Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
170. Ada apa dengan matamu?


__ADS_3

Sampai punggung Hu Liena tak terlihat lagi, Guotin masih saja terus memikirkan tentang perubahan air muka sepasang sejoli tersebut.


Guotin khawatir, jika keduanya mengalami masuk angin karena terlalu lama bermain air di tempat yang sebelumnya mereka datangi.


Akan sangat tidak bagus untuk kedua majikannya tersebut, karena sebentar lagi mereka berdua akan melangsungkan pernikahan yang mungkin mengharuskan mereka untuk tetap bugar dan juga sehat luar dan juga dalam.


"Apa yang kau lakukan di sana?" teriak Li Junjie kepada Guotin yang masih saja menatap ke arah kepergian Hu Liena.


Guotin tergagap, dia tidak menyangka jika Pangeran Jun akan menegurnya. "Tidak, tidak ada, Pangeran." jawabnya gugup.


"Kalau begitu, ayo cepat pergi!" perintah Li Junjie sambil menutup tirai kereta kasar.


Di dalam kereta, Li Junjie bersungut-sungut sendiri karena prilaku Guotin yang menurutnya lancang.


Bisa-bisanya pengawal pribadinya tersebut menatap lekat punggung calon Istrinya.


Apa yang dia pikirkan?


Apa Guotin berpikir untuk merebut Putri Xia darinya? Tidak! Tidak akan dia biarkan!


Dan untuk membalas kelakuan Guotin, Li Junjie berniat untuk mempersulitnya beberapa waktu ke depan.


"Pangeran Jun telah tiba." teriak prajurit yang bertugas berjaga di pintu gerbang.


Saat kereta mulai berjalan memasuki kediaman, Li Junjie membuka tirai dan mulai bersuara memberi perintah.


"Guotin! Cepat pergi ke Istana, dan beritahu Putri Jiang untuk menemuiku sekarang."


"Baik, Pangeran." jawab Guotin sambil dirinya memberi hormat dan bersiap pergi.


"Tunggu!" cegah Li Junjie.


Guotin berbalik, "Hamba, Pangeran!" jawabnya dengan patuh.


"Aku ingin kau mencarikanku ginseng panax noto berusia ribuan tahun. Ginseng itu ingin aku berikan kepada Putri Xia, sebagai hadiah pernikahan. Dan kau, harus membawakannya untukku secepatnya." perintah Li Junjie.

__ADS_1


Entah kenapa, Guotin merinding setelah mendengar perintah majikannya tersebut.


"Ginseng panax noto? Di mana hamba harus mencarinya, Pangeran?'' tanya Guotin dengan wajah penuh dengan kebingungan.


Pasalnya, baru kali ini Guotin mendengar perihal nama ginseng yang di sebutkan oleh majikannya barusan.


Lagipula, untuk apa sang Pangeran memberikan ginseng tersebut kepada Putri Xia? Bukankah sebagai orang yang mempunyai jabatan tinggi di suatu Negara bisa memberikan segala sesuatu yang mahal untuk hadiah, mengapa harus sebuah ginseng berusia ribuan tahun? Apalagi, nama ginseng tersebut sangatlah asing baginya.


Guotin menebak, jika pekerjaannya saat ini akan sangat sulit untuk di lakukan.


Diam-diam, Li Junjie menyeringai jahat begitu melihat raut kebingungan di wajah pria yang sudah sejak lama menjadi pengawal kepercayaannya tersebut.


"Itu tugasmu untuk mencari tahu," ucapnya singkat sambil kembali menutup tirai. "Jalan!" lanjut Li Junjie kepada Kusir kereta.


Guotin masih berdiri dengan kebingungan, meskipun begitu, Guotin tetap bertekad untuk menjalankan perintah dengan sebaik-baiknya.


Di dalam kereta kuda, Li Junjie tersenyum smirk mengingat ekspresi Guotin yang tampak rumit.


"Rasakan itu Guotin! Berani-beraninya kau menatap calon Istriku terlalu lama. Cihh, menyebalkan!" ujar Li Junjie di iringi dengan kilatan hitam di kedua matanya yang dingin.


Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak, batin Guotin.


Setelah menenangkan hatinya, Guotin kembali melanjutkan perjalanan meskipun pikirannya kini di hantui oleh perasaan yang sulit untuk di jabarkan.


Di tempat lain, tepatnya di kediaman Perdana Menteri yang baru. Hu Liena kini tengah duduk di temani oleh Hu Boqin di depan sebuah meja yang menyajikan berbagai macam camilan di atasnya.


"Ini Putriku, makanlah." ucap Hu Boqin sambil menyimpan beberapa potong kue di hadapan Hu Liena yang langsung menyambutnya dengan senang hati. "Terima kasih, Ayah."


"Ayah senang, Pangeran Jun memperlakukanmu dengan sangat baik." ujar Hu Boqin sambil menghela nafas panjang.


Tampak penyesalan di raut wajah tuanya Hu Boqin. Selama ini, dia sudah menelantarkan Putri kandungnya sendiri karena telah terhasut oleh rayuan Yueqin dan juga Xiulin.


"Aku juga senang, akhirnya Ayah bisa memperlakukanku dengan baik." balas Hu Liena yang membuat hati Hu Boqin merasa terhiris setelah mendengarnya. "Maafkan Ayah, Nak." ujarnya tertunduk lesu.


"Ayah tidak bersalah, jadi tidak perlu meminta maaf. Ini semua sudah jalan hidupku," balas Hu Liena lalu mengangkat sumpit memasukkan kue ke mulutnya.

__ADS_1


Diam-diam, dalam hati Hu Liena berkata. "Jika bukan karena di terlantarkan olehmu, maka jiwaku tidak akan bisa berada di tempat ini sekarang."


Mata Hu Boqin berkaca-kaca, "Ayah sudah membuatmu menderita, bagaimana bisa, Ayah bisa memaafkan diri Ayah sendiri?"


Setelah mengatakannya, Hu Boqin tiba-tiba jatuh berlutut di hadapan Hu Liena. "Maafkan Ayah, Ayah sangat menyesal." ucapnya.


Hu Liena terkejut lalu bangkit mengangkat bahu sang Perdana Menteri yang menjadi Ayah di kehidupan keduanya.


"Tidak, Ayah. Anda tidak boleh seperti ini, ayo kembali duduk, dan lupakan permasalahan di masa lalu. Mari kita lupakan, dan memulai hidup dengan lebih baik." ucapan Hu Liena sekali lagi membuat Hu Boqin merasa terharu. Putri yang selama ini dia abaikan, ternyata memiliki hati yang tulus dan juga bersih. Bahkan, dia rela melupakan semua kesalahannya di masa lampau tanpa meminta sarat apapun juga kepadanya.


"Baik, Ayah akan melupakan semuanya. Ayah berjanji, akan selalu menjagamu sampai akhir hayat Ayah nanti." ucap Hu Boqin penuh keyakina yang di balas senyuman manis oleh sang Putri, Hu Liena.


"Sekarang Ayah duduklah, kita nikmati camilan ini bersama." pinta Hu Liena.


Hu Boqin mengangguk, dia menuruti permintaan Hu Liena dan kembali duduk di tempatnya semula.


Kebersamaan mereka berdua kini tampak harmonis, bahkan Changing dan juga Luqiu yang menyaksikan kejadian langka ini menjadi terharu sekaligus sedih secara bersamaan.


Bukan tanpa alasan mereka merasakan demikian. Sudah sejak lama hubungan Ayah dan Anak ini tidak terlalu baik, bahkan bisa di katakan tidak pernah bertegur sapa atau duduk satu meja seperti sekarang.


Perdana Menteri cenderung selalu abai kepada Putri kandungnya tersebut. Berbanding terbalik dengan perlakuannya kepada Putri sambungnya Xiulin, yang di perlakukan bak Putri kerajaan.


Hu Boqin, bahkan tidak pernah sama sekali menanyakan kabar tentang Hu Liena. Meskipun, Putri kandungnya tersebut sedang dalam kondisi sakit parah. Tidak, tidak sekalipun Hu Boqin peduli.


Tapi hari ini, saat ini, hubungan keduanya begitu hangat, hingga membuat beberapa orang yang berada di ruangan tersebut tak ayal menitikkan airmata karena merasa tersentuh. Tak terkecuali Changing dan juga Luqiu tentunya, mata mereka berdua kini telah basah oleh airmata.


Di tempat tersembunyi, Wang Wey mengusap kedua matanya yang terasa perih.


"Ada apa dengan matamu? Apa ada debu yang terbang? Ataukah, kamu sedang mengalami masalah percintaan?" tanya Wang Shu heran namun malah mendapat teguran keras dari saudaranya sendiri.


"Diam saja kau, Shu! Apa urusanmu mengurusi mataku?" sungut Wang Wey yang membuat Wang Shu mengendikkan bahu.


"Baiklah, aku minta maaf, jika pertanyaanku mengganggu perasaanmu. Aku hanya takut kamu seperti mereka berdua, mengeluarkan airmata karena menangis. Padahal ini moment yang sangat indah, tapi mereka malah bersedih." ujar Wang Shu yang membuat Wang Wen semakin murka.


"Diam, Shu!"

__ADS_1


__ADS_2