
Di sebrang danau, Guotin bergerak cepat mendekati majikannya.
"Hamba melihat Nona Hu Liena di sekitaran sini, Pangeran." Bisik Guotin kepada Li Junjie.
Li Junjie melirik ke arah yang di tunjukan Guotin lewat isyarat matanya.
Memang, di situ terlihat Hu Liena yang sedang berdiri menatap ke arahnya juga.
Sepertinya, Hu Liena juga mengetahui keberadaan dirinya di tempat itu.
Namun yang jadi pertanyaan, fokus tatapan Hu Liena bukan di tujukan untuk dirinya, melainkan untuk orang yang berada di belakangnya, Tabib Hong.
Apa yang kedua orang berbeda generasi ini coba sembunyikan darinya, pikir Li Junjie seraya menoleh ke arah Tabib Hong yang masih terdiam di tempatnya.
Tidak, tidak bisa, dia harus menyelidikinya. Li Junjie harus mengetahui rahasia mereka, Hu Liena calon Istrinya, mau tidak mau dia harus terbuka padanya, itu yang sekarang berada di pikiran Li Junjie.
"Yang Mulia Pangeran!" Tabib Hong mulai berbicara.
"Ada apa? apa aku terlalu banyak menyita waktumu? bukankah aku menyuruhmu pergi sedari tadi?" Ucap Li Junjie ketus, ia merasa terganggu dengan kehadiran Hu Liena di sekitar mereka.
Apalagi, dengan adanya Tabib Hong di tempat ini, membuat kecurigaan Li Junjie semakin menjadi-jadi.
"Bukan seperti itu, Pangeran. Hamba harus pergi ke tempat lain." Ujar Tabib Hong tanpa berbohong sedikitpun, dia memang mempunyai janji bertemu dengan Hu Liena dan pasti gadis itu sudah menunggu kedatangannya terlalu lama.
"Pergilah!" kata Li Junjie datar.
"Terima kasih, Yang Mulia!" Ucap Tabib Hong seraya memberi penghormatan sebelum pergi dan menghilang.
Di taman kota...
"Nona, apa masih perlu kita menunggu lagi?" Ujar Luqiu yang sudah merasa bosan.
"Aku tidak tahu!" Balas Hu Liena bimbang.
Dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Huhh ... Tabib Hong itu, bagaimana bisa dia membuat seorang gadis seperti Nona menunggu seperti ini." Gerutu Luqiu seraya memanyunkan bibirnya.
"Berhenti berbicara seperti itu, kita akan menunggu beberapa saat lagi. Jika Tabib tua itu tidak datang, kita langsung pulang, atau mungkin aku akan mengajakmu makan-makan." Sahut Hu Liena yang membuat mata Luqiu menjadi berbinar.
"Makan-makan! Ahhh ... baik, aku akan menunggu dengan tenang." Ujar Luqiu menjadi bersemangat.
Hu Liena hanya menggeleng melihat kelakuan Luqiu seperti itu, gadis ini sangat sederhana, di bujuk sedikit langsung ceria, pikir Hu Liena.
"Nona Hu, maaf hamba terlambat." Tak lama terdengar suara Tabib Hong dari arah sampingnya.
"Tidak apa-apa, aku sudah tahu alasanmu." Jawab Hu Liena tenang.
Tabib Hong terperanjat. "Benarkah anda sudah tahu jika- ...,"
"Jika si Pangeran sombong itu pasti memaksamu untuk bertemu, kan." Hu Liena memotong penjelasan dari Tabib Hong.
Bibir Tabib Hong berkedut mendengar perkataan Hu Liena, dia tidak terpikir jika Hu Liena akan menebak sampai sejauh itu.
"Nona, ini ...,"
"Sudahlah, jangan membelanya. Aku tahu, jika dia akan menggunakan kekuasaannya untuk mengancammu seperti sebelumnya." Potong Hu Liena mengutarakan kekesalannya.
__ADS_1
Tabib Hong tak mempunyai pilihan lain, lebih baik dia memilih diam dan membiarkan Hu Liena.
Melihat Tabib Hong yang hanya diam, Hu Liena langsung membuka suara. "Tabib, sebenarnya, apa yang kau bicarakan dengan si sombong itu?"
"Nona yakin ingin mengetahuinya?" Tabib Hong malah bertanya balik kepada Hu Liena.
"Tapi kau jangan salah paham, Tabib. Aku di sini tidak untuk memaksamu, hanya ingin mendengarkannya saja." Kilah Hu Liena, ia terlalu gengsi untuk mengakui rasa penasarannya sendiri.
Sementara di samping, Luqiu termenung berusaha mencerna ucapan majikannya. "....."
"Baik, saya paham Nona." Tabib Hong mengangguk menyanggupi ucapan Hu Liena.
Tidak ada gunanya juga Tabib Hong menolak, bukankah yang ia bicarakan dengan Pangeran Jun juga menyangkut Hu Liena di dalamnya.
"Ya sudah, ayo cepat ceritakan!" Ujar Hu Liena dengan antusias.
"Baik, tapi sebaiknya kita mencari tempat yang lebih sepi." Ujar Tabib Hong sambil menoleh kanan kiri.
Memang, di tempat mereka saat ini di kelilingi orang-orang yang sedang menikmati keindahan taman kota.
"Bagaimana kalau di kedai teh yang kemarin, Nona? tempatnya juga tak terlalu jauh dari sini." Luqiu menyuarakan usulannya.
"Bagaimana, Tabib?" Ujar Hu Liena meminta pendapat Tabib Hong.
"Itu lebih bagus lagi, Nona." Balas Tabib Hong.
Setelah semuanya setuju, mereka pun berjalan menuju kedai teh yang tak jauh dari sana.
Di kedai teh...
"Cepatlah berbicara, Tabib. Kau ini lama sekali, padahal cuma minum teh saja." Cebik Hu Liena.
Tabib Hong meletakkan kembali cangkir teh yang sudah kosong di tempatnya.
"Bisakah kita berbicara hanya berdua saja?" Kata Tabib Hong sambil melirik ke arah Luqiu yang sedang memperhatikannya.
"Pergilah!" Ujar Hu Liena seraya menggoyangkan kepalanya kepada Luqiu.
Meskipun kecewa, Luqiu tetap menuruti perintah Hu Liena.
Tangannya sudah terulur untuk membuka pintu, namun terhenti kembali karena Hu Liena memanggilnya.
"Luqiu, kemari!"
Luqiu langsung menoleh dan berjalan penuh semangat ke arah majikannya, ia berharap di ikut sertakan dengan obrolan mereka berdua.
"Ini ... pakailah berbelanja, sana! aku takut kau akan bosan, jika hanya berdiam diri saja di luar." Ujar Hu Liena seraya menyerahkan sejumlah uang kepada Luqiu.
Luqiu jadi sumringah, kekecewaan yang tadi di perlihatkannya, kini telah hilang sepenuhnya. Meskipun sebenarnya ia ingin tetap di sana, namun godaan berbelanja menggoyahkan pendirian Luqiu.
"Terima kasih, Nona! aku akan pergi sekarang." Ujar Luqiu seraya mengambil uang yang di berikan padanya.
"Ya, ya, ya ... pergilah!" Balas Hu Liena seraya melambaikan tangannya ke arah Luqiu.
Setelah kepergian pelayannya itu, Hu Liena kembali serius menatap ke arah Tabib Hong.
Yang di tatap seakan mengerti, dan langsung membuka mulutnya. "Pangeran Jun menanyaiku, tentang keberadaan Tabib dalam ramalan." Ungkap Tabib Hong terus terang.
__ADS_1
"Tabib ramalan?" Hu Liena menaikkan sebelah alisnya.
"Hem ... benar, Nona. Tabib ramalan!" Tabib Hong mengangguk dan mengulang kembali kata-katanya.
"Untuk apa dia menanyakan hal itu padamu?" Tanya Hu Liena yang semakin merasa penasaran.
"Tentu saja untuk menawarkan racun di dalam tubuhnya." Raut muka Tabib Hong berubah serius ketika mengucapkan hal ini.
Hu Liena terkejut, dia baru mengetahui masalah racun di tubuh Li Junjie saat ini.
"Bagaimana bisa, seorang Pangeran terkuat seperti Li Junjie keracunan?" Tanya Hu Liena setengah berteriak.
Kini giliran Tabib Hong yang terkejut, bagaimana mungkin Hu Liena tidak mengetahui rahasia umum tentang Li Junjie.
Semua orang tahu, jika Pangeran kejam dari dinasti Ying itu hidupnya tidak akan lama lagi.
Tapi Hu Liena, yang bahkan sudah di jodohkan dengannya, tidak tahu sama sekali tentang masalah yang di hadapi calon Suaminya itu.
"Kau jangan bercanda, Nona! Bagaimana mungkin anda tidak mengetahuinya." Ucap Tabib Hong penuh ketidak percayaan.
"Kau ini, Tabib. Aku itu bukan tukang gosip yang suka bergunjing sana-sini, jadi wajar saja, jika aku tidak mengetahuinya." Ujar Hu Liena, berusaha menutupi kecerobohannya.
Tabib Hong mengangguk dan langsung percaya apa yang di katakan Hu Liena.
Ahh, syukurlah orangtua ini percaya perkataanku. Lain kali, aku tidak boleh bersikap ceroboh seperti tadi. Aku takut, jika ada orang yang mencurigai jati diriku, jika aku sampai melakukannya lagi, batin Hu Liena.
Hu Liena yang sekarang, memang tidak mengetahui kondisi Li Junjie yang keracunan. Dan di ingatan si pemilik asli juga, tidak ada informasi tentang masalah yang di hadapi Li Junjie sekarang. Itulah kenapa, Hu Liena sempat terkejut ketika mendengarnya.
"Sekarang, tolong ceritakan lebih jelas lagi, racun apa yang ada di tubuh Pangeran sombong itu?" Tanya Hu Liena dengan mode seriusnya.
Tabib Hong mengangguk, lalu mulai bercerita. "Sejak kecil, Pangeran Jun sudah terkena racun. Dan para Tabib di kerajaan ini, sudah di kerahkan untuk menawarkan racunnya. Namun, tidak ada seorangpun yang bisa mengeluarkan racun tersebut."
Tabib Hong terdiam setelah mengatakan itu semua, seperti ada beban berat di atas pundaknya.
"Cepat, lanjutkan!" Ucap Hu Liena dengan tidak sabar.
"Di kabarkan, usia Pangeran Jun hanya bisa bertahan sampai usianya mencapai dua puluh lima tahun." Tabib Hong belum selesai bercerita, tapi ucapannya sudah di potong oleh Hu Liena.
"Tapi kan sekarang usia si Pangeran sombong sudah dua puluh lima tahun, itu berarti diagnosis para Tabib itu salah."
"Nona, jangan menyela ucapanku. Aku belum selesai menceritakan semuanya." Ucap Tabib Hong sedikit kesal dengan tingkah Hu Liena yang memotong ucapannya.
"Baik, baik, lanjutkan!" Kata Hu Liena seraya membuat gerakan tangan ke arah Tabib Hong.
Tabib Hong pun kembali melanjutkan ceritanya. "Setahun yang lalu, tersiar kabar bahwa, Pangeran Jun bertemu seorang pria paruh baya yang mengaku dirinya sebagai Tabib di dalam mimpinya dan memberikan pengobatan jarum akupuntur kepadanya. Dan khasiat dari pengobatan itu langsung terasa, dengan Pangeran Jun memuntahkan sebagian racun dari dalam mulutnya.
Pengobatan jarum akupuntur itu juga, menambah kesempatan hidup bagi Pangeran Jun. Yang tadinya hanya mencapai usia dua puluh lima tahun, sekarang bertambah satu tahun lagi. Ini kesempatan bagi Pangeran Jun, untuk melakukan pengobatan ke tahap selanjutnya. Namun sayangnya, Tabib itu tidak menuntaskan pengobatan jarum akupunturnya tersebut dan hanya bilang, jika orang yang bisa mengeluarkan racun itu sepenuhnya, adalah Tabib Ajaib dalam ramalan. Sejak itulah, Pangeran Jun mulai mencari informasi tentang Tabib ramalan ke setiap Tabib yang di temuinya. Dan Tabib terakhir yang belum di tanyainya adalah, aku."
"Jadi maksudmu, kesempatan terakhir dia untuk hidup ada di tanganmu?" Tanya Hu Liena.
Tabib Hong menggeleng, "Bukan saya, tapi anda!"
"Aku?" Hu Liena menunjuk wajahnya sendiri.
"Iya, anda. Karena Tabib yang di mimpi Pangeran Jun itu, adalah perwujudan dari jiwa Ayah anda!" Ungkap Tabib Hong yang membuat Hu Liena membelalakkan matanya.
Bagaimana si tua ini bisa tahu? Gawat! ini gawat, bagaimana kalau identitasku terbongkar nanti? Dan jika orang-orang tahu, kalau aku hanya jiwa yang bereinkarnasi ke tubuh gadis ini, apakah mereka akan membunuhku kembali? tidak! ini tidak boleh terjadi, batin Hu Liena.
__ADS_1