
Hu Liena mengangguk, ia tak ingin menutupi niatnya untuk berlindung kepada Li Junjie. Dia tidak bisa begitu saja memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri, itu terlalu naif, pikirnya.
"Benar, aku membutuhkan bantuanmu." Hu Liena berkata penuh keyakinan, tak terlihat sedikitpun keraguan di matanya. Ini menjadikan Li Junjie semakin tertarik dengan kepribadian Hu Liena yang sekarang, tidak seperti dulu yang selalu bersikap ceroboh dan sedikit membosankan.
Ya, dulu Li Junjie sempat menolak perjodohan mereka, karena sifat Hu Liena yang terlalu kekanak-kanakkan. Bahkan ketika di tindas oleh Ibu dan Saudara tirinya saja, Hu Liena hanya pasrah menerima hukuman. Itulah, yang membuat Li Junjie tidak menyukainya dulu.
Tapi sekarang, setelah bertemu dengan Hu Liena lagi di kunjungannya ke kediaman Perdana Menteri. Li Junjie langsung jatuh hati, dan berniat mempertahankan perjodohannya dengan Hu Liena.
"Bantuan seperti apa yang kau butuhkan?" Tanya Li Junjie penasaran.
"Aku akan berterus terang, tapi kau harus janji untuk tidak memberitahukan masalah ini pada orang lain!" Kata Hu Liena tegas.
"Kau bisa mempercayakan hal itu padaku!" Balas Li Junjie tak kalah tegas.
Hu Liena mengangguk lalu mulai berkata-kata. "Aku adalah Tabib ramalan, yang kau cari-cari selama ini."
Hu Liena berhenti sejenak untuk melihat ekspresi Li Junjie, setelah itu dia melanjutkan kembali perkataannya. "Oleh karena itu, aku bersedia membantumu. Tapi karena statusku itulah, nyawaku dan nyawa orang-orang terdekatku akan berada dalam bahaya besar. Kau pasti bisa menebak, apa yang akan terjadi jika statusku sebagai Tabib dalam ramalan di ketahui oleh banyak orang."
Li Junjie sebenarnya terkejut dengan pengakuan Hu Liena, dan untuk menutupi keterkejutannya itu, ia berpura-pura mengalihkan perhatiannya kepada cangkir teh yang berada di depannya. Ia memutar-mutar cangkir teh itu dan lanjut mendengarkan ucapan dari Hu Liena.
Hu Liena yang merasa curiga dengan sikap Li Junjie, langsung mengajukan pertanyaan padanya.
"Apa kau mendengarkan ceritaku?" Tanya Hu Liena yang di balas senyuman oleh Li Junjie.
"Tentu saja aku mendengarkan ceritamu, tapi untuk mengabulkan permintaanmu itu, aku mempunyai satu syarat." Ucap Li Junjie yang sontak membuat Hu Liena menjadi penasaran dengan ucapannya.
"Syarat apa yang kau ajukan?" Tanya Hu Liena.
Li Junjie menyeringai, dan mengucapkan persyaratannya. "Menikahlah tujuh hari lagi denganku, agar kita bisa tinggal bersama dan aku bisa menjagamu selamanya."
"Tidak! jangan secepat itu, aku tidak bisa menerimanya." Tolak Hu Liena tegas.
"Kalau begitu, kita lupakan saja perbincangan ini." Balas Li Junjie dengan cepat.
Hu Liena berpikir sejenak lalu mengangguk pasrah, "Baik, aku akan melakukan seperti yang kau inginkan. Kita akan secepatnya menikah, dan aku akan tinggal bersamamu di sini, selamanya."
"Satu minggu lagi!" Li Junjie mengoreksi ucapan Hu Liena.
__ADS_1
"Iya, itu maksudku. Kita akan menikah satu minggu lagi dari sekarang." Ucap Hu Liena pasrah.
"Bagus, setidaknya kau cukup pintar untuk memanfaatkan kesempatan ini." Sahut Li Junjie dengan seringai jahatnya.
Hu Liena bergidik melihat senyuman di bibir Li Junjie.
Pangeran mesum ini, bisa-bisanya mengajukan persyaratan seperti itu. Tapi jika aku bersikeras menolak, orang-orang yang aku sayangi akan mati di tangan orang-orang jahat yang akan mengincar keberadaanku. Ayah, Luqiu dan juga Tabib Hong. Aku tidak bisa membiarkan mereka mati, dan kehilangan nyawanya sendiri demi membelaku, batin Hu Liena.
Li Junjie kembali berjalan mendekati Hu Liena begitu melihat gadis itu tertegun begitu saja.
Hu Liena tanpa sadar melompat, setelah tahu jika Li Junjie berada sangat dekat dengannya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Bentak Hu Liena kepada Li Junjie.
Li Junjie tertegun, ia tidak menyangka jika Hu Liena akan bereaksi sekasar itu padanya.
"Jangan khawatir, aku ini seorang Pangeran. Tidak mungkin melakukan hal yang menjijikkan kepadamu, apalagi, kita berdua belum resmi menikah. Ya, meskipun aku bisa sedikit memaksa. Tapi aku tidak akan melakukannya hari ini, denganmu." Ujar Li Junjie tenang sambil menunjukkan sesuatu kepada Hu Liena.
"Dasar mesum!" Hardik Hu Liena.
"Aku tidak mesum, aku hanya melakukannya dengan orang yang-ku sukai." Ujar Li Junjie seraya mengumbar senyumnya kepada Hu Liena.
"Menjauhlah dariku!" Ujarnya seraya mendorong paksa tubuh Li Junjie.
Butuh tenaga ekstra untuk Hu Liena melakukannya, selain Li Junjie sangat kuat. Ia juga memiliki postur tubuh yang tinggi kekar, sehingga Hu Liena kesusahan ketika mendorongnya.
"Ada apa dengan dirimu itu, Nona?" Tanya Li Junjie yang heran ketika melihat reaksi Hu Liena yang berlebihan seperti itu.
"Memangnya kenapa?" Tanya Hu Liena sambil memelototkan matanya kepada Li Junjie.
Li Junjie menggeleng, yang dia tahu semua gadis tergila-gila padanya. Tapi Hu Liena, mati-matian menolak berdekatan dengan dirinya.
"Apa anda lupa, Nona. Dulu anda yang memaksa kepada Permaisuri untuk berjodoh denganku, tapi kenapa sekarang anda seperti membenciku?"
Ekspresi Hu Liena berubah canggung, sikapnya memang terlalu berlebihan saat ini.
Benar juga apa yang dia katakan, tak ada alasan bagiku untuk bersikap terlalu arogan padanya. Semua ini gara-gara si Yu Zhen brengsek itu, karena dialah, aku menjadi waspada kepada setiap pria, batin Hu Liena.
__ADS_1
Hu Liena mengutuk perbuatan tunangannya di kehidupan terdahulunya di dalam hati, karena sikapnya yang sekarang, itu imbas dari pengkhianatan yang di lakukan laki-laki jahat itu.
"Itu hanya perasaan anda saja, Pangeran!" Kilah Hu Liena seraya menggeleng perlahan.
"Sepertinya, tidak begitu." Ujar Li Junjie sembari mengerutkan kening.
Sikap Hu Liena memang terbilang kasar padanya, untung saja, Li Junjie tidak pernah memperhitungkannya. Mengingat Hu Liena adalah calon Istrinya, meskipun dulu dia menolak, tapi dia tetap berusaha menerima untuk menyenangkan Ibundanya, Permaisuri.
"Aku hanya ingin menjaga harga diriku saja, aku juga tidak ingin orang berpikiran buruk tentangku. Apa kata-kata orang, jika melihat kita terlalu dekat padahal belum menikah." Kata Hu Liena penuh kecanggungan.
Hu Liena juga tidak yakin, Li Junjie akan menerima alasannya ini.
"Ha-ha ... kau ini aneh." Tawa Li Junjie tak terbendung lagi setelah mendengar alasan Hu Liena.
"Aneh kenapa?" Hu Liena mengerutkan keningnya.
Li Junjie ini, bukannya membantah ucapanku, dia malah menertawaiku, batin Hu Liena.
"Memang kau ini aneh, Nona. Kau masih memedulikan perkataan orang karena kita terlalu berdekatan, tapi malah datang kesini diam-diam tengah malam. Ha-ha ... benar-benar gadis aneh!"
"Ish ... kau ini bodoh sekali!" Umpat Hu Liena.
Li Junjie memelototkan matanya, ia tak terima di sebut bodoh seperti itu oleh Hu Liena.
Hu Liena balas memelototkan matanya, "Apa! kau tidak terima aku sebut bodoh? Kau ini memang, bodoh! bodoh! bodoh!"
Li Junjie mengurungkan niatnya untuk bersuara, karena percuma saja, ia takkan pernah menang melawan Hu Liena.
"Kenapa kau memanggilku bodoh, Nona?" Tanya Li Junjie dengan geram, ia sudah tak tahan dengan kata-kata kasar dari mulut Hu Liena.
Hu Liena menyeringai, akhirnya dia memiliki kesempatan untuk membalas perkataan Li Junjie yang menyebutnya gadis aneh.
"Baik aku akan memberitahumu, kemarilah!" Ucap Hu Liena seraya menggunakan gerakan tangan untuk memanggil Li Junjie.
Li Junjie seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Hu Liena, karena Hu Liena yang menyuruhnya.
"Apa?" Tanya Li Junjie pelan.
__ADS_1
"BODOH!" Bisik Hu Liena.
Setelah itu, dia tertawa terpingkal-pingkal. Hu Liena merasa puas, karena telah mengerjai Li Junjie habis-habisan malam ini.