Boqin takut di kemudian hari, Tabib Hong tidak akan mau membantunya lagi.


"Ayah, bisakah anda meninggalkan kami hanya berdua saja." Pinta Hu Liena.


Hu Boqin mengangguk, lalu pergi keluar meninggalkan mereka seperti permintaan Hu Liena.


"Apa ada yang ingin anda bicarakan, Putri?" Tanya Tabib Hong penasaran.


Biasanya, Hu Liena akan membicarakan hal penting jika mereka hanya berdua saja.

__ADS_1


"Ini tentang Pangeran Jun, Tabib." Balas Hu Liena.


"Apa ada yang terjadi, dengan Pangeran Jun saat ini? Apa racun di tubuhnya kumat lagi?" Tanya Tabib Hong mulai cemas.


Hu Liena menggeleng, lalu menjawab pertanyaan Tabib Hong. "Tidak, tidak seperti yang kau pikirkan!"


"Lalu apa? Apa yang ingin anda bicarakan?" Ucap Tabib Hong tak sabar.


"Aku akan memulai pengobatannya besok malam, itulah sebabnya aku ingin membicarakan hal ini denganmu." Ucap Hu Liena seraya berjalan dan duduk di hadapan sang Tabib.


"Apa anda butuh bantuan?" Tanya Tabib Hong.


Hu Liena menggelengkan kepala.


Tabib Hong bertanya lagi, "Lalu apa? Apa yang bisa saya lakukan untuk anda!"


"Bercerita." Kata Hu Liena.


"Bercerita?" Tanya Tabib Hong mengulangi kata-kata Hu Liena.


"Benar! Aku ingin mendengar seluruh cerita tentang riwayat hidup Li Junjie. Aku curiga, ada orang Istana yang menginginkan kematiannya!" Kata Hu Liena penuh keyakinan.


Dari yang tua sampai yang muda, semuanya menginginkan harta dan kedudukan yang tinggi.


Jadi wajar saja, jika nyawa mereka akan selalu terancam oleh orang dari keluarga mereka sendiri.


"Aku sudah menceritakan kepada anda sebelumnya, Nona. Dan jika aku menceritakannya lagi, isinya akan tetap sama." Balas Tabib Hong dengan santai.


"Sudahlah, lupakan! Tadi aku hanya ingin mengujimu saja!" Kilah Hu Liena ketika mendapat penolakan dari Tabib Hong.


Tabib Hong terkekeh melihat ekspresi Hu Liena.


"Anda ternyata seorang pendendam, Nona. He-he!"


"Tergantung! Kalau orang itu berniat baik, aku tidak akan membalasnya. Kalau orang itu berniat jahat, aku akan membalasnya berkali-kali lipat." Ucap Hu Liena santai.


Tabib Hong sampai menahan nafas ketika Hu Liena mengatakan hal itu dengan nada santai.


"Aku hanya bercanda, Nona. Tolong jangan terlalu di ambil hati, ok!" Ucap Tabib Hong dengan gusar.

__ADS_1


"Kau itu tidak termasuk ke dalam daftar dua golongan yang aku sebutkan tadi, jadi untuk apa kau merasa gelisah seperti itu, Tabib." Ucap Hu Liena merasa lucu ketika melihat Tabib Hong seperti tertekan karena ucapannya.


"Aku tahu, aku tahu. Kau tidak akan melakukan hal itu padaku! Aku hanya cemas, setelah kau dekat dengan Pangeran Jun beberapa waktu. Sikap kejamnya, kini menular padamu. Itulah yang aku cemaskan!" Tutur Tabib Hong yang sontak membuat Hu Liena tak bisa menahan tawanya.


"Ha-ha! Anda sangat lucu, Tabib. Bagaimana anda bisa mengklaim, kalau kejam itu bisa menular? Memangnya, itu sebuah penyakit?"


"Tapi itu terjadi dengan dirimu, Nona! Ucapanmu sekarang kejam, seperti Pangeran Jun." Tegas Tabib Hong.


"Kau terlalu berlebihan, jika Pangeran Jun sampai mendengarnya, kau pasti dalam masalah, Tabib Hong." Ucap Hu Liena seraya menutup mulutnya.


Tabib Hong tahu Hu Liena hanya bercanda dengan ucapannya. Namun jika yang di ucapkan Hu Liena itu benar, dia mungkin harus berjaga-jaga dari sekarang.


Jadi untuk mencegah dirinya berkata yang aneh-aneh lagi mengenai Pangeran Jun, Tabib Hong langsung mengganti topik pembicaraannya ke arah lain.


"Sekarang, katakan padaku! Apa yang membuatmu terlihat lemah, seperti ini?" Tanya Tabib Hong serius.


"Aku tidak tahu! Dari pagi keadaanku baik-baik saja, namun setiap berdekatan dengan Pangeran Jun, jantungku sering berdetak tidak normal." Jawab Hu Liena jujur.


Dia memang selalu terbuka sekarang kepada Tabib Hong. Tidak seperti dulu, yang selalu merasa waspada ketika berada di dekatnya.


"Sudah 'ku duga!" Ucap Tabib Hong setengah berteriak.


"Memangnya, kau menduga apa?" Tanya Hu Liena terheran-heran.


Tak ingin mengulangi kesalahannya, Tabib Hong kembali bersikap biasa. Tidak terlalu bersemangat seperti tadi, ketika baru mendengar penuturan Hu Liena.


"Saya akan mengatakannya! Tapi anda harus janji untuk tidak membocorkan masalah ini, kepada Pangeran Jun." Tabib Hong tampak berhati-hati dengan ucapannya.


"Baik, katakanlah!" Balas Hu Liena singkat.


"Anda terkena demam cinta! Makanya tubuh anda selalu bereaksi, ketika berdekatan dengan Pangeran Jun saja ...," Tabib Hong setengah berbisik ketika mengatakan hal itu kepada Hu Liena.


"Ish, apa yang kau ucapkan ini, Tabib? Itu di luar ilmu yang kau miliki!" Tegur Hu Liena dengan wajah yang mulai memerah.


Tabib Hong menggelengkan kepala, lalu kembali berkata. "Saya hanya mengatakan kebenaran! Jika anda tidak percaya, coba saja anda bertemu dengan Pangeran Jun sekarang. Apa jantung anda akan bereaksi lagi, atau tidak?"


Hu Liena tertegun ketika mendengar ucapan seperti itu dari Tabib Hong. Jantungnya memang tidak normal, ketika berada di dekat Li Junjie saja.


Tapi jika jauh, jantungnya memang baik-baik saja. Jadi mungkin, apa yang di katakan Tabib Hong itu benar, dan memang masuk akal.

__ADS_1


__ADS_2