Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
143. Kesedihan Pangeran Qian Yingzhi.


__ADS_3

Hu Liena memeras otak, dia harus segera mencari cara untuk memasuki wilayah bukit Wuya. Tepatnya, di mata air murni yang akan di jadikan pemandian oleh Kaisar Wu dan juga Yueqin beserta Putrinya.


"Aku tahu, siapa orang yang bisa membawa kita pergi kesana!" ucap Pangeran Li Junjie secara tiba-tiba.


Hu Liena seperti mendapatkan angin segar di tengah panasnya gurun pasir, dia lalu menoleh ke arah Pangeran Li Junjie yang kini sedang menatap lekat ke arah seseorang di dekatnya.


Eh, Pangeran Qian Yingzhi?! ada apa ini?! batin Hu Liena.


Namun, Hu Liena berusaha untuk tetap tenang, dan menunggu apa yang akan di katakan Li Junjie selanjutnya.


"Pangeran Qian, kami semua akan mengandalkanmu untuk masuk kesana!" ucap Li Junjie yang membuat terkejut semua orang.


"Pangeran, apa maksudnya ini?" ucap Hu Liena dengan terkejut.


"Hem, Pangeran Qian yang akan memimpin jalan esok pagi ke bukit Wuya. Dia yang lebih hafal dengan daeran perbukitan di daerah Wuya, bukankah begitu, Pangeran?" tutur Li Junjie.


Hu Liena masih belum mau percaya dengan ucapan sang Pangeran. Dia lalu menoleh ke arah Qian Yingzhi yang masih menundukkan kepalanya.


"Pangeran Qian, apa benar kau bisa membawa kami kesana?" tanya Hu Liena dengan hati-hati.


Qian Yingzhi mengangkat kepalanya, tampak kedua bola matanya kini telah basah oleh airmata.


"Benar! Saya yang akan memandu jalan kalian semua." ucap Qian Yingzhi dengan perlahan.


Hu Liena menangkap ada kesedihan di setiap kata-kata yang di ucapkan Qian Yingzhi. Jika dia tidak salah menebak, mungkin ini ada hubungannya dengan kisah masa lalu Pangeran yang sering di siksa oleh Putri Song Qian.


Tapi bagaimana bisa, penyiksaan yang menimpanya bisa jauh hingga sampai di kerajaan Wuya?


Hu Liena sebenarnya ingin mengetahui lebih banyak, namun dia merasa tidak enak hati dengan Qian Yingzhi jika harus mengorek luka lamanya.


"Pangeran, jika kau merasa tidak mampu. Kami bisa mencari cara sendiri, untuk bisa sampai ke bukit Wuya." ujar Hu Liena yang tidak ingin menambah kesedihan Pangeran Qian Yingzhi.


"Tidak apa-apa, Putri. Saya bisa mengantar anda sekalian, melalui jalur yang lebih aman." jawabnya.


Hu Liena mengangguk, lalu setelah semua sepakat. Dia membubarkan semua orang dan menyuruh mereka semua untuk beristirahat.


Setelah hanya tinggal berdua bersama Pangeran Li Junjie, dia lalu mengajaknya berbicara serius.


"Pangeran! Sebenarnya, penderitaan seperti apa yang di alami Pangeran Qian?" tanya Hu Liena dengan nada sedih.


"Aku dengar dari Guotin, jika Putri Song Qian sering menjual tubuh Pangeran Qian kepada para pejabat dari kerajaan Wuya. Dan bukit Wuya, sering di gunakan para pejabat untuk mengurung para budak yang mereka beli dari berbagai macam daerah. Termasuk Pangeran Qian, dia juga sering di kurung di sana!" tutur Li Junjie yang membuat Hu Liena menjadi geram dan mengutuk perbuatan Putri Song Qian dan para pejabat kerajaan Wuya yang tidak mempunyai moral.

__ADS_1


"Kurang ajar!" gumam Hu Liena.


Di salah satu kamar, saat ini Pangeran Qian Yingzhi sedang tertegun sambil menatap langit malam yang gelap tanpa bintang lewat jendela kamar yang sengaja di biarkan terbuka.


"Pangeran! Bolehkah, aku duduk di sini?" tanya Putri Jiang yang datang dengan membawa satu kendi teh lengkap dengan dua buah cangkir di tangannya.


"Silahkan, Putri!" balasnya sambil menundukkan pandangan.


Putri Li Jiang menuangkan secangkir teh, lalu dia sodorkan ke hadapan Pangeran Qian Yingzhi.


"Ini adalah teh bunga krisan, Kakak Ipar yang memberikannya padaku. Dia bilang, jika teh bunga krisan ini bisa membuat pikiran kita menjadi lebih tenang."


Pangeran Qian Yingzhi mengulurkan tangan untuk meraih cangkir di atas meja, dan mengangkatnya.


"Terima kasih!" ucapnya lirih.


"Minumlah! Teh akan sangat nikmat, jika di minum dalam keadaan masih hangat." tutur Putri Jiang sambil tersenyum lembut.


Qian Yingzhi menempelkan ujung cangkir di bibirnya, seketika wangi bunga krisan menyeruak memasuki indera penciumannya.


"Bagaimana? Enak?" tanya Putri Jiang lembut.


Putri Jiang tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.


"Syukurlah jika kau menyukainya." ucapnya sambil menuangkan kembali teh ke cangkir miliknya.


Pangeran Qian Yingzhi kembali menatap ke arah jendela, target pandangannya masih sama, namun dengan suasana yang berbeda.


Kesepian yang dia rasakan di dalam hatinya seketika lenyap, setelah kedatangan Putri Jiang yang menemaninya menikmati malam saat ini.


Di balik pintu, Li Jing Sheng dan Putri Jia Li tersenyum haru melihat ke arah Pangeran Qian dan juga Putri Jiang.


"Putri, Kakakmu ternyata sangat menderita. Mungkin jika itu aku, pasti tidak akan bisa setegar Pangeran Qian." tutur Li Jing Sheng sambil menarik nafas berat.


"Aku juga baru mengetahuinya hari ini ...," balas Putri Jia Li murung.


"Sudahlah, jangan bersedih." hibur Li Jing Sheng sambil mengelus puncak kepala Putri Jia Li.


Wuusshhh!


Pipi Putri Jia Li memerah seketika, untungnya Li Jing Sheng tidak menyadari perubahan pada wajahnya.

__ADS_1


"Aku sudah mengantuk!" ucap Putri Jia Li sambil membalikkan badan dan langsung memasuki kamarnya di sebelah.


"Eh, kenapa secepat itu? Tadi dia bilang, tidak bisa tidur karena memikirkan Kakaknya! Sekarang? Ah, kata-kata gadis memang susah di percaya!" ucap Li Jing Sheng sambil menggaruk kepala yang tak gatal.


Di dalam kamar, Putri Jia Li meraba-raba kedua pipinya yang memanas.


Aduh! Kenapa jadi seperti ini? untung saja Pangeran Jing tidak menyadarinya! batin Putri Jia Li.


BRAKK!


Tiba-tiba, kamar Putri Jia Li di buka dengan kasar oleh seorang pria yang tak di kenal.


"Sayang, ayo layani aku!" ucap si pria yang sepertinya sedang mabuk tersebut.


"Siapa kau?! Cepat keluar dari kamarku!" bentak Putri Jia Li sambil berdiri dengan ketakutan.


"Ha-ha-ha! Aku suka, aku sangat suka wanita pemberontak." ucap pria tersebut sambil mendekat ke arah Putri Jia Li yang sudah tersudut.


"Pergi kau! Jangan mendekat!" Putri Jia Li berteriak dengan keras saat si pria kembali mendekat ke arahnya.


Bugghhh!


Li Jing Sheng datang, dan langsung memukul si pria yang berusaha meraih tubuh Putri Jia Li.


Untung saja dia segera datang setelah mendengar teriakan Putri Jia Li. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padanya.


"Bajingan! Berani-beraninya kau memasuki kamar ini. Hah!" ucap Li Jing Sheng geram.


Wajah si pria mabuk tersebut terus Li Jing Sheng pukul berkali-kali hingga babak belur dan hampir tidak di kenali lagi.


Beberapa pelayan hotel lalu datang, dan mengamankan pria mabuk tersebut.


Hu Liena dan Li Junjie datang, lalu meminta si pemilik hotel untuk tidak ceroboh lagi dalam memberikan urutan kamar kepada pelanggan.


Li Junjie tidak ingin memperpanjang masalah, karena penjaga hotel menerangkan jika si pria hanya salah masuk kamar saja, bukan sengaja ingin memasuki kamar orang lain. Apalagi, kamar orang lain tersebut adalah kamar wanita yang bersuami, seperti Putri Jia Li yang sedang menyamar menjadi Istri Li Jing Sheng.


Oleh karena itulah, Li Junjie segera membereskan masalah tersebut dan meminta agar tidak terjadi lagi hal yang berulang di kemudian hari.


Dan lagi, Li Junjie tidak ingin memancing keributan lebih lama. Jika itu terjadi, para prajurit kerajaan Wuya akan datang dan memperkeruh masalahnya.


Bisa-bisa penyamaran mereka semua akan terbongkar, dan rencana untuk membawa kembali Yueqin dan Putrinya akan gagal total.

__ADS_1


__ADS_2