Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
147. Yueqin dan Xiulin kembali di tertangkap.


__ADS_3

Li Junjie dan Qian Yingzhi saling bertukar pandangan melihat reaksi Hu Liena yang menurut mereka tidak wajar.


Memangnya, pertunjukan seperti apa ayang akan terjadi di tempat pemandian seperti itu?


Jangan bilang jika Hu Liena ingin mereka melihat adegan di mana Yueqin dan Putrinya sedang mandi.


Membayangkannya saja Li Junjie bergidik ngeri, jika harus melakukan tindakan yang tidak terpuji tersebut


Seandainya bisa, Li Junjie akan mundur dan menunggu di tempat lain saja. Namun dia terlalu mengkhawatirkan keselamatan Hu Liena saat ini, hingga tidak bisa berpikir tentang hal yang lainnya.


Mau tidak mau, siap tidak siap, Li Junjie dan Qian Yingzhi harus kuat menghadapi kenyataan yang akan di hadapinya sebentar lagi.


"Ada apa dengan ekspresi kalian berdua, Pangeran?" tanya Hu Liena heran dengan raut wajah dua orang di dekatnya.


Li Junjie bersiap membuka mulut untuk mengungkapkan perasaannya. Namun segera, dia mengurungkan niatnya tersebut. Karena mendengar suara derap kaki yang menuju ke arah tempat mereka berada saat ini.


"Mereka sudah datang!" bisik Hu Liena sambil membenarkan posisinya di tempat persembunyian.


"Silahkan, Yang Mulia!" ucap salah seorang pelayan yang mengantarkan rombongan Kaisar dan juga calon Selirnya, yaitu Yueqin.


Setelah memasuki area pemandian, para pelayan yang tadi berjalan beriringan, kini telah keluar dan hanya berdiri di depan pintu untuk berjaga-jaga.


"Yang Mulia, apa kau yakin ingin mandi secara terpisah?" tanya Yueqin dengan manja.


Hu Liena yang berada di balik tempat persembunyian, merasa mual mendengarkan perkataan mantan Ibu Tirinya tersebut.


"Kau harus lebih banyak belajar padanya." bisik Li Junjie yang membuat Hu Liena menyikut perutnya.


"Aduhh!" rintih Li Junjie.


Pangeran Qian Yingzhi yang menyaksikan kejadian ini, hanya tersipu malu di sebelah Hu Liena.


"Apa anda ingin, aku bersifat murahan seperti Bibi Yueqin?" cibir Hu Liena sambil memicingkan mata.


"Ah, tidak! Bukan seperti itu maksudku, Putri!" kilah Li Junjie dengan wajah yang bersemu merah.


"Kita akan segera ketahuan, jika anda berdua masih bersikap kekanak-kanakan." ucap Pangeran Qian Yingzhi yang membuat kedua orang yang sedang berdebat menjadi terdiam.


Di area pemandian, Yueqin yang sudah di tinggal berdua bersama Putrinya oleh Kaisar, telah bersiap untuk menanggalkan pakaiannya.


Namun gerakannya terhenti seketika, karena melihat Xiulin masih berdiam diri di tempatnya.


"Xiulin! Ayo cepat, tanggalkan pakaianmu." perintah Yueqin kepada Putrinya.

__ADS_1


"Ibu, entah kenapa hatiku merasa tidak enak." ucap Xiulin dengan nada khawatir.


Huh, dasar sok peka! batin Hu Liena.


Dirinya mendelikkan mata, menatap punggung Xiulin dengan tajamnya.


"Putri, aku curiga saat ini kau sedang menyumpahi Kakak Tirimu." bisik Li Junjie berusaha menggoda Hu Liena.


"Huh, tidak penting menyumpahinya. Bukankah sudah jelas, tanpa harus di sumpahi 'pun, Kakak Tiriku yang jahat itu pasti akan mendapatkan hukuman." balas Hu Liena sinis.


Meskipun begitu, tidak dapat di pungkiri jika dia sedikit kesal karena Yueqin dan Putrinya tak kunjung juga memasuki kolam pemandian.


Li Junjie menggendikkan bahu, tanpa berkata apapun lagi. Memang, semua yang di ucapkan Hu Liena benar adanya. Jika Yueqin dan Putrinya tertangkap, otomatis mereka akan segera di berikan hukuman yang sangat berat karena telah berani bersekutu dengan pemberontak, lalu melarikan diri dari penjara. Dua kesalahan yang tidak bisa termaafkan, dan mungkin akan mendapatkan hukuman mati sesuai peraturan dari pemerintahan.


Xiulin sekarang mulai bergerak, membuka pakaian bagian luar, dan hanya menyisakan pakaian dalam yang menutupi tubuhnya.


Li Junjie dan Qian Yingzhi yang melihat hal itu, mengalihkan pandangan mereka ke tempat lain.


Bagi mereka, sangat canggung berada di suasana seperti ini.


Hu Liena berdecak sebal, bukan karena dia merasa cemburu melihat reaksi Li Junjie yang menurutnya terlalu berlebihan.


Di dunia modern tempat hidupnya dulu, para wanita sudah terbiasa berenang di tempat terbuka dengan hanya menggunakan bikini saja.


"Basuh mukamu, Xiulin! Ibu susah payah membawamu ke tempat ini, jangan sampai kau menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata." titah Yueqin yang di balas anggukkan oleh Putrinya sendiri.


Pangeran Qian Yingzhi, yang baru pertama melihat rupa Xiulin, bergidik ngeri ketika tanpa sengaja sudut matanya melihat wajah penuh nanah saat cadar mulai di turunkan.


"Apa yang ...," ucap Pangeran Qian Yingzhi yang langsung di potong kata-katanya oleh Hu Liena.


"Wajahnya itu terkena kutukan, karena sering menjahati orang lain." tukas Hu Liena.


Li Junjie hanya menggelengkan kepala ketika mendengar ucapan Hu Liena. Bisa-bisanya calon Istrinya tersebut berkata tentang kutukan, padahal kenyataannya, dia sendirilah yang telah menyebabkan kerusakan di wajahnya Xiulin.


"Bu, wajahku mulai gatal." ucap Xiulin saat baru membasuh wajahnya dengan air.


"Busa jadi itu reaksi alami mata air murni, untuk menyembuhkan luka-lukamu." Yueqin justru merasa bersemangat ketika mendengar ungkapan Putrinya.


Beberapa hari terakhir, Yueqin sering mencari tahu tentang khasiat mata air murni kepada para pelayan yang di tugaskan untuk melayaninya oleh Kaisar.


Para pelayan bilang, jika kegunaan mata air murni, selain untuk menambah kecantikan, bisa juga di gunakan untuk pengobatan kulit yang terkena infeksi seperti Putrinya.


Sayangnya, orang biasa tidak memiliki akses untuk memasuki kawasan bukit Wuya. Seandainya bisa, mungkin sudah banyak orang, yang berbondong-bondong kesana untuk mengobati penyakit kulit mereka dan perawatan kecantikan bagi para wanita.

__ADS_1


Yueqin melakukan hal yang sama dengan Putrinya. Dia mulai membasahi tangan, lalu sedikit memercikkan air ke wajahnya.


"Segar!" cetusnya.


Xiulin juga yang masih merasa percaya dengan berita yang beredar, tentang khasiat mata air murni. Kali ini, dia membenamkan seluruh tubuhnya di kolam pemandian. "Ibu, kemarilah!" ajaknya.


Yueqin mengangguk, lalu berjalan memasuki kedalaman kolam dan berendam bersama Putrinya.


Beberapa saat 'pun berlalu, tidak terjadi apa-apa kepada mereka berdua selama di dalam kolam.


Hu Liena mulai menghitung mundur, dan bersiap dengan obat anestesi di tangannya.


"Yang Mulia, sebentar lagi ritual mandinya akan selesai." teriak pelayan perempuan dari arah luar.


Yueqin tidak menjawab, dia lalu mengajak Putrinya untuk keluar dari kolam.


Xiulin berjalan dan berniat meraih kain untuk mengeringkan tubuhnya. Namun, pergerakannya tertahan karena seketika tubuhnya terasa gatal-gatal hingga timbul bintik-bintik merah di permukaan seluruh kulitnya.


Yueqin juga sama, kaki dan tangannya kini timbul bercak-bercak merah dengan sensasi gatal yang sangat menyiksa.


"Ibu, lihat!" Xiulin menunjukkan kulit tangannya yang di penuhi bentol-bentol kecil.


"Ibu juga sama!" Yueqin juga menunjukkan kaki dan tangannya kepada sang Putri.


"Bagai ...,"


Shuuttt!


Saat Yueqin ingin menarik kembali tangannya, sebuah jarum suntik sudah terlebih dahulu menancap pergelangan tangannya.


"Ibu!" pekik Xiulin.


Shuuttt!


Jarum kedua terbang, dan melesat langsung menebus kulit Xiulin di bagian pahanya.


Xiulin terkulai lemas, setelah beberapa detik terkena serangan jarum. Begitu pula dengan Yueqin, yang saat ini sudah tergeletak dengan pakaian yang masih basah di lantai.


"Ayo, kita bawa mereka!" ajak Hu Liena sambil beranjak dari tempatnya.


Setelah tubuh keduanya di tutupi kain terlebih dahulu, Hu Liena meminta Li Junjie dan Qian Yingzhi memegangi masing-masing tangan mereka.


Wuusshhh!

__ADS_1


Tubuh mereka berlima langsung menghilang setelah Hu Liena membawa mereka semua memasuki ruangan dimensi rahasia.


__ADS_2