
Karena terdorong rasa penasaran, akhirnya Putri Li Jiang ikut bersama dengan Li Jing Sheng.
Hu Liena dan Putri Jia Li juga ikut dalam perjalanan mereka. Bedanya, di antara mereka berempat, hanya Li Jing Sheng dan Hu Liena yang mengetahui lokasi tujuan mereka saat ini.
"Jangan, jangan dekati aku! Pergi, pergi kalian!"
Baru saja memasuki ruangan, Putri Li Jiang sudah mendengar teriakan dari seorang pria yang tak asing lagi di telinganya.
"Kakak, dia?!" ucap Putri Li Jiang sambil bersembunyi di belakang punggung Li Jing Sheng.
"Kau tenang saja, Adik. Dia sekarang sudah tidak akan membahayakanmu lagi!"
Putri Li Jiang tidak ingin mempercayai ucapan Kakak Keduanya, dan dia tetap bersembunyi selama perjalanan menuju ujung lorong gelap tempat asal suara orang berteriak.
Sesampainya di lorong, Putri Li Jiang merasa terkejut dengan yang dia saksikan di sana.
Pangeran Chunian, sikapnya sudah sangat jauh berubah banyak dari sebelumnya.
Sikapnya yang genit, kini berubah drastis layaknya seperti seorang perempuan. Dan anehnya, ketika seorang pengawal datang memberikan makanan, dia seperti ketakutan dan langsung berteriak-teriak dengan histeris.
"Kakak ...," Putri Li Jiang menoleh ke arah Li Jing Sheng dengan penuh tanda tanya.
"Aku sudah bilang 'kan, kau tidak perlu takut lagi sekarang." ucap Li Jing Sheng sambil mengelus rambut Putri Li Jiang.
"Tapi, kenapa dia menjadi seperti ini?" tanya Li Jiang dengan heran.
Li Jing Sheng tersenyum, lalu menerangkan jika dia telah memberikan obat halusinasi kepada Pangeran Chunian. Obat itu tidak berbahaya bagi kesehatan, hanya sikap dan cara pandangnya saja yang berbeda. Pangeran Chunian sekarang justru sangat takut jika di dekati oleh orang lain, dia akan merasa ketakutan seperti orang yang memiliki trauma.
"Benarkah seperti itu, Kakak?" Putri Li Jiang merasa sedikit ragu dengan ucapan Li Jing Sheng.
"Kau bisa membuktikannya sendiri, Adik." balas Li Jing Sheng dengan penuh kebanggaan.
Hu Liena hanya tersenyum manis, melihat kelakuan calon Adik Iparnya tersebut.
"Tidak, Kak. Aku takut!" tolak Putri Li Jiang.
__ADS_1
"Tidak akan terjadi apa-apa, Adik Jing pasti akan menjagamu sepenuhnya." ucap Hu Liena yang langsung bisa membuat hati Putri Li Jiang menjadi tenang setelah mendengar kata-katanya.
Li Jing Sheng menuntun Putri Li Jiang untuk mendekati tempat di mana Pangeran Chunian di kurung. Belum juga sampai, Pangeran Chunian sudah berteriak-teriak ketakutan.
Matanya yang biasa dia gunakan menatap Li Jiang penuh dengan nafsu birahi, kini seperti menatap kosong dan seperti orang yang memiliki tekanan batin.
"Tidak! Jangan, jangan kesini! Tolong, jangan lakukan itu padaku!"
Putri Li Jiang menjadi sedikit merasa lega saat ini. Ternyata, ucapan Kakak keduanya benar. Jangankan untuk kembali berbuat jahat padanya, Pangeran Chunian sendiri bahkan ketakutan jika dia dekati.
Apapun obat yang di berikan oleh sang Kakak kepada Pangeran bejad tersebut, Putri Li Jiang tidak ingin menanyakannya. Yang jelas, dirinya telah terbebas dari ancaman manusia bejad seperti Pangeran Chunian.
Ketakutan dan kecemasannya selama ini seketika lenyap, setelah menyaksikan kondisi Pangeran Chunian yang entah ketakutan karena hal apa.
"Sebaiknya, kita semua cepat pergi dari sini." usul Hu Liena yang merasa sesak berada satu atap dengan orang seperti Pangeran Chunian.
Usulan Hu Liena langsung di setujui oleh semua orang. Mereka berempat lalu keluar dari ruang kurungan Pangeran Chunian.
Tak di sangka, begitu keluar dari lorong sudah ada Kaisar Li Jinhai dan juga Li Junjie yang menunggu mereka semua di sana.
Putri Li Jiang mengangguk puas, bukan hanya merasa lebih tenang, dia juga merasa jauh lebih bahagia sekarang.
"Aku akui kehebatanmu, Pangeran Jing. Memang seperti itulah, harusnya seorang Pangeran sepertimu mengambil sikap." puji Li Junjie yang membuat Li Jing Sheng merasa terharu.
"Terima kasih Kakak Pertama! Semua ini berkat Kakak Ipar, dia yang telah memberikan ... eh, maksudku menularkan kehebatannya padaku!"
Pangeran Li Jing Sheng hampir saja keceplosan di depan Kaisar Li Jinhai tentang obat yang di berikan oleh Hu Liena. Jika itu sampai terjadi, identitas Hu Liena sebagai Tabib ramalan akan terbongkar.
Untuk saat ini, Hu Liena masih ingin merahasiakan jati dirinya yang asli. Dia merasa jika masih ada musuh yang sedang mengincar tentang identitas si Tabib dalam ramalan, yang bukan lain adalah dirinya.
"Tentu saja Kakak Iparmu itu sangat hebat, karena aku sendirilah yang mengajari keahliannya." ucap Li Junjie menyombongkan diri.
Hu Liena ingin menolak, namun merasa tidak enak karena saat ini Kaisar Li Jinhai sedang berada di tengah-tengah mereka.
Yang bisa dia lakukan hanya menggerutu di dalam hati, atas kesombongan yang di tunjukkan Li Junjie kepada semua orang.
__ADS_1
"Putri, pengawalku sudah kembali. Mereka bilang, jika Ibu dan Saudari tirimu telah melarikan diri ke Kerajaan Wuya dan berlindung di balik kekuasaan Kaisar Wu." bisik Li Junjie saat semua orang tidak memperhatikan mereka.
"Kirim utusan kesana, minta Kaisar Wu menyerahkan mereka berdua." balas Hu Liena dengan geram.
Sepertinya, masalah tentang menangkap kembali Ibu tirinya dan Xiulin akan semakin rumit.
"Tidak bisa, Ibu tirimu itu sangat berbakat merayu seorang pria. Bukankah, Perdana Menteri juga sudah pernah menjadi korbannya?" bisik Li Junjie yang langsung membuat Hu Liena kesal.
"Huh, Ayahku dulu sedikit ceroboh." cibir Hu Liena.
"Bukan ceroboh, tapi bodoh!" balas Li Junjie.
Hu Liena berdecih sebal, namun memang kenyataannya seperti itu. Ayahnya terlalu bodoh hingga terbuai oleh rayuan Yueqin dan menelantarkan Hu Liena yang asli. Hingga akhirnya meninggal, dan jiwanya tergantikan olehnya.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menangkap mereka?" bisi Hu Liena dengan perlahan.
"Kita berdua, akan pergi kesana!" jawab Li Junjie tenang.
Hu Liena mendelik, lalu berbicara dengan suara bergetar seolah-olah sedang menerima kekecewaan yang sangat dalam.
"Bagaimana mungkin?! Kau sendiri yang bilang, jika Bibi Yueqin sudah menghasut Kaisar Wu!"
"Memang benar! Tapi kita bisa pergi dengan cara lain." ucap Li Junjie yang membuat alis Hu Liena berkerut tebal.
"Cara lain, apa?" tanya Hu Liena penasaran.
Li Junjie tersenyum tipis, lalu berbisik ke telinga Hu Liena. "Menyamar! Kita akan pergi kesana dengan menyamar!"
"Apa?!" ucap Hu Liena terkejut dan setengah berteriak hingga membuat semua orang menoleh ke arahnya termasuk Kaisar Li Jinhai.
"Eh, maaf! Maafkan aku!" ucap Hu Liena sambil melipat tangan di depan dada.
Kaisar Li Jinhai menangkap kecanggungan di mata Hu Liena. Dia berpikir jika Putranya membisikkan sesuatu yang kurang sopan, hingga membuat calon menantunya merasa malu dan berteriak dengan spontan.
"Dasar, bocah nakal!" gumam Kaisar Li Jinhai sambil melirik ke arah Putranya, Li Junjie.
__ADS_1
Sedangkan orang yang menjadi tersangka, hanya berdiam diri tanpa merasa bersalah sama sekali.