
Setelah Tabib Hong pulang, Hu Liena mulai beristirahat dengan tenang.
Pikirannya tentang penyakit jantung, sudah dia hilangkan sejak tadi.
Kini dia harus cukup beristirahat, agar besok kondisi tubuhnya semakin baik, agar tidak ada kendala saat mengeluarkan racun di tubuh Li Junjie.
Keesokan harinya...
"Putri, apa yang akan anda lakukan pagi ini?" Ucap Luqiu saat membereskan peralatan makan bekas sarapan Hu Liena.
"Tidak ada! Aku hanya ingin beristirahat saja!" Hu Liena menjawab sembari menyesap teh Oolong kesukaannya.
Bao-Yu yang baru memasuki kamar, langsung menawarkan bantuan untuk memijit Hu Liena.
Hu Liena tidak menolak, dia malah dengan senang hati membiarkan Bao-Yu memijit bahunya.
"Apa Putri merasa baikan sekarang?" Tanya Bao-Yu yang sudah selesai memijit Hu Liena.
"Sudah, terima kasih!" Jawab Hu Liena sambil menggerak-gerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan.
Terdengar bunyi kretak-kretek ketika Hu Liena menggerakkan lehernya tersebut.
"Nyaman sekali!" Ucap Hu Liena.
Bao-Yu merasa senang karena sang majikan merasa puas dengan pijitannya.
Lain kali, dia akan melakukannya lagi agar Hu Liena semakin senang padanya.
"Kalian, pergilah beristirahat juga. Beberapa hari terakhir ini, kalian sudah banyak membantuku. Mungpung masih banyak waktu, cepat pergilah!"
Setelah kepergian Luqiu dan Bao-Yu, Hu Liena menyentuh liontin kalung dimensi rahasia.
Woosshhh....
Dalam sekejap mata, Hu Liena sudah berpindah ke dimensi rahasia.
"Aku harus meracik pil, untuk menetralkan racun di tubuh Li Junjie." Hu Liena bergumam sendiri di dalam sana.
Setelah menemukan bahan-bahan yang cocok untuk di buat bakal pil, Hu Liena lalu meracik bahan-bahan tersebut.
Tangannya bergerak-gerak indah seperti sedang menari. Keterampilan Hu Liena membuat pil sudah sangat mahir, karena terus di lakukannya setiap hari di kehidupan terdahulunya.
"Sudah selesai!" Ucap Hu Liena merasa puas dengan hasil kerjanya.
Di dalam dimensi rahasia, peralatan untuk Hu Liena meracik obat sangatlah lengkap.
Ma Boqin menyediakan segala keperluan Hu Liena dengan lengkap. Dari tanaman, hingga alat-alat yang di butuhkan, sudah tersedia semua.
Hu Liena hanya tinggal menggunakannya saja.
Ketika Hu Liena tengah asik memperhatikan pil yang dia buat, sudut matanya menangkap sesuatu yang berkilau di balik rak obat di depannya.
"Apa itu?" Ucap Hu Liena penasaran.
Dia 'pun lalu berjalan menghampiri benda yang berkilau tersebut.
__ADS_1
""Eh, jarum emas!" Hu Liena merasa terkejut dengan barang yang di temuinya di atas meja.
Tak seperti satu set jarum perak miliknya. Jarum emas ini lebih efektif untuk menetralkan racun.
Bukan berarti jarum perak tidak berguna, tapi karena racun di tubuh Li Junjie sudah mengendap lama, jadi perlu jarum seperti ini untuk mengeluarkannya.
"Ayah memang terbaik!" Gumam Hu Liena memuji sang Ayah yang telah menyiapkan segala keperluannya dengan baik.
Setelah membungkus jarum emas, Hu Liena berencana untuk kembali ke tempatnya semula.
Namun dia urungkan niatnya itu, ketika melihat sebuah ruangan kosong di sebelah kanan meja tempatnya berada.
"Tempat apalagi ini? Kenapa aku baru melihatnya?" Hu Liena berjalan memasuki tempat kosong tersebut.
Di ruangan itu, terdapat sebuah ranjang tempat tidur pasien. Lengkap dengan semua peralatan yang mirip dengan kamar rumah sakit di dunia modern.
"Ayah! Kejutan apalagi yang akan kau berikan padaku?" Ucap Hu Liena sambil berdecak kagum dengan isi di dalam ruangan tersebut.
"Jika ruangan ini di khususkan untuk merawat pasien, apakah aku bisa membawa Li Junjie kemari? Sepertinya, itu bukan ide yang buruk. Li Junjie sudah tahu rahasiaku, jadi aku bisa membawanya kapan saja jika aku mau. Tapi, apa bisa?" Hu Liena sedikit ragu dengan keyakinannya.
Dia memang bisa masuk dan keluar dari dimensi rahasia dengan mudah. Tapi membawa Li Junjie? Apakah dia bisa? pikir Hu Liena.
Tidak! ragu bukanlah sikapku! aku akan mencoba, sekuat yang aku bisa, batin Hu Liena.
Setelah memutuskan akan hal itu, Hu Liena 'pun keluar dari dalam dimensi rahasia.
Karena merasa bosan hanya duduk saja di kamar, Hu Liena berniat mencari Luqiu dan Bao-Yu untuk mengajaknya berjalan-jalan di pasar.
"Putri!" Panggil Luqiu dan Bao-Yu secara bersamaan.
"Ayo kita keluar!" Ajak Hu Liena santai.
Tadi pagi setelah sarapan, majikannya ini bilang ingin beristirahat di dalam kamarnya. Dan sekarang, dia bilang ingin pergi keluar.
"Sudah ikut saja!" Ucap Hu Liena sembari memutar langkahnya ke arah gerbang kediaman.
"Tunggu kami, Putri!" Teriak Luqiu dan Bao-Yu langsung mengejar.
Di dalam kereta...
"Sebenarnya, kita mau kemana?" Bisik Bao-Yu heran.
"Diam saja!" Balas Luqiu dengan berbisik.
Hu Liena mendengar percakapan keduanya, namun dia pura-pura acuh karena merasa tak perlu untuk berbicara.
Sesampainya di pasar, Hu Liena meminta kusir untuk menghentikan kereta.
"Ayo turun!" Ajak Hu Liena kepada kedua pengikutnya.
Baru saja sebentar berjalan-jalan di pasar. Hu Liena sudah mendengar keributan dari arah depan.
"Cepat pergi kalian!"
"Tuan! Tolonglah Ibuku! Aku mohon!"
__ADS_1
Hu Liena memperhatikan kedua orang yang sedang membuat keributan tersebut.
Luqiu berinisiatif mencari tahu penyebab keributan itu terjadi kepada orang-orang yang sedang menonton.
"Ada apa?" Tanya Luqiu kepada seorang Nyonya.
"Gadis ini ingin membeli obat, tapi tidak punya uang. Jadi si penjaga toko, mengusirnya." Jawab si Nyonya tersebut.
Luqiu 'pun pergi dan melaporkan masalah ini kepada Hu Liena.
"Di mana Ibumu?" Tanya Hu Liena kepada gadis yang sedang memohon tersebut.
"Heh, siapa kau Nona? Sebaiknya cepat pergi! Gadis ini hanya akan menyusahkanmu saja." Ucap si penjaga toko berusaha mengingatkan Hu Liena.
"Tidak apa-apa! Aku harus menolong orang yang sedang membutuhkan." Balas Hu Liena kepada si penjaga toko.
penjaga toko mencibir kepada Hu Liena. "Jangan konyol, Nona! Sekali di tolong, gadis ini akan terus datang."
Hu Liena tidak menggubris si penjaga toko. Dia justru berjalan menghampiri gadis yang kini sedang berlutut di depan toko obat.
"Di mana Ibumu?" Tanya Hu Liena.
Gadis itu menoleh, lalu menunjuk ke sebuah gang kecil. "Di sana! Ibuku berada di sana, Nona!"
"Antarkan aku kesana!" Ucap Hu Liena yang di balas anggukkan kepala okeh si gadis.
Setelah Hu Liena pergi bersama si gadis, muncul sosok hitam di hadapan penjaga toko.
"Kau! Jangan kau ulangi, sikap kurang ajarmu itu kepada Putri Xia! Jika lain kali kau melakukannya lagi, bersiaplah untuk kehilangan kepalamu!"
Usai mengatakannya, sosok hitam itupun langsung menghilang lagi dari pandangan.
Si penjaga toko menggigil ketakutan dengan ancaman sosok orang berbaju hitam.
Dia berjanji, jika bertemu dengan wanita tadi, dia tidak akan berbuat kurang ajar, bahkan tidak akan mendekatinya lagi
"Silahkan masuk, Nona!" Si gadis mempersilahkan masuk setelah mereka tiba di gubuk kecil miliknya.
Tanpa ragu, Hu Liena memasuki gubuk kecil tersebut. Di dalam sana, keadaannya lebih memprihatinkan daripada keadaan di luar gubuk.
Uhhu... uhhu...
Terdengar suara batuk seseorang dari dalam.
"Itu Ibu saya, Nona! Ibu saya sering sakit-sakitan, di tambah lagi kakinya bengkak sekarang, jadi saya sering kerepotan mengurusnya. Apalagi masalah obat, saya sudah tidak mampu membelinya. Itulah kenapa saya sering datang ke toko obat tadi untuk memohon obat, yang akan di berikan kepada Ibu saya." Jelas si gadis dengan tampak sedih.
Hu Liena tidak bersuara. Dia hanya berjalan mendekati asal suara batuk tadi.
Di atas kasur lapuk, terbaring seorang Ibu yang kelihatan lemah. Meskipun begitu, kecantikan wajahnya sewaktu muda masih terpancar jelas.
Hu Liena menyusuri tubuh si Ibu dengan matanya yang tajam. Dia ingin memastikan kondisi si Ibu tanpa menyentuhnya terlebih dahulu.
"Apa yang dia makan setiap harinya?" Tanya Hu Liena kepada si gadis dengan serius.
"Kami hanya makan sayuran, dan juga kentang rebus." Jawab si gadis itu jujur.
__ADS_1
"Bagaimana dengan olahan kacang, apa kalian makan itu juga?" Tanya Hu Liena lagi.
"Iya, Nona. Biasanya kami makan itu, untuk mengganti makan malam." Jawab si gadis dengan sedih.