
Selang beberapa jam, Tabib Hong kembali memasuki kamar Hu Liena untuk memeriksakan keadaannya.
"Bagaimana?" tanya Hu Boqin yang kebetulan ikut ke ruangan Putrinya.
"Kondisi Putri anda sangat baik, suhu tubuhnya juga sudah stabil." jawab Tabib Hong setelah memeriksa denyut nadi Hu Liena.
Hu Boqin menghela nafas lega, kekhawatiran yang sedari tadi menghantui dirinya perlahan menghilang.
"Syukurlah, jika Putriku baik-baik saja." ucap Hu Boqin penuh kelegaan.
"Bagaimana kondisi Menantuku saat ini, Tabib?"
"Iya, bagaimana kesehatan Kakak Ipar? Apa dia baik?"
Kaisar Li Jinhai dan Pangeran Jing, langsung menyerbu ke dalam kamar, dan mencecar Tabib Hong dengan banyak pertanyaan.
"Kondisinya bahkan lebih baik, dari perkiraan hamba, Yang Mulia." jawab Tabib Hong sopan.
Kaisar Li Jinhai mengangguk puas setelah mendengar jawaban Tabib Hong.
Sementara Pangeran Jing, dia membuang nafas kasar setelah kecemasannya ternyata hanyalah sia-sia belaka.
"Sudah 'ku duga, Kakak Ipar pasti akan bisa melaluinya." ucap Li Jing Sheng yang juga di dukung oleh Kaisar Li Jinhai.
"Kau benar, Menantuku memiliki tekad dan jiwa yang kuat. Luka sedikit saja, tidak akan berpengaruh padanya." imbuh Kaisar Li Jinhai bangga.
"Kalian jangan lupa, jika yang sedang kalian bicarakan adalah calon Putri Mahkota. Bagaimana mungkin, seorang calon Putri Mahkota kerajaan dinasti Ying memiliki tubuh yang lemah? Tentu saja, jawabannya adalah tidak! Bukankah begitu, Cucuku?" Ibu Suri datang bersama dengan Permaisuri dan juga Li Junjie untuk menjenguk Hu Liena.
Kaisar Li Jinhai tersenyum bangga, Ibu Suri memang tidak salah. Calon menantunya tersebut memang sangatlah kuat, dan juga pemberani.
Jika tidak, bagaimana mungkin Putra-Putrinya akan lolos ketika menyelinap ke kerajaan Wuya beberapa waktu yang lalu.
Bukan hanya itu saja, Kaisar Li Jinhai juga mendengar dari Tabib Hong jika sebenarnya Hu Liena sendirilah yang telah mengeluarkan racun mematikan dari tubuh Putra Pertamanya tersebut.
Oleh sebab itulah, Kaisar Li Jinhai sangat menyayangi Hu Liena, karena memang dia memiliki banyak sekali jasa kepada kerajaan dinasti Ying, dan juga kepada keluarga Istana. Dan yang lebih penting, Hu Liena sangat berjasa atas kesembuhan Putranya Li Junjie hingga ia tidak perlu lagi merasa risau akan kehilangan Putra yang paling berbakat di kerajaan miliknya tersebut.
"Semua yang di ucapkan Nenek sangatlah benar, Putri Xia tidak mungkin memiliki pisik dan jiwa yang lemah. Dia sangat kuat, dan juga pemberani. Aku yakin, itu!" balas Li Junjie penuh kebanggaan.
Di atas tempat tidur, Hu Liena yang mendengar banyak sekali suara orang sedang berbisik, langsung membuka matanya dengan perlahan.
__ADS_1
"Ayah!" lirih Hu Liena.
Sebelum maju, Hu Boqin melirik terlebih dahulu ke arah Kaisar Li Jinhai dan juga Pangeran Jun.
Setelah mendapat persetujuan, barulah dirinya maju untuk menghampiri Hu Liena.
"Ayah di sini, Nak." ucapnya pelan.
"Bisakah kau membantuku untuk bangun?" ucap Hu Liena yang masih terlihat lemah.
Hu Boqin mengangguk, lalu tangannya terulur untuk membantu membangunkan Hu Liena dari tidurnya.
Hu Liena bukannya manja, jahitannya masih terlalu basah, jadi dia belum bisa menopang tubuhnya sendiri sebelum jahitannya benar-benar mengering.
Bisa sia-sia kerja keras Tabib Hong, jika dia tetap memaksakan diri untuk menggunakan kekuatan tangannya yang masih terluka.
"Salam hormat hamba, Yang Mulia Kaisar! Salam hormat hamba Yang Mulia Ibu Suri dan juga Yang Mulia Permaisuri!" ucap Hu Liena saat dirinya sudah berhasil di dudukkan di atas tempat tidur.
"Jangan terlalu banyak bergerak, kau ini sedang terluka. Lebih baik kau berbaring saja, jangan terlalu memaksakan diri untuk menyambut kedatangan kami." cegah Ibu Suri yang nampak cemas setelah melihat wajah pucat pasi calon cucu menantunya tersebut.
"Terima kasih, Yang Mulia Ibu Suri!" jawab Hu Liena dengan patuh.
Namun, Hu Liena tetap mempertahankan posisi duduknya karena merasa sudah cukup untuknya berbaring terus di atas tempat tidur.
Tanpa banyak bicara, Hu Liena lalu meminum obat tersebut dalam sekali teguk.
Kaisar Li Jinhai mengernyit kebingungan, karena obat-obatan yang di berikan Tabib Hong kepada Menantunya, tidak seperti obat yang biasa di racik oleh Tabib Istana pada umumnya.
Biasanya, pil obat yang mereka konsumsi akan berbentuk bulat, dan cenderung memiliki warna yang lebih gelap.
Tidak seperti obat barusan, yang tampak lonjong dan berwarna putih bersih.
Kaisar Li Jinhai berpikir, apa mungkin obat tersebut terbuat dari tepung? Jika iya, tepung apa yang bisa berkhasiat mengobati orang sakit?
Pil obat yang biasa di racik oleh Tabib Istana, berbahan dasar tumbuhan yang memiliki khasiat untuk menyembuhkan, tergantung dari penyakit dan jenis tanaman yang di butuhkan. Biasanya, setelah di racik pil obat tersebut akan tetap berwarna lebih gelap mengikuti warna aslinya.
Tapi ini, sungguh di luar jangkauan pemikiran Kaisar Li Jinhai sendiri.
Namun untuk bertanya, Kaisar Li Jinhai merasa tidak perlu untuk melakukannya sekarang. Dia bisa melakukannya nanti, setelah mereka hanya berdua saja di dalam ruangan.
__ADS_1
"Apa ada yang harus hamba lakukan lagi, Putri?" tanya Tabib Hong yang berubah menjadi lebih hormat kepada Hu Liena melebihi sebelumnya.
Di masa lalu, Tabib Hong hanya memanggil Hu Liena dengan panggilan Nona Hu saja. Bahkan ketika dia mengetahui Hu Liena adalah gadis yabg di ramalkan oleh leluhurnya, Tabib Hong tak pernah sekalipun mengganti nama panggilannya tersebut.
Namun hari ini, setelah dia mempelajari banyak ilmu medis yang di luar akal nalarnya, Tabib Hong langsung paham, jika Hu Liena bukanlah seorang gadis yang sembarangan.
Tabib Hong tidak bisa memanggil namanya seenak dirinya sendiri. Hu Liena sudah jelas-jelas memiliki skill ilmu pengobatan yang jauh lebih tinggi di bandingkan dirinya.
Oleh karena itulah, Tabib Hong memutuskan untuk lebih patuh dan juga lebih menghormati Hu Liena dari biasanya.
Dan jika di perbolehkan, Tabib Hong bahkan ingin memanggil Hu Liena dengan sebutan Guru. Karena memang, Hu Liena lebih pantas di panggil seperti itu olehnya.
"Tidak ada, semuanya baik, Tabib." jawab Hu Liena.
Tabib Hong mundur setelah menerima kembali cangkir yang telah selesai di pergunakan oleh Hu Liena untuk meminum obatnya.
Demi membiarkan Hu Liena bisa lebih leluasa dalam bergerak, Tabib Hong sengaja meminta para pelayan wanita, untuk menambahkan beberapa bantal di sandaran tempat tidurnya.
"Bagaimana? Apa anda merasa nyaman sekarang?"
Hu Liena mengangguk, mengiyakan pertanyaan Tabib Hong. Dia merasa bersyukur, karena tanpa di minta sekalipun Tabib Hong sangat sigap untuk membantunya dalam segala hal.
Luka di bahu yang di deritanya, cukup membuat pergerakan Hu Liena menjadi terbatas. Bukan hanya sekedar robek saja, luka di bahunya juga cukup dalam hingga Hu Liena harus menjalani proses penjahitan yang lumayan rumit.
Untung saja Tabib Hong cepat tanggap ketika di berikan arahan, meskipun sempat beberapa kali hampir berbuat kesalahan. Namun semuanya tetap berjalan lancar, bahkan lebih lancar dari yang dia bayangkan sebelumnya.
"Putriku, karena kau sedang terluka saat ini, Ayah sengaja mengirimkan orang untuk menemanimu selama dalam masa penyembuhan." tutur Hu Boqin yang membuat alis Hu Liena berkerut.
"Ayah! Aku rasa, semua itu tidak perlu di lakukan. Aku hanya terluka sedikit saja, beberapa hari lagi juga pasti akan membaik." tolak Hu Liena tegas.
Ketika Li Junjie mendengar ucapan Hu Liena, ia 'pun bergegas maju dan membujuk Hu Liena agar menerima saran dari calon mertuanya tersebut.
Lagipula, Hu Liena pasti akan merasa senang jika sudah bertemu dengan orang yang di perintahkan oleh Perdana Menteri untuk menemaninya selama dalam masa pemulihan.
"Perdana Menteri berkata benar, kau memang memerlukan orang yang akan berada di sisimu selama dalam penyembuhan."
"Tapi- ...,"
Li Junjie langsung mengangkat tangan, untuk menghentikan ucapan Hu Liena.
__ADS_1
Setelah itu, dia berteriak meminta orang yang di kirimkan khusus untuk Hu Liena segera memasuki kamar tempat mereka berada.
"Putri!" panggil suara perempuan yang baru masuk dari arah pintu.