Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
105. Serangan anak panah.


__ADS_3

"Jangan membual kau, Li Jinhai!" Qiang Geming akhirnya melampiaskan kekesalan kepada Kaisar.


Kaisar sendiri, sebenarnya sudah bisa menduga jika Qiang Geming tidak akan mempercayai ucapannya.


Oleh karena itu, Kaisar masih bersikap tenang ketika Qiang Geming kembali menuduhnya sebagai seorang pembual.


"Kau mau percaya atau tidak, itu adalah urusanmu! Aku tidak akan memaksa!" Ucap Kaisar datar.


Qiang Geming merasa bimbang. Jika dia percaya dengan ucapan Kaisar Li Jinhai, dia harus siap berhadapan dengan Kekaisaran Qian, kerajaan yang selama ini menjadi pendukung terkuatnya.


Tapi jika dia bersikap abai, Qiang Geming tidak bisa menampik, jika dia mulai mempercayai ucapan dari Kaisar Li Jinhai.


Dan jika Qiang Geming mengingat kembali kejadian waktu Adiknya meninggal dulu. Putri Song Qian, memang ada di tempat kejadian.


Tentang apa, dan siapa yang bersama Putri Song Qian waktu itu, Qiang Geming tidak pernah mencaritahu tentang hal itu kepada siapapun juga.


Seandainya saja ucapan Kaisar Li Jinhai benar, dan jika Putri Song Qian memang terlibat dalam pembunuhan Adiknya. Berarti ini adalah konspirasi besar untuk menghancurkan dua kerajaan.


"Apa? Bukti apa yang kau punya? Agar aku, bisa mempercayai ucapanmu!" Terdorong rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Qiang Geming menghilangkan egonya, dan bertanya kepada Kaisar.


"Ini .... Lihatlah!" Kaisar mengeluarkan sebuah plakat kerajaan dinasti Qian.


"Tidak mungkin!" Qiang Geming seakan tidak percaya jika plakat Tuan Putri Song Qian ada di tangan Kaisar Li Jinhai. Setahu Qiang Geming, plakat itu di nyatakan hilang, ketika Putri Song Qian sedang berburu di hutan.


Ternyata plakat itu di sini! pikir Qiang Geming.


"Plakat ini aku temukan di jasad Adikmu, Qiang Duming. Hari itu, secara tidak sengaja, aku mendengar suara orang yang sedang berkelahi. Karena penasaran, aku 'pun mendekati tempat orang yang berkelahi tersebut. Dan aku sangat terkejut ketika melihat orang-orang dari kerajaan Qian sedang mengeroyok seorang pria. Aku ingin menyelamatkan pria itu, namun, ketika aku melihat Putri Song Qian, aku mengurungkan niatku. Kau tahu, apa yang aku dengar waktu itu dari mulut Putri Song Qian? Adikmu telah memperkosa Putri Song, sampai Putri Song mengandung Anak dari Adikmu. Adikmu mengetahui hal tersebut, dan menggunakan kesempatan itu untuk memaksa Putri Song melayani nafsu bejatnya setiap saat. Jika menolak, Adikmu mengancam akan menyebarluaskan berita kehamilan Putri Song kepada seluruh rakyat kerajaan Qian. Dari situlah, muncul niat Putri Song untuk menyingkirkan Adikmu. Dan sialnya, aku berada di tempat terkutuk itu di waktu kejadian. Hingga semua orang menyangka, jika aku yang telah membunuh Adikmu, dan membuat suasana kedua kerajaan menjadi memanas hingga menyebabkan peperangan." Kaisar Li Jinhai menghentikan sejenak perkataanya.


Matanya mulai memancarkan kebencian kepada Qiang Geming yang masih berada di bawah kakinya.


"Karena kelakuan Adikmu yang brengsek itu, aku harus menerima cemoohan dari semua orang. Karena dia juga, perang antar dua kerajaan jadi tidak bisa terelakkan. Dan karena ulah dia juga, aku harus rela kehilangan Ayahku yang mati di racun ketika sedang berada di medan perang." mata Kaisar Li Jinhai semakin berapi-api ketika menyebut kata 'racun'.


Qiang Geming bergidik ngeri menyaksikan kemarahan Kaisar Li Jinhai.


Bukan hanya Adiknya Qiang Duming yang bersalah. Tapi dirinya juga! Qiang Geming yang menaruh racun di makanan Kaisar Li Jiao dulu ketika sedang berperang melawan kerajaan Qian.

__ADS_1


"Kenapa kau diam? Apa kau tidak ingat, dengan racun yang kau berikan kepada Ayahku, Kaisar Pertama Li Jiao?" Bentak Kaisar Li Jinhai keras.


"Aku ...," Qiang Geming ingin mengatakan sesuatu tapi di hentikan oleh Kaisar Li Jinhai.


"Bukan hanya Ayahku! Kau bahkan tega memberikan racun ganas, kepada Putra kecilku! Di mana hati nuranimu? Anak sekecil itu, kau tega memberikannya racun! Dasar brengsek!" Kemarahan Kaisar Li Jinhai sudah tidak bisa di kendalikan lagi.


Dia menginjak dada Qiang Geming dengan keras hingga yang empunya berteriak kesakitan.


_Agghhhh!_


"Kaisar! Dengarkan aku dulu!" Qiang Geming berusaha menghentikan kemarahan Kaisar.


"Apa? Apa yang perlu aku dengarkan, dari pria biadab sepertimu? Hah!" Teriak Kaisar dengan garang.


"Aku-ingin-tahu-di mana-Anak-yang-di-lahirkan-Putri-Song?" Ucapan Qiang Geming terputus-putus karena dadanya masih di injak oleh Kaisar yang seperti orang kerasukan.


"Hehh, menyedihkan sekali hidupmu!" Cibir Kaisar.


Namun tak ayal, dia memberitahukan rahasia yang selama ini dia simpan.


"Putra Adikmu, masih berada di dalam Istana kerajaan Qian." Jawab Kaisar Li Jinhai sambil tersenyum sinis.


_Shiiuutttt!_


_Clebb!_


Anak panah yang entah darimana datangnya, langsung menancap di leher Qiang Geming , dan merenggut nyawanya seketika tanpa bersuara.


Mulut Kaisar Li Jinhai yang sempat terbuka 'pun, kini di tutup kembali karena tak jadi mengatakan perihal anak yang di tanyakan Qiang Geming.


Lagipula, percuma saja Kaisar tetap berbicara, orang yang dia ajak bicara 'pun sudah meregang nyawa. Jadi percuma saja, pikir Kaisar.


"Lindungi Yang Mulia Kaisar!'' Teriak Guotin sambil dirinya melompat ke arah tempat persembunyian orang yang menembakkan anak panah.


"Berhenti!" Changpu berkelebat mengejar orang yang berpakaian hitam-hitam yang melakukan serangan anak panah.

__ADS_1


Namun usaha Changpu sia-sia, karena orang yang di kejar sudah terlebih dahulu menghilang.


"Bagaimana? Apa kau tangkap orangnya?" Tanya Kaisar ketika Changpu sudah berada di sisinya lagi.


"Larinya terlalu cepat, jadi hamba gagal, Yang Mulia!" Ucap Changpu tertunduk lesu.


"Tidak apa-apa! Lagipula, kita bukanlah sasaran mereka!" Kaisar menepuk bahu Changpu.


Setelah mayat Qiang Geming di bawa oleh prajurit, Kaisar Li Jinhai kembali menaiki kudanya yang di ikat di salah satu pohon tak jauh dari sana.


"Kita kembali!" Kata Kaisar yang langsung menghentakkan tali pengekang kuda.


Semua orang mengikuti Kaisar dari belakang. Tak terkecuali dengan Changpu, dan juga Bingwen yang ternyata ikut juga dalam pengejaran Qiang Geming.


Setelah rombongan Kaisar Li Jinhai pergi. Dua orang yang dari awal sedang bersembunyi, langsung keluar menampakkan diri.


"Kemana kita akan pergi setelah ini, Pangeran? Menyusul Kaisar ke Istana? Atau mengejar orang yang membawa busur tadi?" Hu Liena bertanya dengan raut muka kebingungan.


Pangeran Li Junjie meraih tangan Hu Liena"Ikut aku!"


"Kemana?" Tanya Hu Liena heran.


"Ikut saja!" Balas Li Junjie tanpa menghentikan langkah kakinya.


Di puncak bukit...


"Pangeran! Ini tempat apa?" Bisik Hu Liena dari atas sebuah pohon.


"Ini markasnya Qiang Geming!" Jawab Li Junjie berbisik.


Hu Liena mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru tempat yang lebih mirip dengan barak militer.


"Kalau aku tidak salah tebak, mungkin tempat itu adalah ruang peracikan racun!" Tunjuk Hu Liena ke arah salah satu bangunan yang berada di area paling belakang.


"Darimana kau tahu, Putri?" Hu Liena memutar mata malas mendengar pertanyaan Li Junjie.

__ADS_1


"Aku ini seorang tabib, Pangeran. Bahkan dari jauh saja, aku bisa mencium aroma racun keluar dari sana!" Jawab Hu Liena dengan tampak agak kesal.


Li Junjie menggenggam tangan Hu Liena, lalu mengecupnya dengan lembut. "Maaf!" Ujarnya dengan tampang memelas.


__ADS_2