
Li Junjie menunduk karena merasa malu dengan ucapan Hu Liena.
Baru kali pertama dia merasa jatuh cinta dan mendapat pujian langsung dari sang pujaan hati. Wajar saja jika dia akan berlebihan dalam bereaksi.
Rasa bangga, suka cita, dan juga bahagia bercampur menjadi satu saat ini pada diri Li Junjie.
"Nak, sudah waktunya kita pulang." Suara Hu Boqin terdengar di tengah lamunan Li Junjie.
Hu Liena menarik kembali kedua tangannya, lalu menoleh ke arah sang Ayah yang kini sedang menatap ke arahnya.
"Baik ...," Ucap Hu Liena seraya mengangguk patuh.
"Aku yang akan mengantarnya sampai ke kediaman." Kata Li Junjie yang di balas anggukkan kepala oleh Hu Liena.
Hu Boqin yang mendengar ucapan Li Junjie, langsung meminta pamit karena tak ada gunanya lagi dia menunggu di sana.
Putrinya sekarang sudah di monopoli oleh calon menantunya. Jadi dia tidak bisa berharap banyak.
Li Junjie mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Hu Liena dan berjalan dengan bergandengan tangan menuju kereta kuda miliknya.
Saat ini, di kediaman Perdana Menteri sedang terjadi kekacauan.
Lebih tepatnya, di gerha kemakmuran milik Xiulin.
"Lancang! Putriku sedang terluka, dan kau memaksa ingin menemuinya! Dasar pelayan rendahan! Bibi Kiew, hukum dia tiga puluh kali cambukan!" Teriak Yueqin kepada Changyong yang sedang di paksa berlutut oleh para pelayan suruhannya.
Changyong yang terpaksa menerobos gerha kemakmuran, harus rela di perlakukan kasar oleh Yueqin dan para bawahannya. Tak terkecuali Bibi Kiew, yang dari tadi menampar dan menendang Changyong atas perintah sang Majikan.
"Tidak Nyonya, jangan!" Teriak Changyong pilu.
Bukan hanya Adiknya yang tidak dia temukan. Namun dirinya juga sekarang malah menjadi korban.
"Kau sudah berani datang kesini, jadi kau harus menerima konsekuensinya. Bawa pelayan ini ke halaman depan, lalu ikat dia dan berikan hukuman. Perintah Yueqin tegas.
Changyong terus memberontak dari cengkeraman para pelayan yang di perintah Bibi Kiew untuk menyeretnya ke halaman.
"Lepaskan aku! Aku hanya ingin bertemu dengan Adikku! Aku tidak memiliki niat jahat apapun, aku hanya ingin Adikku kembali! Tolong lepaskan!"
Ratapan Changyong sangat memilukan.
Tapi apa daya, para pelayan ini juga tidak mau mendapatkan hukuman seperti Changyong yang berani membantah perintah Tuannya.
Mereka terus menyeret tubuh lemah Changyong sampai ke halaman yang lebih luas untuk mendapatkan hukuman.
__ADS_1
"Cepat! Ikat dia di pohon sana!" Perintah Bibi Kiew.
Para pelayan berhenti dan langsung melakukan apa yang di perintahkan.
Bibi Kiew menyeringai dan langsung meraih cambuk yang tergantung di pinggang salah satu pelayan.
SPLASHH~
Bibi Kiew mengayunkan cambuk itu ke tanah dengan keras.
Changyong bergidik ketika melihat tanah di depannya beterbangan terkena cambukan.
Changyong sudah tidak bisa lagi membayangkan rasa sakit yang akan dia rasakan ketika cambuk itu mengenai tubuhnya.
"Kepala pelayan, tolong jangan lakukan itu padaku!" Ratap Changyong dengan memilukan.
Raut wajah Bibi Kiew semakin garang.
"Membual! Bagaimana bisa, kau berkata seperti itu setelah membuat Nyonya marah?" Sindir Bibi Kiew.
Changyong meringis, dia sudah melakukan apapun untuk membebaskan Adiknya. Namun usahanya tetap sia-sia. Dan hari ini, apa yang dia lakukan adalah usaha terakhir untuk sang Adik.
"Kepala pelayan! Aku tidak bermaksud seperti itu!" Bantah Changyong yang sontak membuat Bibi Kiew mendengus dan langsung membentak keras.
"Diam kau! Nyonya sudah menyuruhku untuk menghukummu! Jadi jangan banyak berkilah lagi!"
Bibi Kiew menjadi gemetaran begitu mengetahui orang yang melayangkan pertanyaan padanya.
"Tu-tuan!" Ucap Bibi Kiew gugup.
Hu Boqin mengibaskan lengan bajunya dan berjalan mendekati Bibi Kiew yang sedang menunduk karena ketakutan.
Setelah tinggal beberapa langkah lagi dari orang kepercayaan Yueqin, Hu Boqin berhenti.
"Cepat katakan! Siapa yang akan kau hukum?" Ulang Hu Boqin yang membuat Bibi Kiew bergidik.
"Di- ...,"
"Tuan, tolong hamba! Hamba tidak bersalah, hamba hanya ingin menyelematkan Adik hamba yang di kurung oleh Nona Xiulin." Ucapan Bibi Kiew langsung terpotong oleh ratapan Changyong.
Tubuh Bibi Kiew semakin bergetar karena ketakutan.
Hu Boqin menoleh ke arah Changyong yang sedang di ikat di sebuah pohon.
__ADS_1
Dia lalu memerintahkan penjaga untuk melepaskan ikatannya.
"Apa salahmu, hingga kau di hukum seperti ini oleh Istriku?" Tanya Hu Boqin dengan rasa heran.
Changyong berlutut di hadapan Hu Boqin dan mulai menceritakan kisahnya.
Dari awal dia mendapat kabar Adiknya di sekap dan di siksa, sampai akhirnya dia di perintahkan untuk mengantarkan sabun rempah-rempah oleh Yueqin sebagai syarat kebebasan sang Adik.
Namun pengorbanan Changyong menjadi sia-sia, sebab Adiknya belum juga di bebaskan hingga sekarang.
Oleh sebab itu, dia menerobos ke gerha kemakmuran yang berujung mendapat siksaan seperti ini oleh Yueqin.
"Anda dengar sendiri bukan? Yang aku bilang tadi adalah masalah ini. Jika kau tidak bisa mengajari Istrimu yang tidak tahu diri itu. Serahkan saja padaku! Aku akan mengajarinya, sampai dia jera."
Li Junjie berkata dengan penuh penekanan kepada Hu Boqin.
Sedangkan Hu Boqin sendiri, kini merasa marah karena mendengar penjelasan dari Changyong.
Bisa-bisanya Yueqin berencana membuat Hu Liena menjadi cacat. Untung saja, sekarang Putrinya itu tidak apa-apa. Jika tidak, mungkin keluarga Perdana Menteri akan di musnahkan oleh Li Junjie.
Melihat Ayahnya yang sedang di liputi amarah. Hu Liena maju, dan berkata kepada sang Ayah.
"Tenanglah, Ayah! Tidak terjadi apa-apa padaku, karena kedua pengawal utusan Ayah selalu menjagaku. Mereka memberitahukan rencana Bibi Yueqin padaku, dan langsung mengirim sabun rempah-rempah itu kembali kepada pemilik aslinya. Tapi tidak di sangka, sabun itu malah di gunakan oleh Kakak. Aku sangat menyesal Ayah!"
Hu Liena sengaja menggunakan nama kedua Wang Bersaudara untuk menutupi jati dirinya.
Dia masih belum bisa terbuka kepada sang Ayah, tentang keterampilan medisnya sekarang.
Lagipula, Hu Liena yakin jika Ayahnya, akan mempercayai perkataannya.
"Jadi, kondisi Xiulin sekarang adalah effect dari sabun rempah-rempah itu?" Hu Boqin terkejut mendengar penuturan Putrinya.
Jika effectnya semenakutkan itu, berarti sabun rempah-rempah yang di kirim Yueqin sangatlah berbahaya.
Di balik kemarahannya, Hu Boqin justru bersyukur karena bukan Hu Liena yang menjadi korban sabun terkutuk tersebut.
"Iya Ayah, itu adalah effect dari sabun rempah-rempah yang di kirim oleh Bibi Yueqin." Balas Hu Liena sembari melirik ke arah Bibi Kiew yang sedang gemetar ketakutan.
"Bagus, bagus sekali Yueqin!" Kata Hu Boqin geram.
Bibi Kiew semakin panik!
Dia ingin pergi dari tempat itu, namun kakinya terasa lemas dan sulit di gerakkan.
__ADS_1
Yang bisa Bibi Kiew lakukan sekarang adalah menangis, dan meratapi nasibnya sendiri di dalam hati.
Ya Dewa! Tolong selamatkan aku dan juga Nyonya! Kami tidak pantas di perlakukan seperti ini. Kami dari keluarga terhormat, dan kami berhak mendapatkan apa yang kami mau, batin Bibi Kiew.