Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
88. Mei Lien.


__ADS_3

"Jika kau ingin Ibumu cepat mati, terus berikan makanan itu padanya!" Ucap Hu Liena kasar.


Bukan maksud dirinya mengucapkan hal sekasar itu kepada si gadis. Tapi karena Hu Liena merasa kesal, karena itulah sumber dari penyakit yang di derita si Ibu.


Sayuran hijau, hanya akan membuat masalah di kaki si Ibu semakin memburuk. Di tambah lagi olahan kacang, makin buruklah situasinya saat ini.


"Apa maksud anda, Nona? Jika anda tidak ingin membantu kami, tidak apa-apa, kami tidak akan memaksa. Tapi tolong, jangan berbicara begitu tentang Ibuku. Dia adalah harta satu-satunya yang saya punya sekarang." Ucap si gadis dengan mata yang mulai berembun.


Hu Liena menarik nafas berat setelah mendengar kata-kata si gadis.


"Aku berbicara fakta! Jika kau terus memberikan makanan itu untuk Ibumu, dia akan mati dengan segera. Dan harta yang kau sebutkan tadi, akan segera hilang dari dunia ini." Tegas Hu Liena.


Si gadis tertegun, dia tidak menyangka jika makanan yang dia bawa malah berakibat fatal untuk kesehatan sang Ibu.


"Ibu, maafkan aku!" Ucap si gadis dengan berderai airmata.


"Berhentilah menangis ...," Hu Liena berkata dengan kesal.


Dia belum menyelesaikan kata-katanya, si gadis malah meraung-raung sedih.


Hu Liena memberi isyarat kepada Luqiu dan Bao-Yu agar menjauhkan gadis itu dari Ibunya yang terbaring lemas di atas tempat tidur.


Hu Liena lalu memasukkan sebuah pil ke dalam mulut si Ibu, dan memberikan pengobatan akupuntur melalui jarum perak miliknya.


"Ibumu akan segera siuman, jangan beri lagi dia makanan seperti yang kau ucapkan tadi. Beri dia minum air putih yang banyak, agar racun di tubuhnya keluar dengan sendirinya." Tutur Hu Liena.


"Racun? Jadi Ibuku di racun?" Teriak si gadis tersebut.


"Tidak! Ibumu tidak di racun!" Jawab Hu Liena.


Gadis itu menjadi linglung. Antara percaya atau tidak, dengan ucapan Hu Liena.


Hu Liena mengerti dengan perasaan gadis tersebut, lalu dia menjelaskan ucapannya tadi.


"Yang aku maksud racun itu adalah penyakit Ibumu. Dia itu terlalu banyak mengkonsumsi makanan, yang tidak baik bagi kesehatannya. Jadi makanan itu telah mengendap di dalam tubuhnya, dan berubah menjadi racun. Meskipun tidak terlalu berbahaya, jika racun itu tidak di keluarkan, maka akibatnya akan fatal." Jelas Hu Liena panjang lebar.


Si gadis mengangguk-anggukkan kepala tanda paham dengan maksud Hu Liena.


"Sekarang, sebutkan siapa namamu?" Tanya Hu Liena kepada si gadis.

__ADS_1


Si gadis lalu segera menjawab pertanyaan dari Hu Liena. "Nama saya Yan Mei Lien, Nona."


"Lancang! Beraninya kau berbohong kepada Putri Xia!" Bentak Luqiu ketika mendengar nama itu di sebutkan.


"Putri! Putri Xia!" Ucap si gadis yang terkejut.


"Benar, Putri Xia. Dan kau sekarang telah berbohong kepadanya, kau harus mendapatkan hukuman!" Bentak Luqiu lagi.


Hu Liena tidak mengerti kenapa Luqiu bisa semarah itu kepada si gadis. Memangnya, apa yang salah dengan nama itu?


"Luqiu, ada apa denganmu?" Tanya Hu Liena heran.


"Putri, Yan Mei Lien adalah Putri dari keluarga Bangsawan Yan. Dan gadis ini, telah berdosa karena memakai nama Nona Mei lien." Ucap Luqiu geram.


"Tidak! Hamba tidak berbohong! Hamba memang Yan Mei Lien, Putri!" Balas si gadis dengan takut.


Hu Liena melirik ke arah si gadis, dan menatapnya dengan tatapan tajam.


"Dia itu memang Mei Lien, Putri dari Bangsawan Yan." Si Ibu yang telah siuman langsung membantu Putrinya untuk menjelaskan kesalahpahaman itu.


"Putri Bangsawan Yan? Lalu kenapa? Kenapa dia berada di sini sekarang? Dan anda, anda adalah Ibunya bukan?" Tanya Hu Liena penasaran.


Hu Liena semakin penasaran dengan kisah dua orang Ibu, dan Anaknya ini.


"Ceritakan!" Tegas Hu Liena.


"Semua berawal dari keserakahan Suamiku yang ingin menjadikan wanita itu sebagai gundiknya. Dia lalu membawa wanita tersebut ke kediaman kami beberapa tahun yang lalu. Setelah wanita itu berada di kediaman kami, dia sering menyiksa dan menjadikan kami bulan-bulanan amarahnya. Kami bahkan harus bekerja di rumah sendiri, hanya untuk sesuap nasi. Bahkan sampai sekarang, kami harus tetap kesana setiap hari untuk membereskan kediaman. Dan kami hanya di beri makanan sisa untuk kami makan setiap harinya. Itulah kenapa, Putriku tidak memiliki uang untuk membeli obat."


Hu Liena merasa geram setelah mendengar kisah dari Istri Pertama Bangsawan Yan. Di zaman ini, semua pria bisa berlaku seenaknya. Dia bisa mengambil, atau membuang seorang wanita dengan sesuka hati.


Tidak! Hu Liena tidak akan membiarkannya. Dia harus menuntut keadilan untuk dua orang di hadapannya ini. Oleh sebab itu, Hu Liena langsung memerintahkan Luqiu dan Bao-Yu membantu Mei Lien untuk membawa Ibunya ke kediaman Bangsawan Yan.


Setelah berada di depan gerbang kediaman Bangsawan Yan. Hu Liena meminta kepada penjaga untuk memanggil Bangsawan Yan peng untuk keluar.


"Siapa kau?" Bentak Yan Peng setelah melihat Hu Liena yang sedang berkacak pinggang di depan gerbang kediamannya.


"Aku, hakim yang akan menentukan hidupmu!" Kata Hu Liena lantang.


"Kau? Menentukan hidupku? Ha-ha ... Lucu sekali!" Bangsawan Yan menertawakan keberanian Hu Liena.

__ADS_1


Pletakk...


Agghh...


Batu kerikil yang di lemparkan Hu Liena, jatuh tepat di kening Bangsawan Yan.


"Siapa? Siapa yang berani melemparku dengan batu?" Teriak Bangsawan Yan geram.


"Aku!" Ucap Hu Liena sambil memainkan beberapa batu kerikil di tangannya.


"Kurang ajar! Beraninya kau menyinggungku, yang seorang Bangsawan!" Bentak Bangsawan Yan.


"Kau yang kurang ajar, berani membentak Putri Xia!" Teriak Luqiu dengan keras.


Bangsawan Yan mendengus kasar. Dia tidak peduli, mau itu Putri Xia, ataupun siapapun itu, dia tidak takut. Oleh karena itu, Bangsawan Yan langsung memerintahkan para pengawalnya untuk memberi pelajaran kepada Hu Liena.


Syuutt...


Syuutt...


Syuutt...


Belum juga memberikan serangan, para pengawal Bangsawan Yan langsung tumbang di hadapan Hu Liena.


"Kau tidak akan bisa, untuk menyentuhku!" Ucap Hu Liena penuh penekanan.


Bahkan seorang pria keras seperti Bangsawan Yan, langsung bergidik ketika menyaksikan kejadian ini.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Bangsawan Yan.


"Keadilan! Aku ingin keadilan untuk Istri, dan Anakmu!" Kata Hu Liena keras.


Karena pembicaraan mereka di lakukan di luar gerbang. Otomatis, orang-orang yang sedang lalu-lalang jadi berkerumun untuk menyaksikan kejadian ini.


Di antara mereka, bahkan ada yang sambil berbisik-bisik dengan temannya.


"Siapa gadis pemberani ini?" Tanya seorang perempuan kepada orang di sebelahnya.


"Aku dengar dari pengakuan pelayannya tadi, gadis ini adalah Putri Xia." Jawab orang yang terlebih dulu berada di tempat itu.

__ADS_1


"Putri Xia? Calon Istri Pangeran Jun?" Ucap si perempuan dengan terkejut.


__ADS_2