
Tabib Hong yang saat ini, sudah merasakan bahaya yang akan menyerangnya. Namun, sebelum dia sempat melarikan diri, Tabib Hong sudah di tangkap oleh sekelompok orang tadi.
"Siapa kalian?" Teriak Tabib Hong lantang.
Bukan takut di bunuh, tapi Tabib Hong takut orang-orang ini ingin mengorek informasi darinya. Dia takut di manfaatkan, okeh segelintir orang-orang, yang memiliki tujuan tertentu.
"Nanti kau akan tahu sendiri. Sekarang, ikut kami!" Kata si Ketua kelompok.
Tabib Hong tidak bisa berbuat banyak, karena sekarang dirinya telah di tangkap, dan di cengkeram oleh dua orang dari belakang.
Di sebuah pohon yang berdaun rindang.
"Cepat, laporkan masalah ini kepada Pangeran Jun. Aku akan tetap di sini, untuk menghadang mereka."
Ternyata, orang yang sedang ada di atas pohon itu adalah Bingwen. Dia sengaja di perintahkan untuk menjaga, dan melindungi Tabib Hong dari bahaya.
Setelah kejadian di penjara kemarin, Pangeran Jun memerintahkan mereka untuk berjaga di tempat Tabib Hong. Karena Pangeran Jun merasa, orang-orang ini akan mengincar keberadaan Tabib itu untuk menyembuhkan Xiulin.
Dan kecurigaan Pangeran Jun benar, orang-orang ini memang datang untuk mencari Tabib Hong, dan menangkapnya sesuai kecurigaan Pangeran Jun.
"Baik, aku akan segera kembali dan membantumu." Ucap rekan Bingwen.
Setelah rekannya pergi, Bingwen lalu melompat turun dari pohon tempatnya bersembunyi.
"Lepaskan Tabib Hong!" Bentak Bingwen keras.
Orang-orang yang baru saja keluar dari kediaman Tabib Hong langsung berhenti begitu mendengar bentakan Bingwen.
" Kau ingin menghentikan kami seorang diri? Konyol!" Si ketua kelompok pria berbaju hitam mengejek keberanian Bingwen yang menghadang pergerakan mereka.
"Diamlah kau! Cepat lepaskan Tabib Hong! Atau aku akan membunuh kalian semua!" Bingwen kembali berteriak lantang.
Mendengar ucapan Bingwen barusan, sontak saja membuat para pria berbaju hitam itu menjadi tertawa terbahak-bahak.
"Kau bilang akan membunuh kami? Ha-ha! Aku ingin lihat, seberapa besar nyalimu itu?" Tantang si ketua kelompok, lalu dia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menyerang Bingwen.
Hyaahhhh...
Wusshhh...
Wusshhh...
Beberapa orang tersebut langsung menyerang Bingwen dengan membabi buta.
__ADS_1
TRIING...
TRIINNGG...
TRIINNGGG...
Kilatan logam tajam beradu di udara, serang pedang mereka berhasil di tahan tangkis oleh Bingwen.
Semua orang terkejut, bahkan si ketua kelompok pria berbaju hitam lebih terkejut lagi.
Pantas saja dia bersikap sombong, keahlian pedangnya bahkan jauh lebih hebat dariku. Jangankan mereka, aku saja mungkin tidak akan menang jika melawannya dengan kekuatan pisik, batin si ketua kelompok.
Bingwen adalah pengawal kepercayaan kedua Li Junjie setelah Guotin. Tentu saja, kemampuan pedangnya jangan di remehkan. Orang-orang yang berada di sisi Pangeran Jun, bukanlah orang-orang yang memiliki kemampuan biasa saja. Mereka sudah terlatih sempurna, baik itu pertarungan perorangan, ataupun di dalam perang, mereka sudah terbiasa melakukan hal berbahaya seperti itu.
Orang-orang yang melawan Bingwen sekarang hampir terdesak. Karena panik, bahkan dari mereka ada yang berniat untuk melarikan diri. Namun begitu menoleh ke arah si ketua, keinginan mereka langsung menguap lagi.
Percuma saja mereka lari sekarang dari kematian, kalaupun selamat juga, ujung-ujungnya mereka akan mati oleh orang yang jadi Tuannya karena telah berusaha lari dari pekerjaan.
Melihat anak buahnya hampir kalah, si ketua menambahkan lagi beberapa orang untuk melawan Bingwen.
"Maju!" Perintah si ketua kepada lima orang yang tersisa di belakangnya.
Lima orang itu langsung terjun ke dalam pertempuran.
"Ha-ha! Kau boleh memiliki kemampuan yang hebat, tapi melawan dua puluh orang, mana mungkin kau akan bisa menang." Ejek si ketua kelompok.
Wusshhh...
Sebelum niatnya terlaksana, seseorang muncul beberapa langkah di hadapannya.
"Jangan terburu-buru!" Orang yang baru muncul itu, yang bukan lain adalah Guotin.
Dia datang secepat mungkin, karena di beritahu oleh rekan Bingwen jika kediaman Tabib Hong sedang di serang oleh kelompok pria berbaju hitam. Dan keselamatan Tabib Hong, kini sedang terancam.
"Menyingkir dari jalanku!" Bentak si ketua.
Guotin memberikan jawaban kejam. "Tentu! Tapi nanti, setelah kau mati!"
"Brengsek!" Si ketua langsung tersulut emosi begitu mendengar kata-kata Guotin untuknya.
Guotin tersenyum mengejek kepada si ketua yang sekarang sedang bersiap untuk menyerang.
"Rasakan ini!" Teriak si ketua kencang.
__ADS_1
Hyaahhhh...
Wusshhh...
TRIINNGGG...
Serangan pedang si ketua langsung di mentalkan oleh Guotin.
"Sialan! Ternyata dia lebih hebat dari orang tadi." Rutuk si ketua kelompok.
Dia tidak menyangka, orang yang menghentikan langkahnya ini justru lebih hebat dari orang yang pertama, yang sekarang sedang bertarung melawan para anak buahnya.
"Hanya segitu, kemampuanmu!" Ejek Guotin menambah kemarahan di hati si ketua.
"Brengsek! Jika aku tidak membunuhmu sekarang, aku akan mati penasaran!" Bentak si ketua geram.
"Ha-ha! Baguslah, dengan begitu kau akan menjadi hantu penunggu tempat ini!" Ejek Guotin.
Ucapan Guotin bukan hanya menambah kemarahan si ketua, tapi Tabib Hong juga kini mendelikkan matanya kearah Guotin.
Apa yang di katakan pengawal Pangeran? Hantu penunggu tempat ini? Aku tidak mau! Bagaimana aku harus hidup berdampingan dengan hantu penjahat, di kediamanku sendiri? batin Tabib Hong.
Seandainya saja dia bisa mengeluarkan suaranya, mungkin dia akan berteriak keras kepada Guotin 'Diam kau, jangan bicara sembarangan!' tapi sayangnya, titik suara Tabib Hong telah di totok oleh orang-orang ini, jadi dia hanya bisa mendelikkan mata sebagai bentuk protes kepada pengawal Pangeran Jun ini.
Hyaahhhh...
Si ketua kembali menyerang. Kali ini, dia menyerang dengan sangat ganas.
Wusshhh...
Angin panas berhembus di udara lewat serangan pedang si ketua.
Guotin juga tak mau kalah, dia menggerakkan pedangnya untuk menangkis serangan tersebut.
TRIINNGGG...
Agghhh...
Si ketua berteriak kesakitan karena pedang Guotin melukai tangannya hingga berdarah.
Jika saja Guotin menggunakan seluruh kekuatannya untuk melawan si ketua kelompok berbaju hitam ini, bisa di pastikan jika tangan si ketua bukan hanya akan mendapatkan luka sayatan, tapi akan putus tangannya oleh pedang Guotin.
Hanya saja Pangeran Jun berpesan agar Guotin tidak membunuh orang-orang ini, cukup melukai mereka sedikit saja sebagai bentuk peringatan.
__ADS_1
Dan yang paling penting, Pangeran Jun juga berpesan agar mereka tidak menunjukkan kekuatan asli di hadapan para penyusup ini.
Itu di tujukan agar para penyusup tidak bisa mengukur kekuatan mereka, dan akan berani menyerang kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Barulah di situ, kekuatan asli dari para prajurit Pangeran Jun akan di keluarkan untuk menghadapi penyerangan para penyusup, dan membinasakan mereka hingga ke akar-akarnya.