
Xiulin memelototkan matanya kepada Hu Liena.
"Aku tidak memintamu untuk melakukan itu, jadi enyahlah dari hadapanku. Sekarang!" Teriak Xiulin dengan kencang.
Hu Liena justru merasa lucu melihat reaksi Xiulin yang seperti ini.
"Aku menolak!" Ucapnya tenang.
"Aku akan mengusirmu, dengan paksa." Ancam Xiulin lagi.
Hu Liena tidak bergeming. Malahan kini Hu Liena memilih duduk di bangku yang berdekatan dengan ranjang Xiulin.
"Aku tidak takut! Kakak boleh melakukan apa saja yang Kakak mau, dan aku 'pun juga sama. Aku akan melakukan apa saja, yang aku mau juga." Tegas Hu Liena tanpa rasa takut sama sekali.
"Tidak tahu diri!" Cibir Xiulin.
Hu Liena hanya tertawa ketika mendengarnya.
Xiulin tidak kehabisan akal, dia melempar Hu Liena dengan buku yang ada di meja kecil di dekatnya.
Hu Liena dengan sigap menangkap buku tersebut, dan mengembalikannya kembali kepada Xiulin.
Bughh...
Buku yang di lemparkan balik oleh Hu Liena jatuh tepat di pangkuan Xiulin.
"Simpan itu, aku tidak membutuhkannya." Ucap Hu Liena dengan nada tenang.
Xiulin ingin membalas, namun kata-katanya tak mampu keluar. Dia masih tidak percaya, Hu Liena dengan cekatan mengelak bahkan mengembalikan buku itu kepadanya dengan gampang.
"Apa tujuanmu datang kesini?" Tanya Xiulin setelah bisa mengendalikan perasaannya.
"Menjengukmu!" Jawab Hu Liena datar.
"Hanya itu?" Kata Xiulin dengan perasaan heran.
"Tidak juga! Tergantung situasi!" Jawab Hu Liena yang membuat Xiulin makin kebingungan.
"Apa maksudmu?" Tanya Xiulin geram.
Hu Liena terkekeh, dia sangat, sangat, dan sangat suka melihat Xiulin menderita seperti ini.
Dia berencana menyiksa Xiulin hari ini, dengan siksaan pisik dan mental. Jadi mungkin, ini akan sedikit emosional, pikir Hu Liena.
"Maksudku, aku ingin Kakak mendapatkan apa yang harus Kakak dapatkan selama ini. Tapi itu tergantung dari Kakak sendiri. Jika Kakak bisa menjawab semua pertanyaanku dengan benar, mungkin aku akan mengurangi hukuman Kakak." Ucap Hu Liena dengan santainya.
__ADS_1
"Hukuman? Hehh, berani sekali kau membicarakan tentang hukuman denganku!" Cibir Xiulin keras.
Hu Liena tersenyum smirk mendengar cibiran dari mulut Xiulin. "Memangnya, apa yang membuatku tidak akan berani menghukum Kakak?"
"Sialan kau, Hu Liena! Jangan bermain-main denganku, atau kau akan aku binasakan!" Ancam Xiulin kasar.
"Aku akan menantikan hal itu, jika Kakak bisa lakukan saja. Jika tidak, maka siap-siap kalau Kakak sendiri yang akan binasa." Ucap Hu Liena tenang.
Xiulin sebenarnya merasa takut dengan ancaman Hu Liena. Sikap Hu Liena sekarang berbeda dengan sebelumnya yang akan panik, ketika dia mengucapkan hal seperti itu.
Hu Liena sekarang akan membalas semua yang dia ucapkan, dan Hu Liena juga akan membalas semua yang Xiulin lakukan. Sungguh merepotkan!
"Cepat katakan, apa yang ingin kau tanyakan? Kalau sudah selesai, cepat pergi dari ruanganku! Aku muak melihat wajahmu yang seperti itu!" Bentak Xiulin.
"Kenapa Kakak muak? Wajahku baik-baik saja. Tidak seperti wajah Kakak yang ... up's aku salah bicara!" Ucap Hu Liena sembari menutup mulutnya.
Hu Liena sebenarnya sadar dengan apa yang dia ucapkan, namun dia berpura-pura lupa agar Xiulin merasa penasaran dengan tampilan wajahnya sekarang.
"Apa? Apa maksudmu?" Tanya Xiulin panik.
Xiulin memang belum mengetahui keadaan wajahnya yang di penuhi bintik bernanah karena effect racun dari minyak ekstrak daun Parsnip Liar. Jadi wajar saja, jika dia merasa terkejut dengan ucapan Hu Liena.
"Aku tidak ada maksud apa-apa, aku hanya asal bicara saja." Ucap Hu Liena yang semakin membuat Xiulin penasaran.
Pelayan yang mendengar teriakan Xiulin, jadi gemetar ketakutan. Apalagi mendengar ucapannya yang meminta cermin, bisa bahaya jika Xiulin mengetahui kondisi wajahnya saat ini.
"No-nona ... Sebaiknya anda tidak perlu bercermin!" Ucap si pelayan tersebut dengan ketakutan.
"Siapa kau! Berani sekali kau mengatur hidupku!" Bentak Xiulin yang membuat si pelayan semakin menggigil karena rasa takut.
"Berikan saja! Mau di larang seberapa keras 'pun, Kakak tidak akan mendengarkan kalian!" Ucap Hu Liena dengan tenang.
"Diam kau!" Bentak Xiulin.
Hu Liena memang langsung diam, tapi bukan karena takut dengan gertakan Xiulin. Namun karena Hu Liena, ingin tahu reaksi Xiulin setelah melihat wajahnya sendiri di cermin.
Xiulin meraih cermin yang di sodorkan pelayan padanya.
Dengan perasaan tak menentu, Xiulin mengarahkan cermin tersebut ke wajahnya.
Agghhhh....
Teriakan kencang dari Xiulin membuat semua orang yang berdiri di luar mampu mendengar suaranya.
Xiulin sendiri merasa terkejut dengan penampakan wajahnya sendiri barusan.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa wajahku menjadi seperti ini?" Teriak Xiulin histeris.
Xiulin lalu membanting cermin yang di tangannya ke sudut ruangan.
PRANNGG...
Cermin itu pecah berantakan, dan serpihan kacanya berhamburan kemana-mana.
"Nona, hamba sudah memperingatkan anda!" Ucap pelayan tadi sembari menundukkan kepala.
"Siapa? Siapa yang membuat wajahku seperti ini?" Bentak Xiulin kepada pelayan tersebut.
Si pelayan hanya terdiam dan tubuhnya gemetaran karena merasa panik dan ketakutan.
"Aku tahu, siapa dalang yang menghancurkan wajahmu!" Celetuk Hu Liena dari arah belakang.
Xiulin menoleh, lalu membentak lagi ke arah Hu Liena. "Siapa? Katakan! Apa jangan-jangan, ini ulah kau, Hu Liena!"
"Jangan asal menuduh saja, Kakak! Itu dosa besar! Apalagi yang kau tuduh adalah aku, Putri Xia Yang Agung! Jadi itu tidak mungkin!" Bantah Hu Liena keras.
Xiulin mendengus, ia yakin ini semua ulah Hu Liena. Siapa lagi, kalau bukan dia!
"Kalau begitu, buktikan! Buktikan kalau bukan kau yang melakukan ini padaku!" Tantang Xiulin.
Hu Liena mencebik ke arah Xiulin.
Dia merasa jengah dengan sikap arogan yang di tunjukkan oleh Xiulin padanya. Jika bukan karena ada kepentingan pribadi, mungkin Hu Liena akan langsung menyingkirkan Xiulin sedari tadi. Namun sayang, tujuannya belum tercapai.
Jadi Hu Liena, belum bisa melampiaskan amarahnya kepada Xiulin sekarang.
Yang bisa Hu Liena lakukan, hanya mengulur waktu, dan tetap sabar.
"Bibi Yueqin." Ucap Hu Liena santai namun bagai petir menyambar di telinga Xiulin.
"Apa? Ibu? Ibu yang melakukan ini padaku?" Gumam Xiulin perlahan.
Otak Xiulin berpikir keras. Mungkin benar, Ibunya mampu melakukan hal di luar nalar seperti ini. Namun sasaran awalnya mungkin bukan dirinya, melainkan Hu Liena.
Jadi ini semua bukan karena Ibunya. Ini semua karena ulah Hu Liena. Ya, Hu Liena!
"Sialan! Kebohonganmu, tidak akan mempan padaku!" Ucap Xiulin dengan lantang.
"Bohong? Aku bohong? Itu memang ulah Ibumu, mengapa kau melimpahkannya padaku?" Ucap Hu Liena yang berpura-pura ketakutan.
Xiulin serasa ingin menerjang dan memukuli Hu Liena saat ini. Namun dirinya tak bisa bergerak bebas, karena kalau Xiulin memaksakan, wajahnya akan tertarik dan itu sangat perih rasanya.
__ADS_1