
Pangeran Yu Zemin yang selalu menatap ke arah Hu Liena. Di pergoki langsung oleh Li Junjie yang sekarang menatap tajam ke arahnya.
Putri Jia Li yang merasakan tatapan tajam Li Junjie, langsung memperingatkan Kakaknya yang terus memandangi Hu Liena.
"Kakak! Jangan terus menatap Putri Xia, itu tidak baik!" Kata Putri Jia Li yang sedikit panik.
"Bagaimana bisa, menatap gadis cantik di bilang tidak baik?" Balas Pangeran Yu Zemin dengan santainya.
Putri Jia Li tidak lagi berbicara, dia lebih memilih menundukkan kepala, agar terhindar dari tatapan membunuh Li Junjie.
Setelah Hu Liena kembali ke tempat duduknya, Li Junjie berdiri dan langsung duduk di sebelah Hu Liena.
Li Junjie ingin menutupi keberadaan Hu Liena dari pandangan Pangeran Yu Zemin yang tidak sopan menurutnya.
Hu Liena terheran, dengan sikap Li Junjie yang memilih duduk bersamanya.
"Ish, Pangeran! Mengapa kau malah duduk di sini? Cepat pindah sana!" Bisik Hu Liena kepada Li Junjie yang malah dengan sengaja semakin dekat duduk dengannya.
Hu Liena memandang berkeliling, karena takut menjadi bahan pergunjingan orang-orang.
Namun terlambat, semua orang bahkan sudah menatap ke arah mereka berdua sekarang.
Bukan hanya jadi bahan gunjingan, orang-orang malah menjadikan mereka sebagai tontonan.
Sementara Kaisar dan Permaisuri, hanya tersenyum melihat tingkah Putra Pertama mereka.
"Istriku! Lihat Putra Pertama kita, romantis sekali 'kan?" Bisik Kaisar kepada Istrinya.
permaisuri hanya membalas Kaisar dengan senyuman lembut di bibirnya.
Dia terlihat menikmati pemandangan indah di hadapannya ini. Seandainya Permaisuri bisa memilih, dia ingin terus melihat Putra Pertamanya terus hidup dan berbahagia selamanya.
Ya Dewa! Semoga Putraku akan hidup lebih lama lagi, batin Permaisuri.
Di saat-saat seperti ini, Permaisuri menjadi bersedih hati mengingat tentang kehidupan Putra Pertamanya yang terkena racun sedari kecilnya.
__ADS_1
Di kursi dekat Kaisar, Putri Li Jiang kini sedang merengek kepada Li Jing Sheng perihal Li Junjie yang duduk berdekatan dengan Hu Liena.
"Kakak Kedua! Lihatlah Kakak Pertama kita! Bagaimana bisa dia duduk dengan Kakak Ipar, sementara kita tidak boleh mendekat ke arahnya."
Putri Li Jiang juga sebenarnya ingin duduk bersama Hu Liena, tapi tidak di perbolehkan oleh Kakaknya, Li Junjie.
Sementara Li Junjie, pihak yang sedang di gunjingkan semua orang, terlihat cuek dan tidak mendengarkan bisikan dari sana-sini.
Dia malah dengan sengaja semakin mendekatkan dirinya dengan Hu Liena, dan semakin mengumbar kemesraan di hadapan banyak orang.
"Pangeran! Jangan seperti ini! Ingat, ini adalah jamuan Istana. Setidaknya, anda menjaga wibawa sebagai seorang Pangeran. Jangan terlalu dekat, kau membuatku risih saja." Tegur Hu Liena yang merasa tidak nyaman karena terlalu menempel duduknya dengan Li Junjie.
"Apa kau lebih senang mengendap-endap masuk ke dalam kamarku? Lebih risih mana, dekat di hadapan banyak orang, atau menyelinap masuk ke kamar pribadiku?" Kata Li Junjie yang membuat Hu Liena langsung terdiam.
Melihat Hu Liena yang berubah patuh, Li Junjie langsung melancarkan aksinya.
Dia dengan sengaja meraih tangan Hu Liena untuk di genggam dan kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi. Sehingga orang-orang dapat melihat apa yang sedang di lakukannya.
Seakan-akan Li Junjie ingin mempertontonkan kemesraannya bersama Hu Liena, dan juga agar semua orang tahu, jika Hu Liena adalah miliknya yang tak boleh di ganggu oleh siapapun.
Hu Liena ingin menolak dengan menarik paksa tangannya. Namun genggaman tangan Li Junjie semakin erat, sehingga Hu Liena harus pasrah membiarkan tangannya berada dalam genggaman Li Junjie.
Pandangan mata Yu Zemin yang sedari tadi tertuju kepada Hu Liena, harus bertemu pandang, dengan tatapan Li Junjie yang mematikan.
Keduanya saling menatap tajam satu sama lain. Dan bila tatapan bisa membunuh seseorang, mungkin saja antara Li Junjie dan Yu Zemin sudah mati berkali-kali karena tatapan mereka tersebut.
Tatapannya sama-sama tajam, dan sama-sama tidak mau mengalah.
Di samping Yu Zemin, Putri Jia Li semakin ketakutan melihat perang mata antara Pangeran nomor satu di Negara Ying, dengan Kakaknya yang semakin sengit.
Dia langsung menundukkan kepalanya agar terhindar dari percikan api kemarahan dari kedua pria tampan tersebut.
Ya Dewa! Tolonglah segera akhiri pesta perjamuan ini sebelum aku mati berdiri karena ketakutan, batin Putri Jia Li.
Tepat pada saat itu, terdengar suara Kasim yang bergema di seluruh Aula perjamuan.
__ADS_1
"Untuk menyambut tamu penting dari Negara Qian, Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri, telah sepakat mengadakan pertandingan. Para Putra dan Putri bangsawan yang masih belum memiliki pasangan, boleh ikut serta dalam pertandingan ini. Yang Mulia Kaisar sendiri, akan bertindak sebagai juri, di pertandingan Putra. Dan Permaisuri Shu, akan bertindak sebagai juri, di pertandingan Putri."
Pengumuman itu di sambut baik oleh para tamu undangan. Apalagi, para Putra dan Putri bangsawan menyambut kabar ini dengan suka cita.
"Aku akan menampilkan tarian terbaikku hari ini!" Ucap seorang Putri bangsawan kepada teman sebayanya.
"Aku akan membaca puisi untuk Pangeran tampan itu ...," Ucap satunya lagi yang duduk di bangku paling belakang.
Semua Putri bangsawan berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian dari Pangeran Yu Zemin.
Dan para Putra, berlomba-lomba mendapatkan perhatian dari Putri Li Jiang dan Putri Jia Li yang sama-sama tampil cantik hari ini.
Sebenarnya, gadis paling cantik yang berada di jamuan Istana Kaisar ini adalah Putri Xia. Namun di karenakan Putri Xia adalah milik Pangeran Jun, jadi tidak ada yang berani menargetkannya.
Untuk penampilan yang pertama, adalah Putri dari Menteri departemen ritus.
"Hormat hamba Yang Mulia Kaisar! Hormat hamba Yang Mulia Permaisuri!"
"Siapa namamu, Nona?" Tanya Permaisuri lembut.
"Jawab Permaisuri, nama hamba Mingmey." Balas Mingmey sopan.
Permaisuri mengangguk, lalu mempersilahkan Mingmey untuk tampil.
Mingmey membawakan tarian tradisional di daerah asal orangtuanya, tarian ini sangat indah, dengan gerakan tubuh yang meliuk-liuk di atas panggung.
Semua orang bersorak dan bertepuk tangan!
Penampilan Putri Menteri departemen ritus itu telah memukau banyak orang.
Ada juga orang yang berbisik mencemooh penampilannya. Namun lebih banyak orang yang mendukung daripada yang menghujatnya.
"Lihat! Gerakannya biasa saja, terlihat seperti amatir yang sedang menari. Berani sekali dia menampilkan tarian jelek seperti itu di hadapan Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri." Maki seorang Nyonya dari keluarga bangsawan, dia terus-menerus mengucapkan ucapan makian kepada Mingmey karena merasa Putrinya akan jauh lebih bagus ketika melakukannya.
"Apanya yang amatir? Putriku terlihat cantik begitu menari, dan semua orang juga menyukainya." Balas Ibunya Mingmey yang bernama Shasuang.
__ADS_1