Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
51. Saingan Li Junjie.


__ADS_3

"Salam hormat hamba Kaisar, semoga Kaisar panjang umur dan hidup seribu tahun lagi." Hu Liena memberi hormat di depan Kaisar.


Kaisar mengangguk puas, lalu mulai berkata-kata kepada Hu Liena. "Bangunlah Putri Xia, hormatmu aku terima!"


"Terima kasih Yang Mulia!" Balas Hu Liena sopan.


Kaisar tersenyum melihat sikap Hu Liena yang jauh lebih dewasa saat ini. Tak hanya itu, penampilannya yang elegan juga, mampu mencuri perhatian dirinya dan sang Istri, Permaisuri Shu Yong.


"Hari ini, aku sengaja memanggil semua orang untuk mengumumkan penobatanmu sebagai Putri Xia Yang Agung." Ucap Kaisar penuh wibawa.


Semua orang terkejut, namun berusaha untuk tetap bersikap tenang.


Tak semua orang mengetahui tentang masalah 'Dekret Kaisar' kemarin. Jadi hari ini, secara khusus Kaisar mengumumkan tentang masalah itu, agar di ketahui seluruh pejabat di Negeri Ying.


Ketika semua orang bersikap tenang, berbanding terbalik dengan Xiulin. Dia terlihat sedang menahan sesuatu, di dalam dirinya.


Dia terlihat gelisah, dan beberapa kali mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Ada apa denganmu?" Bisik Yueqin yang melihat Anaknya terlihat cemas itu.


"Aku tidak apa-apa, Ibu." Jawab Xiulin sembari mengernyitkan keningnya.


Setelah mendengar jawaban dari sang Putri, Yueqin kembali fokus menatap Hu Liena dengan tatapan yang sangat tajam.


Yueqin tidak habis pikir dengan masalah Anting yang di kenakan Hu Liena. Jelas-jelas Anting itu dia yang simpan, bahkan penyimpanannya masih ia rahasiakan sampai sekarang.


Namun bagaimana, Anting itu bisa berada di tangan Hu Liena?


Tadinya Yueqin sempat berpikir, jika Anting itu hanyalah mirip. Namun setelah dia perhatikan lagi, Anting itu benar-benar milik Lilian, saingannya semasa muda dulu.


"Terima kasih atas kebaikan dari Yang Mulia Kaisar!" Hu Liena kembali memberi hormat begitu Kaisar mengucapkan kata-kata tersebut.


Ini sungguh suatu kehormatan bagi dirinya, karena di perlakukan dengan baik, oleh orang nomor satu di Negara Ying yang baru di ketahuinya ini.

__ADS_1


Sedikit banyaknya, Hu Liena mengetahui tentang peradaban jaman kuno dari buku-buku yang pernah ia baca sebelumnya. Dan juga, Hu Liena sering menonton drama-drama kolosal di televisi, sehingga ia tahu harus bersikap seperti apa hari ini.


Meskipun begitu, ini sangatlah lucu bagi dirinya. Karena baru pertama kali untuk Hu Liena, berhadapan langsung dengan seorang Pemimpin Negara di jaman kuno.


Dia seperti sedang memerankan sebuah film, yang menjadikan dirinya pemeran utama, yang di cintai, dan di hormati, oleh pemimpinnya tersebut.


Dan rasanya ini seperti mimpi, mimpi yang tak ada habisnya.


"Bangunlah Putri Xia! Dengan statusmu sekarang, bahkan Ayahmu yang seorang Perdana Menteri pun, harus memberi hormat ketika bertemu denganmu." Ucap Kaisar yang lagi-lagi membuat Hu Liena harus memberi hormat sebagai ucapan terima kasih.


"Hamba sangat beruntung, karena mendapat anugerah sebesar ini dari Yang Mulia Kaisar. Semoga Yang Mulia panjang umur, dan hidup seribu tahun lagi."


Seorang Kasim maju, lalu berkata lantang kepada semua orang. "Apa yang kalian tunggu! Cepat beri hormat, kepada Tuan Putri Xia Yang Agung!"


"Hormat kami kepada Putri Xia Yang Agung!" Semua orang langsung memberi hormat tanpa terkecuali di hadapan Hu Liena.


Hu Liena tersenyum lembut, ia merasa canggung begitu mendapat penghormatan dari semua orang.


Setelah semua orang berdiri kembali, Kaisar mulai berbicara lagi.


Setelah kedua tamu dari Kaisar itu di umumkan, terdengar bisik-bisik dari Putra dan Putri para pejabat.


"Putri Jia Li dari Negara Qian sangat cantik."


"Iya benar, dia terlihat begitu cantik meskipun hanya berdiam diri saja di sana."


"Aku ingin menyapanya, jika bertemu lain kali."


"Aku juga!"


"Iya, aku juga!"


Bisik semua Putra dari para pejabat yang berebut membicarakan Putri Jia Li yang memang terlihat cantik dan mempesona.

__ADS_1


Berbeda dengan para pria, semua Putri para pejabat kini sedang berebut untuk mendapat perhatian dari Calon Putra Mahkota Negeri tetangga itu.


Mereka semua hanya diam, namun semua orang tahu, diamnya para gadis bukanlah tanpa alasan. Mereka melakukannya supaya terlihat anggun, dan terlihat seperti gadis yang penurut dan mendapatkan perhatian dari Pangeran Yu Zemin.


Namun mereka tidak menyadari, jika tatapan dari Pangeran Yu Zemin sudah terkunci ke satu orang, yaitu Hu Liena yang saat ini sedang berdiri di hadapan Kaisar.


"Kakak, apa kau menyukai gadis itu?" Bisik Putri Jia Li kepada Pangeran Yu Zemin.


"Apa terlihat seperti itu?" Pangeran Yu Zemin malah balik bertanya kepada sang Adik.


Putri Jia Li memutar mata malas, dengan jawab Kakaknya yang naif itu.


"Terlihat jelas jika kau menyukai gadis itu, Kakak. Tapi aku ingatkan kepadamu, gadis itu adalah calon Istri dari Pangeran Li Junjie. Dan kau jangan coba-coba mendekatinya, karena kita datang kesini bukan untuk bersaing. Melainkan untuk menjalankan misi perdamaian." Jelas Putri Jia Li kepada sang Kakak yang tidak menggubris perkataannya.


Putri Jia Li bergidik ngeri ketika membayangkan Negaranya harus terlibat perang lagi dengan kerajaan dinasti Ying hanya karena ambisi Kakaknya yang menyukai seorang gadis. Apalagi, gadis itu adalah milik Pangeran terkejam di Negara Ying.


Dan ketika Putri Jia Li melirik ke arah Li Junjie. Dia terlihat takut, karena seperti yang dia tahu, Li Junjie adalah sang Dewa Perang yang di takuti oleh semua para prajurit di Negara-Negara tetangga. Dan kehebatan bertarungnya, tidak perlu di ragukan lagi.


Membayangkan akan hal itu, Putri Jia Li kembali berbisik kepada Pangeran Yu Zemin.


"Kakak lihat Pangeran Jun? Orang seperti itu tidak boleh kita singgung, dan kehebatannya dalam berperang, tidak perlu aku ingatkan lagi, bukan?"


Pangeran Yu Zemin merasa kesal dengan Adiknya yang terlalu banyak bicara.


Dengan menyebutkan hal seperti itu, Pangeran Yu Zemin tahu, jika Adiknya sedang mengingatkan dirinya tentang kekalahan beberapa tahun yang lalu oleh pasukan dari dinasti Ying yang di pimpin oleh Li Junjie langsung. Dan mereka kalah telak, dengan Pangeran Yu Zemin yang terluka akibat bertarung dengan Li Junjie.


"Diamlah, Adik!" Balas Pangeran Yu Zemin kepada adiknya. Meskipun terdengar lembut, namun kata-kata Yu Zemin penuh penekanan, dan langsung membuat Putri Jia Li bungkam karena ketakutan.


Apa hebatnya jago berperang, jika pada kenyataannya akan mati dalam satu tahun terakhir ini, batin Yu Zemin.


Kekalahannya di medan perang beberapa waktu yang lalu, membuat Yu Zemin menyimpan dendam di dalam hatinya kepada Li Junjie.


Semakin Yu Zemin mengingat kejadian itu, semakin kuat tekadnya untuk merebut Hu Liena dari musuhnya tersebut. Apalagi, setelah dia mengetahui identitas Hu Liena sebagai Tabib dalam ramalan malam. Dia semakin terobsesi, untuk mendapatkan Hu Liena.

__ADS_1


Jika Yu Zemin mampu merebut dan menikahi Hu Liena, tak hanya hidupnya yang akan sempurna, tapi juga dendamnya akan terbalaskan. Karena satu-satunya harapan hidup Li Junjie, adalah gadis cantik di hadapannya ini sekarang, Hu Liena.


__ADS_2