Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
29. Tabib ramalan.


__ADS_3

Hu Boqin sangat terkejut mendengar cerita dari Changing, tentang perlawanan Putrinya kepada para ahli racun yang di kirim oleh Keluarga Yue.


"Bagaimana bisa, Putriku melakukan itu semua?" Ujar Hu Boqin seraya memijit pelipisnya.


Ia merasa bingung bercampur bahagia setelah mengetahui jika Putrinya bisa melakukan hal menakjubkan seperti itu.


"Hamba juga awalnya tidak percaya, Tuan. Tapi setelah melihat kesungguhan Wang bersaudara ketika menceritakannya, barulah hamba mempercayainya"


Changing berbicara sembari mengepalkan tangannya, terlihat di situ bahwa ia juga merasa puas dengan perubahan Hu Liena.


"Apa ada orang yang mengetahui hal ini selain kalian bertiga?" Tanya Hu Boqin pada pengawalnya.


"Tidak ada, Tuan." Balas Changing.


"Bagus! Jangan ceritakan masalah ini lagi, ini akan sangat berbahaya bagi Putriku ke depannya."


"Baik, Tuan!" Balas Changing dengan cepat.


Changing berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membocorkan masalah ini kepada siapapun juga, meskipun ia harus menukar janji itu dengan nyawanya sendiri, ia takkan pernah membuka mulutnya.


Tanpa mereka sadari, masalah itu telah lebih dulu di ketahui oleh dua orang yang kini sedang saling berhadap-hadapan.


"Apa kau yakin, jika dia yang melakukannya?" Tanya Li Junjie kepada Guotin yang kini sedang berlutut di hadapannya.


"Hamba yakin, Yang Mulia!" Jawab Guotin.


"Hem ...," Li Junjie mengangguk puas. "Sepertinya, gadis ini sudah banyak berubah."


"Hamba juga berpikir seperti itu, Yang Mulia. Nona Hu Liena yang saya kenal dulu, merupakan seorang gadis yang bodoh dan ceroboh." Guotin menghentikan ucapannya karena mendapati Li Junjie meliriknya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Maafkan hamba, Yang Mulia!" Ucapnya seraya menundukkan kepala.


Li Junjie hanya mendengus dan tidak menanggapi ucapan darinya.


Setelah beberapa saat berlalu, Li Junjie kembali berbicara namun dengan topik yang berbeda.


"Bagaimana dengan urusan Tabib Hong?


"Dia bersedia untuk menemui anda, di danau dekat taman kota besok." Jawab Changing lagi.


"Danau di taman kota?" Li Junjie mengerutkan alisnya.


"Benar, Yang Mulia! Tabib Hong hanya bersedia menemui anda di sana." Ujar Changing menjelaskan permintaan Tabib Hong.


Li Junjie menarik nafas, akhirnya Tabib Hong bersedia bertemu dengan dirinya.


"Kau aturlah pertemuanku, dengannya." Perintah Li Junjie yang di sambut Guotin dengan anggukan kepala.


Guotin segera pergi melakukan tugasnya untuk mengatur pertemuan dengan Tabib Hong dan mengatur penjagaan di sekitar danau.

__ADS_1


Sementara itu, Li Junjie yang masih terduduk di sana menyeringai begitu mengingat Hu Liena.


"Itik kecil itu telah berubah menjadi burung bangau raksasa." Gumam Li Junjie seraya menyunggingkan senyuman di bibir tipisnya.


Keesokan harinya...


Li Junjie menunggu kedatangan Tabib Hong di tempat yang sudah di tentukan sebelumnya.


Li Junjie tidak menolak permintaan Tabib Hong sama sekali, karena dia tahu pria paruh baya itu susah untuk di bujuk dan sangat keras kepala.


Dia juga tidak mau menggunakan otoritasnya sebagai Pangeran, hanya untuk menakuti seseorang.


"Hormat hamba, Pangeran." Terdengar suara Tabib Hong memberikan hormat di belakangnya.


"Tidak perlu sungkan, Tabib" Balas Li Junjie tanpa menolehkan kepalanya.


"Apa yang ingin anda bicarakan dengan hamba yang tua ini, Pangeran." Tanya Tabib Hong datar, dia memang terkenal dengan sifat lugasnya.


"Tanpa aku beritahu pun, kau pasti sudah mengetahuinya." Ujar Li Junjie lagi dengan masih memandang ke arah danau.


"Hamba benar-benar bodoh, untuk mengetahui pikiran dari seorang Agung seperti anda." Ujar Tabib Hong merendah, sikapnya sudah tak seperti dulu ketika berada di kediaman Hu Liena.


Li Junjie menoleh ke arah Tabib Hong dan menatapnya dengan sangat tajam.


Tabib Hong tidak bergeming, dia tetap berdiri di tempatnya tanpa rasa takut dengan tatapan Li Junjie yang di arahkan kepadanya.


"Sudah lama aku ingin bertemu denganmu, Tabib." Ujar Li Junjie dingin.


Tabib Hong paham dengan maksud ucapan dari Li Junjie, salah satu alasannya adalah karena dia selalu menolak untuk bertemu dengannya. Dan saat ini, Pangeran Agung itu sedang menyindir dirinya.


"Hamba tahu, Pangeran. Dan untuk itulah, hamba berdiri di sini sekarang." Balas Tabib Hong sopan.


Li Junjie menghentikan langkahnya tepat di hadapan Tabib Hong saat ini, dan jarak mereka hanya di pisahkan beberapa langkah saja.


Orang lain mungkin akan gentar berhadapan langsung dengan seorang Pangeran yang paling di takuti di Negaranya.


Berbeda dengan Tabib Hong, yang kini malah balas tatapan mata Li Junjie dengan sangat tenang.


"Aku ingin kau memberitahuku informasi, tentang Tabib dalam ramalan." Ujar Li Junjie tenang.


Sementara Tabib Hong, hanya terdiam di tempatnya. Dia sudah bisa menduga, jika Pangeran Jun akan menanyakan hal itu padanya.


Dengan berat hati, akhirnya Tabib Hong membuka suara. "Aku memang mengetahuinya, tapi untuk melindungi keselamatannya, aku tidak bisa memberitahukan hal itu pada anda atau pada siapapun juga. Maafkan hamba, Pangeran."


"Aku tahu, akan mendapatkan jawaban seperti ini darimu, tapi tidakkah kau sadari, aku telah berjuang hanya untuk bisa menanyakan hal ini padamu." Ujar Li Junjie seraya menarik nafas berat.


Tabib Hong menggelengkan kepalanya, ia tahu seberapa jauh usaha Li Junjie untuk menemuinya. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa, keselamatan Hu Liena bergantung pada dirinya.


Jika dia membuka mulutnya kali ini, entah siapa saja yang akan memburu Hu Liena. Karena Tabib dalam ramalan sangat berharga, dan akan menarik perhatian dari orang-orang jahat yang akan memanfaatkan keahliannya.

__ADS_1


"Hamba benar-benar minta maaf, Pangeran." Ujar Tabib Hong penuh penekanan.


Li Junjie menatap wajah tua Tabib Hong yang mulai di penuhi dengan kerutan. Ia juga tak bisa memaksa, karena itu di luar kuasanya.


Yang dia inginkan hanya sebuah informasi dan bukan paksaan, walaupun sebenarnya, dia bisa melakukan itu jika di perlukan.


"Aku menghargai keputusanmu, Tabib." Ujar Li Junjie dengan nada berat, meskipun ia enggan tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.


Li Junjie sudah membuat keputusan, dia akan mencari informasi itu sendiri. Jika dia beruntung, dia akan terselamatkan. Dan jika dia gagal, dia akan menerima kekalahan.


"Terima kasih, Pangeran." Sahut Tabib Hong sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Baiklah, kau boleh pergi sekarang." Kata Li Junjie seraya mengibaskan lengan bajunya dan membalikkan badan kembali ke arah danau.


Tersirat kesedihan di wajah Li Junjie saat ini. Padahal, tinggal selangkah lagi ia Hampir mencapai tujuannya. Namun semua gagal total, dan hanya menyisakan sebuah kekecewaan.


...----------------...


Di kejauhan, Hu Liena menatap kedua orang itu dengan bersedekap dada.


"Apa yang di lakukan Tabib tua dan Pangeran sombong di sana?" Ucap Hu Liena seraya menaikkan sebelah alisnya.


Dia sudah lama menunggu Tabib Hong di taman kota, namun orang yang di tunggunya tak kunjung datang juga.


Ternyata, setelah ia berkeliling sebentar. Tabib Hong malah sedang asik berbincang dengan orang yang selalu di hindarinya, Pangeran Jun.


"Mungkin ada hal penting yang sedang mereka bicarakan, Nona." Balas Luqiu dari arah samping Hu Liena.


"Aku tahu itu ...," Sahut Hu Liena dengan malas.


"Yang jadi pertanyaanku, hal penting apa yang Tabib Tua itu bicarakan dengannya. Sampai-sampai, dia lupa dengan janjinya padaku untuk bertemu di tempat ini." Lanjut Hu Liena yang kesal dengan kelakuan Tabib Hong.


"Hahhh ... aku ada ide, Nona." Ucap Luqiu dengan mata yang berbinar.


Hu Liena menaikkan alisnya sebelum berbicara. "Ide apa?"


"Kita akan kesana dan menanyakan langsung kepada mereka tentang apa yang di bicarakan." Ujar Luqiu seraya menunjuk ke arah danau di mana Tabib Hong dan Li Junjie berada.


Tok....


Aduhh...


"Sakit Nona!" Teriak Luqiu sembari memegangi keningnya yang baru saja di ketok Hu Liena.


"Bodohmu itu kumat lagi, aku melakukannya untuk syok terapi." Kata Hu Liena seraya memutar kedua bola matanya.


"Tapi Nona ... jika terapinya seperti itu, bukannya akan semakin parah?" Ujar Luqiu dengan masih mengelus-elus keningnya yang masih merasa sakit.


"Siapa yang bilang seperti itu? katakan padaku! Biar aku pukul kepalanya sekalian." Ujar Hu Liena saking kesalnya karena Luqiu terus saja berbicara.

__ADS_1


__ADS_2