
Putri Li Jiang akhirnya tersenyum kembali setelah di hibur oleh Hu Liena dan juga kedua Kakaknya.
Setelah merasa lebih tenang, Putri Li Jiang di ajak untuk makan bersama di ruangan utama bersama Kaisar Li Jinhai, dan juga Kaisar Long Qian.
Di sana juga ada Putri Jia Li, dan juga Qian Yingzhi tentunya yang sesekali mencuri pandang kepada Putri Li Jiang.
"Terima kasih, kalian semua telah memperlakukan kami sangat baik sejauh ini." ucap Kaisar Long Qian dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Jangan terlalu sungkan, Long Qian. Kami semua adalah bagian dari keluargamu juga." jawab Kaisar Li Jinhai dengan tenang.
"Tentu, tentu saja! Kita ini adalah satu keluarga, keluarga besar! Kapanpun kalian mau, kalian bisa datang kapan saja ke kerajaan Qian kami!" ucap Kaisar Long Qian yang di sambut baik oleh semua orang.
Kaisar Li Jinhai sengaja mengadakan makan siang bersama dengan Kaisar Long Qian, sebagai tanda perpisahan. Karena sebentar lagi, Kaisar Long Qian akan melakukan perjalanan pulang ke kerajaannya.
Kaisar Li Jinhai tidak berusaha melarang, karena dia tahu, jika Kaisar Long Qian sedang terburu-buru untuk mengadakan pemakaman Adiknya.
Acara makan siang 'pun seketika berubah, menjadi acara tempat Kaisar Li Jinhai, dan juga Kaisar Long Qian berbagi kisah tentang masa muda mereka.
Qian Yingzhi melirik ke arah Putri Li Jiang, yang saat ini lebih banyak berdiam diri.
Qian Yingzhi semakin merasa penasaran, alasan apa yang telah membuat gadis periang seperti Li Jiang menjadi seorang gadis pendiam seperti sekarang.
"Li Jinhai, sekali-kali, ajaklah Putrimu berkunjung ke kerajaan dinasti Qian. Di sana banyak tempat-tempat indah, Putrimu pasti akan sangat menyukainya." ucap Kaisar Long Qian sambil melirik ke arah Putri Li Jiang.
"Bagaimana menurutmu, Putri?" bukannya menjawab, Kaisar Li Jinhai malah meneruskan pertanyaan tersebut kepada Putrinya.
Yang di tanya hanya diam saja, Putri Li Jiang terlalu sibuk dengan semua beban pikirannya. Apalagi, setelah mengetahui jika Pangeran Chunian telah melarikan diri. Putri Li Jiang semakin di buat ketakutan akan kehadirannya kembali.
"Putri, Ayah mengajakmu berbicara." bisik Hu Liena hingga membuat Putri Li Jiang tersentak.
"Eh, ada apa Ayah?" tanyanya gugup.
Ada apa? Seharusnya, dia yang bertanya ada apa? bukan Putrinya!
Kaisar Li Jinhai menaikkan alisnya, dia merasa heran dengan perubahan sikap Putri kesayangannya.
Namun, karena di sana sedang banyak orang, Kaisar Li Jinhai 'pun tidak mempermasalahkannya.
"Apa kau sedang sakit? Ayah lihat, dari tadi kau hanya diam saja!" ucap Kaisar Li Jinhai mencoba menyelidiki alasan Putrinya berubah murung.
"Mu-mungkin iya, badanku sedikit tidak enak." jawab Putri Li Jiang tambah gugup.
"Jika kau merasa kurang baik, sebaiknya pergi beristirahat. Minta dayang untuk menemanimu!" ucap Kaisar Li Jinhai tampak khawatir.
__ADS_1
"Maaf, Ayah! Biar saya saja yang menemaninya pergi ke kamar."
Kaisar Li Jinhai mengangguk, membiarkan Hu Liena pergi menemani Putrinya.
Setelah calon Istrinya pergi, Li Junjie merasa kehilangan selera makan. Namun, untuk menghormati Kaisar Li Jinhai, Li Junjie berusaha tetap memakan makanannya. Walaupun, dia hanya memakannya dengan sedikit demi sedikit.
"Ayah, bolehkah aku menemani Putri Jiang di kamarnya?" tanya Jia Li saat merasa tidak enak hati berada di tengah-tengah obrolan kaum lelaki.
Kaisar Long Qian melirik terlebih dahulu kepada Kaisar Li Jinhai. Setelah melihat dia mengangguk, barulah dia menyetujui permintaan Putrinya.
Di dalam kamar, Hu Liena berusaha menenangkan Putri Li Jiang yang kembali menangis pilu.
"Tenanglah, Putri! Tidak akan terjadi apa-apa kepadamu, aku janji!" ucap Hu Liena sambil mengusap puncak kepala Putri Li Jiang.
"Kakak, aku tidak mau tidur sendiri. Bisakah kau menemaniku di sini?" ucap Putri Li Jiang penuh harap.
"Baiklah, jika itu bisa membuatmu lebih tenang."
Putri Li Jiang mengusap airmata yang sudah membasahi kedua pipi mulusnya. Ucapan Hu Liena sudah membuatnya jauh merasa lebih tenang sekarang.
"Apa aku boleh ikut bergabung bersama kalian?" tanya Putri Jia Li saat dirinya sudah memasuki kamar Li Jiang.
"Kemarilah!" panggil Hu Liena sambil memberikan ruang kosong di sampingnya.
"Semoga kau lekas sembuh, Putri!" ucap Putri Jia Li dengan lembut.
Bagaimanapun, Putri Jia Li tidak boleh mengetahui tentang ketakutannya. Sebisa mungkin, Li Jiang berusaha bersikap biasa agar Putri Jia Li tidak merasa curiga dan banyak bertanya.
Walaupun, Li Jiang yakin, jika Putri Jia Li tidak akan berani menanyakan hal itu kepadanya. Karena itu melanggar norma-norma sebagai seorang Putri!
"Kau istirahatlah, aku akan meminta pelayan untuk membuatkan teh hangat untukmu." ucap Hu Liena sambil melepaskan pelukannya.
"Kakak Ipar ..., Putri Li Jiang seakan enggan jauh dari Hu Liena.
"Tidak apa-apa, aku hanya sebentar."
Putri Jia Li merasa terharu dengan kebaikan dan kelembutan yang di tunjukan Hu Liena kepada valon Adik Iparnya.
Tanpa sadar, Putri Jia Li juga berdo'a. agar kelak dia di berikan calon Kakak Ipar sebaik dan selembut Hu Liena. Sudah begitu, cantik lagi!
"Putri Jia Li, apa anda tidak bersiap?" tanya Hu Liena dengan penasaran.
Sebagaimana yang Hu Liena tahu, rombongan Kaisar Qian akan kembali ke Negaranya sore ini.
__ADS_1
Namun, Hu Liena merasa heran karena Putri Jia Li masih tenang dan malah duduk menemani calon Adik Iparnya di sana.
"Aku akan meminta ijin kepada Ayah, agar bisa tinggal di kerajaan Ying lebih lama. Aku juga mengkhawatirkan keadaan Putri Jiang, dan akan menemaninya sampai dia sembuh nanti." jawab Putri Jia Li dengan tulus.
Hu Liena hanya mengangguk, dia tidak berkomentar apa-apa dengan keputusan Putri Jia Li.
Menurut Hu Liena, itu bukanlah ide yang buruk. Semakin banyak orang, semakin akan merasa tenang Putri Li Jiang.
Rombongan Kaisar Long Qian akhirnya bergerak pulang, tidak terkecuali juga Qian Yingzhi.
Rencananya, Kaisar Long Qian akan mengenalkan Qian Yingzhi sebagai Putranya yang asli. Dan menceritakan semua kebenaran kepada rakyatnya, setelah itu, Kaisar Long Qian akan mengadakan penobatan Qian Yingzhi sebagai Putra Mahkota kerajaan Qian yang baru.
Malam harinya, Istana Kekaisaran Ying tampak sepi dan hening tidak seperti biasanya.
Itu semua atas perintah Kaisar Li Jinhai, yang menginginkan suasana tenang untuk Putri Li Jiang yang sedang tidak enak badan.
Di kamarnya, Putri Li Jiang kini di temani oleh Hu Liena, dan juga Putri Jia Li.
Mereka sengaja tidur di satu ruangan, karena ingin menemani Putri Li Jiang agar merasa lebih tenang.
Hu Liena meminta para pelayan, untuk menyiapkan dua ranjang tambahan, untuknya dan juga untuk Putri Jia Li.
Saat ini, Putri Li Jiang sudah jauh lebih tenang karena Hu Liena memberikannya obat dari ruang rahasia miliknya.
Dia sudah terlelap tidur di tempatnya. Begitu 'pun juga dengan Putri Jia Li, Hu Liena sengaja memberikannya obat yang sama agar bisa tidur lebih awal, dan tidak terus-terusan mengkhawatirkan keadaan Putri Li Jiang.
Srekk!
Mata Hu Liena langsung terbuka, begitu mendengar pergerakan dari atas atap kamar.
Namun, dengan sengaja Hu Liena tetap diam di tempatnya. Hu Liena ingin tahu, dengan apa yang akan di lakukan oleh orang yang baru datang tersebut.
Klikk~
Suara barang di buka dengan paksa terdengar sangat kecil, mungkin karena saking berhati-hatinya orang tersebut agar tidak ketahuan saat melakukannya.
Namun, telinga Hu Liena sudah sangat terlatih sejak dulu. Sekecil apapun suaranya, Hu Liena tetap akan bisa dengan jelas mendengarnya.
"Gadisku, aku datang!" terdengar suara seorang pria berbisik yang membuat Hu Liena merasa jijik.
Suara langkah kaki yang ringan, terdengar mendekati tempat tidur Putri Li Jiang.
Hu Liena yang sudah bersiap dengan jarum di tangannya, tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk menyerang.
__ADS_1
"Putri, aku akan membawamu pergi, dan menjadikanmu wanita paling bahagia sedunia." ucap Pangeran Chunian yang menyelinap ke kamar Putri Li Jiang.
Shuuttt!