
"Paman! tolong bungkus ini, untukku." Ucap Hu Liena kepada pemilik toko.
Pria paruh baya pemilik toko langsung menghampiri Hu Liena dan Luqiu. Dia melirik ke arah Anting yang di tunjuk oleh Hu Liena.
"Nona yakin, ingin memilih Anting ini?" Tanya Pemilik toko yang belum mengetahui indentitas Hu Liena.
Begitu mendengar ucapan si pemilik toko, Luqiu langsung menegurnya. "Jangan memanggilnya dengan sebutan Nona, karena majikanku ini adalah seorang Putri."
"Putri?" Pemilik toko merasa heran.
"Iya, Putri Xia." Jawab Luqiu datar.
Si pemilik toko baru teringat kabar yang tersiar kemarin, tentang pengangkatan Putri sah Perdana Menteri yang mendapat gelar Putri Xia dari Kaisar. Ternyata gadis beruntung itu, kini sedang berdiri di hadapannya.
"Ahhh ... Putri Xia! Maafkan hamba yang hina ini!" Kata si pemilik toko yang langsung memberi hormat kepada Hu Liena.
"Tidak perlu begitu, Paman. Aku sama dengan pelanggan yang lainnya, hanya datang untuk membeli barang. Jadi Paman, tidak perlu sungkan." Balas Hu Liena dengan nada bicara sopan.
"Baik, Putri! Hamba akan melayani anda dengan senang hati." Sahut si pemilik toko semakin ramah.
"Terima kasih, Paman! tolong kau bungkus Anting yang aku pilih tadi." Ucap Hu Liena.
Si pemilik toko sedikit ragu dengan pilihan Hu Liena. Anting itu, sudah berada sangat lama di dalam etalasenya. Dan jarang sekali ada orang yang memperhatikannya.
"Apa anda yakin, Putri?" Si pemilik toko mengulang kembali pertanyaannya.
Hu Liena mengangguk pasti, "Aku yakin, oleh karena itu aku menginginkannya."
"Anting ini bukan barang baru, seseorang menjualnya beberapa tahun yang lalu." Si pemilik toko menerangkan tentang Anting tersebut.
Hu Liena tidak mau tahu, dia merasa cocok dengan Anting tersebut dan ingin mengenakannya di acara Jamuan Istana besok. Oleh karena itu, ia meminta kepada si pemilik toko untuk segera mengemasnya.
"Aku tetap menginginkannya, Paman. Tolong kau bungkus saja itu ...," Ujar Hu Liena yang sedikit tidak sabar dengan pemilik toko.
"Baik Putri, hamba akan segera mengemasnya untuk anda." Ucap si pemilik toko dengan patuh.
Sebenarnya, si pemilik toko merasa senang dengan terjualnya Anting tersebut. Dia hanya merasa terkejut, dengan keputusan Hu Liena yang membeli Anting yang sudah lama di pajangnya itu.
"Ini Putri ...," Ucap si pemilik toko seraya menyodorkan Anting yang sudah di kemas rapi.
Hu Liena menerima bingkisan itu, lalu membayar sejumlah uang yang telah di sepakati sebelumnya kepada si pemilik toko.
__ADS_1
Lalu Hu Liena juga menyuruh Luqiu untuk memilih perhiasan yang di sukainya.
Luqiu sempat menolak, tapi karena Hu Liena terus memaksanya, akhirnya Luqiu menurut juga dan memilih satu gelang untuk dirinya.
Setelah urusan pembayaran di selesaikan, Hu Liena dan Luqiu berpindah ke toko kosmetik yang tempatnya bersebelahan dengan toko perhiasan tersebut.
"Putri! Coba lihat pemerah bibir itu ...," Tunjuk Luqiu ke arah etalase toko.
Di sana terdapat bermacam-macam alat kecantikan, dari mulai lipstick, bulsh on, dan juga bedak. Namun bedanya, di jaman kuno ini, semua terbuat dari bahan alami dan dengan packaging sederhana.
Meskipun begitu, tampilannya tetap cantik, dan sangat menarik di mata Hu Liena.
"Jangan yang itu, warnanya terlalu mencolok." Ujar Hu Liena seraya memperhatikan setiap warna satu-persatu.
Seorang gadis pelayan toko menghampiri mereka berdua dan bertanya dengan sopan.
"Selamat siang!" Sapa si gadis pelayan toko dengan ramah.
Hu Liena dan Luqiu pun merasa senang dengan sapaan dari si gadis pelayan toko tersebut.
Gadis pelayan toko ini seusia Luqiu, dia mengenakan pakaian sederhana dan sedikit lusuh. Meskipun berpenampilan seperti itu, namun kecantikannya terpancar hanya dengan menatapnya sekilas saja.
"Nona, apa kau bisa memilihkan satu pemerah bibir yang cocok untukku." Kata Hu Liena kepada si gadis pelayan tersebut dengan senyum lembut.
"Biar saya saja, yang melayani anda. Pelayan baru ini sedikit bodoh, dia tidak mungkin bisa melayani anda sebagus saya." Ujar si pelayan itu sembari mendelik ke arah gadis pelayan tadi.
Luqiu melirik ke arah Hu Liena, dan Hu Liena juga melakukan hal yang sama.
Hu Liena sangat menyesalkan, perbuatan seperti itu terjadi di hadapannya.
Namun Hu Liena akan sedikit bersabar dan melihat, apa yang akan si pelayan arogan ini lakukan di hadapannya sekarang.
"Baik, silahkan." Ucap Hu Liena datar.
Sikapnya tidak seramah ketika sedang berbicara dengan gadis pelayan tadi.
Pelayan itu lalu mengeluarkan banyak pemerah bibir di hadapan Hu Liena, lalu memulai aksinya menjajakan produk.
"Ini adalah pemerah bibir beraroma melon, dan ini bunga mawar, ini cranberry dan yang ini, dari bunga magnolia. Jadi mana, yang ingin anda coba?" Ujar si pelayan dengan cepat.
Hu Liena memperhatikan gaya bicara si pelayan tersebut. Bagi Hu Liena, sikapnya terlihat angkuh dan terkesan tidak menghormati pelanggan.
__ADS_1
"Aku rasa, tidak ada satupun pemerah bibir ini yang cocok untukku." Kata Hu Liena santai.
Si pelayan langsung terdiam dan mencebik ke arah Hu Liena.
"Bilang saja, kalau kalian tidak mempunyai uang. Huhh ... menyedihkan! Berlaga sok kaya, padahal aslinya miskin."
"Jaga mulut kotormu itu!" Tegur Luqiu kepada si pelayan.
Bukannya merasa bersalah, si pelayan tadi malah membalas teguran dari Luqiu.
"Diam kau! kalau tidak punya uang, cepatlah pergi dari sini! Hanya membuang-buang waktuku saja."
Hu Liena menghentikan Luqiu, yang sudah bersiap membalas kembali ucapan si pelayan sombong itu.
Lalu Hu Liena, menyeret paksa Luqiu untuk menghampiri gadis pelayan yang pertama kali menyapa mereka.
"Siapa namamu?" Tanya Hu Liena kepada si gadis yang tengah meringkuk di sudut toko.
Gadis itu mendongak dan menatap Hu Liena dengan tatapan sedih.
Dia sering si perlakukan tidak adil oleh teman-teman kerjanya, karena penampilannya yang selalu lusuh.
Tapi dia tidak punya pilihan lain, selain menerima penghinaan itu dari teman-temannya. Karena memang dia hanyalah seorang gadis yatim piatu yang miskin, dan tidak mempunyai cukup uang untuk membeli baju baru.
"Nama saya Bao-Yu, Nona!" Jawab si gadis pelayan itu kepada Hu Liena.
Luqiu ingin menegur panggilan Bao-Yu kepada Hu Liena, namun dengan cepat, Hu Liena memberinya isyarat agar tidak mengatakan apapun saat ini.
"Apa kau mau bekerja si tempatku, Bao-Yu?" Tanya Hu Liena dengan senyuman penuh kelembutan.
Si pelayan sombong yang mendengar perkataan Hu Liena, mencibir di kejauhan.
"Dasar miskin! Membeli pemerah bibir saja tidak mampu, malah ingin mengambil gadis bodoh itu sebagai pelayan."
Hu Liena tidak menanggapi ucapan pelayan sombong tadi. Baginya, orang-orang seperti itu tidak perlu di tanggapi. Akan sangat merugi, jika dia menanggapi pernyataan bodoh dari seseorang seperti mereka.
Hu Liena kembali bertanya kepada Bao-Yu yang terlihat ragu, dan kini menatap penuh selidik ke arahnya. "Bagaimana? Apa kau bersedia?"
"Baik, saya bersedia, Nona!" Jawab Bao-Yu setelah beberapa saat.
Hu Liena mengangguk puas, jawaban dari gadis ini telah membuatnya merasa senang.
__ADS_1
Dia sangat tertarik dengan kepribadian gadis di hadapannya ini. Meskipun sering di aniaya oleh teman-temannya, tapi gadis ini tetap teguh dengan pendiriannya untuk bekerja.
Orang seperti inilah yang Hu Liena butuhkan di kediamannya. Selain untuk melayani dirinya, gadis ini juga bisa menjadi teman bagi Luqiu agar tidak merasa kesepian. Karena selama ini, Luqiu hanya bekerja sendiri di gerha bunga miliknya.