
"Benar, Ayah! Dan kata Tabib, racun itu memiliki kesamaan dengan racun yang mengalir di dalam darahku!" Li Junjie kembali berucap dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.
Kaisar merasa sedih sekaligus marah mengetahui tentang racun yang di gunakan oleh para penyusup.
"Kurang ajar! Berani sekali dia datang lagi ke kerajaanku!" Kata Kaisar sambil menggebrak meja.
"Apa Ayah mengetahui, siapa orang itu sebenarnya?" Li Junjie merasa penasaran kareng Kaisar seperti mengenal si pemilik racun.
Kaisar Li Jinhai menoleh ke arah Putra Pertamanya.
Mata Kaisar berkaca-kaca menahan kesedihan yang seperti akan meledak di hatinya saat ini.
"Tentu saja! Bagaimana mungkin Ayah bisa melupakan orang yang sudah membuatmu menderita, Pangeran!" Ucap Kaisar.
"Siapa? Siapa orang itu, Ayah?" Li junjie tak bisa lagi membendung ledakan api kemarahan yang selama ini dia tahan.
Kaisar menatap kejauhan dengan tatapan kosong. Ingatannya kembali ke waktu beberapa puluh tahun yang silam ketika dirinya masih berstatus Putra Mahkota kerajaan Ying.
"Hari itu, Kakekmu Kaisar Li Jiao berperang melawan kerajaan Qian. Kakekmu adalah seorang Jendral perang, yang di takuti oleh musuh-musuhnya dari kerajaan lain. Selain Kakekmu, perang waktu itu juga di pimpin oleh Panglima Qiang. Semula, kerajaan kita memimpin peperangan selama berhari-hari. Dan kerajaan Qian, sebentar lagi akan bisa di taklukkan. Namun semuanya berubah, setelah Kakekmu mengalami keracunan di medan perang. Dan akhirnya harus meninggal karena serangan balik yang di lakukan oleh para prajurit dari pihak musuh." Tutur Kaisar Li Jinhai dengan perasaan berat ketika mengingat tentang kematian sang Ayah.
"Apakah orang yang meracuni Kakek, adalah orang yang sama dengan yang meracuniku?" Tanya Li Junjie dengan tak sabar.
"Benar!" Jawab Kaisar yakin.
"Lalu siapa? Katakan dengan jelas Ayah, agar aku bisa membalas perbuatannya!" Li Junjie tak sabar lagi ingin mendengarkan nama pelakunya.
"Panglima Qiang!" Kaisar akhirnya menjawab semua rasa penasaran Pangeran Jun.
Li Junjie mengerutkan alisnya tebal. "Panglima Qiang? Bukankah dia Panglima kerajaan kita?"
Kaisar Li Jinhai menggeleng pelan. "Aku juga dulu berpikir seperti itu."
Ucapan Kaisar yang setengah-setengah, membuat Li Junjie semakin merasa tertantang untuk mengetahui kebenarannya.
"Tolong ceritakan semuanya tanpa terlewat sedikitpun, Ayah!"
__ADS_1
Kaisar lalu menceritakan semua yang dia tahu tentang sosok Panglima Qiang.
"Panglima Qiang adalah seorang pelajar yang sangat berbakat. Di usia muda, dia sudah memiliki kemampuan untuk meracik racun yang mematikan. Banyak orang yang memuji tentang kemampuannya untuk meracik racun tersebut. Bahakan ada sebagian orang, yang menggadang-gadangkan Panglima Qiang akan menjadi seorang Jendral ternama, dan paling di takuti oleh kerajaan-kerajaan lain. Tapi sayangnya, kami tertipu oleh penampilan dan bakatnya. Karena sebenarnya, Qiang Geming adalah seorang penyusup yang sengaja menyamar menjadi seorang pelajar. Dia di tugaskan untuk menyerang kerajaan kita dari dalam, dan berhasil melakukannya setelah meracuni Kaisar sebelumnya, yaitu Kakekmu hingga mati di medan perang. Dia juga berhasil menyusup kembali setelah aku di nobatkan menjadi Kaisar Kedua, dan juga berhasil meracuni Putra Pertamaku, yaitu kau, Pangeran Jun." Di dalam kata-kata Kaisar Li Jinhai, tersirat kesedihan, kebencian, dan juga kemarahan kepada Qiang Geming, atau mantan Panglima Qiang.
"Tapi Ayah, untuk apa Qiang Geming ini menyelamatkan Nyonya Yueqin dan Putrinya di dalam penjara?" Li Junjie kini merasa kebingungan setelah mendengar cerita Ayahnya tentang asal-usul Panglima Qiang.
"Aku tidak tahu tentang hal itu. Tapi aku pernah mendengar, jika Qiang Geming pernah menikah dan memiliki seorang Anak. Dan tentang Anak Qiang Geming, aku tidak tahu, apakah dia seorang Putra? Atau juga seorang Putri? Belum ada kejelasan tentang hal ini." Jawab Kaisar Li Jinhai.
Li Junjie berpikir keras untuk memecahkan kasus yang sedang di hadapinya saat ini.
Solusi yang terbaik, Li Junjie harus mencari informasi tentang kebenaran kabar yang dia dengar dari sang Ayah.
Li Junjie juga harus mencari tahu informasi tentang keberadaan Istri dan Anaknya Qiang Geming.
Siapa mereka? Di mana keberadaan mereka? Li Junjie harus mencarinya sampai kemanapun juga.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin di bicarakan aku pamit dulu, Ayah!" Li Junjie sudah tak mau berlama-lama duduk bersama Kaisar, bagi Li Junjie itu hanya buang-buang waktu saja.
Setelah Putranya pergi, Kaisar Li Jinhai memanggil orang kepercayaannya.
"Bangunlah!" Ucap Kaisar.
"Terima kasih, Yang Mulia!" Ucap Changpu seraya menuruti perintah Kaisar.
Setelah pengawalnya berdiri dengan tegak, Kaisar kembali berbicara.
"Aku ingin tahu, informasi tentang Qiang Geming." Kaisar langsung menanyakan info tentang musuh besarnya di masa lalu.
Changpu memberi hormat, lalu menjawab pertanyaan dari Kaisar.
"Jawab Yang Mulia, Qiang Geming kini muncul di sebuah tempat di daerah pegunungan selatan." Changpu memberikan laporan yang akurat.
Kaisar nampak terkejut dengan kabar dari pengawalnya. "Pegunungan selatan? Bukankah di sana banyak di tumbuhi tanaman obat?"
"Benar, Yang Mulia! Tujuan Qian Geming mendirikan bangunan di sana, adalah karena hal itu. Kabar yang saya dengar sebelumnya, Qian Geming saat ini sedang mengembangkan sebuah racun yang mematikan. Dan sekali racun itu berhasil di buat, semua umat manusia akan dalam bahaya." Tutur Changpu penuh keyakinan.
__ADS_1
"Kurang ajar!" Kaisar menggebrak meja.
"Changpu! Kumpulkan semua Tabib berbakat di seluruh penjuru kerajaan dinasti Ying. Aku ingin mereka membuat obat penawar racun yang banyak." Titah Kaisar Li Jinhai.
Changpu tidak segera pergi, dia masih berdiri di hadapan Kaisar tanpa bergeming sama sekali.
"Apa yang sedang kau tunggu? Cepat pergi!" Kaisar membentak dengan sangat keras.
"Yang Mulia! Lakukan semuanya secara diam-diam saja, kalau kita melakukannya secara terang-terangan, hamba takut kalau rencana kita akan mudah tercium oleh mereka." Saran Changpu.
Kaisar merasa pikirannya tercerahkan oleh perkataan Changpu saat ini.
"Kau benar, Changpu! Aku terlalu emosi tadi, sehingga tidak bisa berpikir dengan matang." Kaisar merasa bersyukur mempunyai orang kepercayaan seperti Changpu.
Meskipun usianya masih muda, tapi akal Changpu seperti tidak ada habis-habisnya.
"Kirimkan ini kepada Tabib Hong, atau berikan kepada pengawalnya Pangeran Jun yang bernama Bingwen, dia pasti tahu keberadaan Tabib Hong saat ini. Biar dia yang membantu memberikannya kepada beliau." Ucap Kaisar yang di balas anggukkan kepala oleh Changpu.
Setelah pamit dari hadapan Kaisar, Changpu segera pergi untuk mencari pengawal Pangeran Jun yang di beritahukan tadi oleh Kaisar, dan memberikan surat untuk Tabib Hong kepada Bingwen.
"Tabib Hong, Kaisar mengirimimu surat." Ucap Bingwen sembari menyodorkan surat di tangannya.
"Bagaimana Kaisar tahu jika aku berada di sini?" Tanya Tabib Hong heran.
"Pengawal Kaisar mencariku, lalu memintaku untuk menyerahkan surat ini padamu!" Jawab Bingwen.
Tabib Hong semakin terheran.
"Apa kau memberitahu pengawal Kaisar kalau aku berada di tempat rahasia ini?" Bingwen menggeleng menjawab pertanyaan Tabib Hong.
"Lalu bagaimana orang itu tahu, kalau harus mencarimu jika ingin menemui, atau butuh bantuanku?" Kali ini, Bingwen tidak menjawab.
Tabib Hong terbelalak. "Apa kau selalu mengikutiku?"
Bingwen kembali diam, lalu pergi meninggalkan Tabib Hong yang merasa geram.
__ADS_1
"Pangeran Jun, aku tahu ini pasti ulahmu! Kau menyuruh orang itu, untuk memata-matai aku! Dasar Pangeran kejam!" Gerutu Tabib Hong.