Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
26. Masa lalu kelam Yueqin.


__ADS_3

Hu Liena terperanjat hingga kantong uangnya jatuh dari genggaman.


"Tu-tuan ...," Luqiu tergagap melihat Hu Boqin sedang menghadang di jalan yang akan mereka lewati.


"Darimana kalian?" Tanya Hu Boqin tegas.


"Dari kedai teh." Celetuk Hu Liena, ia masih sibuk memperhatikan kantong uangnya.


"Uang apa yang kalian bicarakan tadi?" Tanya Hu Boqin penuh selidik.


"Uang? Uang apa yang Ayah maksud? Aku tidak mengerti!" Ucap Hu Liena berpura-pura tak mengerti.


Setelah mengatakannya, Hu Liena lalu membungkuk untuk memungut kantong uang yang jatuh. Namun ia kalah cepat, karena Changing sudah terlebih dahulu mengambilnya.


Changing langsung memberikan kantong uang yang di ambilnya kepada Hu Boqin.


"Uang siapa ini?" Hu Boqin langsung mengajukan pertanyaan begitu melihat isinya.


"Uang kami berdua." Jawab Hu Liena seraya menundukkan kepala.


Orang-orang pikir, Hu Liena pasti merasa ketakutan, karena kebohongannya telah di ketahui oleh Hu Boqin.


Namun yang sebenarnya terjadi adalah, Hu Liena menundukkan kepala agar bisa mencuri pandang kantong uangnya yang berada di tangan sang Ayah dan mencari cara untuk merebutnya kembali.


Hu Boqin memasang wajah garang, ia tahu jika sekarang Putrinya sedang merencanakan sesuatu.


Putrinya kini berubah nakal, meskipun itu sangat menyenangkan baginya.


"Baiklah, kalau kalian tidak ingin mengatakannya. Untuk sementara, uang ini Ayah sita." Ancam Hu Boqin yang spontan membuat Hu Liena dan Luqiu menjadi tersentak.


"Tidak!" Hu Liena dan Luqiu berseru hampir bersamaan.


"Tidak apa?" Kata Hu Boqin sembari menaikkan sebelah alisnya.


Hu Liena menarik nafas berat, kemudian berjalan menghampiri Hu Boqin dengan wajah memelasnya.


"Ayah, uang itu pemberian dari bangsawan Mo." Hu Liena memutuskan untuk mengakuinya.


Karena percuma berbohong juga, Ayahnya tetap akan menyelidiki kebenarannya.


"Untuk apa bangsawan Mo memberikanmu uang ini?" Ucap Hu Boqin berusaha menyelidiki lebih lanjut.


Hu Liena yang kini sudah berada di samping Hu Boqin, berusaha memenangkan hati Ayahnya itu.


Ia berpura-pura memijit tangan Ayahnya sambil berbicara. "Kalau masalah itu, Ayah bisa tanyakan langsung kepada kakak Xiulin. Dia pasti lebih tahu jelas alasannya, seperti apa."


"Jika menurut Ayah informasi darinya masih kurang, Ayah juga bisa bertanya lagi kepada Pangeran Jun. Atas saran dari Pangeran, akhirnya bangsawan Mo secara ikhlas memberikan uang ini kepadaku." Ucap Hu Liena secara rinci kepada sang Ayah.


"Jadi seperti itu, ceritanya." Ucap Hu Boqin sembari mengangguk-angguk kepala.

__ADS_1


"Benar Ayah, apa aku boleh pergi sekarang?" Tanya Hu Liena menghentikan gerakan memijitnya secara tiba-tiba.


"Tentu!" Hu Boqin mengangguk setuju.


"Kalau begitu, aku pergi dulu." Ucap Hu Liena langsung menarik Luqiu untuk pergi dari sana secepat yang dia bisa.


Melihat kelakuan Putrinya, Hu Boqin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


"Gadis nakal!" Gumamnya.


Dia kembali ingin memeriksa kantong uang milik Hu Liena. Namun baru tersadar, jika kantong uang yang berada di tangannya telah menghilang.


"Changing! Di mana kantong uangnya?" Teriak Hu Boqin.


"Bukankah, tadi anda yang memberikannya kepada Nona." Jawab Changing heran.


Jelas-jelas tadi dia melihat majikannya hanya diam saja ketika Hu Liena mengambil kantong uang tersebut langsung dari tangannya.


"Aku tidak memberikannya." Bantah Hu Boqin, dia memang tidak merasa melakukan hal itu.


"Tapi tadi ...," Ucapan Changing langsung terhenti. Karena dia juga baru menyadari, jika pijatan yang di berikan Hu Liena, hanya untuk mengalihkan perhatian Hu Boqin saja.


"Gadis nakal!" Hu Boqin kembali mengungkapkan kekesalannya karena telah di bodohi oleh Hu Liena.


Di perjalanan...


"Nona, bagaimana ini? Uang kita di ambil Tuan Besar." Keluh Luqiu di sela pelariannya.


Uang itu berhasil dia ambil kembali setelah sebelumnya, kantong itu telah di rebut oleh Ayahnya.


"Ahhh ... Nona, bagaimana anda bisa melakukannya?" Luqiu berseru gembira.


Luqiu merasa senang, karena mereka tak jadi kehilangan uangnya.


"Memangnya, apa yang aku tidak bisa lakukan?" Jawab Hu Liena dengan sombongnya.


Luqiu berdecak kesal ketika mendengar ucapan majikannya, namun ia juga tak bisa mengingkari jika Hu Liena sangatlah hebat akhir-akhir ini.


"Iya, iya ... Nona sekarang memang hebat!" Puji Luqiu sedikit terpaksa namun tetap merasa gembira.


Di paviliun timur...


Saat ini Yueqin sedang terduduk di tepian tempat tidurnya.


Kondisi tubuh Yueqin kini telah pulih sepenuhnya, dan semua organ vitalnya telah kembali seperti semula.


"Apa Putriku baik-baik saja?" Tanya Yueqin kepada Bibi kepala pelayan yang selalu setia di sampingnya.


"Jawab Nyonya, Nona Xiulin hari ini sedang dalam kondisi kurang baik." Ujar si Bibi kepala pelayan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Yueqin cemas.


Ia memang sudah lama tak bertemu dengan Putrinya, sejak beberapa hari yang lalu.


"Hamba dengar, Nona Xiulin berseteru dengan Nona Hu Liena di kedai teh hari ini. Dan waktu kembali, dia terlihat sedang ketakutan." Tutur si Bibi kepala pelayan.


"Putriku yang malang!" Gumam Yueqin perlahan.


Yueqin kembali bertanya. "Bibi Kiew, apa Putriku sudah menemui bangsawan Mo?"


"Sudah Nyonya, bahkan Putra bangsawan Mo juga terlibat di perseteruan Nona Xiulin."


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Yueqin terkejut mendengar penuturan dari Bibi Kiew.


"Sepertinya, Putra dari bangsawan Mo menyukai Nona. Jadi hari ini dia membantu, untuk memberi pelajaran kepada Nona Hu Liena. Namun malah hal itu di ketahui oleh Pangeran Jun yang secara tidak sengaja sedang berada di sana, lalu memberikan hukuman kepada Putra bangsawan Mo karena telah berani mengancam Nona Hu Liena." Terang Bibi Kiew kepada Yueqin.


"Hu Liena sialan! Beruntung sekali nasibmu, hingga bisa mendapatkan dukungan dari Pangeran Jun. Tapi lihat saja, keberuntunganmu akan segera hilang. Karena aku, akan menyingkirkanmu secepatnya." Rutuk Yueqin.


Dia kemudian mengambil selembar kertas kosong dari laci meja di sampingnya, lalu menulis beberapa patah kata di atasnya. Setelah melipat kertas tersebut, Yueqin menyerahkannya kepada Bibi kiew.


"Ambil ini! Dan serahkan langsung kepada kepala keluarga Yue. Aku yakin! jika dia sudah membaca surat ini, hidup Hu Liena tidak akan bertahan lama."


Obsesi Yueqin untuk membunuh Hu Liena semakin besar, da api kebencian yang ada di hatinya semakin berkobar-kobar.


Setelah Bibi Kiew pergi, Yueqin kembali membuka laci dan mengeluarkan sebuah benda di dalamnya.


Benda itu adalah tusuk konde yang terbuat dari giok es, benda itu adalah milik Ibunya Hu Liena, Lilian.


"Dulu, kau yang menghalangi jalanku. Sekarang giliran Putrimu yang menghalangi jalan Putriku, takdir kalian sama. Sama-sama harus mati, di tanganku!" Ucap Yueqin seraya menatap tajam benda di tangannya itu.


Bayangan-bayangan masa lalu dirinya ketika masih muda bermunculan. Saat itu, ia di tinggalkan oleh Suaminya yang mati di medan perang.


Yueqin bekerja banting tulang untuk menghidupi Putrinya seorang diri.


Hingga suatu hari, ia bertemu dengan sepupu perempuannya yang bernama Lilian.


Lilian adalah Putri dari pamannya yang seorang Jendral, dan telah menikah dengan Hu Boqin yang menjabat sebagai Menteri devisi ritus pada waktu itu.


Yueqin merasa iri, karena kehidupan Lilian lebih baik dari dirinya. Oleh karena itu, Yueqin merencanakan untuk merebut suami serta keluarga Lilian.


Yueqin sempat menggoda Hu Boqin, namun usahanya itu selalu gagal karena Hu Boqin sangat mencintai Istrinya.


Yueqin tak kehabisan akal, dia lalu meracuni Lilian setiap hari hingga kondisi Lilian semakin memburuk dan tak bisa terselamatkan lagi.


Racun yang ia berikan adalah racun langka yang tak memiliki bau ataupun rasa, sehingga orang-orang tak menaruh curiga apapun padanya.


Seiring berjalannya waktu, Hu Boqin menjadi luluh dan menikahi dirinya.


Setiap hari, Yueqin meracuni pikiran Hu Boqin untuk membenci Hu Liena dan menjadikan Xiulin sebagai satu-satunya Putri yang mendapatkan kasih sayang dari Hu Boqin.

__ADS_1


Usaha Yueqin berbuah manis, semakin lama Hu Boqin semakin membenci Hu Liena dan menganggap dia sebagai pembawa kesialan dalam keluarga mereka.


Namun itu tak berlaku lama, setelah beberapa waktu lalu Hu Liena tersadar dari komanya. Perlahan-lahan, Hu Liena mendapatkan lagi kasih sayang dari Hu Boqin. Dan Hu Boqin kini, berbalik mengabaikan dia dan Xiulin.


__ADS_2