
"Kakak Ipar! Kakak Ipar!" Panggil-panggil Putri Li Jiang sambil melambai-lambaikan tangan di depan muka Hu Liena yang masih saja menatap kosong ke arah kejauhan.
"Jiang, sepertinya Kakak Ipar kita sedang banyak pikiran." bisik Li Jing Sheng.
Putri Li Jiang bergerak menghampiri Hu Liena, lalu mengulurkan tangannya untuk menggoyangkan bahu Hu Liena pelan "Kakak Ipar, sadarlah!" ucapnya.
Hu Liena yang merasakan seseorang menyentuh tubuhnya, secara reflek langsung menarik pergelangan tangan Putri Li Jiang berniat untuk membanting tubuhnya ke depan seperti adegan ketika dia sedang berlatih dengan para tentara di kehidupan pertamanya.
"Kakak Ipar, sakit!" teriak Putri Li Jiang sambil meringis saat tangannya di tarik sedemikian rupa oleh Hu Liena.
Seketika itu pula Hu Liena tersadar, dan langsung melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Putri Li Jiang. "Putri, maafkan aku!" dalih Hu Liena.
"Wahh, Kakak Ipar! Sepertinya, kami datang di waktu yang tidak tepat." ucap Li Jing Sheng sambil duduk di bangku sebelahnya Hu Liena.
Putri Li Jiang menyusul duduk di dekat Pangeran Li Jing Sheng sambil terus mengelus pergelangannya yang masih terasa sakit.
"Oleskan ini, rasa sakitmu pasti akan berkurang." ucap Hu Liena sambil menyerahkan sebuah toples kecil ke arah calon Adik Iparnya tersebut.
"Baik ...," balas Putri Li Jiang sambil mengikuti apa yang di sarankan oleh Hu Liena.
Li Jing Sheng melirik Adiknya yang sedang fokus mengoleskan ke pergelangan tangannya. Wajahnya tampak meringis sesekali seperti orang yang sedang menahan rasa sakit.
"Kakak Ipar, sekarang kau sudah banyak berubah ya." celetuk Pangeran Li Jing Sheng.
"Berubah bagaimana? Aku tetap menjadi Hu Liena yang sama, yang pernah kalian kenal dulu." balas Hu Liena dengan wajah datar.
Sejujurnya, Hu Liena merasa canggung mengobrol dengan kedua Adik dari Li Junjie. Mungkin mereka dulu sempat dekat, tapi bukan dengan dirinya, melainkan dengan pemilik tubuhnya yang asli.
Wajar saja jika Li Jing Sheng menyebut dia banyak berubah, karena memang dia bukanlah orang yang mereka kenal, pikir Hu Liena.
"Jangan salah paham dulu, Kakak Ipar." tukas Li Jing Sheng.
__ADS_1
"Lalu apa maksudmu, mengatakanku berubah?" ucap Hu Liena berpura-pura marah untuk menutupi kecanggungannya.
Melihat Hu Liena marah, Li Jing Sheng malah tertawa tergelak. "Nah, ini baru Kakak Iparku!" dalihnya sambil menuangkan secangkir teh.
Hu Liena mendelikan matanya, namun Li Jing Sheng malah semakin keras tertawanya karena merasa Kakak Iparnya terlalu menggemaskan.
"Kakak Kedua, jangan menggoda Kakak Ipar terus, nanti Kakak Pertama bisa marah." tegur Putri Li Jiang setelah selesai mengobati tangannya.
"Tenang saja, Adik. Kakak Pertama saat ini sedang berada di ruangannya Ayah, kita bisa bersenang-senang bertiga sambil membicarakan tentang pesta pernikahan calon Kakak Ipar kita." goda Pangeran Li Jing Sheng.
"Ah, kau benar! Dua hari lagi 'kan pesta pernikahan Kakak Ipar, jadi sudah sewajarnya kita berdua berada di sini untuk membicarakannya." celoteh Putri Li Jiang membenarkan ucapan Li Jing Sheng.
Hu Liena mengerutkan dahinya tebal, dia hanya tahu pernikahannya akan di langsungkan dalam waktu satu minggu mendatang. Mengapa tiba-tiba kedua Putra-Putri Kaisar di hadapannya ini bilang, jika pesta pernikahannya akan di lakukan esok lusa?
"Putri, Pangeran, apa maksud ucapan kalian?" tanya Hu Liena terkejut sekaligus penasaran dengan perkataan kedua Kakak beradik tersebut.
Pangeran Li Jing Sheng menepuk keningnya perlahan. Dia lupa, jika calon Kakak Iparnya masih terkurung karena dalam masa pemulihan paska pingsan sewaktu di lapangan tempo hari.
Hu Liena memicingkan matanya begitu mendengar penjelasan dari Pangeran Li Jing Sheng. Dia tidak menyangka, jika Li Junjie akan bertindak sejauh ini tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu darinya.
Dan apa kata mereka berdua tadi?! Pesta lajang?!
Tidak-tidak, Hu Liena tidak akan pernah mengadakan pesta lajang. Lagipula, Li Junjie belum membicarakan tentang pernikahan kepadanya.
Meskipun dekret Kaisar telah di umumkan, namun tetap saja Hu Liena ingin mendengar secara langsung berita tersebut dari Calon Suaminya.
"Kakak Ipar, bagaimana? Boleh tidak?" rengek Putri Li Jiang sambil menggoyang-goyangkan tangan Hu Liena.
"Aku akan memikirkannya terlebih dahulu, Putri." kilah Hu Liena.
Putri Li Jiang mengangguk pasrah, jika sudah begitu, mana mungkin dia bisa memaksakan kehendak calon Kakak Iparnya. "Baiklah!" ucapnya perlahan.
__ADS_1
Hu Liena sedikit merasa bersalah, namun dia juga belum bisa mengambil keputusan apapun sebelum mendengar penjelasan dari Li Junjie.
"Luqiu!" panggil Hu Liena sambil memberi isyarat agar Luqiu mengambil sebuah kotak di meja kecil samping tempat tidurnya.
"Ini, Putri." ucap Luqiu sambil menyodorkan barang tersebut kepada Hu Liena.
"Adik Jiang, aku sudah menyiapkan krim ramuan untuk memperhalus kulit wajahmu." tutur Hu Liena sambil mengeluarkan toples kaca kecil.
Putri Li Jiang yang awalnya berwajah murung, kini kembali bersinar begitu Hu Liena memberikannya sebuah hadiah krim perawatan wajah.
Sudah lama sekali dia selalu memperhatikan kulit wajah Hu Liena yang semakin mulus bagaikan patung giok. Namun untuk bertanya, Putri Li Jiang belum mendapatkan kesempatan untuk mendekat karena Kakak Pertamanya, Pangeran Li Junjie seperti tidak ingin ada orang yang mendekati calon Istrinya tersebut.
"Apa kulitku bisa semulus kulitmu, Kakak Ipar?" celetuk Putri Li Jiang sambil membuka tutup toples krim miliknya.
"Jika kau memakainya secara rutin, pasti hasilnya akan jauh lebih memuaskan dari yang kau bayangkan." jawab Hu Liena yang membuat kedua mata Putri Li Jiang bersinar.
"Kakak Ipar, aku juga mau!" Melihat Adiknya mendapatkan hadiah, Pangeran Li Jing Sheng tak ketinggalan ingin mendapatkan sesuatu yang bagus juga dari Hu Liena.
"Ini untukmu!"
Awalnya, Pangeran Li Jing Sheng merasa gembira akan mendapat sesuatu yang berharga seperti yang Hu Liena berikan kepada Adiknya Li Jiang.
Namun dia harus menelan kekecewaan, saat mengetahui barang yang di berikan kepadanya hanya sebuah toples yang berisikan butiran-butiran obat yang sangat banyak.
"Kakak Ipar, aku tidak sakit. Tidak membutuhkan obat sama sekali!" tolak Pangeran Li Jing Sheng sambil memasang wajah murung.
"Ini bukan obat sembarangan, ini anti racun yang sengaja aku racik untukmu." tegas Hu Liena.
Pangeran Li Jing Sheng merasa terharu dengan ketulusan hati Hu Liena yang meluangkan waktunya hanya untuk membuat racikan anti racun untuknya.
"Kakak Ipar ...,"
__ADS_1
"Cepat ambil!" tukas Hu Liena sambil menyerahkan toples berisi obat ke telapak tangan Pangeran Jing.