Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
40. Jangan panggil aku Putri.


__ADS_3

Hu Boqin berjalan, mengikuti langkah Kasim Hai dari arah belakang.


Sebelum Kasim Hai naik ke kereta kuda miliknya, Hu Boqin langsung memberikan kantong koin emas kepada Kasim Hai.


"Kasim Hai, mohon terima ini, anggaplah sebagai ucapan terima kasih dari keluarga kami." Ucap Hu Boqin kepada Kasim Hai.


Kasim Hai berusaha menolak, tapi Hu Boqin tidak mau menyerah dan tetap memberikan kantong koin itu kepadanya.


"Tolong terimalah, Kasim."


Kasim Hai pun akhirnya menerima kantong koin yang di berikan Hu Boqin, dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Baik! Terima kasih, Perdana Menteri." Ujarnya seraya menyimpan kantong koin di balik lengan bajunya.


Setelah berpamitan sekali lagi, Kasim Hai pun pergi meninggalkan kediaman Perdana Menteri.


"Xiulin!" Teriak Hu Boqin setelah berada kembali di Aula.


Xiulin yang sedang duduk di samping Ibunya, langsung menoleh ke arah Hu Boqin.


"Aku, Ayah!" Sahut Xiulin.


"Iya, kau! siapa lagi!" Cibir Hu Boqin.


Ia ingat ucapan Kasim Hai tentang Xiulin, maka dari itu, Hu Boqin langsung berteriak ke arahnya setelah kembali dari mengantar orang kepercayaan Kaisar tersebut.


"Ada apa? Kenapa Ayah berteriak seperti itu kepadaku?" Ujar Xiulin seakan tidak merasa salah sama sekali.


Hu Boqin mendengus, ia tak habis pikir dengan kelakuan Xiulin yang selalu membuatnya sakit kepala sekarang ini.


"Masih berlaga tidak bersalah? apa kau lupa ucapan Kasim Hai tadi?" Bentak Hu Boqin keras.


"Putriku tidak salah! yang salah itu Hu Liena!" Tuduh Yueqin yang membela Putrinya, Xiulin.

__ADS_1


Dia masih tidak rela, jika Xiulin di sudutkan seperti itu. Meskipun mungkin, Putrinya itu sedikit ceroboh tadi. Namun, dia tidak akan menerima begitu saja, yang harus di salahkan itu Hu Liena, bukan Putrinya. Jika Putrinya harus di salahkan sedemikian rupa, maka Yueqin akan pasang badan untuk membela Putrinya itu.


"Atas dasar apa, kau menuduh Hu Liena bersalah?" Tanya Hu Boqin yang menatap sengit ke arah Yueqin, Istrinya.


"Anda bertanya atas dasar apa, Tuan? Heh ... lucu sekali, sudah jelas-jelas dia sengaja datang terlambat untuk menemui Kasim Hai. Masih saja di bela, sedemikian rupa lagi ...," Sindir Yueqin kepada Hu Boqin.


Wajah Hu Boqin seketika memerah karena menahan amarah, ia belum pernah di permalukan seperti ini sebelumnya.


"Yueqin! berani-beraninya kau menentang ucapanku! apa kau tidak mendengar tadi, ucapan Kasim Hai. Putrimu ini tidak memiliki sopan santun, masih mending dia hanya menegurnya saja. Karena dia masih menganggap jabatanku sebagai Perdana Menteri, jika tidak, Putrimu ini akan celaka jika aku tidak segera membelanya tadi."


Yueqin tampak tidak terima dengan ucapan Suaminya yang tampak membela Hu Liena.


"Lalu bagaimana dengan Hu Liena? apa dia juga memiliki kesopanan?" Ucap Yueqin tak kalah kerasnya dengan Hu Boqin.


"Berhenti memanggil Putriku dengan sebutan seperti itu, bahkan statusmu saat ini saja seharusnya memberi hormat kepadanya. Gelar Putri Xia yang di berikan oleh Yang Mulia Kaisar, bukanlah hanya lelucon saja."


Gertak Hu Boqin kepada Yueqin, dia kesal dengan Istrinya itu yang selalu terus memojokkan Hu Liena.


Yueqin mendengus, ia ingin menolak perkataan Suaminya. Tapi takut dengan hukuman yang akan di terimanya jika menghina gelar yang di berikan oleh Kaisar langsung.


"Cepat, kembalilah! aku sudah muak dengan tingkah laku kalian berdua." Hu Boqin akhirnya mengalah, karena merasa malas berdebat dengan Yueqin.


Yueqin dan Xiulin, akhirnya pergi meninggalkan Aula meskipun dengan bersungut-sungut tak jelas.


"Ibu lihat itu? Ayah sekarang memihak kepada Hu Liena, si wanita ****** itu, Bu." Rengek Xiulin kepada Ibunya yang kini juga sedang merutuki keputusan Hu Boqin yang membela Hu Liena.


"Kamu tenang saja, Ibu juga tidak akan membiarkannya. Dasar Hu Liena, baru saja mendapat gelar Putri Xia, sudah banyak yang mendukungnya." Balas Yueqin yang juga sedang merasa kesal kepada Hu Liena.


"Lalu apa yang akan Ibu lakukan selanjutnya?" Tanya Xiulin yang sudah mulai tenang.


Yueqin menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap kepada Xiulin.


"Kita tidak akan melakukan apapun untuk saat ini." Jawab Yueqin yang sontak membuat Xiulin terkejut.

__ADS_1


"Apa? Ibu yakin, kita tidak akan melakukan apapun juga?" Tanya Xiulin heran dengan keputusan Ibunya.


Yueqin mengangguk pasti, ia sudah berpikir sedari tadi. Lebih baik dia menyiapkan Putrinya untuk perjamuan Istana terlebih dahulu, daripada harus mengurusi masalah Hu Liena yang tak ada habisnya itu.


Sedangkan Xiulin mengerutkan dahi, ia belum mengerti sepenuhnya maksud dari ucapan Yueqin.


"Ibu sudah memikirkannya matang-matang, saat ini kita hanya akan fokus untuk acara perjamuan Istana. Siapa tahu di sana, kita akan menemukan sekutu yang kuat untuk melawan balik si Hu Liena itu." Jelas Yueqin panjang lebar.


Xiulin terlihat bahagia, usulan Ibunya sangat masuk akal. Karena Hu Liena kini telah bertambah kuat, jalan satu-satunya untuk Xiulin mencari sekutu yang lebih kuat seperti yang di ucapkan Ibunya.


"Ibu benar! aku harus bisa lebih kuat, dari si ****** Hu Liena." Ujar Xiulin penuh kebencian.


"Bagus! Sudah seharusnya, kau lebih kuat daripada dia." Ujar Yueqin memberikan semangat kepada Putrinya.


Kedua orang Ibu dan anak ini, memang saling mendukung satu sama lain. Sayangnya, Yueqin selalu memotivasi anaknya, untuk selalu berbuat salah di dalam kehidupannya.


Di gerha bunga...


"Nona! eh, maksudku ... Yang Mulia Putri Xia! Saya mengucapkan selamat untuk anda." Ucap Luqiu dengan mata berbinar menatap Hu Liena.


Hu Liena terkekeh melihat Luqiu yang tampak gugup berhadapan dengan dirinya.


"He-he ... kau tidak perlu sungkan seperti itu, Luqiu. Kita berdua ini sudah bersama sejak lama, jadi kau bisa memanggilku seperti biasa saja."


"Tidak! Mana boleh seperti itu, saya bisa di hukum nanti, Putri." Ujar Luqiu kekeh dengan pendiriannya.


Hu Liena menutup mulutnya menggunakan sebelah tangan, ia merasa geli dengan kelakuan Luqiu yang tiba-tiba menjadi seperti ini.


Memang wajar, jika dia ingin memanggilnya Putri juga. Tapi Hu Liena merasa aneh dengan panggilan tersebut, apalagi panggilan itu keluar dari mulut Luqiu yang sudah sangat banyak membantunya selama ini.


"Baiklah, kau boleh memanggilku Putri jika kau mau, tapi ...,"


"Tapi apa, Putri?" Tanya Luqiu terheran.

__ADS_1


"Tapi itu saat kita berada di luar saja, bagaimana? Jika di ruangan tertutup seperti ini, kau boleh memanggilku seperti biasa, atau juga Hu Liena." Tutur Hu Liena kepada Luqiu yang kini sedang terkesiap mendengarkan ucapannya.


"Ti-tidak! hamba tidak berani! bagaimana mungkin, saya berani memanggil anda dengan nama saja. Tidak, tidak, tidak ... ini tidak baik untuk anda." Tolak Luqiu dengan perasaan gugup.


__ADS_2