
"Hamba juga seperti pernah melihatnya, Nona. Tapi hamba lupa di mana ...," Ujar Luqiu bingung.
Hu Liena juga tidak memaksa, banyak orang yang memiliki perhiasan yang serupa dengan yang lainnya. Jadi tidak aneh, jika Anting ini akan terlihat familier di mata semua orang.
"Sebaiknya kita bergegas, jangan sampai kita ketinggalan kereta, dan membuat Nyonya rumah ini menjadi murka. He-he!" Canda Hu Liena yang menyebutkan Yueqin sebagai Nyonya.
Luqiu terlihat malas mendengar candaan dari majikannya itu, ia merasa malas karena nama Yueqin yang di sebut oleh Hu Liena.
Luqiu tidak suka, benar-benar tidak suka wanita jahat itu di sebut-sebut, pikirnya.
Sedangkan Bao-Yu, hanya terdiam karena tidak mengetahui, tentang siapa itu Nyonya rumah yang di sebut majikannya ini.
Di gerbang Kediaman Perdana Menteri...
"Ibu! Mengapa si ****** itu belum muncul juga?" Tanya Xiulin yang kesal karena menunggu lama.
Yueqin mencebik ke arahnya, lalu menjawab secara asal. Mungkin saat ini, gadis bodoh itu sedang meratapi kesialannya."
"Kesialan seperti apa, yang Ibu maksud?" Tanya Xiulin yang heran dengan ucapan Ibunya.
Yueqin bungkam, karena melihat Hu Boqin sedang berjalan ke mereka berdua saat ini.
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Hu Boqin seraya menatap sekeliling.
Tak ada satupun orang yang mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan dari Hu Boqin.
Mau itu Yueqin, ataupun Xiulin, dua-duanya bungkam seribu bahasa.
"Maafkan aku yang sedikit terlambat, Ayah!" Kata Hu Liena dari arah belakang Hu Boqin.
Hu Boqin membalikkan badan, dan langsung terkagum-kagum dengan kecantikan Hu Liena.
"Kau cantik sekali!" Puji Hu Boqin kepada Hu Liena yang kini sedang berdiri di hadapannya.
Hu Liena tersenyum manis, lalu membalas pujian dari Hu Boqin. "Terima kasih! Ayah terlalu pintar memuji ...."
Sementara Yueqin dan Putrinya, terlihat malas mendengar percakapan antara Ayah dan Anak itu.
"Huhh ... menyebalkan sekali!" Cibir Xiulin.
Yueqin sendiri, kini sedang memperhatikan Hu Liena dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
Ada yang aneh dengan penampilan si gadis sialan ini, tapi apa? batin Yueqin.
"Apa kita hanya akan tetap berdiri di sini saja?" Tegur Xiulin dengan kerasnya.
Setelah beberapa kali di permalukan oleh Hu Liena, Xiulin tak lagi menjaga keanggunannya. Dia akan secara terang-terangan bersikap kasar di kediaman, bahkan Xiulin juga tidak memedulikan tentang Hu Boqin lagi saat ini.
__ADS_1
Hu Boqin menoleh ke arah Xiulin begitu mendengar teriakannya. Namun Hu Boqin tidak mengatakan apapun, dan terlihat malas menanggapi cibiran dari Xiulin. Fokusnya Hu Boqin saat ini, hanya tertuju kepada Putri sahnya, Hu Liena.
"Ayo, kita berangkat!" Ajak Hu Boqin sembari menggandeng tangan Putrinya.
Perlakuan Hu Boqin kepada Hu Liena terlihat sangat manis, bahkan Luqiu dan juga Bao-Yu merasa iri ketika melihat keakraban Ayah dan Anak itu.
"Kakak, Putri beruntung sekali memiliki seorang Ayah seperti Perdana Menteri." Bisik Bao-Yu kepada Luqiu.
Luqiu sendiri merasa bersyukur karena Perdana Menteri sekarang berubah, lebih menyayangi majikannya itu ketimbang Putri dari Yueqin yang jahat.
"Perdana Menteri juga beruntung, memiliki Putri seperti majikan kita. Tidak seperti ...," Ucap Luqiu sembari melirik Xiulin dengan sudut matanya.
"Seperti siapa, Kakak?" Bao-Yu penasaran dengan ucapan dari Luqiu yang terputus.
Luqiu merasa frustasi dengan pertanyaan dari Bao-Yu, dia sudah mencoba memberi isyarat mata. Tapi Bao-Yu, malah tidak memahaminya.
"Sudahlah, nanti kau juga akan mengetahuinya sendiri." Bisik Luqiu perlahan.
Hu Liena yang sudah menaiki kereta kuda terlebih dahulu, langsung memanggil kedua pelayannya yang sedang asik saling berbisik.
"Luqiu, Bao-Yu! Ayo cepat! jangan berdiri saja di sana!" Panggil Hu Liena yang sontak membuat keduanya bergegas naik.
Di kejauhan, Xiulin menggerutu melihat tingkah kedua pelayan Hu Liena yang nampak akrab dengan majikannya itu.
"Dasar orang-orang rendahan!" Maki Xiulin sembari menutup tirai kereta.
"Ibu bilang si ****** itu tertimpa kesialan, tapi nyatanya, dia baik-baik saja." Rajuk Xiulin kepada Ibunya, Yueqin.
Yueqin juga merasa bingung karena kulit Hu Liena yang harusnya bermasalah kini terlihat baik-baik saja.
Bukankah Bibi Kiew mengatakan jika racun itu akan bereaksi setelah si korban menggunakan ekstrak minyak daun Parsnip Liar di tubuhnya.
Tapi mengapa, Hu Liena masih terlihat sehat walafiat?
Yueqin terus memikirkan tentang hal itu, hingga ia tidak menyadari, jika perjalanan mereka menuju ke Istana telah sampai sedari tadi.
"Ibu, ayo turun!" Ajak Xiulin kepada Ibunya yang masih asik dengan lamunannya.
Yueqin tidak bergeming, dia hanya terpaku menatap kosong di kejauhan.
Xiulin yang sudah menuruni kereta, langsung memanggil kembali Ibunya.
"Ibu! Ayo cepat turun!" Ucap Xiulin sembari mengguncang-guncang kereta kuda.
Guncangan yang terjadi tiba-tiba itu, membuat Yueqin langsung tersadar dari lamunannya.
"Apa yang kau lakukan? berhenti!" Ucap Yueqin sembari memelotot ke arah Xiulin.
__ADS_1
Xiulin pun berhenti mengguncang kereta dan membantu Yueqin menuruni kereta dengan terus menggerutu kepada Ibunya.
Sedangkan Hu Liena, kini sedang terpana dengan 'kemegahan Istana Kerajaan Dinasti Ying.'
"Wahhh ... Indah sekali!" Gumam Hu Liena takjub.
Luqiu dan Bao-Yu juga melakukan hal yang sama.
Mereka merasa takjub begitu melihat kemewahan Istana di Negaranya
Berbeda dengan Hu Liena, yang hidup di dunia serba modern. Meskipun banyak gedung-gedung mewah tinggi menjulang, namun melihat Istana kerajaan seperti ini, baru pertama kali dalam hidupnya.
"Ayo, Nak!" Ajak Hu Boqin sembari meraih tangan Hu Liena yang sedang menatap ke arah Istana.
"Ayah! Aku tidak menyangka, jika Istana akan seindah dan semegah ini." Ujar Hu Liena penuh kekaguman.
Hu Boqin hanya tersenyum menanggapi tingkah aneh Putrinya itu.
Bukankah dia sering datang ke Istana?
Namun Hu Boqin tidak mempermasalahkannya, dia hanya ingat jika Putrinya pernah sakit dan terbaring koma. Mungkin ingatannya sedikit lupa karena kejadian itu, pikir Hu Boqin.
"Kakak Ipar!" Suara seorang gadis terdengar nyaring begitu Hu Liena memasuki Istana.
Hu Liena mengernyit, di ingatan pemilik tubuh aslinya, dia tidak menemukan informasi tentang gadis yang memanggilnya ini.
Ehh ... Siapa dia? batin Hu Liena.
Dia terus mencoba mengingat-ngingat dan terus menggali di ingatannya.
Tetapi informasi tentang gadis yang memanggilnya Kakak Ipar ini, tetap nihil.
Hu Liena menoleh ke arah Hu Boqin yang berada di sampingnya.
Hanya dialah satu-satunya harapan Hu Liena saat ini.
Seandainya saja Luqiu bisa memasuki Istana, mungkin dia tidak akan kebingungan seperti ini.
"Ada apa, Nak?" Tanya Hu Boqin yang sadar jika Hu Liena sedang menatapnya.
"Aku tidak tahu tentang gadis itu ... bisakah Ayah memberitahuku?"
Hu Boqin mengangguk, lalu memberitahukan tentang gadis yang saat ini sedang berjalan ke arah mereka berdua.
"Itu adalah Tuan Putri Li Jiang, Adik bungsu dari Pangeran Li Junjie dan Li Jing Sheng."
"Ahhh ... jadi begitu!" Gumam Hu Liena sembari membalas senyuman gadis cantik yang memanggilnya.
__ADS_1