
Hu Liena merasa tersanjung dengan sikap Li Junjie sekarang. Di awal kebangkitannya, Hu Liena selalu merasa waspada dengan sosok Pangeran yang ada di hadapannya.
Mungkin karena di kehidupan sebelumnya Hu Liena pernah di khianati. Sehingga Hu Liena tidak menyukai kehadiran Pangeran Jun di awal.
Di tambah lagi dengan cerita pelayannya, Luqiu. Yang menyebutkan jika Pangeran Jun sering mengacuhkan, dan menolak dirinya. Membuat Hu Liena selalu menjaga jarak, dari Pangeran Jun.
Tapi sekarang, mereka bahkan sudah tak ada jarak lagi. Dan dalam beberapa minggu ke depan, mereka bahkan akan di persatukan selamanya dalam satu ikatan pernikahan.
Benci jadi cinta, itulah istilah yang cocok untuk mendeskripsikan hubungan Hu Liena saat ini.
"Aku akan pegang janjimu, Pangeran! Jika suatu hari kau mengingkarinya, aku tidak akan segan-segan untuk meninggalkanmu dalam kesendirian!" Ancam Hu Liena yang membuat Li Junjie bergidik.
"Aku tidak berani! Melihatmu saja berdekatan dengan si Pangeran jelek aku sakit, apalagi harus di tinggalkan. Aku tidak mau! Benar-benar tidak mau!"
"He-he! Kau ini menggemaskan sekali, Pangeran! Aku percaya padamu, jadi jangan ketakutan seperti itu!" Hu Liena terkekeh dengan sikap Li Junjie.
Li Junjie menarik nafas panjang, ancaman Hu Liena benar-benar membuatnya ketakutan. Bukan hanya takut di tinggalkan, Li Junjie juga takut jika harus sampai kehilangan Hu Liena, wanita yang di cintainya.
"Aku akan pulang sekarang, kau berhati-hatilah jika sedang berjalan-jalan keluar." Ucap Li Junjie sebelum akhirnya pergi dari kamar Hu Liena.
"Ish, Pangeran! Datang dan pergi semaunya saja, dasar!" Gerutu Hu Liena sebelum melanjutkan kembali tidurnya yang sempat tertunda.
Keesokan harinya...
"Pelayan! Di mana Ibuku? Mengapa dia belum datang juga untuk menjengukku?" Kata Xiulin yang sudah sudah mulai pulih kondisinya.
Pelayan yang di tanyai, merasa kebingungan untuk menjawab.
"Cepat bilang! Mengapa kau hanya diam saja!" Bentak Xiulin kepada pelayan yang tampak bingung.
"Maaf, Nona Xiulin. Nyonya sedang di kurung oleh Tuan Besar, jadi dia belum bisa menjenguk anda." Jawab pelayan tersebut.
Xiulin murka, dia langsung membentak lagi pelayan di hadapannya.
"Apa yang baru saja kau katakan? Ibuku di kurung? Bagaimana bisa?"
"Be-benar, Nona!" Ucap pelayan ketakutan.
__ADS_1
Xiulin melempar cangkir yang berada di tangannya ke arah si pelayan.
PRANNGGG...
Cangkir itu jatuh ke lantai dan pecah berantakan.
"Sialan kau! Bukannya memberikan kabar baik, malah memberiku kabar buruk seperti ini! Dasar pelayan rendahan!" Maki Xiulin dengan keras.
"Xiulin! Jaga bicaramu!"
Hu Boqin yang kebetulan sedang lewat di sana, langsung masuk dan menegur Xiulin.
"Aku? Jaga bicara? Tidak, aku tidak bisa!" Tolak Xiulin terang-terangan.
Hu Boqin merasa marah karena penolakan Xiulin yang terbilang kasar itu. Dia lalu kembali berbicara dengan nada tinggi.
"Jaga sikapmu, Xiulin! Kamu sudah keterlaluan, bahkan sudah tidak menghormatiku lagi sebagai kepala keluarga rumah ini!"
"Kepala keluarga? Kepala keluarga apa yang telah tega menghukum Istrinya sendiri?" Sindir Xiulin.
Wajah Hu Boqin merah padam karena menahan rasa amarahnya.
"Ayah! Biarkan saja dia, Ayah tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk menegurnya." Kata Hu Liena yang baru saja datang ke sana.
Hu Boqin menoleh dan langsung melihat Hu Liena yang berjalan dengan anggun ke arahnya.
"Nak, sedang apa kau di sini?" Tanya Hu Boqin ramah, sikapnya berbanding terbalik dengan sikapnya kepada Xiulin.
"Aku hanya kebetulan lewat saja, Ayah." Dalih Hu Liena asal.
Dia sebenarnya sengaja datang untuk membuat perhitungan dengan Xiulin. Namun tak di sangka, di sana malah bertemu dengan Ayahnya yang sedang memarahi Xiulin. Tak ada cara lain, Hu Liena hanya menjawab asal saja agar Ayahnya tidak merasa curiga. Bisa ancur kalau sampai sang Ayah tahu rencana awalnya datang kesana.
Meskipun memang Hu Boqin tidak akan menghentikan aksinya, tapi Hu Liena masih tetap harus merahasiakan tindak-tanduknya, agar sang Ayah tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Karena setahu Hu Liena, sikap Hu Boqin sekarang, sama dengan Li Junjie. Suka sekali mengkhawatirkan sesuatu yang tak perlu, karena Hu Liena yang sekarang, berbeda dengan Hu Liena yang dahulu yang bisanya hanya diam saja menerima keadaan.
Hu Boqin tidak menanyakan hal lain lagi, dia hanya mengangguk dan kembali menoleh ke arah Xiulin.
__ADS_1
"Dengar kau Xiulin, bersikaplah patuh seperti Adikmu ini. Dari dulu dia sering di jahatin kamu sama Ibumu, tapi dia tetap baik dan juga bersikap tenang. Tidak seperti kamu, yang bisanya membuat masalah saja. Belajarlah lebih banyak dari Adikmu ini, Xiulin!"
Xiulin mendelik, dia tidak mau di banding-bandingkan dengan Hu Liena.
"Aku tidak mau!" Tolak Xiulin.
"Terserah saja!" Balas Hu Boqin dengan kesalnya.
Sikap Xiulin yang selalu menentangnya, sungguh membuat Hu Boqin kehilangan kesabaran.
Jadi ini sifat sebenarnya Xiulin?
Jadi selama bertahun-tahun, Xiulin hanya berpura-pura baik untuk menipu dirinya?
Hu Boqin sudah menyesal, benar-benar menyesal sekarang dulu pernah mempercayai Xiulin beserta Ibunya, Yueqin.
Saat ini, Hu Boqin menjadi merasa malu kepada Hu Liena. Karena kebodohannya, Hu Boqin sudah dengan sadar percaya kepada dua orang yang bukan siapa-siapa, dan menelantarkan anak kandungnya.
"Ayah pergi duluan, Nak. Kamu juga, jika tidak ada hal penting yang ingin di lakukan di sini. Sebaiknya kamu cepat pergi, jangan berlama-lama, bahaya!" Ucap Hu Boqin kepada Hu Liena.
Ketika mengucapkan kata 'bahaya' Hu Boqin dengan sengaja melirik ke arah Xiulin. Maksudnya jelas, bahwa bahaya yang dia maksud, datangnya dari Xiulin yang selalu bertindak impulsif kepada siapa saja. Makanya, Hu Boqin berusaha memperingatkan Hu Liena agar terhindar dari marabahaya.
"Ayah tidak perlu khawatir, Pangeran Jun sudah mengajariku cara membela diri." Ucap Hu Liena berusaha menenangkan.
Hu Boqin mengangguk puas, semenjak semakin dekat dengan Pangeran Jun. Putrinya memang banyak perubahan, tak lagi mudah di tindas seperti dulu lagi. Itu membuat Hu Boqin merasa tenang, dan tak lagi terlalu mengkhawatirkan keselamatan Putrinya ini.
"Ayah percaya padamu, Nak. Tapi kamu harus tetap berhati-hati ya, Sayang." Ujar Hu Boqin sebelum pergi.
Hu Liena mengangguk, dan Xiulin, yang melihat keakraban antara Ayah dan Anak ini, mendengus tidak senang.
"Pamer!" Gumam Xiulin yang masih bisa di dengar oleh Hu Liena dan Ayahnya.
"Abaikan saja! Dia hanya tidak senang melihat kita bisa sedekat ini sekarang." Ucap Hu Boqin datar.
Hu Liena tidak bereaksi apa-apa. Dia memang ingin melihat Xiulin cemburu dengan kedekatannya bersama sang Ayah. Dan itu berhasil!
Setelah Ayahnya pergi, Hu Liena memalingkan wajahnya ke tempat Xiulin berada saat ini.
__ADS_1
"Kakak, aku datang kesini untuk melihat keadaanmu." Kata Hu Liena sembari berjalan mendekati Xiulin.