
Si pemuda langsung berterima kasih kepada kedua Wang bersaudara.
Tadinya, si pemuda ingin berlutut. Namun Wang Wey menghentikannya, karena takut luka-luka di seluruh tubuh si pemuda terbuka kembali.
"Siapa namamu, anak muda?" tanya Wang Shu penasaran.
Si pemuda merasa gugup karena identitasnya di pertanyakan.
"Aku, aku lupa dengan namaku sendiri, Paman!" ucap si pemuda dengan cemas.
Wang Shu melirik ke arah Wang Wey yang kini sedang melirik ke arahnya juga.
"Sebaiknya, kau jangan terlalu banyak bergerak. Lukamu itu sangat dalam, jika terlalu banyak bergerak, luka-lukamu akan kembali mengeluarkan banyak darah. Dan kau pasti mati, karena kehabisan darah." tegas Wang Shu kepada pemuda tersebut.
Setelah pemuda itu kembali berbaring, Wang Shu menghampiri Wang Wey lalu mengajaknya untuk berjaga di luar.
"Siapa sebenarnya pemuda itu?" tanya Wang Wey merasa penasaran dengan identitas si pemuda.
Wang Shu menggeleng, lalu menjawab pertanyaan Kakak kembarnya. "Aku tidak tahu! Sepertinya, pemuda itu kehilangan ingatan."
"Mungkin karena terkena pukulan terlalu keras di kepalanya, sampai dia lupa dengan namanya sendiri." Ucap Wang Wey merasa prihatin dengan keadaan si pemuda.
"Siapapun dia, kita harus tetap mengawasinya. Bisa saja 'kan, dia itu seorang mata-mata yang di kirim oleh pihak kerajaan Qian." Tegas Wang Shu serius.
"Kau benar, kita tetap tidak boleh lengah, dan menjadi lemah karena merasa kasihan dengan keadaannya." Jawab Wang Wey penuh semangat.
Wang Shu mengangguk, lalu menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan agar tidak kedinginan.
"Shu! Kamu sudah mendengar berita tentang kematian Qiang Geming?" ucap Wang Wey sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
"Aku juga sudah mendengarnya, dari ketua Chang." Jawab Wang Shu sambil menganggukkan kepala.
"Kemungkinan besar, Qiang Geming sengaja di lenyapkan agar rahasia mereka tetap aman." Wang Shu berbicara sambil menambahkan beberapa ranting kering ke dalam bara api agar tidak cepat padam.
"Menurutmu, kira-kira siapa dalang di balik semua kejadian ini?" tanya Wang Wey penasaran.
"Calon Putra Mahkota kerajaan Qian!" Jawab Wang Shu dengan penuh penekanan.
_Brakk!_
Dari dalam pondok, terdengar suara benda yang di pukul dengan sangat keras.
Wang Shu dan Wang Wey segera berlari masuk ke dalam pondok.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Wang Shu saat melihat meja kayu di sisi tempat tidur sudah hancur berantakan, dan puing-puingnya berserakan di lantai.
"Aku tidak sengaja jatuh, dan membuat meja rusak." Jawab si pemuda sambil menundukkan kepala.
Wang Wey menangkap kejanggalan dari jawaban si pemuda. Jika terjatuh, lalu menimpa meja, kenapa si pemuda masih tetap bisa naik ke atas tempat tidur?
Sekujur tubuhnya sedang terluka, jika harus menaiki tempat tidur, dia tidak akan mampu melakukannya secepat itu.
__ADS_1
"Sebaiknya, kita bawa saja pemuda ini ke hadapan ketua Chang!" Bisik Wang Wey kepada Adiknya.
Tanpa banyak tanya lagi, Wang Shu langsung menghampiri si pemuda di tempat tidur.
"Ada apa? Kemana kau akan membawaku?" tanya si pemuda dengan panik saat Wang Shu mengangkat tubuhnya.
Di tempat rahasia Pangeran Jun...
"Changing! Di mana Putriku? Sudah lama aku tidak melihatnya di sini!" Hu Boqin berjalan menghampiri Changing yang sedang berjaga di balik pintu.
"Putri sedang pergi mengejar musuh bersama Pangeran, Tuan!" Jawab Changing sopan.
Hu Boqin terkejut bukan main begitu mendengar Hu Liena ikut dalam misi.
"Jangan becanda! Bagaimana bisa Pangeran Jun melibatkan Putriku ke dalam bahaya?" Bentak Hu Boqin keras.
_Wuusshhh!_
Wang Shu datang dengan cepat membawa seorang pemuda di pundaknya, di susul oleh Wang Wey yang berlari dari arah belakang.
"Mengapa kalian membawa pemuda itu datang kesini? Bagaimana kalau dia memang benar seorang mata-mata?" Teriak Changing kencang.
Hu Boqin melirik ke arah Wang bersaudara dengan tatapan rumit.
"Kenapa kalian hanya diam saja? Cepat jawab!" Hu Boqin ikut berteriak memarahi Wang bersaudara.
"Maafkan kami, Tuan! Maafkan kami, Ketua Chang! Kami terpaksa membawanya kesini!" Ucap Wang Shu penuh penyesalan.
Hu Boqin merasa senang bertemu Putrinya dengan keadaan baik-baik saja.
"Ayah senang kau sudah pulang, Nak." Ucap Hu Boqin dengan suka cita.
"Aku juga senang, bertemu Ayah lagi." Balas Hu Liena sambil memeluk Hu Boqin.
Sebagai Ayah, Hu Boqin merasa bahagia karena di perlakukan dengan baik oleh Putrinya.
Sekarang ini, Hu Liena sudah banyak berubah. Dia juga semakin dewasa, dan tak pernah lagi bersikap ceroboh seperti dulu.
"Paman Chang! Tolong jelaskan, ada apa ini? kenapa kalian semua ribut sekali?" Tanya Hu Liena setelah selesai melepas rindu dengan Ayahnya.
"Wang bersaudara membawa orang asing masuk ke tempat ini, Putri." jawab Changing sambil melirik tajam ke arah Wang bersaudara.
"Paman Wang, siapa dia? Apa pemuda itu, yang di maksud orang asing oleh Paman Chang?" Hu Liena menaikkan sebelah alisnya ketika melihat seorang pemuda berada di pundaknya Wang Shu.
Wang Shu menurunkan pemuda yang di bawanya dari atas pundak. Lalu memberi hormat kepada Hu Liena sebelum mulai menjawab.
"Kami menemukan pemuda ini sedang dalam keadaan terluka di pinggiran hutan, Putri! Kami sudah melaporkannya kepada Ketua Chang, dan Tuan Chang menyuruh kami untuk mengawasinya." Jelas Wang Shu kepada Hu Liena.
Alis Hu Liena berkerut begitu mendengar penjelasan pengawal pribadinya.
"Lalu kenapa, Paman malah membawanya ke tempat ini?" tanya Hu Liena heran.
__ADS_1
"Kami mencurigai sesuatu darinya, Putri! Tapi kami tidak bisa bertindak sendiri, jadi kami memutuskan untuk membawanya kesini." Jawab Wang Shu tanpa ada yang di tutup-tutupi.
Hu Liena melirik ke arah si pemuda yang berada di hadapannya.
"Siapa namamu?" tanya Hu Liena kepada pemuda yang mungkin berada di usia yang sama dengan Li Jing Sheng, Adiknya Li Junjie.
"Aku lupa!" Jawab si pemuda sambil menggelengkan kepala.
"Siapa namamu?" Hu Liena mengulangi kembali pertanyaannya.
Bagi orang lain, mungkin Hu Liena terlihat konyol. Tapi bagi Li Junjie, Hu Liena pasti memiliki alasan tersendiri melakukan hal seperti itu.
"Aku, aku Yingzhi!" Akhirnya si pemuda mengatakan namanya dengan jujur.
"Jadi kau tidak hilang ingatan?" Emosi Wang Shu mulai meledak setelah tahu pemuda yang di tolongnya telah berbohong.
"Sabar!" Wang Wey segera menahan tubuh Wang Shu yang akan maju ke arah si pemuda.
"Maafkan aku!" Ucap si pemuda tertunduk lesu.
Hu Liena mengangkat tangan, menyuruh semua orang agar diam.
"Katakan padaku! Bagaimana kau bisa terluka seperti ini?" ucapan Hu Liena seperti sedang menghipnotis si pemuda. Karena setelah Hu Liena menanyakan hal itu, si pemuda langsung bercerita tanpa perlu di paksa.
"Namaku sebenarnya Qian Yingzhi! Aku adalah Putra Pertama dari Kaisar Qian!"
Semua orang merasa terkejut dengan perkataan si pemuda, yang mengaku sebagai Putra Pertama Kaisar kerajaan Qian.
Setahu mereka, Putra Kaisar Qian adalan Yu Zemin, yang saat ini sedang melakukan pemberontakan kepada kerajaan dinasti Ying.
"Jangan membual!" teriak Wang Shu geram.
"Aku mengatakan yang sejujurnya, Tuan! Aku memang Putra asli, dari Kaisar Qian! Aku sengaja di culik, dan di asingkan oleh Bibiku sendiri, Putri Song Qian agar Putranya bisa menduduki tahta menggantikan Ayahku kelak." jawab Qian Yingzhi penuh kesedihan.
"Jika kau memang di culik oleh Putri Song, lalu kenapa Kaisar Qian tidak berusaha untuk mencarimu?" Li Junjie akhirnya membuka suara.
"Aku juga tidak tahu! Tapi yang aku dengar, Kaisar sekarang sedang sekarat, dan tinggal menunggu hari kematiannya." ucap Qian Yingzhi sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Kaisar Qian sakit parah?" tanya Li Junjie dengan heran.
"Benar, Tuan!" Jawab Qian Yingzhi tanpa keraguan sama sekali.
"Ada yang tidak beres!" Bisik Li Junjie kepada Hu Liena.
Hu Liena mengangguk, lalu kembali menoleh ke arah Qian Yingzhi dan berbicara dengan serius.
"Kami akan menyelidiki tentang kebenaran berita yang kau ucapkan. Untuk sementara waktu, kami harus menahanmu dulu. Setelah semuanya jelas, dan terbukti jika ucapan itu benar. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk membantumu. Tapi jika ucapanmu adalah sebuah kebohongan, maka kami tidak akan segan untuk memberikanmu hukuman karena telah berani memasuki kerajaan kami tanpa ijin." Hu Liena berkata dengan penuh wibawa dan juga keagungan.
Hu Boqin semakin merasa bangga dengan sikap Putrinya yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Bukan hanya tegas, Putrinya juga menjadi sosok gadis yang pemberani.
__ADS_1