Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
160. Hukum cambuk papan.


__ADS_3

Hu Liena memutar badan dan berjalan meninggalkan tubuh Xiulin yang tergeletak tak berdaya di lantai, bersama dengan yang lainnya.


Cukup sudah hari ini mereka semua memberi pelajaran kepada Xiulin yang telah banyak berbuat kejahatan kepada Hu Liena yang asli dan juga Luqiu.


Bahkan kini Luqiu sendiri berjalan dengan perasaan lega, karena dendam dan kesakitan yang telah lama ia rasakan, akhirnya bisa terbalaskan.


Bukan hanya sekali saja, dia bahkan bisa berkali-kali memukuli Xiulin, orang yang sering memberinya hukuman cambuk hingga nyawanya hampir melayang di jemput oleh Dewa Yama.


Sesampainya di pertigaan jalan, Hu Liena akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan terpisah, karena hari sudah semakin larut dan mereka semua juga harus kembali ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan badan.


"Nona, terima kasih untuk hari ini." ucap Luqiu di sela-sela perjalanan mereka.


"Jangan begitu, seandainya tanganku tidak terluka, aku tidak akan meminjam jasamu untuk memukulinya." ucap Hu Liena yang membuat Luqiu sedikit terkejut.


"Jadi maksud Nona, saya menyiksa Nona Xiulin mewakili anda?" tanya Luqiu dengan mimik muka tak percaya.


Hu Liena memutar mata malas ketika Luqiu masih memanggil Xiulin dengan sebutan Nona.


"Berhenti memanggilnya seperti itu, tidak pantas!" dengus Hu Liena sebal.


Luqiu menutup mulutnya, bukan maksud dirinya untuk membuat sang majikan kesal.


Dia memanggil Xiulin dengan sebutan Nona, karena memang masih merasa derajat mereka berbeda.


Namun karena Hu Liena yang melarangnya, Luqiu tidak akan sungkan lagi, dan akan menghentikan menyematkan panggilan tersebut.


Keesokan harinya, semua orang berkumpul di lapangan untuk mendengarkan pengumuman dari Kaisar Li Jinhai.


Tak sedikit dari mereka yang merasa penasaran, dengan apa yang akan mereka dengar hari ini.


"Apa kau tahu, alasan Kaisar memanggil kita semua ke lapangan?" bisik salah seorang pejabat.


Yang di tanya mengangkat bahu, karena dia juga sama, mendapatkan undangan tanpa di beritahukan apapun oleh utusan dari Istana.


"Kita semua berdo'a saja, semoga Kaisar tidak mengumumkan hal yang akan merugikan kedudukan kita sebagai pejabat." bisik tamu lain yang hadir.


"Bukan itu yang aku khawatirkan!" timpal pejabat lain

__ADS_1


"Lalu apa yang kau keluhkan?" tanya temannya.


"Aku takut, ada hal yang lebih gawat dari sekedar kedudukan kita semua." jawab si orang yang tadi berkeluh kesah kepada orang di sekitarnya.


Semua orang tertegun, mereka hanya berpikir jika kehilangan kedudukan akan membuat mereka kehilangan kehormatan.


Tapi setelah mendengar ucapan dari teman mereka, kehilangan kedudukan ternyata hal yang paling ringan dari hukuman Kaisar. Itupun, jika mereka semua terbukti melakukan kesalahan.


Lalu, untuk apa Kaisar memanggil mereka semua hari ini? Itulah yang sedang mereka cari jawabannya.


"Kaisar dan Para Pangeran, telah tiba!" teriak salah seorang Kasim penjaga pintu.


Semua para pejabat dan juga warga yang hadir di sana, langsung berlutut memberi hormat kepada Kaisar dan Putra-Putranya.


"Berdirilah!" pinta Kaisar sambil melambaikan tangan kepada semua orang.


"Para Putri Istana, telah tiba!" kembali Kasim berteriak mengabarkan tentang kedatangan Hu Liena dan yang lainnya.


Selain dari Pangeran dan Putri kerajaan dinasti Ying, Pangeran Qian Yingzhi dan Putri Jia Li juga ikut hadir di acara tersebut.


Setelah Kaisar berada di antara mereka, para pejabat yang semula berbisik-bisik dengan orang di seluruh sebelah mereka, kini akhirnya memilih diam agar tak menarik perhatian dari Kaisar Li Jinhai.


Mending jika hanya hukuman ringan saja, jika berat, bagaimana? Mereka tak mau mengambil resiko besar tersebut.


"Aku sengaja memanggil kalian semua ke tempat ini, karena ingin mengumumkan peraturan baru yang harus kalian patuhi." ucap Kaisar Li Jinhai dengan keras dan juga lantang agar terdengar jelas oleh semua orang.


"Bagi kalian, para pejabat yang memiliki Selir dan juga Putri Murba. Aku ingin kalian menerapkan aturan keluarga, agar Putri Murba kalian tidak ada seorangpun yang berani mengusik keberadaan Putri sah dari keluarga tersebut."


Semua orang tercengang mendengar keputusan Kaisar yang secara tiba-tiba membuat peraturan baru di pemerintahan.


Tak sedikit dari mereka yang memiliki Putri Murba di dalam keluarga. Di kerajaan Ying, tidak ada larangan bagi kaum lelaki memiliki Istri lebih dari satu.


Di antara mereka semua, bahkan ada yang memiliki Istri lebih dari tiga di kediaman mereka.


Namun jika di tanya mengenai perdebatan Putri Murba dan Putri sah, mereka sendiri tidak tahu harus menjawab seperti apa. Karena itu bukanlah urusan mereka, yang sehari-hari berada di luar kediaman untuk bekerja mencari harta.


"Jika masih ada yang melakukannya, maka akan di berikan hukuman berat, bahkan hukuman mati bagi siapapun yang melanggar keputusanku." suara Kaisar terdengar lantang di telinga semua orang.

__ADS_1


"Sebagai contoh, aku akan menghukum Putri Murba dari keluarga Perdana Menteri karena telah berani mencelakai Putri Sah dari keluarganya, yang sebentar lagi akan menjadi menantuku."


Mendengar namanya di sebutkan, Perdana Menteri Hu Boqin lalu menundukkan kepala karena merasa malu dirinya telah gagal menjadi seorang pemimpin dalam sebuah keluarga.


"Kalian mungkin tahu, betapa kejamnya Putri Murba Perdana Menteri kepada calon Menantuku, bukan? Maka dari itulah, aku membuat peraturan yang tak boleh di langgar oleh siapapun."


Kembali terdengar suara Kaisar yang membahana di hadapan semua orang.


Selesai mengucapkannya, Kaisar lalu memberikan isyarat kepada prajurit untuk maju membawa seorang perempuan yang menggunakan pakaian dan cadar hitam yang lusuh.


"Lepaskan! Lepaskan aku!" teriak Xiulin saat para Prajurit membawanya ke tengah-tengah lapangan.


"Berikan Putri Murba Perdana Menteri Hu Boqin seratus kali cambukan papan." teriak Kaisar Li Jinhai


Xiulin meringis, belum sempat dia membuka mulut untuk menolak keputusan Kaisar tersebut. Tubuhnya sudah di dorong hingga dia jatuh berlutut di atas sebuah panggung yang telah di siapkan.


Cambukan papan adalah pukulan keras yang menggunakan papan oleh prajurit yang di tunjuk sebagai algojo.


Bukan seperti hukum cambuk yang biasanya, yang mengharuskan si terdakwa berlutut dengan punggung yang akan di cambuk menggunakan cameti dari kulit hewan.


Cambukan papan, mengharuskan si terdakwa di biarkan tengkurap di atas meja, dan punggungnya akan mulai di pukul menggunakan papan yang tidak terlalu keras dan juga besar.


Meskipun begitu, seratus kali cambukan papan bukanlah sebuah hukuman yang ringan.


Dengan sepuluh kali cambukan saja, seseorang yang mendapatkannya pasti akan merasakan kesakitan dan yakin akan pingsan setelah mendapatkan hukuman tersebut.


Apalagi saat ini, Xiulin di perintahkan untuk di cambuk sebanyak seratus kali. Bisa di bayangkan bukan, jika dia pasti tidak akan kuat untuk menanggung kesakitannya. Bahkan di duga, dia akan meninggal sebelum cambukan yang ke seratus selesai di laksanakan.


"Agghhh!"


"Agghhh!"


Semua orang masih terpaku dengan keputusan Kaisar yang akan memberikan hukum cambuk papan kepada Putri Murba Perdana Menteri.


Kini mereka kembali di kejutkan oleh suara teriakan yang berasal dari atas panggung, teriakan yang sangat memilukan yang keluar dari mulut Xiulin saat dirinya kini mulai menjalani hukuman.


Suara papan yang membentur punggung, membuat semua orang yang berada di sana menjadi bergidik ngeri ketika membayangkan jika mereka yang berada di posisinya Xiulin.

__ADS_1


Tak hanya satu algojo saja yang Kaisar Li Jinhai siapkan di atas panggung. Tampak ada empat algojo yang berderet di atas panggung bergiliran memukulkan papan ke punggung Xiulin yang telah di ikat di sebuah meja besar.


__ADS_2