
Putri Song Qian mundur beberapa langkah ke belakang ketika Kaisar Qian mendekat ke arahnya.
"Aku tidak menyangka kau akan melakukan tindakan kejam seperti itu kepada keponakanmu sendiri, Song Qian!" ucap Kaisar Qian penuh penekanan hingga membuat tubuh Putri Song bergetar.
"Kakak, aku bisa jelaskan ..."
"Jelaskan apalagi?!" bentak Kaisar Qian sambil terhuyung-huyung karena kesehatannya semakin memburuk.
Untung saja Qian Yingzhi segera menangkap tubuhnya Kaisar sebelum jatuh tersungkur di lantai.
"Terima kasih, Putraku!" ucap Kaisar Qian dengan airmata yang bercucuran.
Dia merasa menyesal karena telah meragukan identitas asli Putranya.
Apalagi, ketika Kaisar melihat dari dekat semua bekas luka yang berada di tubuh Qian Yingzhi. Hati Kaisar seperti terhiris sembilu, dan airmatanya sudah tak terhitung lagi berapa banyak yang keluar hingga membasahi jubah emerald yang dia kenakan.
"Song Qian! Aku bukan lagi Kakakmu! Mulai hari ini, kita tidak mempunyai hubungan darah apapun!" ucap Kaisar Qian dengan suara lemah.
Namun, meskipun begitu, Putri Song Qian menjadi histeris ketika mendengarnya.
"Kakak! Dengarkan aku dulu ... Aku tidak bermaksud melakukan semua itu padamu!"
"Diam kau! Aku sudah tidak peduli lagi padamu, mulai dari sekarang!" bentak Kaisar Qian dengan sisa-sisa tenaganya.
"Tidak Kakak, jangan, jangan lakukan itu padaku!" Putri Song Qian meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari ikatannya.
Kaisar Qian tidak lagi memedulikan teriakan Putri Song Qian yang telah mengecewakannya.
Dia meminta Qian Yingzhi untuk membawanya keluar dari tempat tersebut, dan meninggalkan Putri Song Qian yang kini semakin histeris memanggil-manggil namanya.
"Putraku, maaf Ayah yang tidak bisa mengenali dirimu sebelumnya." ucap Kaisar Qian dengan suara yang semakin melemah.
"Aku tidak apa-apa, Ayah. Aku bahkan tidak membencimu sama sekali." balas Qian Yingzhi dengan airmata yang mulai membasahi pipinya.
Hu Liena meminta Li Junjie untuk menenangkan Qian Yingzhi. Sementara dirinya, memberi isyarat kepada para pelayan untuk membantu mengangkat tubuh Kaisar Qian ke sebuah kamar yang tak jauh dari tempatnya sekarang.
__ADS_1
"Apa penyakitnya semakin parah? Apa dia masih bisa di selamatkan?" tanya Kaisar Li Jinhai panik.
Li Junjie mendekati sang Ayah dan memintanya untuk tenang.
Hu Liena ingin segera memberikan tindakan pencegahan agar Kaisar Qian bisa segera terselamatkan.
Dari diagnosisnya, Kaisar Qian sepertinya mengalami kegagalan jantung. Jika di biarkan terlalu lama, mungkin malaikat maut akan segera datang untuk menjemputnya.
"Aku mohon, kalian semua keluar dari ruangan ini, Kecuali Tabib Hong!" ucap Hu Liena tegas.
Kaisar Li Jinhai dan Qian Yingzhi ingin menolak, namun Li Junjie segera menjelaskan situasinya kepada mereka berdua. Dan akhirnya, mereka 'pun setuju untuk meninggalkan kamar membiarkan Hu Liena dan Tabib Hong menyelamatkan Kaisar Qian.
"Apa yang bisa 'ku bantu untukmu, Putri?" tanya Tabib Hong tanggap.
"Bantu aku untuk berjaga-jaga di pintu!" balas Hu Liena dengan datar.
Tabib Hong tidak menolak, dia tahu situasinya sangat kritis sekarang. Dia berdiri tegak di depan pintu, dengan mata tetap fokus memperhatikan Hu Liena yang sudah mengeluarkan beberapa toples kecil, dan juga sebuah benda yang dia tidak tahu namanya itu apa.
"Kaisar Qian mengalami gagal jantung, jadi aku memberinya suntikan dopamin agar keadaannya kembali normal." ucap Hu Liena setelah selesai memberikan injeksi pertamanya kepada Kaisar Qian.
"Apa dia sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Tabib Hong dengan antusias.
"Kita tunggu d sampai lima menit, jika belum sadar, aku akan memberikannya suntikan lagi." jawab Hu Liena dengan raut muka tenang.
Beberapa menit kemudian, Kaisar Qian sudah terlihat menggerak-gerakkan kedua bola matanya.
"Kaisar Qian siuman, Putri!" Tabib Hong setengah berteriak ketika melihat kejadian ini.
Hu Liena berjalan ke arah pintu, dan meminta semua orang untuk memasuki kamar.
"Apa Long Qian baik-baik saja?" tanya Kaisar Li Jinhai penuh kekhawatiran.
"Putraku ...,"
Suara Kaisar Qian terdengar pelan memanggil Qian Yingzhi untuk mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Meskipun begitu, rona wajah Kaisar Qian tampak lebih segar sekarang. Tidak seperti sebelumnya yang nampak pucat, dan seperti kehilangan banyak tenaga.
Qian Yingzhi mendekat, lalu duduk di samping tempat tidur di sisi Ayahnya yang sangat dia rindukan selama ini.
"Maafkan Ayah, Putraku!" kembali, suara Kaisar Qian terdengar dengan penuh kesedihan.
"Tanpa di minta 'pun, aku sudah memaafkan anda, Ayah." balas Qian Yingzhi sambil menggenggam telapak tangan Ayahnya.
Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan. Bahkan, Kaisar Li Jinhai yang di kenal memiliki jiwa tegar, kini tak kuasa menahan airmatanya.
Hu Liena memberi instruksi kepada Tabib Hong, untuk maju dan menerangkan situasi tentang kesehatan Kaisar Qian.
Sebelumnya, Hu Liena telah mendiskusikan hal ini terlebih dahulu ketika semua orang masih berada di liar. Jadi, Tabib Hong langsung mengerti dan langsung membuka suaranya.
"Maaf, Yang Mulia! Jika boleh saya sarankan, sebaiknya, Kaisar Qian tetap berada di sini untuk sementara waktu."
Wajah Kaisar Qian terlihat tegang begitu mendengar usulan dari Tabib Hong untuk dirinya.
"Aku tidak bisa, meninggalkan kerajaanku terlalu lama." tolak Kaisar Qian dengan wajah enggan.
Kaisar Li Jinhai menoleh ke arah Tabib Hong yang masih menundukkan kepalanya patuh.
"Apa masih ada yang perlu di khawatirkan lagi dengan kondisi Kaisar Long Qian, Tabib?" tanya Kaisar Li Jinhai penasaran.
Tidak mungkin 'kan, Tabib Hong hanya asal-asalan mengatakan hal barusan. Pasti ada sebuah alasan yang menyebabkannya mengambil keputusan seperti itu, pikir Kaisar Li Jinhai.
"Benar sekali, Yang Mulia Kaisar. Kondisi Yang Mulia Kaisar Qian masih lemah, tidak baik jika beliau melakukan perjalanan panjang untuk saat ini." jelas Tabib Hong dengan gamblang.
Kaisar Li Jinhai mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu melirik ke arah Kaisar Qian yang masih berbaring di tempat tidurnya.
"Sebaiknya, kau mendengarkan apa kata Tabib Hong, Long Qian. Dengan begitu, aku jadi memiliki banyak waktu untuk bisa menantangmu bermain catur. Bagaimana?" bujuk Kaisar Li Jinhai yang akhirnya di sambut baik oleh Kaisar Long Qian.
Bukan hanya Kaisar Li Jinhai saja yang ingin bermain catur, dia juga. Lagipula, Kaisar Long Qian masih punya hutang kalah bermain catur dari Li Jinhai. Siapa tahu, kali ini Kaisar Qian bisa menang, dan membalas kekalahannya waktu muda.
"Aku setuju! Aku juga tidak sabar ingin mengalahkanmu, Li Jinhai!" ucap Kaisar Long Qian yang mengundang gelak tawa Kaisar Li Jinhai.
__ADS_1
"Baik, baik! Aku akan menunggumu melakukan hal itu, Long Qian."
Dua sahabat yang berkuasa di dua kerajaan yang berbeda 'pun, kembali akrab setelah puluhan tahun bermusuhan dengan alasan yang tak masuk di akal.