Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
133. Hukuman untuk para pemberontak.


__ADS_3

Keesokan harinya, semua orang telah berkumpul di ruang persidangan.


Tidak hanya para pejabat, bahkan rakyat 'pun bisa menyaksikan persidangan yang di gelar secara terbuka. Ini bertujuan, agar ada efek jera kepada semua orang yang berniat memberontak terhadap kerajaan Kaisar.


"Bawa masuk semua keluarga Bangsawan yang berkhianat." perintah kepala sipir penjara kepada bawahannya.


Mo Chong an dan Putranya berada di urutan paling depan di dalam barisan para Bangsawan yang ikut memberontak di kelompoknya Putri Song Qian.


Mereka semua tergiur dengan gaji, dan juga jabatan yang tinggi sehingga langsung setuju ketika di ajak memberontak oleh Bangsawan Mo dan Putranya.


Kebanyakan dari mereka, memang lebih suka mendapatkan kekayaan dengan cara yang instan.


Oleh karena itulah, begitu Mo Chong an mengiming-ngimingi mereka dengan harta, mereka langsung setuju saja tanpa memikirkan konsekuensinya seperti apa.


"Kalian para Bangsawan yang melakukan pemberontakan, harta kalian semua akan di sita oleh pihak kerajaan. Mengenai keluarga kalian, akan di asingkan, dan kami kirim ke Kota Angin untuk menjalani hidup sebagai orang biasa. Dan yang terakhir, kalian semua, akan kami hukum dengan hukuman gantung." ucap Kaisar Li Jinhai dengan penuh penegasan hingga membuat para Bangsawan menjadi ketar-ketir setelah mendengarnya.


"Ampuni hamba, Yang Mulia! Hamba menyesal, hamba berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi!" ratap Bangsawan Yu sambil bersimpuh di hadapan Kaisar Li Jinhai.


Satu per satu, para Bangsawan mulai mengikuti apa yang di lakukan oleh Bangsawan Yu. Mereka semua memohon keringanan hukuman, dan berjanji tidak akan pernah melakukan pemberontakan lagi ke depannya.


Namun apalah arti sebuah penyesalan, jika itu di lakukan saat semua sudah terlambat. Api sudah di nyalakan, kayu sudah terbakar, tidak mungkin jika tidak sampai mengeluarkan asap, bukan?


"Bawa mereka semua kembali ke dalam tahanan!" teriak kepala sipir penjara setelah mendapat instruksi dari Kaisar Li Jinhai.


Setelah semua para Bangsawan kembali di bawa oleh para pengawal, kini tiba giliran Putri Song Qian dan juga Putranya, Yu Zemin.


"Lepaskan aku! Kalian semua akan di hukum,jika berani menyentuh kulitku sedikit saja!" teriak Putri Song Qian saat dirinya akan di tuntun memasuki ruang persidangan.


"Cepat, bawa dia masuk!" teriak Kaisar Qian saat melihat para pengawal seperti merasa segan mendekati Putri Song Qian.


Wajar jika para pengawal seperti menjaga sikap, karena Putri Song Qian bukanlah orang sembarangan. Sekali saja mereka salah bertindak, pasti akan mendapatkan masalah besar karena berani melakukan hal kasar kepada Adik perempuan dari kerajaan Qian.


"Kakak, jangan lakukan itu padaku!" teriak Putri Song saat tubuhnya kini di angkat oleh para pengawal pribadi Kaisar Qian.

__ADS_1


"Apa yang bisa 'ku perbuat untuk menolong seorang pemberontak?" sindir Kaisar Qian dengan kejam.


Putri Song Qian akhirnya diam, namun dia masih tetap berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman para pengawal Kakaknya.


"Yang Mulia, tolong lepaskan dia! Biar aku saja seorang diri yang menerima hukuman." ratap Yu Zemin saat melihat Ibunya seperti kesakitan.


"Tenang saja, kalian berdua akan mendapatkan hukuman yang sama." ucap Kaisar Qian datar.


Yu Zemin tertunduk lesu di hadapan semua orang. Percuma saja dia memohon, karena dia sudah tahu jika permohonannya akan di abaikan.


"Dasar bajingan!" bentak Putri Song Qian sambil menendang kaki salah seorang pengawal saat dirinya akan di turunkan di tengah-tengah ruang persidangan.


"Jaga sikapmu, Putri!" titah Kaisar Qian.


Putri Song Qian mendengus kasar, tersirat kebencian di sorot matanya yang tajam.


"Aku tidak akan pernah memaafkan kalian semua!" teriaknya dengan penuh penekanan.


Tatapan Putri Song Qian kini tertuju kepada Hu Liena yang saat ini duduk di sebelah Ayahnya, Perdana Menteri Hu Boqin.


"Kau! Gadis brengsek! Aku bersumpah, akan membunuhmu suatu saat nanti!" teriak Putri Song Qian dengan lantang.


"Dengan senang hati, hamba akan menantikan hari itu, Putri!" balas Hu Liena sopan namun menyakitkan hati Putri Song Qian.


"Awas kau!" geram Song Qian.


Namun Hu Liena seperti tidak merasa takut sama sekali dengan ancaman yang di berikan kepadanya.


Dia malah dengan santainya menyesap secangkir teh, yang di sodorkan oleh seorang pelayan.


Li Junjie merasa puas dengan keberanian yang di tunjukkan oleh calon Istrinya. Begitulah seharusnya seorang Istri dari Pangeran Jun bersikap, pikirnya.


"Pangeran Yu Zemin! Aku, Kaisar Li Jinhai! Menjatuhkanmu hukuman gantung, atas pemberontakan yang kau lakukan di dua kerajaan. Dan hukuman akan di laksanakan setelah persidangan ini berakhir."

__ADS_1


Suara riuh dari para penonton membuat suasana menjadi ramai, mereka sangat menyayangkan perbuatan Pangeran Yu Zemin.


"Aku heran, bisa-bisanya calon Putra Mahkota melakukan pemberontakan di kerajaannya sendiri." bisik seorang warga yang menyaksikan jalannya persidangan.


"Ish, dia itu calon Putra Mahkota yang palsu!" balas orang di sebelahnya.


"Apa maksudmu?!" tanya orang tadi heran.


"Kau ini, masa berita yang sangat penting saja tidak tahu. Dia itu Putra dari Putri Song Qian, Putra dari hasil perkosaan."


Tangan Putri Song Qian mengepal erat saat kasak-kusuk dari belakang, terdengar jelas di telinganya.


"Brengsek! Semua karena ulah Putri Xia! Seharusnya, aku sudah berhasil sekarang!" gumam Putri Song Qian dengan geram.


"Dan untuk hukuman Putri Song Qian, aku akan menyerahkan semua keputusan kepada Kaisar Long Qian!" ucap Kaisar Li Jinhai.


Suara protes dari para warga mulai terdengar. Mereka tidak terima, jika keputusan hukuman pemberontak seperti Putri Song Qian di serahkan kepada Kaisar kerajaan Qian.


Mereka semua tahu hubungan darah di antara kedua orang tersebut, dan warga berasumsi jika Kaisar Qian pasti akan berusaha meringankan hukuman Putri Song Qian. Secara, mereka adalah saudara kandung. Dan Kaisar Qian, di kenal sangat menyayangi Adik perempuannya.


"Tenang!" Kaisar Li Jinhai berteriak hingga membuat semua orang bungkam.


"Jika kalian ada yang bersuara lagi, aku akan menganggap orang itu sebagai pembangkang!"


Ucapan Kaisar Li Jinhai selanjutnya, membuat semua orang kini merasa ketakutan. Tidak ada satupun dari mereka yang berani membantah, ataupun memprotes perkataan Kaisar Li Jinhai.


"Aku juga akan memberikan hukuman yang sama kepadamu, Putri! Kau akan di hukum gantung setelah persidangan ini berakhir. Namun, sebelum hal itu terjadi, aku ingin kau menyaksikan terlebih dahulu kematian Putramu." titah Kaisar Qian yang membuat Putri terbelalak.


"Tidak, Kakak, jangan, jangan lakukan itu. Aku mohon!" ratap Putri Song Qian.


Di sangat menyayangi Putranya, Yu Zemin. Bagaimana mungkin, sekarang dirinya di paksa untuk menyaksikan kematian Putranya sendiri.


Tidak, itu hukuman yang sangat kejam!

__ADS_1


__ADS_2