
Hu Liena mengangkat bahu, lalu berbicara kepada Luqiu. "Terserah kau saja! Yang jelas, jangan panggil aku Putri di sini." Tegas Hu Liena.
"Baik, hamba akan melakukannya sesuai keinginan anda, Nona." Luqiu akhirnya mengalah dengan kemauan Hu Liena.
"Baguslah! setidaknya, itu memang pantas untukmu." Ujar Hu Liena seraya mengedipkan sebelah matanya kepada Luqiu.
Sedangkan Luqiu, hanya garuk-garuk kepala karena merasa malu dengan pujian Hu Liena.
"Oh, iya Luqiu ... terima kasih untuk hari ini, kalau bukan karenamu, aku mungkin akan terlihat kaku ketika bertemu dengan orang kesayangan Kaisar tadi." Ucap Hu Liena sembari menangkupkan tangan.
Jika bukan karena jasa Luqiu yang memberitahunya tentang siapa Kasim Hai itu, mungkin Hu Liena akan terkena hukuman karena berlaku tidak sopan hari ini.
Tidak banyak orang yang Hu Liena tahu di kehidupan barunya saat ini, jika Luqiu tidak ada di sampingnya untuk mengurus segala hal. Mungkin dia akan cepat merasa kewalahan.
"Nona! jangan seperti itu, hamba tidak pantas untuk menerimanya." Tolak Luqiu yang melihat Hu Liena memberi hormat padanya.
Luqiu merasa, apa yang di lakukannya adalah bentuk pelayanan diri kepada sang Majikan. Dan tidak ada maksud yang lain, selain hanya melaksanakan tanggung jawabnya.
"Bagiku, antara tanggung jawab dan jasa itu berbeda. Kalau bicara tentang tanggung jawab, setiap harinya kau selalu membantuku. Membawa makanan, membantuku membersihkan diri, dan mengikutiku kemana-mana. Tetapi hari ini, kau sangat berjasa, seandainya aku bersikap ceroboh ketika bertemu dengan Kasim Hai. Mungkin aku tidak akan mendapatkan kehormatan seperti ini, dan kau juga tidak akan berbangga diri karena telah melayani Putri Agung seperti diriku." Kata Hu Liena panjang lebar kepada Luqiu.
Bagi Hu Liena, Luqiu bukan hanya sekedar pelayan. Namun layaknya seorang teman, dia bisa berbagi cerita dan kesusahan dengannya.
Apalagi ketika pertama kali dia datang ke kehidupan barunya ini, Luqiu adalah orang yang tak pernah pamrih membantunya. Bahkan dia juga rela mengorbankan waktu dan jiwa raganya hanya untuk Hu Liena.
Luqiu merasa tersentuh, ketika dirinya mendengar semua perkataan Hu Liena.
Luqiu tidak pernah menyangka, jika dia akan di hargai seperti itu oleh majikannya itu. Padahal, jika orang lain yang berada di posisi Hu Liena sekarang. Mungkin mereka akan bersikap sombong, bahkan kepada pelayan yang sering berada di sisinya sekalipun.
"Nona ...," Panggil Luqiu dengan mata berkaca-kaca, ia merasa terharu sekaligus bangga dengan sang majikan.
"Ah sudahlah! tidak usah memasang wajah sedih seperti itu, harusnya kau merasa senang karena sebentar lagi aku akan memasuki Istana." Balas Hu Liena dengan sedikit tidak senang.
"Aku sedih karena merasa terharu, Nona." Ujar Luqiu.
Ketika Hu Liena mendengar ucapan Luqiu ini, ia langsung tertawa tergelak.
"Jadi, perasaanmu ini sebenarnya bagaimana? Sedih apa terharu? Atau jangan-jangan, kamu sedih karena merasa tidak senang jika aku akan pergi ke Istana?" Goda Hu Liena yang sontak membuat Luqiu panik.
"Tidak, Nona! hamba tidak berani berpikir seperti itu!" Bantah Luqiu yang ketakutan.
Luqiu takut jika Hu Liena berpikiran macam-macam tentang dirinya, oleh karena itu, dia kini langsung berlutut di hadapan Hu Liena.
"Bangunlah, Luqiu! aku hanya bercanda tadi, jangan terlalu di ambil hati, ok!" Kata Hu Liena.
__ADS_1
Sedangkan Luqiu, kini menghela nafas lega sekaligus bersyukur, karena Hu Liena hanya berniat menggodanya saja.
"Terima kasih, Nona. aku tahu, kamu tidak akan serius mengatakannya padaku." Ujar Luqiu yang kini terlihat lebih cerah.
Tepat pada saat itu, pintu kamar Hu Liena di tendang dari luar.
BRAAKKK...
Xiulin muncul dengan beberapa pria berbadan kekar.
"******! Beraninya kau bersenang-senang di atas penderitaanku!" Teriak Xiulin sembari menunjuk wajah Hu Liena.
"Nona pertama! apa yang akan anda lakukan kepada Putri Xia?" Luqiu terlihat panik dan langsung menghadang di hadapan Xiulin. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Hu Liena, apalagi ketika melihat tampang para pria kekar di belakang Xiulin. Membuat hati Luqiu, semakin ketar-ketir.
Xiulin mendengus ke arah Hu Liena, lalu meludah ke lantai.
"Cuiihh ... Putri Xia apanya? ****** ini tidak cocok untuk menjadi seorang Putri, apalagi bermimpi untuk menikah dengan Pangeran Jun. Mimpi!"
Bukannya merasa takut, Hu Liena malah tertawa keras melihat sikap Xiulin.
"Ha-ha ... kakak! aku kira, kamu itu perempuan paling pintar di Negara Ying ini. Ternyata aku salah, kau nyatanya hanya perempuan paling bodoh, yang pernah aku temui seumur hidupku."
Xiulin berkacak pinggang karena merasa geram dengan ucapan Hu Liena.
"Brengsek! aku akan memberikanmu pelajaran saat ini juga, agar kau tahu, siapa yang paling bodoh di antara kita berdua." Selesai berbicara, Xiulin langsung memerintahkan para pria kekar untuk menyerang Hu Liena.
Para pria itu bergerak cepat, dan langsung menyerang Hu Liena secara bersama-sama. Semakin cepat semakin baik, pikir mereka.
Namun, ketika tinggal beberapa langkah lagi pukulan mereka akan mengenai Hu Liena, tiba-tiba para pria kekar itu berteriak kesakitan.
Aagghhh...
Aagghhh...
Teriakan para pria kekar itu semakin keras, ketika Hu Liena kembali mengibaskan lengan bajunya.
Syuuttt...
Cleb~
Cleb~
Cleb~
__ADS_1
Hanya Hu Liena dan para pria kekar itu yang tahu, apa yang terjadi sebenarnya dengan mereka.
Sementara Xiulin, dia terlihat kebingungan melihat anak buahnya jatuh satu-persatu ke lantai, dan kini malah sedang mengerang kesakitan.
"Apa? apa yang kalian lakukan di sana? cepat bangun! cepat bunuh wanita ****** itu untukku!" Xiulin berteriak-teriak memaki anak buahnya dengan sangat keras.
Bukan hanya Xiulin, Luqiu juga kini sedang tercengang, dia takut sekaligus panik ketika Xiulin dan para pria kekar itu datang menyerang.
Tetapi kini, kepanikannya berganti dengan kebingungan. Sudah jelas-jelas dia melihat jika para pria itu akan menyerang majikannya, namun kenapa sekarang justru mereka yang kesakitan.
Hu Liena menyeringai jahat, ia lalu berbicara dan menatap Xiulin dengan tatapan mengejek.
"Ckk ... sungguh menyedihkan! anak buah dan majikan, sama-sama bodohnya."
Xiulin menggeram, ia tak terima jika dirinya akan di hina sedemikian rupa oleh orang yang sangat di bencinya selama ini.
"Diam kau ******!" Bentak Xiulin sembari menunjuk ke arah wajah Hu Liena.
Di paviliun timur...
Seorang pelayan kini sedang berlari ke menerobos kamar Yueqin.
"Nyonya! Gawat! Nyonya!" Teriak pelayan tersebut dengan sangat paniknya.
Yueqin yang sedang menikmati waktu istirahatnya, jadi merasa terganggu oleh teriakan pelayan tersebut.
"Lancang! berani-beraninya kamu pelayan rendahan memasuki kamarku tanpa meminta ijin terlebih dahulu." Bentak Yueqin.
Dari ucapan Yueqin, sudah sangat jelas jika sifat Xiulin yang suka berbicara jahat itu menurun darinya. 'Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya' peribahasa itu kini yang terjadi dengan Yueqin dan Putrinya, Xiulin.
Pelayan itu langsung berlutut, dan langsung membenturkan kepalanya ke lantai.
"Maafkan hamba Nyonya! hamba terpaksa melakukannya!" Ucap pelayan tersebut sembari membentur-benturkan kepalanya dengan keras.
Yueqin jadi merasa penasaran dengan ucapan pelayan tersebut, lalu dia-pun menyuruhnya berbicara. "Cepat katakan! ada apa?"
"Nona Xiulin, Nyonya! Dia, dia, dia ...," Pelayan itu tergagap karena kepanikannya serta rasa sakit di kepalanya yang kini mulai berdarah.
"Dia apa? katakan yang jelas!" Bentak Yueqin kepadanya.
Pelayan itupun langsung berbicara dengan cepat, karena merasa terancam dengan bentakan Yueqin.
"Nona Xiulin datang ke gerha bunga, dan membawa anak buah untuk menyerang Nona Hu Liena."
__ADS_1
"Gadis bodoh! aku sudah melarangnya untuk tidak melakukan apa-apa, tapi dia malah menyerang Hu Liena sialan itu. Dasar bodoh!" Wajah Yueqin langsung merah padam saking marahnya mendengar Xiulin menyerang ke tempat Hu Liena.
"Bibi Kiew, ayo! kita pergi kesana!" Ajak Yueqin dengan penuh kemarahan.