Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
164. Sudah di makamkan!


__ADS_3

"Tidak apa-apa, Ayah. Aku hanya merindukan kebersamaan kita sewaktu dulu, ketika kita masih berkumpul bersama dengan Ibu." jawab Hu Liena yang membuat Hu Boqin menjadi terpukul.


Sewaktu Lilian masih ada, memang mereka bertiga hidup dengan berbahagia hingga akhirnya kebahagiaan mereka sirna seiring dengan meninggalnya sang Istri tercinta. Bahkan Hu Boqin malah mengabaikan Putri kandungnya tersebut, hanya karena keegoisannya sendiri waktu itu.


Kini, Hu Liena malah tiba-tiba menyinggung akan hal yang telah berusaha Hu Boqin pendam. Sungguh sangat membuat hatinya merasa terluka!


Terluka, karena pernah memperlakukan Hu Liena dengan tidak adil dan semena-mena.


"Karena sekarang menantuku sudah sadarkan diri, bagaimana jika kita semua membiarkannya untuk makan terlebih dahulu?!" ucap Kaisar Li Jinhai akhirnya membuka suara untuk memecah kecanggungan yang ada.


"Anda benar, Yang Mulia! Tubuh Putri perlu asupan makanan, agar dia tidak merasa lemas lagi." imbuh Tabib Hong sambil menganggukkan kepalanya.


Tanpa panjang lebar, Li Junjie langsung menjentikkan jarinya dan beberapa pelayan langsung datang berderet membawakan bermacam-macam menu hidangan.


"Silahkan Yang Mulia Putri!" ucap salah seorang pelayan yang mengulurkan tangan ke arah Hu Liena berniat untuk memapahnya menuruni ranjang.


"Biar aku saja!" tukas Li Junjie sambil melambaikan tangannya kepada si pelayan yang langsung menarik kembali tangan yang sudah terulur ke arah Hu Liena.


Setelah selesai makan, Hu Liena di minta untuk kembali naik ke tempat tidur dan melanjutkan waktu istirahatnya. Sementara itu, semua orang mulai membubarkan diri satu per satu karena hari juga sudah semakin larut.


"Pangeran, bagaimana dengan jenazahnya Kakak tiriku?" tanya Hu Liena saat dirinya sudah hanya berdua dengan Li Junjie.


"Sudah di makamkan." jawab Li Junjie datar.


Hu Liena menghela nafas lega, setidaknya Xiulin di perlakukan layak setelah dia meninggal. Rasa dendam di hati Hu Liena sudah sepenuhnya menghilang seiring dengan tewasnya Xiulin di meja penghukuman hari ini.


Xiulin sudah mendapatkan hukuman yang setimpal atas semua perbuatannya di masa lalu. Entah itu di kehidupan yang sekarang, atau kehidupan pertama Hu Liena yang juga nama dan wajah Xiulin yang berperan aktif sebagai orang yang pernah ataupun sering mencelakai Hu Liena.


Melihat Hu Liena yang jauh lebih tenang, Li Junjie merasa dirinya sangat senang sekali. Sudah sejak tadi siang dia merasa gelisah karena takut terjadi apa-apa dengan calon Istrinya tersebut. Namun sekarang, semua kegelisahannya sirna seiring dengan kembalinya senyuman manis di wajah Hu Liena yang membuat hatinya merasa tenang setenang air danau yang indah.

__ADS_1


"Sekarang kau tidurlah, Putri. Jangan khawatir, aku akan tetap menjagamu di sini." ucap Li Junjie sambil mengusap pucuk kepalanya Hu Liena.


Setelah memastikan jika Hu Liena sudah tertidur pulas, Li Junjie lalu membenarkan posisi duduknya sendiri agar terasa nyaman saat menemani sang pujaan hati di sana.


Tak terasa, malam 'pun cepat berlalu dan langit yang gelap kini telah di gantikan dengan indahnya mentari pagi yang menyinari bumi.


Hu Liena langsung membuka mata saat merasakan hangatnya sinar sang mentari memasuki celah kamarnya. Hal yang pertama Hu Liena lihat adalah senyuman manis dari Li Junjie yang merekah indah menyambut dirinya.


"Selamat pagi!" sapa Li Junjie.


Hu Liena balas tersenyum dan mengangguk pelan lalu bergegas bangkit dari tempat tidurnya.


"Selamat pagi juga untukmu, Pangeran." balas Hu Liena sambil menggerakkan kakinya menuruni ranjang yang sudah seharian kemarin menjadi tempatnya untuk beristirahat hingga pagi ini.


"Bagaimana keadaanmu, Putri?" tanya Li Junjie sambil memapah Hu Liena untuk duduk di kursi.


Li Junjie duduk di samping Hu Liena lalu menuangkan secangkir teh hangat untuk calon Istrinya tersebut.


"Minumlah! Setelah kau merasa lebih santai, aku akan meminta pelayan untuk membantumu membersihkan diri." ucap Li Junjie yang di balas anggukkan kepala oleh Hu Liena.


Beberapa saat kemudian, Luqiu datang bersama dengan para pelayan yang akan membantunya untuk mengurus kebutuhan Hu Liena.


Li Junjie juga sudah berpamitan sesaat setelah Hu Liena menghabiskan secangkir teh yang di buatnya.


"Putri, aku sangat cemas sekali dengan keadaan anda kemarin." ucap Luqiu di sela-sela aktivitasnya.


"Apa yang perlu kau khawatirkan, kau lihat 'kan, jika aku baik-baik saja sekarang." jawab Hu Liena.


Luqiu mengangguk, Hu Liena memang terlihat bugar hari ini tidak seperti kemarin yang keadaannya sangat memprihatinkan.

__ADS_1


Meskipun begitu, Luqiu tetap mencemaskan keadaan majikannya tersebut.


Karena dia sempat mendengar percakapan antara Tabib Hong dan juga Pangeran Jun yang menyebutkan Hu Liena kembali koma saat dirinya secara tidak sengaja melewati kamar tersebut.


"Putri, jika boleh tahu, apa yang membuatmu kemarin berada dalam kondisi vegetatif?" tanya Luqiu yang tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Eh, apa ada hal seperti itu?" balik tanya Hu Liena yang terkejut dengan kenyataan tentang kondisinya.


Luqiu menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia merasa canggung karena menyinggung masalah yang begitu sensitif. mungkin majikannya terkejut karena Pangeran Jun tidak memberitahunya masalah ini, dan sekarang, dia malah menanyakannya secara langsung.


"Putri, maafkan aku karena telah lancang menanyakan hal ini padamu." ucap Luiqu dengan tampang resah.


Hu Liena melambaikan tangan ke arah Luqiu, jika bukan karena pelayan setianya tersebut. Mungkin Hu Liena juga tidak akan pernah tahu tentang kondisi yang terjadi sebenarnya kemarin.


Hu Liena berpikir, jika pertemuannya dengan pemilik tubuh aslinya tersebut hanya di dalam mimpi. Tak di sangka, semuanya terjadi saat dirinya berada dalam kondisi vegetatif atau koma.


Mengingat akan hal itu, Hu Liena langsung terbayang wajah Li Junjie yang menjaganya semalaman.


Pantas saja Li Junjie tidak ingin beranjak dari kamarnya. Mungkin saja Li Junjie merasa takut, jika akan terjadi sesuatu yang serius menimpanya.


"Luqiu, aku ingin kau menyerahkan ramuan ini kepada Pangeran Jun. Bilang, jika dia harus meminumnya setelah sarapan!" titah Hu Liena sambil menyodorkan botol kaca berisi ramuan herbal untuk Li Junjie.


"Baik, Putri. Saya akan segera pergi kesana sekarang!" balas Luqiu lalu bergegas pergi setelah menerima botol kaca tersebut.


Setelah kepergian Luqiu, Hu Liena tertegun di tempatnya. Dia berusaha mengingat semua yang telah terjadi hari kemarin, sesaat sebelum dirinya terjatuh pingsan hingga akhirnya di vonis berada dalam kondisi vegetatif oleh Tabib Hong.


Apa yang terjadi sebenarnya dengan diriku? Apa mungkin, pertemuanku dengan Hu Liena yang asli adalah sebuah kebetulan? Atau mungkin, ini semua sudah di gariskan? batin Hu Liena.


Saking asiknya Hu Liena melamun, hingga ia tidak sadar jika di ruangannya telah hadir Putri Li Jiang dan juga Pangeran Jing yang kini tengah menatapnya penuh dengan kebingungan. Karena sejak pertama kali mereka datang, Hu Liena yang di panggil-panggil namanya, bahkan tidak bergeming sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2