
Xiulin terkejut mendengar perkataan dari Mo Yan Zhen. Dia kira, bangsawan Mo belum mengirimkan bantuannya.
Ternyata dirinya salah besar, bantuan tetap di kirimkan sesuai permintaan. Namun yang lebih mengejutkan lagi, semua orang-orang bayaran itu gagal, dan malah menjadi korban.
Bagaimana bisa ini terjadi? Siapa? Siapa yang telah membantu Hu Liena? batin Xiulin.
Xiulin menggelengkan kepalanya, dia berusaha menepis prasangka buruk di hatinya.
Dia juga harus lebih berhati-hati sekarang, dan tidak boleh memandang remeh kekuatan Hu Liena saat ini, bukan hanya dia, bahkan pembunuh bayaran pun tak bisa mengalahkan Hu Liena.
Xiulin pun menarik nafas panjang guna menenangkan dirinya. Setelah merasa lebih tenang, barulah dia kembali berbicara dengan Mo Yan Zhen.
"Tuan muda Mo, apa anda memiliki rencana lain?"
"Nona akan mengetahuinya, besok pagi." Ujar Mo Yan Zhen seraya tersenyum licik.
Xiulin mengangguk puas, lalu kembali bersuara. "Baik, saya akan menantikannya." Ujarnya.
"Untuk merayakan kerja sama kita, bagaimana jika kita bersulang, Nona?" Ucap Mo Yan Zhen sembari menuangkan teh ke cangkir milik Xiulin.
"Tentu saja." Ujar Xiulin seraya menerima cangkir yang di sodorkan oleh lawan bicaranya.
TRIINNGGG~
Suara cangkir beradu bergema di ruangan, Mo Yan Zhen meminum tehnya dengan sekali tegukan. Sementara Xiulin, hanya meminumnya dengan perlahan.
Bibir tipis Xiulin membentuk senyuman, menambah keindahan yang memabukkan di mata orang yang melihatnya.
Dan hal itu, kini di alami oleh Mo Yan Zhen. Dia bertingkah layaknya orang bodoh yang melihat makanan yang di sukainya.
Matanya membelalak, mulutnya terbuka dan hampir saja, ia meneteskan air liurnya.
Untungnya, Mo Yan Zhen segera tersadar dan langsung memperbaiki penampilannya.
"Ma-maafkan saya, Nona." Ucap Mo Yan Zhen sembari menahan rasa malunya di hadapan Xiulin.
"Tuan muda Mo tidak perlu berkata begitu, itu hanya membuatku menjadi malu." Ujar Xiulin seraya menunduk kepala.
Xiulin sengaja melakukan itu, karena dia sudah bisa menebak, jika putra bangsawan Mo ini sangat menyukainya.
Dan ternyata, tebakan Xiulin itu benar. Tentu saja ia akan menggunakan kesempatan ini, untuk memanfaatkan perasaan Mo Yan Zhen. Agar dirinya bisa dengan mudah menyingkirkan Hu Liena, tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
"Untuk apa merasa malu, Nona? kecantikan anda telah membuat saya menjadi gila saat ini." Ucap Mo Yan Zhen terus terang.
Xiulin tersenyum manis, jebakannya ternyata berhasil. Dan hanya perlu beberapa kata lagi, untuk meracuni pikiran Mo Yan Zhen dengan rencana jahatnya.
"Terima kasih atas pujian anda, Tuan muda Mo. Namun, kata-kata itu tidaklah pantas untuk seorang Puteri murba sepertiku ini." Kata Xiulin seraya memasang wajah sedih.
Mo Yan Zhen yang melihat kesedihan di wajah Xiulin, menjadi sedikit terpancing emosinya.
Dia tahu dengan jelas, alasan di balik kesedihan sang pujaan hatinya tersebut. Oleh karena itu, Mo Yan Zhen berusaha menenangkan hati Xiulin dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Nona Xiulin, anda tidak perlu merasa sedih. Saya berjanji, akan menyingkirkan orang-orang yang telah membuat anda menjadi seperti ini."
"Benarkah itu, Tuan muda Mo?" Ucap Xiulin dengan mata berkaca-kaca, dia harus tetap berpura-pura agar menambah kesan dramatis di setiap ucapannya.
"Benar, Nona." Tegas Mo Yan Zhen.
Setelah mendengar perkataan dari Mo Yan Zhen, spontan Xiulin bergerak mendekat dan langsung memeluk Mo Yan Zhen.
Mo Yan Zhen mematung ketika Xiulin memeluk tubuhnya. "No-Nona Xiulin." Ucapnya gugup.
Xiulin berpura-pura terkejut dan tersipu malu.
"Maafkan aku, Tuan muda Mo." Ungkapnya seraya menundukkan wajahnya.
"Ti-tidak apa-apa, Nona. Saya sangat menyukainya!" Ujar Mo Yan Zhen masih dengan kegugupannya.
...----------------...
Di ruangan sebelah, Li Junjie menyunggingkan senyuman di bibir tipisnya.
"Nona Yue ini, tidak sesederhana penampilannya." Kata Li Junjie seraya menyesap teh miliknya.
Guotin yang duduk bersebelahan dengan dirinya, langsung mencibir. "Benar, terkesan murahan."
"Biarkan saja, dia menikmati perannya." Ujar Li Junjie dengan santai.
Guotin mendengus, lalu kembali berucap. "Tentu saja, Yang Mulia."
Guotin merasa geram dengan kelakuan Xiulin, sedari tadi dirinya terus mendengarkan rencana-rencana jahat pasangan muda tersebut.
"Apa kita akan melindungi Nona Hu Liena, Yang Mulia?" Tanya Guotin kepada majikannya.
Li Junjie menjawab dengan ekspresi yang tetap datar. "Tidak perlu buru-buru ... Apa kau tidak mendengar apa yang mereka bilang? ketiga pembunuh bayaran itu mati. Itu artinya, ada orang lain yang melindungi gadis itu."
Guotin mengangguk setuju dengan perkataan majikannya, ketiga pembunuh itu memang telah gagal menjalankan tugas mereka.
Bahkan serangan yang mereka lakukan, berbalik menyerang diri mereka sendiri.
"Hamba mengerti, Yang Mulia." Jawab Guotin.
"Um." Gumam Li Junjie, seraya matanya menatap lurus keluar jendela.
Guotin yang penasaran pun, mengikuti arah pandangan majikannya.
...----------------...
Di luar kedai, Hu Liena sedang berjalan-jalan bersama Luqiu.
"Nona, apa yang sebenarnya ingin anda lakukan?" Tanya Luqiu yang merasa heran dengan majikannya. Sedari tadi, mereka hanya terus berjalan tanpa arah tujuan.
"Tidak ada!" Ucap Hu Liena datar.
__ADS_1
"Apa? Jadi anda mengajakku kesini hanya ingin berkeliling saja?" Ucap Luqiu depresi.
"Um.'' Hu Liena mengangguk pasti.
Luqiu berhenti berjalan dan kembali mengucapkan keluhannya. "Nona, apa tidak sebaiknya kita beristirahat dulu? kaki hamba, sudah terlalu lelah."
"Ok!" Sahut Hu Liena singkat.
"Bagaimana kalau kita beristirahat, sambil minum teh di kedai sana." Usul Luqiu sembari menunjuk kedai teh tak jauh dari tempatnya.
"Baiklah!" Ujar Hu Liena seraya mengayunkan langkah kakinya menuju tempat yang di tunjuk oleh Luqiu.
Hu Liena pun merasakan hal yang sama dengan Luqiu, oleh karena itu, dia pergi mendahuluinya.
"Tunggu hamba, Nona." Teriak Luqiu sambil berlari mengejar Hu Liena yang telah jauh meninggalkannya.
Mendengar teriakan dari Luqiu, Hu Liena langsung menolehkan kepalanya.
BUGGHHH...
Karena tak memperhatikan jalan, secara tak sengaja, tubuh Hu Liena menabrak seseorang di hadapannya.
"Maafkan a- ...,"
Ucapan Hu Liena langsung terpotong, begitu melihat wajah orang yang di tabraknya.
"Kau!" Seru Hu Liena. Suaranya seperti tercekat karena rasa keterkejutannya.
Orang yang Hu Liena tabrak adalah Mo Yan Zhen, pria yang mirip dengan Yu Zhen di kehidupan Hu Liena sebelumnya.
Orang itu juga yang telah menjebak dan membunuhnya bersama Qiang Yue waktu itu. Dan hari ini, dia tidak menyangka akan pertemukan kembali dengan musuh bebuyutannya itu.
"Nona, anda tidak apa-apa?" Ucap Luqiu cemas.
Dia segera berlari, begitu melihat majikannya menabrak orang lain di sana.
"Dia?" Ucap Hu Liena seraya menunjuk Mo Yan Zhen dengan jarinya.
"Dia itu Putra bangsawan Mo, dan namanya adalah Mo Yan Zhen." Bisik Luqiu kepada Hu Liena.
Hu Liena tersenyum sinis begitu mendengar penjelasan dari Luqiu, satu-persatu musuhnya muncul ke permukaan. Meskipun belum jelas jika pria ini musuhnya atau bukan, yang pasti wajahnya membuat Hu Liena merasa jijik ketika melihatnya.
"Tuan muda Mo, anda tidak apa-apa?" Ucap seorang wanita dari arah samping mereka.
"Nona Xiulin!" Luqiu langsung terkejut melihat kedatangan dari Xiulin.
Sedangkan Hu Liena, hanya tersenyum mengejek ke arahnya. "Sampah memang sangat cocok dengan tempatnya."
"Apa yang kau katakan, ******!" Bentak Xiulin.
Mo Yan Zhen mengira, Xiulin marah karena wanita ini telah menabrak dirinya.
__ADS_1
"Nona Xiulin, aku tidak apa-apa." Ucap Mo Yan Zhen seraya menahan gerakan Xiulin yang ingin menerjang ke arah Hu Liena.
"Lepaskan aku, Tuan muda Mo." Ucap Xiulin sembari meronta-ronta.