
Tak di sangka, rencana Liu Ning berhasil dengan sempurna.
Dia bahkan terlebih dahulu memasuki kediaman bangsawan Yue, sebelum Nyonya Yue menikah.
Setelah acara pernikahan di gelar, dan Nyonya Yue memasuki kediaman Suaminya.
Nyonya Yue bahkan harus menderita, karena Liu Ning selalu membuat rencana-rencana jahat untuknya. Bahkan dia juga dengan tega, memfitnah Nyonya Yue beberapa kali selama di sana.
Flashback off...
BRAAKKK...
Pada saat Bibi Ling masih berusaha menahan gerakan majikannya, pintu gudang terbuka lebar karena seseorang mendobraknya dengan paksa.
"Tu-tuan!" Bibi Ling terkejut melihat Tuan Yue datang kesana.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Ucap Tuan Yue dengan tegas.
Dia buru-buru datang kesana karena mendapat surat kaleng dari seseorang, yang memberitahukan keberadaan Liu Ning, selirnya terdahulu.
Bukan karena merasa khawatir, tapi karena Tuan Yue juga mempunyai urusan yang belum terselesaikan.
"Anda sendiri, sedang apa di sini, Tuan? Apa anda mencari perempuanmu yang tercinta ini?" Cibir Nyonya Yue kepada Suaminya.
Bangsawan Yue tidak menjawab, sungguh ia merasa malu dengan Istri resminya ini.
Di masa lalu, dia terlalu mendengarkan ucapan Liu Ning yang selalu membuatnya merasa kesal dengan sang Istri. Hingga dia mengabaikan, dan sering menghukum Istrinya.
Tapi akhirnya sekarang, Bangsawan Yue sangat menyesali perbuatannya di masa lalu. Setelah dia tahu jika semua yang di ucapkan Liu Ning adalah sebuah kebohongan belaka, untuk menjauhkannya dengan sang Istri.
Dan sampai saat ini, Bangsawan Yue merasa tidak pantas untuk berdiri di samping Istrinya itu.
Padahal sedari dulu, Bangsawan Yue sangat menyukai Nyonya Yue muda. Dan merasa bahagia, karena rasa sukanya itu berbuah manis dengan di jodohkannya dia dan Putri Bangsawan Yuan yang sangat dia sukai ketika baru bertemu pertama kali.
"Cepat bawa Nyonya pulang!" Perintah Bangsawan Yue kepada Bibi Ling.
Mau tidak mau, Nyonya Yue harus pergi dari tempat itu menuruti perintah dari sang Suami.
"Tuan, akhirnya anda datang!" Ucap Bibi Kiew lemah.
"Tentu saja aku datang, aku sudah mencarimu ke berbagai penjuru Kota. Tak di sangka, Istriku yang menemukanmu terlebih dahulu!" Balas Bangsawan Yue dingin.
Bibi Kiew atau Liu Ning, sedikit bergidik dengan ucapan mantan Suaminya itu.
Tidak biasanya Bangsawan Yue berbicara dengan sedingin ini kepadanya.
Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?
__ADS_1
Dua pertanyaan itu yang kini berputar-putar di benak Bibi Kiew sekarang.
"Tuan, kau harus membantu Putri kita. Dia saat ini sedang dalam bahaya, Putri Xia dan Pangeran Jun kini sedang menyekap dan menyiksanya. Hanya anda yang bisa menolong Putri kita dari cengkeraman mereka." Ucap Bibi kiew dengan terbata-bata.
Bibi Kiew berharap, Bangsawan Yue mau menolong Yueqin yang saat ini sedang menderita karena mendapat siksaan dari Hu Liena.
Tapi apa yang terjadi setelah Bangsawan Yue mendengar masalah tentang Yueqin darinya.
Bangsawan Yue malah mendukung keras aksi yang di lakukan oleh Hu Liena, dan juga Li Junjie.
"Bagus, bagus sekali apa yang di lakukan Putri Xia. Dan Pangeran Jun, aku sangat mendukungnya karena dia membantu Putri Xia untuk menghukum Putri jahatmu itu. Seharusnya aku juga melakukan hal yang sama padamu, Liu Ning!"
Bibi Kiew terkejut dengan ucapan mantan Suaminya itu. Ia tidak menyangka, pria yang selalu mendukungnya di masa lalu, akan berbalik menyerangnya sekarang.
"Tuan! Apa yang Tuan katakan? Tuan mendukung mereka berdua? Orang-orang yang telah menyiksa Putri kita?" Ratap Bibi Kiew kepada Bangsawan Yue.
"Ha-ha-ha! Putri kita? Apa kau bercanda, Liu Ning?" Cibir Bangsawan Yue yang sontak membuat Bibi Kiew kebingungan.
"Apa maksud Tuan? Yueqin memang Putri kita! Dan aku tidak bercanda akan hal itu!" Tegas Bibi Kiew.
Bangsawan Yue semakin tertawa terbahak-bahak mendengar pembelaan dari Bibi Kiew.
"Ha-ha ... aku sudah tahu semua yang kau lakukan, Liu Ning. Dan jangan mengelak lagi sekarang, karena aku sudah tahu semua rahasiamu itu."
"Ra-rahasia?" Ucap Bibi Kiew antara panik dan kebingungan.
"Rahasia tentang Ayah kandung Putrimu itu! Dan rahasia lainnya yang kau simpan sedari dulu, aku sudah mengetahuinya." Ucap Bangsawan Yue.
Sejujurnya, Bibi Kiew sudah sangat ketakutan sekarang. Tapi dia berusaha bersikap tenang, dan dengan tegar membantah semua ucapan Bangsawan Yue.
"Anda jangan asal bicara, Tuan. Yueqin itu Putri anda, Putri kita berdua." Tegas Bibi Kiew.
PLAKK...
Bangsawan Yue menampar Bibi Kiew dengan keras.
"Tu-tuan ... anda tega menamparku?" Ratap Bibi Kiew dengan raut muka sedih.
Bangsawan Yue berdecak kesal melihat airmata menetes di pipi Bibi Kiew.
"Simpan airmata palsumu itu, Perempuan! Jangankan menampar, aku bahkan siap untuk membunuhmu sekarang!" Hardik Bangsawan Yue.
Setelah mengatakan itu, Bangsawan Yue kembali mengayunkan tangan, dan kembali menampar Bibi Kiew dengan lebih keras.
PLAKK...
PLAKK...
__ADS_1
Tamparan kembali mendarat berulang-ulang di pipi Bibi Kiew yang kini basah oleh airmata.
Ekspresi Bangsawan Yue kini berubah bengis seiring
tamparan yang ia layangkan untuk perempuan yang dulu pernah menjebaknya itu.
"Kau bilang aku memperkosamu dahulu, sehingga aku harus menjadikanmu selir sebelum Yuan'er memasuki kediamanku. Padahal aslinya, kau menjebakku dengan memberikan obat perangsang."
PLAKK...
Suara tamparan kembali terdengar.
"Kau bilang Yuan'er berselingkuh dengan Putra Bangsawan Bai, padahal kau sendiri yang melakukannya."
PLAKK...
Bangsawan Yue menampar lagi pipi Bibi Kiew.
"Kau bilang Yueqin adalah Putriku, padahal aslinya, dia adalah Putri dari kediaman Bai. Kau memang perempuan yang pantas untuk mati! Karena ulahmu, aku bahkan tidak berani untuk mendekati Istriku sampai sekarang."
PLAKK...
PLAKK...
Tamparan demi tamparan terus Bangsawan Yue layangkan kepada Bibi Kiew yang sudah kian melemah di tempatnya.
Di balik pintu gudang, Nyonya Yue yang mendengarkan seluruh percakapan antara sang Suami dan mantan madunya, jadi merasa sedih.
Sedih karena sang Suami selama ini, ternyata mencintainya. Sedih karena selama puluhan tahun ini, dirinya hanya berlarut-larut dengan kesedihan tanpa memedulikan sang Suami sama sekali.
"Nyonya, ternyata Tuan juga mencintai anda!" Ucap Bibi Ling dengan berkaca-kaca.
Nyonya Yue juga melakukan hal yang sama.
Matanya bahkan sudah basah oleh airmata sedari awal ia mendengar ucapan sang Suami.
"Iya Bibi, aku juga mendengarnya." Balas Nyonya Yue dengan berderai airmata.
Bibi Ling mengusap lembut pucuk kepala majikannya.
Meskipun usia Nyonya Yue sudah tidak muda lagi, tapi bagi Bibi Ling, Nyonya Yue sudah seperti Putrinya sendiri.
Dan Nyonya Yue juga sudah tidak merasa sungkan lagi, kepada Bibi Ling.
"Sebaiknya kita pulang, Nyonya!" Ajak Bibi Ling.
"Tapi Suamiku, dia masih di sini!" Ucap Nyonya Yue yang berusaha menolak.
__ADS_1